
Mereka semua sudah berada di ruang makan. Yudha duduk di sebelah Karin. Suasana di ruang makan begitu hening hanya ada suara dentingan sendok dan garpu saja.
Setelah makan malam bersama mereka semua sudah duduk di ruang keluarga. Papa Yudhistira dan Mama Sabrina ingin tahu bagaimana awal mula kedekatan mereka berdua.
"Nak sejak kapan kamu dekat dengan Karin?" tanya Papa Yudhistira.
"Baru-baru ini Pa belum ada 2 bulan. Sebenarnya sudah lama Yudha suka sama Karin Pa waktu ulang tahun Risa sekaligus pertunangannya dengan Rey. Tapi baru bulan kemarin Yudha menyatakan suka dengan Karin."
"Nak Karin apa benar menyukai anak saya? Secara umur kalian kan beda jauh." tanya Papa Yudhistira penasaran.
Papa Yudhistira ingin tahu kenapa Karin gadis remaja masa lebih memilih pria dewasa dari pada orang yang dijodohkan dengannya yang seumuran. Karena sebelumnya Yudha sudah cerita dengan kedua orang tuanya kalau gadis remaja yang Yudha suka telah dijodohkan dengan kakek dan neneknya. Namun gadis itu lebih memilih Yudha.
"Kalau itu saya belum tahu Pa, Kak Yudha orangnya baik, sopan dan pengertian. Saya merasa senang dan nyaman bila berada di dekatnya. Saya juga selalu deg-degan bila dekat dengan Kak Yudha. Jadi saat Kak Yudha menyatakan perasaannya kepada saya, saat itu juga Karin berusaha membuka hati untuknya," ucapnya sambil tersenyum.
"Itu namanya kamu sudah mulai ada rasa cinta dengan anak Mama," ucap Mama Sabrina dengan senyuman mengambang di wajahnya.
"Sepertinya begitu Ma," ucap Karin malu-malu mengakui bahwa dirinya telah menyukai Yudha.
Yudha hatinya terasa lega saat Karin sudah memiliki rasa cinta terhadapnya. Papa Yudhistira tersenyum mendengar ucapan Karin dan istrinya. Impiannya untuk mendapatkan menantu yang baik hatinya pun akan segera terwujud.
"Jadi kapan kalian rencananya untuk melangsungkan pertunangan?" tanya Papa Yudhistira dengan serius.
Karin dan Yudha lalu saling memandang. Mereka memang belum pernah berbicara masalah pertunangan.
"Belum tahu Pa," ucap Yudha.
"Loh kok belum tahu sih nak?"
"Iya memang kita belum membicarakan tentang hal itu dengan Karin," ucap Yudha.
"Kak Yudha yang bicara saja deh soal Papa sama Mama Karin yang kemarin video call," ucapnya pelan.
"Ok sayang." sambil tersenyum.
"Ehm begini Pa. Kemarin orang tua Karin telepon dan Yudha minta izin untuk memperkenalkan Karin dengan Papa dan Mama. Terus Papa dan Mama Karin ingin kita bertemu nanti di Korea saat Karin libur semester."
"Nah saat itu saja kita bicarakan rencana pertunangannya dengan kedua orang tua Karin," ucap Mama Sabrina.
__ADS_1
"Iya Papa setuju Ma. Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian akan setuju?"
"Yudha setuju saja sih Pa. Kalau kamu gimana sayang setuju atau tidak?" tanyanya dengan Karin.
"Eh Ehm.. Apa tidak terlalu cepat Kak untuk kita bertunangan?" ucapnya pelan tapi masih terdengar di telinga kedua orang tua Yudha.
Karin masih canggung untuk memanggil Yudha dengan sebutan sayang saat di depan kedua calon mertuanya.
"Tidak. Kalau nunggu kamu lulus dulu kan masih lama sayang."
Karin hanya mengangguk paham.
"Setelah kamu lulus aku akan menikahimu sayang. Mudah-mudahan saja kedua orang tuamu mengizinkanku untuk menikahimu setelah kamu lulus SMA. Aku sudah ingin segera menghalalkanmu." batin Yudha.
"Nak nanti bilang ke kita ya kalau mau berangkat tanggal berapanya. Nanti biar kita saja yang pesan tiketnya," ucap Mama Sabrina.
"Iya Ma. Disana perkiraan 1 minggu sudah sama pulang pergi saja. Soalnya Karin kan setelah libur semester ganjil nanti akan sibuk. Jadi juga perlu banyak waktu untuk belajar persiapan ujian."
"Iya nak. Mama juga mengerti kok. Terima kasih ya nak kamu sudah memilh anak Mama untuk menjadi pendamping hidupmu."
"Sudah malam, Yudha mau mengantar Karin pulang dulu ya Ma, Pa."
"Karin pulang dulu ya Ma, Pa." sambil mengecup punggung tangan kedua calon mertuanya.
"Iya hati-hati ya nak."
Karin mengangguk dan Yudha langsung menggandeng tangan Karin untuk keluar dari rumahnya. Setelah masuk ke dalam mobil Karin menghembuskan nafasnya panjang.
"Kedua orang tuaku baik kan sayang?"
"Hmm iya."
"Kamu kenapa sih sayang kok kayaknya gak seneng gitu mukanya?"
"Ehm terlalu cepat saja Papa dan Mama Kak Yudha ingin kita segera bertunangan secara kan kita baru kenal belum lama ini."
"Kan baru mau rencana dulu sayang. Nanti akan dibicarakan lagi setelah kita sampai di Korea dan bicara dengan kedua orang tuamu."
__ADS_1
"Atau kamu meragukan keseriusan Kakak terhadapmu?"
"Tidak, bukan seperti itu maksud Karin Kak. Karin hanya berpikir bahwa belum lulus SMA tapi sudah mau bertunangan."
"Risa dan Rey kan juga masih SMA mereka sudah bertunangan sayang. Bahkan Rey masih kelas X dan Risa kelas XI waktu itu. Tapi mereka menikah setelah 2 tahun kemudian. Terus mereka menikah juga tidak langsung punya anak kan? Butuh waktu beberapa bulan untuk mereka memutuskan untuk punya anak," ucap Yudha menjelaskan.
Karin berpikir sebentar dan benar juga apa yang dikatakan Kak Yudha. Rey dan Risa masih muda sudah bertunangan dan 2 tahun kemudian baru menikah. Karin jadi tidak terlalu cemas kalau mau bertunangan dengan Yudha.
"Iya kak. Karin siap jika akan bertunangan dengan Kak Yudha, tapi harus seizin Papa dan Mamanya Karin dulu."
"Iya sayang. Mudah-mudahan Papa dan Mama kamu mengizinkan kita segera bertunangan."
Karin lalu teringat dengan ucapan Papanya waktu itu. Kalau dilamar jangan nolak. Kalau menolak soalnya nanti akan sulit lagi untuk mendapatkan jodoh.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Keluarga Alexander.
"Kak Yudha gak usah keluar dari mobil. Biar Karin yang buka sendiri saja. Karin tidak mau terlalu merepotkan Kakak."
"Tidak sayang. Kamu kan calon istriku jadi aku harus selalu memperhatikanmu setiap saat," ucapnya sambil membuka pintu mobilnya dan berjalan ke arah pintu mobil Karin dan membukakan pintu untuknya.
Karin tersenyum atas semua perlakuan Yudha terhadapnya yang begitu manis.
"Terima kasih sayang."
"Sama-sama sayang. Selamat tidur, jangan lupa mimpiin kakak hehehe," ucapnya sambil cengengesan.
"Aish... Kak Yudha ini apa-apaan sih."
"Kakak pulang dulu ya sayang," sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati ya sayang."
Karin juga melambaikan tangannya. Setelah mobil Yudha keluar dari gerbang Karin baru masuk ke rumah.
"Aku tidak sabar untuk segera bertunangan denganmu Karin. Apalagi kalau kamu nanti sudah lulus SMA ingin sekali aku segera menghalalkanmu agar kita bisa berpacaran setelah menikah." sambil tersenyum dan membayangkan semuanya itu akan segera ia lewati dengan Karin sang pujaan hatinya.
Yudha dan Karin memang tidak berpacaran namun mereka saling berkomitmen untuk serius dan menikah nantinya. Karena Yudha memang serius dengan Karin dan tidak ingin berpacaran. Yudha ingin segera menikahi Karin karena ingin merasakan indahnya berpacaran setelah menikah.
__ADS_1