
Sekarang mereka sudah makan malam bersama. Karin sekarang bicaranya irit sekali sama Yudha. Kalau Yudha bertanya dengan istrinya jika jawabannya iya maka Karin akan mengangguk begitu pula jika jawabannya tidak Karin hanya menggelengkan kepalanya. Sekarang ketiga anaknya sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Karin barusan saja mengecek kamar Keifano dan juga Keisha. Setelah anaknya terlelap dalam mimpinya, Karin lalu berjalan menuju ke kamarnya. Sedangkan Yudha sekarang sedang berada di kamarnya Key. Putra bungsunya itu suka sekali dibacakan dongeng sebelum tidur. Baru membacakan dongeng belum ada setengahnya namun Key sudah tertidur pulas. Yudha lalu menutup buku dongengkan.
"Selamat tidur jagoan Papa," ucap Yudha sambil menaikkan selimutnya dan mengecup kening Key sebentar.
Yudha lalu menutup pintu kamar anaknya perlahan-lahan. Setelah itu Yudha lalu melangkahkan kakinya ke kamarnya. Yudha menutup pintu kamarnya.
"Sayang Key sudah....." Perkataannya terpotong karena Karin sudah menatap tajam ke arah suaminya.
"Jangan membicarakan tentang anak lagi Mas. Sudah aku katakan berkali-kali kalau aku tidak mau hamil lagi."
"Tapi kan sayang, Apa kamu tidak sayang dengan anak kita?"
"Aku sangat sayang padanya. Bagaimanapun juga aku ini ibunya Mas. Dimana-mana seorang ibu akan selalu menyayangi anaknya dengan sepenuh hati. Tapi aku hanya tidak suka dengan permintaannya yang menurutku konyol itu."
"Ya sudah sayang kita tidur saja. Ini sudah malam dan aku juga sudah mengantuk."
Yudha lalu membaringkan tubuhnya di ranjang berukuran king size tersebut.
"Siapa yang mengizinkan Mas berbaring di kamar?"
"Eh maksudnya apa sayang?" Yudha mengernyitkan dahinya.
"Kamu tidur di sofa yang ada di luar malam ini." Sambil menunjuk pintu kamarnya.
"Apa??" Yudha terkejut dan duduk di tepi ranjang saat ini.
"Sayang, kamu sedang bercanda kan?"
"Aku serius Mas. Ini hukuman buat Mas yang dari tadi membicarakan soal anak terus. Kan sudah aku katakan berkali-kali jika kita hanya akan punya 3 anak saja. Aku tidak ingin hamil lagi. Kamu seharusnya ngertiin aku dong Mas!"
"Maafkan aku ya sayang. Aku hanya tidak mau mengecewakan Key saja."
"Apapun alasannya pokoknya Mas malam ini tidur di luar."
"Tapi sayang? Masa iya, aku tidur di luar sih? Apa kamu tega sama aku?"
"Mas yang tega sama aku! Mas tadi membela Mamanya Laura daripada aku, istri kamu sendiri."
"Astaga, jadi kamu masih ngambek soal perkataanku yang tadi sayang?"
__ADS_1
"Mas aku tidak ingin membahasnya lagi. Mas cepat keluar. Aku ingin istirahat."
"Huft...... Iya... Iya aku akan keluar."
Sambil membawa bantalnya keluar. Yudha lalu berjalan ke sofa ruang keluarga.
"Huft...... Kalau istri lagi kedatangan tamu bulanannya ya jadi seperti ini. Selalu saja marah-marah. Beda sekali saat hamil Key kemarin. Karin bersikap lebih lembut dan manja." Gerutu Yudha.
Malam ini akhirnya Yudha tidur di sofa ruang keluarga. Baru pertama kalinya Yudha diusir dari kamar oleh istrinya.
"Hmm..... Seharusnya aku tidak membicarakan soal anak dengan Karin saat sedang tamu bulanannya datang. Jadi tidur di luar kan aku malam ini," ucap Yudha yang menyesal telah berbicara seperti itu.
Di kamarnya Karin masih kesal dengan suaminya. Karin ngantuk sekali hari ini. Karin lalu membaringkan tubuhnya ke ranjang berukuran king size tersebut. Tak lama kemudian Karin sudah mulai terlelap dalam mimpinya.
Yudha mau tidak mau dirinya harus tidur di sofa ruang keluarga. Namun harus bagaimana lagi karena istrinya sedang ngambek. Kalau sudah begini Yudha hanya bisa pasrah saja. Pagi hari seperti biasa si kembar diantar oleh sopirnya. Sedangkan Key seperti biasa Karin yang mengantarkannya sampai ke sekolah. Karin tak sengaja bertemu dengan ibunya Laura. Memang saat ini perut ibunya Laura sudah terlihat membesar karena sedang hamil 9 bulan.
"Bu Lidya... Maaf sebelumnya, tapi saya mohon jangan mencampuri urusan rumah tangga saya."
"Maksudnya apa Bu? Saya tidak mengerti." Bu Lidya bingung seketika Karin berbicara seperti itu.
"Maksudnya saya, Anda jangan meracuni pikiran anak saya. Sekarang Key jadi sering meminta adik terus sama saya."
"Maafkan saya Bu. Tapi saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya bilang sama Key jika ingin adik harus minta sama Mama dan Papanya."
"Nah itu dia kesalahan ibu. Seharusnya ibu jangan bicara seperti itu."
"Sekali lagi maafkan saya ya Bu?"
Karin menjawab dengan anggukan pelan dan lalu pergi. Karin lalu menuju ke butiknya, pesanan semua baju di butiknya akhir-akhir ini sangat banyak. Karena penjualannya meningkat akhirnya Karin bisa tersenyum lagi dan tidak murung karena memikirkan adik untuk Key. Karin juga masih kesal dengan suaminya yang mendukung Key untuk punya adik. Padahal Karin sudah bilang berkali-kali hanya akan punya anak 3 saja.
Sebulan telah berlalu. Karin sekarang sudah memaafkan suaminya. Yudha juga tidak membicarakan soal adik untuk Key lagi. Karin lega akhirnya suaminya tidak merayu dirinya lagi untuk memberikan Key adik. Karena Karin hanya ingin punya 3 anak saja. Karin capek jika harus hamil lagi dan melahirkan anaknya. Baginya kehadiran Keifano, Keisha dan Key sudah cukup untuk meramalkan rumahnya.
Karin dan Yudha tengah diundang ke acara tujuh bulanannya Alya. Mereka mengajak semua anak-anaknya. Sekarang sudah selesai acara tujuh bulanannya. Mereka lalu melanjutkan berbincang-bincang.
"Kak Alya selamat ya, akhirnya si kembar Anisa dan Andika akan punya adik juga."
"Iya Karin. Terima kasih ya Karin sudah datang ke acara tujuh bulanan kehamilanku."
"Iya Kak Alya sama-sama."
__ADS_1
"Oh iya apakah kamu tidak ingin punya anak lagi?" Tanyanya penasaran.
"Tidak Kak Alya, 3 anak menurutku sudah cukup."
"Tapi kamu masih muda loh Karin dan sepertinya Kak Yudha ingin mempunyai anak darimu lagi."
"Iya memang suamiku ingin punya anak lagi Kak Alya, itu semua karena permintaan anak bungsunya yang ingin meminta adik Kak.".
"Kalau begitu tunggu apalagi Karin. Berikan Key adik yang lucu seperti dirinya."
"Tidak Kak Alya. Aku ingin punya 3 anak saja."
"Ya sudah terserah kamu Karin. Yang penting anak-anak kamu merasa selalu bahagia dan tidak kurang kasih sayang kalian kepadanya."
"Iya Kak Alya, pastinya mereka tidak akan kekurangan kasih sayang."
Yudha kini ingin bertanya dengan Dion mengenai kehamilan Alya.
"Dion......." Yudha mendekati ke arah Dion.
"Ya bro, kenapa?"
"Jenis kelamin bayinya apa bro?"
"Kita tidak mau Dokter menyebutkan jenis kelamin bayinya. Agar surprise nanti saat melihatnya waktu Alya melahirkan."
"Ehm... Jarak anakmu kok jauh banget sih bro?" Yudha ingin mendengarkan jawaban Dion.
"Oh itu, karena sudah jalannya takdir seperti itu."
"Maksudnya gimana?" Sambil menyatukan keduanya alisnya.
"Istriku lupa untuk mengkonsumsi pil pencegah kehamilan tersebut."
"Oh, sama seperti Karin saat hamil Key dulu dong bro. Karin juga lupa untuk mengkonsumsinya."
"Kok bisa samaan begitu ya bro?" ucapnya terkekeh.
"Aku juga tidak tahu bro, kenapa istri kita jadi pelupa seperti itu."
__ADS_1
Mereka lalu tertawa bersama. Alya dan Karin yang melihat para suaminya tertawa bersama pun saling melempar senyuman. Mereka merasa bahagia para suaminya juga semakin akrab.