Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 90 - Harus Ikhlas


__ADS_3

Yudha melajukan mobilnya dengan cepat agar segera sampai di rumah sakit. Dirinya ingin segera menemui istrinya. Sesampainya di rumah sakit Yudha melihat istrinya yang belum sadar pun kembali meneteskan air mata. Perlahan Yudha mendekati istrinya yang wajahnya masih pucat. Pandangan Yudha kini mengarah ke perut Karin yang tadi pagi masih membesar dan sekarang sudah rata kembali. Tadi dirinya masih bisa merasakan ketiga anaknya menendang-nendang dalam perut istrinya. Namun sekarang perut Karin sudah rata seperti semula saat Karin masih gadis. Air mata Yudha mulai membanjiri pipinya. Yudha sudah tak kuasa menahan tangisannya.


"Ini semua salahku. Jika aku tadi tidak berangkat bekerja maka semua akan baik-baik saja. Anakku pasti masih akan tetap hidup dan istriku tidak akan kritis seperti saat ini." Kini Yudha menggenggam tangan Karin dan meletakkannya di pipinya.


"Sayang, bangunlah. Aku membutuhkanmu kamu untuk selalu berada disamping diriku. Aku harap kamu segera sadar sayang."


"Nak, sabar ya. Ini semua mungkin cobaan terbesar untuk rumah tangga kalian," ucap Mama Sabrina memegang bahu putra semata wayangnya agar kuat menghadapi cobaan yang meskipun berat untuk dilalui.


"Iya Mama....."


Perlahan Mama Sabrina mendekati menantunya yang belum kunjung sadar.


"Menantuku, maafkan Mama ya. Selama ini mungkin Mama bersikap buruk kepadamu. Mama terlalu egois yang selalu meminta cucu darimu. Maafkan atas kesalahan Mama nak," ucapnya sambil membelai rambut Karin.


Mama Sabrina sudah tidak tahan lagi untuk meneteskan air mata. Sekarang dirinya sudah kehilangan ketiga calon cucu pertamanya. Papa Yudhistira yang tahu istrinya menyesal pun lalu mendekatinya.


"Mama............" Memegang pundak istrinya untuk menguatkan agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Papa........." Kini Mama Sabrina memeluk suaminya. Rasa sedihnya kini masih ada. Setelah kehilangan ketiga calon cucunya dan kini menantunya sedang kritis.


"Semoga saja menantu kita segera cepat sadar."


"Iya Papa, Mama juga berharap seperti itu."


Orang tua Karin, Papa Keynan dan Mama Chintya kini sudah sampai di rumah sakit. Mama Chintya kini sudah khawatir terhadap anak kesayangannya. Mereka kini sudah sampai di ruang rawat VVIP. Dokter masuk mengecek kondisi Karin dan sekarang Karin sudah melalui masa kritisnya dan hanya tinggal menunggu waktunya untuk segera sadar.


Mama Chintya berjalan mendekati Karin yang matanya masih terpejam.


"Anakku........." Lirihnya sambil menangis karena melihat keadaan anaknya yang terbaring lemah dan wajahnya pucat.

__ADS_1


"Papa, cucu kita telah tiada." Mama Chintya kini sudah meneteskan air mata. Tak kuasa untuk menahannya lagi.


"Mama... Kita harus ikhlas." Papa Keynan kini memeluk istrinya. Matanya juga sudah berkaca-kaca.


"Orang yang mencelakakan Karin sudah masuk penjara Papa." Yudha menjelaskan dengan hati-hati karena Papa mertuanya itu galak.


Seketika Papa Keynan melepaskan pelukan istrinya dan melihat rekaman CCTV di rumah baru Yudha.


"Nak, aku kan sudah bilang kalau sampai anakku tidak hidup bahagia denganmu untuk apa kalian bersama. Setelah ini kamu ceraikan saja Karin. Kembalikan dia kepadaku, aku akan membuat anakku bahagia kembali sebelum dia mengenal dirimu." Papa Keynan kini menatap tajam menantunya.


Papa Yudhistira dan Mama Sabrina terkejut dengan apa yang diucapkan oleh besannya. Yudha seperti tersambar petir. Jantungnya terasa mau lompat saat Papa mertuanya berbicara seperti itu. Hatinya kini terasa sakit saat ini.


"Papa Keynan, saya mohon jangan lakukan hal itu. Saya tidak bisa hidup tanpa Karin Papa." Yudha kini sudah bersimpuh dikakinya.


"Papa kecewa sama kamu nak. Mana janjimu yang bisa menjaga anakku? Kini aku telah kehilangan ketiga cucuku dan sampai sekarang Karin juga belum sadar."


"Papa, maafkan Yudha. Ini semua salahku."


"Papa akan memaafkan kamu jika kamu mau melepaskan Karin. Sepertinya kalian memang tidak cocok. Dari segi umur saja kalian juga terpaut jauh. Papa akan mencarikan laki-laki yang bisa menjaga dan melindungi Karin dan yang pastinya itu bukan laki-laki sepertimu." Papa Keynan menunjuk wajah menantunya.


"Papa, jangan bicara seperti itu," ucap Mama Chintya.


"Mama, anak kita berhak bahagia. Karin sangat bahagia sebelum mengenal Yudha."


"Papa tidak ingat saat Karin menikah dengan Yudha? Anak kita kebahagiaannya dengan Yudha. Mungkin umur mereka terpaut jauh tapi Mama bisa melihat mereka saling mencintai dan cinta mereka begitu tulus," ucap Mama Chintya yang tidak rela anaknya berpisah dengan Yudha.


Seketika Karin mengerjapkan matanya saat mendengar suara ribut-ribut di ruangannya.


"Ah... Kepalaku pusing sekali," ucapnya sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Sayang..............." Kini Yudha langsung menghampiri istrinya.


"Mas, aku dimana?" tanyanya yang masih bingung.


"Kamu di rumah sakit nak," ucap Papa Yudhistira.


"Rumah sakit?" ucapnya sambil menautkan kedua alisnya.


Seketika Karin teringat kejadian saat Fani datang dan mendorongnya hingga dirinya merasakan kesakitan di bagian perutnya dan Karin langsung menelepon suaminya agar segera datang untuk menolongnya. Karin lalu melihat ke arah perutnya yang sudah rata. Yudha yang tahu Karin melihat ke arah perutnya pun juga merasakan sedih yang sangat mendalam karena mereka kini telah kehilangan ketiga anaknya.


"Anak-anakku.........." Karin memegang perutnya yang sudah rata. Air matanya lolos membanjiri pipinya. Baru saja kemarin tahu jenis kelamin ketiga anaknya kini anaknya sudah tiada.


"Mas, ini aku tidak sedang bermimpi kan?" Karin mencoba untuk menepuk-nepuk pipinya dan memastikan bahwa dirinya tidak bermimpi.


Yudha menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Tidak mungkin......" Karin berteriak dan menangis histeris. Karin tidak percaya bahwa ketiga anaknya kini telah tiada.


"Sayang, kita harus ikhlas." Yudha langsung memeluk istrinya berusaha untuk menenangkannya.


"Mas, aku bukan ibu yang baik. Aku tidak bisa menjaga ketiga anak kita." Kini Karin menangis dalam pelukan suaminya.


"Sayang, jika harus ada yang disalahkan, ini semua salahku yang tidak bisa menjagamu dan anak-anak kita."


Yudha kini merasa bersalah, jika saja dirinya tidak pergi dari rumah hari ini. Mungkin dirinya tidak akan kehilangan ketiga anaknya.


"Bagus kalau kamu sudah mengakui kesalahan kamu." Papa Keynan berbicara dengan nada yang tinggi.


"Papa, tahan emosi. Anak kita baru saja sadar dari kritisnya." Mama Chintya menggenggam tangan suaminya.

__ADS_1


Papa Keynan mengangguk pelan. Mama Chintya hanya tidak ingin suaminya memperkeruh suasana. Kini Karin pingsan kembali dan masih dalam pelukan Yudha. Karin terpukul kini telah kehilangan ketiga anaknya. Baru saja bahagia kemarin anaknya sudah bisa menendang-nendang didalam perutnya dan sekarang sudah tiada. Kini Yudha, Papa Keynan dan Papa Yudhistira akan segera menguburkan ketiga anak Karin dan Yudha. Mereka harus mengikhlaskan kepergian ketiga bayi itu. Mungkin ini cobaan terberat untuk keluarga mereka saat ini. Yudha masih berharap jika istrinya masih bisa untuk hamil lagi. Meskipun dokter tadi bilang kemungkinan bisa hamil lagi hanya 20% saja. Namun Yudha tetap yakin jika Karin nanti masih bisa hamil lagi.


__ADS_2