Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
S2 - Ketahuan


__ADS_3

Begitu sempurna pernikahannya dengan Andin karena sebentar lagi si kecil akan hadir di tengah-tengah keluarga kecilnya.


Seketika Papanya menelepon lewat video call.


"Sayang, siapa yang telepon?"


"Papa yang video call sayang. Aku takut Papa tanya kabar ke Om. Lalu kita akan ketahuan kalau kita sudah menikah. Apalagi aku sudah hamil lagi," ucap Andin.


"Angkat saja dulu sayang. Siapa tahu Papa mengabari keadaan Mama Siska," ucap Key.


Andin dengan segera lalu mengangkat panggilan video call tersebut.


"Hallo nak. Gimana kabarnya?" tanya Papa Rio.


"Alhamdulillah, baik Papa. Gimana kabar Mama?"


Dokter Rio lalu memberikan ponselnya ke istrinya.


"Hallo sayang, Mama sudah sehat, tinggal beberapa kali saja melakukan terapi."


"Alhamdulillah, Mama kapan pulang?"


"Eh sebentar, Mama gak salah lihat kan ini?"


"Kenapa Mama?"


"Kamu kok pakai daster? Seperti ibu hamil saja," celetuk Mama Siska.


DEG!


Saat ini memang Andin sedang hamil dan mana mungkin pakai kaos seperti biasanya. Tidak akan muat kaos yang biasa dia pakai karena perutnya yang sudah mulai membesar itu akan terekspos begitu saja.


"Ehm Mama, ini daster kekinian. Banyak kok teman-teman yang pakai ini," ucap Andin beralasan.


"Iya nak. Tapi kan seperti ibu hamil saja. Dulu Mama hanya saat hamil pakai daster seperti itu."


"Hehe sekarang lagi booming Mama pakai daster seperti ini."


"Ah iya, anak zaman sekarang selalu saja mengikuti perkembangan zaman."


Andin lalu terdiam, dia menggunakan daster karena sedang hamil bukan mengikuti tren saat ini.


"Oh iya, Mama kapan pulang?"


"Mungkin beberapa bulan lagi sayang. Kan ini Mama lagi jalani pengobatan."


"Mudah-mudahan Mama segera sembuh."


"Aamiin. Jaga kesehatan kamu ya nak."


"Iya, Mama dan Papa juga ya."


Mereka lalu mengakhiri panggilan video tersebut.


"Sayang, aku takut jika Papa dan Mama pulang secara tiba-tiba dan melihat aku sedang hamil. Nanti mereka akan berpikiran macam-macam karena tahunya aku belum menikah. Apalagi perutku sudah tidak bisa ditutupi lagi," ucap Andin sambil memegang perutnya.


"Sayang, kamu tenang dulu ya. Kita sebaiknya mengaku saja ke mereka kalau kita sudah menikah."


"Aku takut Mama shock dan sakit lagi. Aku berharap Mama pulang nanti setelah aku melahirkan saja."


Andin takut jika Mamanya mengira dirinya hamil di luar nikah.


"Nanti kita pikirkan jalan keluarnya ya sayang. Sekarang sudah malam dan sebaiknya kita tidur."


Key dan Andin lalu pergi ke kamarnya.


"Selamat tidur istriku," ucap Key yang lalu memberikan kecupan hangat pada kening istrinya.


"Selamat tidur anak Papi," ucap Key mengusap perut istrinya.


"Selamat tidur juga Papi," jawab Andin dengan suara anak kecil.


Seperti biasa, Andin selalu memeluk suaminya dan baru bisa tertidur pulas. Memang aneh tapi nyatanya seperti itu. Andin baru bisa tertidur nyenyak saat memeluk suaminya.

__ADS_1


...*****...


Key sedang menjemput istrinya di rumah temannya. Andin melihat mobil suaminya sudah ada di halaman rumah tersebut.


"Itu suamiku sudah datang, aku pulang dulu ya."


"Hati-hati ya Andin. Sering-sering main sini biar Baby Zein ada temannya."


"Insya'allah ya Marina."


Andin lalu pergi dan langsung masuk ke mobil suaminya.


"Kenapa tidak mau turun sih? Kan aku ingin ngenalin kamu sama temanku."


"Aku tidak mau dia melihatku sayang. Yang ada teman kamu itu bisa jatuh cinta sama aku."


"Terlalu percaya diri sekali sih kamu sayang."


"Hehe, nyatanya seperti itu saat di kampus. Tapi untung saja kita bilang sudah menikah jadi gak ada yang berani gangguin kamu atau aku."


Teman kampusnya tahu Key sudah menikah dengan Andin. Key dan Andin bilang hanya menikah secara sederhana saja dan belum resepsi. Jadi tidak mengundang teman-temannya saat di hari pernikahannya.


...*****...


Sebulan kemudian. Siska dan Rio akan pulang ke Indonesia.


"Mama, kita berikan surprise sama Andin."


"Iya Papa. Dengan kita pulang secara tiba-tiba maka anak kita itu pasti akan terkejut sekaligus bahagia."


"Aku ingin melihat gimana ekspresi Andin saat kita pulang "


"Iya, aku tidak sabar ingin bertemu dengan putriku. Sudah hampir setahun kita di negeri orang."


Mereka sudah kurang lebih 8 bulan lamanya berada di negeri orang.


"Iya Mama. Setelah ini kita jadi akan menikahkan Andin kan?"


"Iya Mama. Dia pasti suka jika tahu siapa yang menjadi calon suaminya. Ah tidak sabar aku ingin melihat Andin hamil cucuku."


"Hehe, anak kita itu pemalu ya. Untung saja kita peka kalau anak kita itu suka dengan pria yang akan kita jodohkan."


"Mereka terlihat begitu serasi ya Papa."


"Iya Mama. Setelah ini kita bicarakan lagi mengenai soal pernikahan mereka."


"Hmm iya."


Mama Siska dan Papa Rio saat ini sudah berada di bandara. 3 jam dalam perjalanan akan mereka lalui untuk sampai di Indonesia.


...*****...


Perut Andin sudah tidak bisa ditutupi lagi karena kandungannya sudah berjalan 6 bulan. Hari ini jadwalnya untuk cek kandungannya, namun suaminya belum pulang karena masih ada pekerjaan yang harus Key selesaikan setelah kuliah.Tadi Andin diantar pulang setelah selesai kuliah. Lalu setelah itu suaminya pergi lagi karena ada urusan pekerjaan. Andin menanti sang suami tercintanya di kamarnya sambil duduk-duduk bersantai di sofa.


"Kamu sebenarnya baby boy or baby girl sih sayang? Dari bulan kemarin kok ngumpetin jenis kelaminnya terus," ucap Andin sambil memegang perutnya.


"Bikin penasaran saja anak Mami ini," ucapnya lagi.


Saat anaknya bergerak dalam perutnya itulah kebahagiaan yang Andin rasakan. Seketika saat sedang asyik bercanda dengan anaknya lalu terdengar suara yang dia kenal.


"Mama pulang sayang ......," teriak Mama Siska sambil membuka pintu kamar anaknya.


Andin terkejut saat Mamanya tiba-tiba pulang. Dengan cepat Andin meraih bantal sofa untuk menutupi perutnya yang sudah membesar itu.


"Eh emb, Mama sudah pulang," ucap Andin gugup


Mama Siska lalu berjalan mendekati anaknya


"Mama barusan sampai sama Papa. Sekarang Papa kamu sedang menurunkan koper yang ada di mobil. Mama tidak sabar ingin melihat kamu sayang. Mama rindu sama kamu nak," ucap Mama Siska yang seketika memeluk anaknya.


Bantal sofa yang tadi Andin pegang seketika terjatuh saat Mamanya tiba-tiba memeluknya. Mama Siska mengernyitkan dahinya saat tidak sengaja tangannya menyentuh perut Andin. Bayi mungil tidak berdosa itu sekarang seperti sedang menyapa sang nenek. Menggeliat di dalam perut ibunya.


Dengan cepat Mama Siska melepaskan pelukannya dan ingin melihat perut anaknya. Matanya membulat sempurna saat melihat perut anaknya yang sudah membesar itu, terlebih ia melihat sendiri ada pergerakan dari dalam sana.

__ADS_1


"Andin, kamu hamil???"


Mama Siska mencoba untuk meyakinkan kalau dia tidak salah lihat. Lalu tangannya memegang perut anaknya. Terasa pergerakan dari dalam perut Andin.


Andin hanya menggigit bibir bawahnya saat ini, karena sudah ketahuan oleh Mamanya.


"Siapa yang menghamili kamu nak?"


Andin terdiam dan enggan menyebut nama Key.


"Katakan sama Mama, siapa laki-laki yang telah menghamili kamu?"


"Suamiku Mama."


Mama Siska menggelengkan kepalanya. Kata suami membuatnya tak percaya kalau anaknya telah menikah.


"Mama, maaf. Andin sudah menikah secara diam-diam."


"Sudah menikah? Bagus sekali ya. Lalu mana surat nikahnya?"


Andin hanya terdiam karena mereka belum punya surat nikah. Karena mereka hanya menikah secara siri terlebih dahulu.


"Andin jawab, mana surat nikahnya?"


"Belum ada Mama," ucapnya lirih sambil menunduk.


Mama Siska hanya menghela napas panjang.


"Ngaku saja kamu nak. Kamu hamil di luar nikah kan? Dan ini anak haram kamu bersama laki-laki itu," ucap Mama Siska sambil menunjuk perut Andin.


Andin mendongakkan kepalanya dan menggeleng dengan cepat.


"Tidak Mama. Serius, Andin sudah menikah dan punya suami. Kami terikat dalam ikatan suci pernikahan. Jadi ini bukan anak haram," ucapnya sambil mengelus perutnya.


Andin lalu meraih kedua tangan Mamanya.


"Maafkan Andin yang menikah tanpa sepengetahuan Papa dan Mama. Tapi Andin sangat mencintainya. Makanya Andin memilih untuk cepat-cepat menikah karena tidak mau dijodohkan dengan laki-laki pilihan Papa dan Mama."


Tiba-tiba ada seorang datang dan masuk ke kamarnya. Papa Rio terkejut saat melihat perubahan perut anaknya yang sudah membesar itu. Sekarang yakin kalau anaknya sedang mengandung.


"Andin kamu hamil??"


Papa Rio berjalan mendekati anaknya.


"Papa aku bisa jelaskan semuanya," ucapnya ketakutan.


Andin sangat takut dengan Papanya.


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat pada pipi mulusnya.


"Anak kita hamil di luar nikah Papa," ucap Mama Siska.


"Ma, Pa, Andin bersumpah sudah menikah."


"Jika kamu sudah menikah lalu mana buku nikahnya? Papa ingin lihat sekarang juga!" geram Papa Rio yang sudah emosi tingkat tinggi.


Andin menggelengkan kepalanya pertanda bahwa tidak punya buku nikah.


"Buku nikah saja tidak punya. Sekarang sudah jelas kalau kamu hamil di luar nikah. Ngaku saja kamu punya hubungan gelap dan sampai punya anak haram itu nak."


"Papa, Andin tidak berbohong. Andin sudah menikah dan punya suami. Anak ini bukan anak haram."


Baik Papa Rio atau Mama Siska tak percaya bahwa anaknya sudah menikah.


"Ya Tuhan, aku salah mendidik anak selama ini," ucap Papa Rio yang seketika lemas menghadapi kenyataan bahwa sudah ada kehidupan dalam perut anaknya.


"Aku gak menyangka anakku hamil di luar nikah. Bagaimana ini aku menghadapi calon besanku," ucap Mama Siska tak sanggup untuk mengatakan perjodohan antara anaknya dengan anak sahabatnya itu gagal.


"Anakku bukan anak haram," ucap Andin yang semakin terisak.


Dia tidak mau anaknya disebut sebagai anak haram.

__ADS_1


__ADS_2