
Tak terasa kini kandungan Karin sudah berjalan 9 bulan lebih 6 hari. Kandungannya sudah mulai turun. Karin sering merasakan kontraksi palsu setiap saat. Mungkin karena sudah mau lahir si jagoan kecilnya.
"Mas...................." Teriaknya dengan kencang.
"Iya sayang. Kenapa?" Yudha berjalan dengan cepat menghampiri istrinya karena takutnya istrinya melahirkan malam ini.
"Perutku terasa sakit Mas." Sambil merintih kesakitan dan memegang perutnya.
"Baby Boy pasti terus menerus menendang perut Karin." Batin Yudha.
Yudha lalu melihat ke arah kaki istrinya dan belum ada tanda-tanda air ketubannya yang mengalir. Yudha lalu mengelus perut buncit istrinya beberapa menit.
"Sayang, gimana? Apa sudah lebih enakan sekarang?"
Karin mengangguk pelan.
"Kok aneh sih Mas. Masa cuma kamu elus perutku doang rasa sakitnya jadi hilang?" Tanyanya terheran-heran.
Yudha akan kembali menjadi Dokter kandungan lagi setelah Karin melahirkan jagoan kecilnya. Untuk urusan bidang kulinernya nanti bisa Yudha cek saat waktu luang dan pastinya Yudha akan merekrut asisten pribadinya untuk memantau perkembangan bisnis kulinernya.
"Mungkin karena anak kita ingin Papanya perhatian sama dia sayang."
"Benar juga ya Mas?"
Tak lama kemudian Karin merasakan kembali tendangan anaknya dan lebih kuat.
"Arghhh... Mas, sakit lagi." Karin memegang perutnya bagian kanan. Anaknya begitu kuat menendang-nendang perutnya.
"Sayang....." Yudha khawatir jika istrinya akan melahirkan sekarang.
Baby Boy dari tadi terus saja menendang-nendang dalam perut Karin. Yudha juga memegang perut Karin.
"Anak Papa sudah tidak sabar ya bertemu dengan Papa dan Mama?" Saat merasakan tendangan anaknya yang begitu kuat dari perut istrinya.
"Jangan siksa Mamamu dengan tendanganmu nak. Tendang saja Papa ya?" ucapnya kembali.
"Memangnya Mas yang hamil? Minta ditendang segala lagi," ucap Karin terkekeh dan sekarang perutnya sudah mulai reda rasa sakitnya.
"Maksudnya gini sayang. Sepertinya saat Keisha masih dalam kandungan kamu waktu itu."
Yudha memeluk perut Karin lalu menempelkan pipinya ke perut istrinya dan merasakan tendangan anaknya. Yudha juga sambil mengusap-usap perut buncit istrinya. Karin lalu mengerti apa yang di maksud oleh suaminya.
"Hmm.............." Karin hanya menjawab dengan deheman saja.
Yudha masih terus saja menempelkan pipinya di perut istrinya. Karin lalu mengusap kepala suaminya. Rasa sakitnya kini telah hilang. Karin tersenyum, suaminya begitu perhatian kepadanya. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Yudha dan Karin tadi tidak mengunci pintu kamarnya. Jadi kedua putra dan putrinya masuk ke kamarnya.
"Papa............" Keisha memanggil Papanya dan mendekati Karin dan Yudha.
"Mama.........." Keifano memanggil Karin dan langsung terbengong melihat Papanya menempelkan pipinya ke perut Mamanya.
__ADS_1
Keifano lebih dekat dengan Karin. Sedangkan Keisha lebih dekat dengan Yudha. Karin menoleh dan ternyata kedua buah hatinya datang. Sedangkan Yudha masih betah menempelkan pipinya di perut istrinya.
"Sini sayang..... Ayo duduk sama Mama dan Papa," ucap Karin sambil menepuk sofa kosong yang ada disampingnya.
Keisha dan Keifano lalu duduk di sofa tersebut.
"Papa pain?" [Papa ngapain?] Tanya Keisha penasaran.
"Papa lagi merasakan tendangan adik kamu nak." Sambil melepaskan pelukannya dan sekarang duduk seperti biasa.
"Benalkah? Keisha uga ngin asakana uga Papa." [Benarkah? Keisha juga ingin merasakannya juga Papa.]
"Sini Papa pangku dan kamu akan bisa merasakan tendangan adik kamu."
Keisha menurut dan lalu turun dari sofa dan menghapiri Yudha. Keisha sekarang sudah dipangkuan Yudha. Keisha lalu menempelkan pipinya juga seperti Papanya tadi.
"Iya Papa. Erut Mama belgelak cendili." [Iya Papa. Perut Mama bergerak sendiri.]
"Itu tandanya sebentar lagi adik kalian akan lahir nak."
Keifano loncat-loncat kegirangan saat tahu adiknya akan lahir segera lahir.
"Nak, jangan loncat-loncat nanti jatuh," ucap Karin takut anaknya terjatuh.
"Ciap Mama." [Siap Mama.] Sambil hormat.
Keifano lalu berhenti loncat-loncat dan lalu memegang perut Karin. Anaknya masih saja menendang-nendang dalam perutnya.
"Sebentar lagi kamu bisa melihat adik sayangnya Mama..." Karin sambil mengusap kepala putranya kesayangannya.
Yudha bahagia kedua anaknya senang adiknya akan lahir. Sekarang Keifano sudah duduk di sebelah Karin. Sedangkan Keisha masih betah duduk di pangkuan Yudha.
"Sayang, lihatlah betapa bahagianya kedua anak kita akan mempunyai adik."
"Iya Mas." Jawabnya singkat sambil tersenyum.
"Tidak menyangka ya sayang, saat umur mereka besok mau 3 tahun dan akan langsung punya adik."
Besok adalah hari ulang tahun si kembar Keifano dan Keisha yang ke 3 tahun.
"Iya Mas. Ini karena kesalahan aku juga lupa mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Waktu itu kan aku sedang sibuk skripsi dan mau wisuda."
"Iya sayang. Tidak apa-apa kok. Aku senang kalau kamu hamil lagi."
Yudha bahagia anaknya akan lahir beberapa hari lagi.
"Aku Mas yang kadang jadi sudah tidur semasa hamil. Ini saja sudah engap rasanya pas jalan. Pinggang juga sering sakit."
"Sayang, terima kasih ya sudah mau mengandung anak-anakku."
__ADS_1
"Iya Mas sama-sama. Mas juga selalu menuruti saat aku ngidam," ucapnya sambil tersenyum.
Karin masih teringat saat Yudha memakai kostum Lebah waktu itu. Yudha rela panas-panasan demi menuruti kemauan istrinya.
"Ayo anak-anak kita cium Mama sama-sama." Yudha mengajak kedua anaknya mencium Karin.
Keifano mengecup pipi kanan dan Keisha mengecup pipi kiri. Sedangkan Yudha mengecup kening istrinya. Karin bahagia suami dan anaknya menyayanginya. Yudha lalu ingin menjahili istrinya.
"Sayang apa kamu mau hamil lagi nanti sesudah anak kita lahir?" Sambil memegang perut buncit Karin.
Karin melongo mendengar ucapan suaminya. Saat ini dirinya sedang hamil 9 bulan. Bisa-bisanya suaminya berbicara seperti itu. Yudha sepertinya ingin punya anak lagi. Dalam pikiran Karin sekarang seperti itu. Padahal Yudha hanya iseng saja ingin menjahili istrinya.
"Tidak Mas! Kamu ini tidak kasihan apa sama aku? Lihatlah, aku saja sekarang sedang mengandung anakmu lagi." Sambil memegang perutnya yang sudah membesar.
Yudha hanya tersenyum saja.
"Lagian aku sudah memberikan kamu 6 anak. Ya meskipun ketiga anak kita keguguran saat usia kandungan aku baru 5 bulan waktu itu."
"Sayang aku hanya menjahili kamu. Aku cuma penasaran bagaimana tanggapan kamu." Sambil menarik hidung istrinya.
"Mas jahil sekali sih!" Sambil mengusap hidungnya.
"Anak-anak lihat hidung Mama jadi merah seperti ini. Sekarang ayo gantian kita gelitikin Papa."
"Ciap Mama." [Siap Mama.] Semua anaknya hormat menghadap ke Karin.
Keifano dan Keisha lalu turun dari sofa dan menggelitiki Yudha.
"Ampun, sayang... Hei anak-anak Papa sudah mulai jahil ya."
"Papa luan ang ahil Mama." [Papa duluan yang jahili Mama] Keifano membantu Mamanya.
"Kamu memang anak kesayanganku nak." Sambil tersenyum senang Keifano membelanya.
Bibi tersenyum saat mau menyapu kamar si kembar dan melewati kamar Karin dan Yudha.
"Keluarga yang bahagia. Mudah-mudahan Nona dan Tuan selalu bahagia." Lirihnya sambil tersenyum senang melihat majikannya bahagia dengan anak-anaknya.
Bibi langsung pergi dan menuju ke kamar si kembar.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 rate 5 🌟 and biar author tambah semangat 🆙
tambahkan ke favorit biar saat 🆙 ada pemberitahuannya 🙂
Jangan lupa berikan hadiah dan vote. Terima kasih ❤️
Akhirnya karya author masuk karya rekomendasi 😍
__ADS_1