
Yudha sudah selesai membuat nasi goreng untuk menantunya yang sedang ngidam. Mereka lalu menemui Keisha dan bersama-sama ke rumah sakit. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.
"Assalamualaikum....."
"Wa'alaikum Salam....."
"Key dan Keifano kalian makan dulu ya nak," ucap Karin sambil mengeluarkan dua kotak makan.
Key mengambil kotak makan tersebut begitu juga dengan Keifano yang lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kotak makan yang telah Mama siapkan.
"Nah yang ini spesial untuk menantu kesayanganku," ucap Karin lalu mendekati Anisa.
"Mama suapin kamu ya sayang? Biarkan Keifano sarapan dulu ya nak."
Anisa mengangguk pelan. Karin lalu menyuapi menantunya.
"Masakan Papa Yudha emang benar-benar enak ya Mama. Pantas saja Keyla suka nasi goreng buatan Papa," ucap Anisa.
"Iya nak. Dulu waktu Mama hamil, Papa Yudha selalu saja masakin Mama dan apapun keinginan Mama selalu ia turuti."
Karin tersenyum tipis dan saat ini ngidam Anisa yang paling penting untuknya.
"Kalau begitu makanlah yang banyak nak. Besok kalau kamu mau lagi Papa Yudha pasti akan buatkan nasi goreng yang sama untukmu," ucapnya dengan entengnya berbicara seperti itu.
Yudha matanya melebar sedangkan Anisa matanya berbinar-binar setelah Karin berbicara seperti itu.
"Iya Mama. Anisa besok pagi ingin makan lagi nasi goreng buatan Papa Yudha."
"Sayang, malam ini kamu harus benar-benar dihukum. Setiap hari sepertinya Anisa akan memintaku untuk dibuatkan nasi goreng." Batin Yudha.
Bukan gimana-gimana tetapi Yudha adalah laki-laki dan hanya sesekali saja menginjakkan dapur. Lagian ia juga harus ke rumah sakit. Tak lama kemudian besannya sudah datang bersama dengan Andika.
Dion bahagia anak beserta cucunya tidak kenapa-kenapa. Alya juga tampak terlihat tersenyum saat Karin menyuapi Anisa. Terlihat kasih sayang Karin terhadap Anisa sangat tulus seperti menganggap Anisa anaknya sendiri.
"Alhamdulillah, aku menikahkan anakku kepada keluarga yang tepat. Anisa sekarang begitu dicintai oleh Keifano dan juga disayangi oleh keluarga suaminya." Batin Alya.
Sebagai seorang ibu akan merasa bahagia jika anaknya diperlakukan baik oleh keluarga besannya.
"Nak, makanlah yang banyak. Umi bawakan buah kesukaan kamu," ucap Alya sambil meletakkan buah di meja.
"Makasih Umi. Anisa tadi sudah makan bubur buatan Mama Karin. Tapi tiba-tiba saja ingin makan nasi goreng buatan Papa Yudha."
"Eh? Kamu jadi sudah makan dua kali pagi ini nak?"
"Iya Abi Mama dan Papa masak untukku. Tadi suamiku juga yang menyuapiku makan bubur."
Dion terheran dengan anaknya, biasanya Anisa tidak pernah makan banyak seperti ini.
"Si kembar lapar terus ya nak?"
"Hehehe iya begitulah Abi. Anisa jadi cepat lapar semenjak hamil."
Sekarang Anisa sudah selesai makan nasi goreng sampai habis tak tersisa. Key dan Keifano sudah selesai juga menghabiskan sarapannya. Dering ponsel Keifano berbunyi nyaring. Keifano segera mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Kerja yang bagus! Aku akan segera ke sana."
Keifano lalu mematikan teleponnya.
"Anak buah Mama sudah bisa menemukan siapa pelakunya nak?" tanya Karin.
Keluarga Alexander memang punya beberapa anak buah untuk selalu menjaga keluarganya. Begitu juga dengan keluarga Risa juga yang selalu dijaga keselamatan keluarganya.
"Sudah Mama. Keifano mau tahu siapa pelakunya."
"Aku ikut ya Kak?" ucap Keyla.
"Jangan, kamu di sini saja adikku dan biar aku dan Key saja yang menanganinya."
"Iya, jangan ikut nak. Bahaya!" ucap Yudha.
Keyla hanya bisa pasrah dan tidak ingin melawan Papanya. Karin ingin tahu siapa yang benar-benar mencelakai menantunya sehingga sopirnya yang harus jadi korbannya.
"Orang seperti itu harus diberikan pelajaran nak. Bisa ngelunjak jika dibiarkan saja."
"Iya Mama."
Keifano beranjak dari tempat duduknya dan mendekati sang istri.
"Sayang, kamu hati-hati ya?" ucap Anisa.
"Iya sayang, aku pergi dulu ya. Kamu tidak usah khawatir denganku. Karena aku tidak akan kenapa-kenapa."
Keifano lalu mengecup kening Anisa sebelum pergi dengan Key.
Mata Keifano melebar saat melihat lokasi yang dikirimkan oleh anak buah Mamanya.
"Kurang ajar! Ternyata Cassandra yang ada dibalik ini semua. Aku tidak akan memaafkan kamu Cassandra. Berani-beraninya berurusan dengan Keluarga Alexander."
"Sabar Kak."
"Telepon kantor polisi Key dan suruh mereka untuk tidak membuyikan suara mobilnya agar kita bisa langsung menangkap Cassandra," ucapnya kembali.
"Siap Kak, aku akan telepon sekarang juga."
Key lalu menghubungi nomor polisi dan mereka langsung jalan menuju tempat lokasi. Tadi Keifano sempat terkejut saat anak buah Mamanya mengirimkan lokasi hotel dan kemudian berpindah ke rumah Cassandra.
Cassandra saat ini sedang di kamarnya dan tertidur lagi. Cassandra masih sangat capek karena kegiatan malamnya dengan Tama. Cassandra terkejut saat pintu kamarnya diketuk oleh Bibi.
"Ada apa sih Bi? Berisik banget deh!"
"Itu ada Den Keifano."
Matanya terbelalak saat mendengar perkataan asisten rumah tangganya.
"Aku akan segera turun. Buatkan Keifano minuman."
"Baik Non."
__ADS_1
Bibi lalu pergi ke dapur. Sementara Cassandra mengganti pakaiannya dan memakai parfum. Papa Cassandra sedang menikmati teh hangat di taman belakang jadi tidak tahu jika ada tamu.
Cassandra keluar dari kamarnya dan mengernyitkan dahinya saat Keifano tidak sendirian tapi dengan Key. Cassandra berlari kecil dan lalu memeluk Keifano.
"Sayang, kamu rindu ya sama aku?"
"Lepaskan aku!"
"Wah yang habis malam pertama nih," ucap Key.
Cassandra mendelik, dia sangat terkejut saat calon adik iparnya berbicara seperti itu. Cassandra jadi ingat kalau semalam bersama dengan Tama.
"Keifano untuk apa kamu ke rumahku dan membawa Key?" tanya Cassandra langsung to the point.
"Kamu berani-beraninya mencelakai istriku!"
"Haha, dia pasti sudah keguguran kan saat ini. Keifano tinggalkan dia dan kembalilah padaku."
Keifano tidak ingin Cassandra tahu bahwa Anisa baik-baik saja.
"Cih, aku tidak sudi jika harus kembali lagi sama kamu. Aku tidak mau barang bekas."
Kata bekas membuat Cassandra murka.
"Keifano kamu jahat! Bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu kepadaku."
"Memang kenyataannya seperti itu kan? Sekarang kamu harus terima atas perbuatan yang sudah kamu lakukan."
"Apa maksudmu?"
Belum menjawab perkataan Cassandra langsung ada tiga polisi yang masuk ke rumah Cassandra.
"Jangan bergerak dan berusaha untuk kabur atau kami akan menembak Anda sekarang juga."
Cassandra membolakan matanya saat ketiga polisi mengarahkan tembakannya pada dirinya.
"Pak, Anda salah sasaran. Bukan saya pelakunya dan jangan tangkap saya," ucap Cassandra berusaha untuk membela diri.
"Kami punya bukti video dan nanti Anda bisa jelaskan lagi di kantor polisi."
Anak buah Karin memang selalu menjaga keluarganya. Mereka biasanya memantau dari jauh.
"Pak saya tidak salah. Keifano jangan biarkan aku ditangkap polisi."
"Haha, percuma saja kamu meminta pada Kak Keifano. Ia tidak akan berubah pikiran untuk hal ini," ucap Key.
"Kalian semua dasar kejam!"
"Heh, berpikir dahulu siapa yang kejam. Kita atau kamu?" ucap Keifano dengan nada tinggi.
"Keifano, aku benci kamu!"
"Sudah jangan banyak bicara, ayo ikut kami."
__ADS_1
Cassandra tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Keifano lega sekarang masalahnya sudah selesai. Cassandra sudah dibawa oleh polisi saat ini. Papanya Cassandra terkejut saat anaknya tertangkap polisi. Ia langsung menyusul anaknya ke kantor polisi. Tadi ia tidak bertemu dengan Keifano maupun Key karena mereka sudah pergi saat asisten rumah tangganya melapor ke Papanya Cassandra.