
Sebulan telah berlalu. Alya belum merasakan adanya tanda-tanda kedatangan sang buah hatinya. Alya tetap berpikiran positif. Mungkin belum rezekinya untuk memiliki seorang anak.
Pemikiran Alya dengan Karin dan sangat berbanding terbalik. Alya sudah menginginkan kehadiran sang buah hatinya tumbuh di rahimnya. Tapi berbeda dengan Karin yang ingin menunda kehamilannya nanti setelah menikah dengan Yudha.
Alya turun dari mobilnya, seperti biasa Alya selalu membelikan makan siang untuk karyawannya. Saat Alya membuka box nasi untuk makan siangnya Alya menghirup aroma makanan tersebut kemudian merasakan perutnya bergejolak. Alya berlari menuju wastafel memuntahkan isi perutnya.
Asistennya membantu Alya dan memijit leher belakangnya. Tak lupa asistennya membuatkan teh hangat untuknya.
"Bu, mungkin ibu sedang hamil?"
"Tidak, aku hanya masuk angin saja. Karena semalam aku beli ketoprak dengan suamiku. Mungkin aku terkena angin malam."
Asistennya mengangguk paham. Memang angin di malam hari juga tidak bagus karena bisa menyebabkan masuk angin. Seingat Alya mungkin dirinya hanya masuk angin biasa. Alya belum menyadari bahwa dirinya kini sudah terlambat datang bulan. Saat sudah minum teh hangatnya, Alya merasa sudah enakan dan kembali makan bersama asistennya.
...*****...
Alya sudah menunggu suaminya pulang di rumah. Tidak tahu kenapa Alya saat ini sangat merindukan Dion. Padahal tadi pagi sudah bertemu dan siangnya tak lupa video call. Saat suara mobil Dion terparkir, Alya langsung beranjak dari duduknya dan membukakan pintu untuk suaminya. Alya berlari menghampiri Dion dan memeluknya.
"Bi, aku kangen banget sama Abi."
Dion membalas pelukannya dan terdiam sejenak. Dion bingung istrinya sekarang jadi manja tidak seperti biasanya.
"Tumben Umi jadi manja begini hehehe," ucap Dion terkekeh.
"Emang manja sama suami sendiri gak boleh?" ucap Alya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Abi senang kok kalau Umi seperti ini. Eh ayo kita masuk, nanti dilihat tetangga gak enak."
"Biarin, Umi masih ingin peluk Abi," ucap Alya dengan nada memohon.
Dion pun terheran-heran, tidak biasanya Alya seperti ini. Bahkan kalau Dion ingin memeluknya saat itu mereka sedang berada di taman, namun Alya tidak mau karena katanya malu dilihatin banyak orang. Tapi sekarang sebaliknya Alya mengacuhkan jika orang melihatnya.
"Ya sudah kita masuk dulu. Habis itu Umi boleh peluk Abi lagi."
"Hmm iya Bi."
Dion lalu mengelus kepala Alya. Mereka sekarang sudah berada di ruang tamu. Alya kembali memeluk Dion. Sedangkan Dion bahagia istrinya kini memeluknya. Rasa capeknya seharian bekerja di kantor terasa terbayarkan saat istrinya memeluknya.
"Bi, Umi sekarang emangnya agak gendutan ya?" Tanya Alya dengan serius.
"Hmm iya Mi." Dion keceplosan bicara seperti itu dan masih mengelus-elus kepala Alya.
"Huft..... Abi ini sama saja dengan karyawanku," ucap Alya cemberut.
"Duh kayaknya aku salah bicara." Batin Dion.
"Eh, tidak kok Mi. Umi tidak gendutan kok. Hanya saja Umi terlihat lebih chubby pipinya."
"Sama aja Abi. Itu Abi mau bilang Umi gendutan juga kan?"
"Tidak... Tidak Umi."
"Ah, Abi nyebelin!" ucap Alya ketus dan lalu meninggalkan Dion di ruang tamu.
Dion terkejut Alya tiba-tiba Alya ngambek dengannya. Dion bingung harus gimana. Dion lalu memilih menyusul Alya ke kamar.
__ADS_1
"Mi, Abi tadi tidak bermaksud berkata seperti itu. Mau bagaimanapun Umi tetap cantik kok dimata Abi."
"Makasih Bi," ucap Alya sambil memeluk Dion kembali.
Dion akhirnya lega Alya tidak ngambek lagi dengannya. Seketika Alya teringat sesuatu, Dion belum mandi dan belum makan sepulang kerja.
"Abi mandi dulu ya. Habis itu kita makan bersama."
"Iya Mi. Ya sudah Abi mandi dulu."
Alya mengangguk pelan. Dion lalu masuk ke kamar mandi. Alya lalu memilihkan pakaian ganti untuk suaminya. Setelah sudah menyiapkan pakaian Dion, Alya berjalan ke dapur membuatkan teh hangat untuk suaminya.
Dion sekarang sudah mandi dan berpakaian rapi. Alya lalu masuk ke dalam kamarnya membawa secangkir teh hangat untuk suaminya. Dion sudah duduk di sofa.
"Bi, diminum dulu tehnya."
"Iya Mi, makasih."
Dion lalu mengambil secangkir teh dari tangan Alya. Hangatnya teh pas dinikmati disaat hujan seperti ini. Setelah minum teh Alya sudah duduk di sofa bersama dengan Dion.
"Bi, makan yuk. Tadi Umi sudah masak."
"Iya Mi. Oh iya Umi masak apa hari ini?"
Alya sengaja memasak makanan kesukaan suaminya. Alya ingin menjadi istri yang baik untuk Dion.
"Umi masak ayam rica-rica kesukaan Abi."
"Wah sepertinya enak. Ayo Umi kita segera ke ruang makan. Abi sudah lapar."
"Iya Bi ayo kita ke ruang makan."
"Mi, ini sangatlah enak," ucap Dion sambil melanjutkan makannya.
"Umi suka kalau Abi makan dengan lahap begini," ucap Alya dengan memperhatikan suaminya makan dengan lahapnya.
"Loh, Umi kok makannya hanya diaduk-aduk saja. Kenapa Mi?"
"Umi tidak selera makan," ucap Alya sambil menunduk.
"Umi pengen makan sesuatu?" Tanya Dion.
Seketika Alya memikirkan makanan yang menurutnya enak dimakan saat cuaca sehabis hujan begini.
"Iya Bi. Umi pengen banget makan bakso."
"Baiklah, habis ini kita cari bakso ya Umi."
"Iya Bi. Tapi nanti Abi temani Umi makan disana."
"Iya Umi. Apa sih yang enggak buat istriku yang cantik."
Perkataan Dion membuat hati Alya berbunga-bunga saat ini. Alya bersyukur punya suami seperti Dion yang terkadang suka bercanda. Setelah Dion selesai makan, Dion dan Alya masuk ke mobil mereka akan mencari bakso.
"Bi, kita kesitu saja. Bakso malang sepertinya enak."
__ADS_1
"Iya Mi, ya sudah ayo kita turun."
Dion membuka pintu mobilnya. Kemudian membukakan pintu untuk Alya. Alya bahagia dirinya diperlakukan seperti tuan putri oleh suaminya. Dion lalu memesan satu porsi bakso. Tak lama kemudian bakso yang Alya inginkan sudah ada di depan mata. Alya matanya berbinar-binar dan langsung melahap baksonya.
"Mi, makannya pelan-pelan. Santai saja Umi makannya."
"Bi, ini baksonya sangat enak. Abi harus mencicipinya," ucap Alya sambil menyuapi Dion bakso.
"Emm... Iya Mi enak."
Alya tersenyum saat Dion menemaninya makan. Mereka lalu pulang setelah Alya kenyang memakan baksonya. Alya nambah 1 porsi bakso tadi sampai Dion terheran-heran. Karena tidak biasanya Alya makan banyak.
Malam hari jam 21:16 wib Alya merasakan lapar. Alya ingin memakan martabak manis. Keinginannya itu tidak bisa untuk ditunda.
"Bi, temani Umi beli martabak yuk. Umi lagi pengen makan martabak manis."
"Umi masih lapar?" Tanya Dion.
"Iya Bi, Umi masih lapar Abi."
"Ya sudah ayo kita berangkat sekarang. Abi ambil jaket dulu."
"Iya Bi. Umi tunggu di ruang tamu ya?"
"Siap nyonya Hendrawan."
Alya tersenyum mendengar perkataan Dion. Lalu dirinya melangkahkan kakinya menuju ruang tamu untuk menunggu suaminya mengambil jaket.
Setelah muter-muter mencari penjual martabak. Akhirnya menemukan penjual martabak yang masih buka. Dion lalu menepikan mobilnya.
"Umi di mobil saja ya? Biar Abi yang belikan Umi martabak."
"Gak mau! Umi mau ikut. Umi kan pengen lihat cara membuat martabaknya Abi."
"Ya sudah ayo Mi."
Mereka lalu memesan 1 porsi martabak manis rasa coklat kacang. Martabaknya dibungkus dan akan dibawa pulang.
"Mbak, wah sama adeknya akur ya? Jarang-jarang loh Kakak dan Adik itu bisa akur," ucap sang penjual martabak yang melihat Alya dan Dion seperti Kakak beradik.
"Dia istri saya Pak," ucap Dion singkat.
"Oh maaf. Masnya masih muda, jadi saya kira adiknya."
"Memang suami saya ini usianya lebih muda 3 tahun dari saya Pak," ucap Alya menjelaskan.
"Iya mbak, maaf saya kira tadi adiknya dan ternyata suami mbak."
"Iya tidak apa-apa Pak."
Dion sudah membayar martabaknya. Setelah 19 menit kemudian mereka sudah sampai rumah kontrakannya. Dengan segera Alya membuka martabak yang dari tadi pengen dia makan. Matanya berbinar saat melihat martabak yang dia pengen sudah berada didepan mata.
"Abi, ayo makan martabaknya."
"Buat Umi saja martabaknya. Biar Umi tambah chubby," ucapnya terkekeh.
__ADS_1
"Abi........."
Dengan terpaksa Dion memakan martabak itu meskipun hanya satu potong. Karena Alya tadi menyuruh Dion juga mencicipi martabaknya. Akhirnya Alya berhasil menghabiskan martabaknya. Dion melongo melihat martabak manis tersebut tidak tersisa sama sekali. Biasanya Alya makan martabak manis maksimal hanya tiga potong saja namun saat ini hampir satu porsi martabak habis di makannya. Karena tadi hanya berkurang satu potong yang dimakan Dion. Namun Dion juga suka jika Alya semakin chubby. Berarti dirinya bahagia menikah dengannya.