Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 89 - Balasan Yang Setimpal


__ADS_3

Yudha tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Kini Yudha akan menyelidiki tentang hal ini secara detail agar tahu tentang fakta yang sebenarnya terjadi. Yudha merasa tidak ada yang beres karena sewaktu pulang ke rumah Bibi tidak ada di rumah. Yudha lalu mengecek hp dan melihat rekaman CCTV. Yudha terkejut melihat Fani datang dan mendorong Karin sampai perutnya terbentur pada ujung sofa yang menyebabkan Karin keguguran dan sampai saat ini jadi kritis. Yudha berharap istrinya akan segera sadar.


"Jadi itu kejadian sebenarnya yang membuat istriku keguguran dan sulit untuk hamil lagi," ucap Yudha sambil menggertakkan gigi dan mengepalkan tangan kanannya.


"Nak, apa yang terjadi?" tanya Papa Yudhistira.


"Kejadian ini ada hubungannya dengan Fani. Papa, yang menyebabkan Karin sampai keguguran adalah Fani. Aku barusan melihat rekaman CCTV rumah melalui ponsel."


"Apa? Fani yang melakukannya?" Mama Sabrina sangat terkejut dan tidak menyangka dengan kelakuan Fani yang mencelakakan menantu dan juga cucunya.


"Iya Mama. Fani yang menyebabkan Karin keguguran. Karena Fani mendorong Karin sampai perutnya terbentur sofa." Yudha menjelaskan semuanya.


"Ini, Papa dan Mama bisa lihat rekaman CCTV hari ini." Yudha menyodorkan hpnya


Papa Yudhistira dan Mama Sabrina lalu melihat rekaman CCTV yang ada di rumah Yudha. Mereka berdua sangat terkejut saat Fani mendorong tubuh Karin dengan kencang. Sehingga mereka kini telah kehilangan ketiga cucu pertama mereka.


"Astagfirullah, ternyata Fani jahat sekali ya nak. Mama tidak menyangka Fani bisa berbuat seperti itu," ucap Mama Sabrina sambil menutup mulutnya.


"Aku harus membuat perhitungan dengan orang yang tidak punya hati itu." Yudha langsung pergi meninggalkan ruangan istrinya.


Yudha segera melaporkan semua kasus ini ke kantor polisi. Fani harus menerima balasan yang setimpal atas perbuatannya. Yudha melaporkan Fani atas tuduhan kasus pembunuhan secara berencana. Dengan bukti istrinya telah dinyatakan keguguran oleh pihak rumah sakit dan sekarang sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit.


Yudha menyuruh polisi untuk penangkapan Fani nanti setelah Yudha pergi ke rumahnya. Yudha menyuruh polisi agar memantikan sirine suara khas mobil polisi agar mudah dalam penangkapan Fani. Yudha ingin Fani agar memperoleh balasan atas apa yang dirinya lakukan kepada istrinya. Yudha masih tidak terima kehilangan ketiga anaknya.


Yudha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah Fani. Di rumahnya Fani sedang bahagia. Dipikirannya sekarang sebentar lagi Yudha pasti akan menceraikan istrinya karena tidak bisa menjaga anak-anaknya dengan baik. Fani yakin kalau Karin pasti akan keguguran. Fani juga tahu sifat Mama Sabrina yang ingin punya cucu yang nantinya akan menjadi pewaris rumah sakitnya.


"Karin sekarang pasti sedang menangis karena kehilangan ketiga anaknya."


"Wanita muda itu pasti sebentar lagi akan menjadi janda dan tidak bisa punya anak lagi. Akulah yang akan menggantikan posisinya sebentar lagi," ucapnya kembali sambil tertawa terbahak-bahak.


Fani kini sedang berbahagia di atas penderitaan orang lain. Tak lupa dia meminum wine di kamarnya. Fani merayakan penderitaan Karin dengan berpesta. Meskipun hanya berpesta sendirian namun Fani terasa puas.


Yudha sudah sampai di kediaman rumah Fani. Asisten rumah tangganya yang membukakan pintunya.


"Cari siapa Tuan?"


"Saya mencari Fani, apakah ada di rumah?"

__ADS_1


"Ada Tuan. Silakan masuk, saya akan memanggil Nona Fani sebentar."


Yudha tidak bergerak dari tempatnya. Yudha masih saja berdiam di berdiri di pintu masuk ruang tamu.


Bibi berjalan menemui majikannya. Bibi lalu mengetuk pintu kamar Fani.


"Non, ada tamu yang mencari Nona Fani."


Fani lalu berjalan membuka pintu kamarnya.


"Siapa Bi?" tanyanya penasaran.


"Saya lupa lagi tadi mau tanya siapa namanya. Pokoknya Masnya ganteng banget dan sepertinya seumuran dengan Non Fani."


"Hmm... Ya sudah sebentar lagi saya akan kesana. Bibi tolong buatkan minum ya."


"Baik Non..." Bibi lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamu yang datang.


Fani lalu masuk kamarnya kembali dan melihat mobil siapa yang terparkir di halaman rumahnya. Fani terkejut saat melihat mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Hatinya berbunga-bunga saat sang pujaan hatinya datang ke rumahnya.


"Yudha pasti sangat merindukan aku, sampai-sampai datang ke rumah," ucapnya tersenyum manis.


"Aku harus tampil tetap cantik saat bertemu dengan Yudha." Tak lupa Fani juga memiliki lip matte yang warnanya merah menyala.


Fani tidak tahu bahwa Yudha lebih menyukai wanita yang tanpa polesan makeup. Maka dari itu Karin Yudha suruh untuk tidak memakai makeup. Karena wanita yang tampilannya natural sangatlah baik.


Fani lalu turun dari kamarnya dengan senyuman manisnya. Fani melihat Yudha masih di pintu masuk ruang tamu pun mengernyitkan dahinya.


"Yudha, kenapa kamu disitu? Ayo masuk, kita bisa ngobrol-ngobrol cantik."


"Tidak usah, aku hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu."


"Tanyakan saja aku tidak keberatan kok."


"Apa kamu hari ini ke rumahku?"


"Kalau iya, kenapa memang?"

__ADS_1


"Kamu telah membuat Karin keguguran. Sekarang kamu pasti puas kan?"


"Aku terpaksa melakukan itu karena aku ingin memiliki kamu Yudha. Aku sangat mencintaimu." Mencoba untuk memeluk Yudha.


"Aku hanya mencintai istriku. Selamanya cintaku hanya untuknya. Kamu jangan pernah bermimpi bisa mendapatkan cintaku." Yudha menatap tajam ke arah Fani.


"Kenapa kamu jadi berbicara kasar seperti ini kepadaku? Yudha, bukankah kamu dulu suka berteman denganku?"


"Ya, dulu kita memang teman. Tapi sekarang tidak. Kamu dari tadi kenapa tidak ada rasa bersalah sedikitpun?"


"Maksud kamu?"


"Jangan pura-pura deh. Kamu sudah membuat istriku keguguran kenapa tidak minta maaf. Apa kamu sudah tidak punya hati?"


"Seharusnya dia yang meminta maaf kepadaku karena telah merebut kamu dari aku."


"PLAK.............." Karena sudah keterlaluan akhirnya Yudha menampar Fani. Ini baru pertama kalinya Yudha menampar orang.


"Yudha kenapa kamu menamparku?"


"Sepertinya kamu harus segera disadarkan atas apa yang kamu lakukan hari ini."


"Apa maksudmu?" Kini Fani bingung karena masih terpengaruh wine.


Lalu Yudha mengirim pesan WhatsApp kepada Pak polisi yang tadi diajak bekerjasama untuk penangkapan Fani. Tak lama kemudian tiga orang polisi datang dan mengepung rumah Fani. Polisi tersebut lalu masuk ke dalam rumah Fani.


"Diam dan jangan bergerak." Tiga polisi masuk ke ruang tamu.


Fani terkejut saat ini ada polisi di rumahnya. Dengan segera polisi bertindak dan kini Fani telah diborgol tangannya.


"Pak, apa salah saya? Kalian salah menangkap orang."


"Anda dilaporkan atas tuduhan kasus pembunuhan secara berencana. Nanti Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor polisi."


"Tapi Pak, saya tidak melakukan hal apapun." Fani berusaha mengelak atas perbuatannya kepada Karin.


"Mohon kerjasamanya. Anda nanti bisa menjelaskan secara detail di kantor polisi."

__ADS_1


Fani tidak bisa melawan ketiga polisi tersebut. Kalau mau kabur nanti yang ada kakinya akan ditembak. Fani tidak mau sampai hal itu terjadi. Karena Fani masih ingin punya kaki yang sehat. Sekarang Fani sudah dibawa ke kantor polisi. Yudha tadi memberikan bukti rekaman CCTV di rumahnya dan surat yang menyatakan bahwa istrinya mengalami keguguran. Kini Yudha lega Fani telah ditangkap polisi. Sekarang Fani telah mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.


Yudha kembali melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Papa Yudhistira sudah WhatsApp dan bilang bahwa keluarganya Karin kini sudah sampai di rumah sakit. Yudha akan menjelaskan semua hal ini ke keluarga keluarganya Karin. Mereka juga berhak tahu kalau Karin habis saja dicelakai seseorang. Yudha akan menceritakan semuanya secara detail dan tidak ada hal yang akan ditutup-tutupi.


__ADS_2