Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 49 - Aku Butuh Bukti Bukan Janji


__ADS_3

Di cafe mereka saling berbincang-bincang. Karin dan teman-temannya duduk di ruangan bebas, tidak VIP yang bebas asap rokok seperti setiap kali saat makan dengan Yudha. Kalau Yudha tahu hal ini pasti akan marah karena Karin tidak menjaga kesehatannya. Jadi Karin hanya diam saja, lagian tidak enak dengan teman-temannya. Nanti dikiranya sombong karena calon suaminya adalah seorang dokter.


Malam telah tiba, Yudha melajukan mobilnya ke rumah baru Karin yang letaknya tidak jauh dari rumah Risa. Orang tuanya sekarang sudah menetap tinggal di Indonesia. Yudha membawa sebuket bunga, kali ini bunga mawar merah muda yang ia bawa.


"Karin suka gak ya dengan bunga yang akan ku berikan?" lirihnya.


Yudha sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Karin. Jantungnya berdegup dengan kencang saat ini. Karena akan bertemu dengan calon mertuanya. Yudha begitu takut dengan Papa Keynan. Yudha mengatur nafasnya dan berjalan menuju pintu ruang tamu. Sebelum menekan tombol bel pintu tak lupa Yudha mengirimkan pesan WhatsApp kepada sang pujaan hatinya.


📤 Yudha : "Sayang, aku sudah sampai di depan."


Setelah mengirimkan pesan WhatsApp, Yudha memasukkan hpnya ke kantong saku celananya. Kemudian Yudha menekan bel pintu, berharap Karin yang akan membukakan pintunya. Yudha berbalik memunggungi pintu.


Yudha akan memberikan kejutan untuk Karin dengan sebuket bunga yang dibawanya setelah pintunya terbuka. Pintunya tiba-tiba terbuka. Yudha sudah berbalik dan tersenyum, namun terkejut saat tahu siapa orang yang membukakan pintunya. Tak lain adalah Papa Keynan. Yudha terbengong saat melihat calon mertuanya yang membukakan pintunya dan bukan Karin. Papa Keynan melihat Yudha membawa sebuket bunga mawar merah muda untuk putrinya seketika teringat dengan masa mudanya yang mendapatkan cinta istrinya dengan hal yang serupa.


"Kamu mengingatkanku saat aku masih muda nak, semoga sikap kamu terus seperti ini dengan anakku." Batin Papa Keynan dengan bibir yang sudah berbentuk bulan sabit.


"Ehem..........." Papa Keynan membuyarkan lamunan Yudha.


"Eh... Om, selamat malam."


"Malam....." Papa Keynan menjawab singkat.


Yudha lalu mengecup punggung tangan calon mertuanya.


"Karinnya ada Om?" Tanyanya dengan gugup.


"Ada, mari silahkan masuk nak."


Yudha berjalan mengikuti Papa Keynan. Mereka lalu duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian Mama Chintya datang menemui Yudha. Tak lupa Yudha juga mengecup punggung tangan calon mertuanya.


"Wah, nak kamu mengingatkanku dengan suamiku."


"Tentang apa Tan?"


"Panggil saja Mama. Sudah dibilang beberapa kali panggil Mama saja. Sebentar lagi kamu juga akan menjadi menantuku."


"Eh? Iya Mama. Tadi mengingatkan tentang apa Ma?"


"Suamiku juga sering memberikanku bunga. Saat aku sedang marah dirinya juga memberikan bunga untukku. Bukan begitu kan Papa?"


"Iya Mama."


"Wah Papa Keynan sangat romantis ya Mama hehehe."


"Iya suamiku ini memang romantis nak. Sampai sekarang dirinya tidak berubah. Aku harap kamu juga bisa seperti suamiku, tidak akan berubah setelah menikah nanti."


"Pasti Mama. Yudha tidak akan pernah berubah."


"Baguslah kalau begitu," ucap Papa Keynan.

__ADS_1


"Silahkan diminum nak," ucap Mama Chintya.


"Iya Mama." Yudha lalu meminum teh hangat yang sudah dibuat oleh asisten rumah tangganya.


Tak lama Karin datang dan tersenyum ke arah Yudha.


"Eh Kak Yudha sudah lama datangnya? Karin baru saja melihat WhatsApp dari Kakak."


"Sudah sa....." Yudha teringat dirinya sedang dihadapan calon mertuanya, jadi harus bersikap sopan dan tidak menyebut Karin dengan panggilan sayang seperti biasanya.


"Sudah dari tadi Kakak datang Karin," ucapnya dengan senyuman dan sedikit gugup.


Karin memaklumi jika saat ini sedang ada orang tuanya. Tadi Kak Yudha hampir saja keceplosan memanggil Karin dengan sebutan sayang.


"Eh iya ini bunga untukmu Karin. Selamat ya atas kelulusanmu."


"Wah terima kasih banyak ya Kak. Tumben mawarnya bukan mawar merah seperti biasanya yang Kakak berikan?" tanya Karin dengan polosnya.


"Karena setiap bunga memiliki makna Karin."


"Maksudnya Kak? Karin tidak mengerti."


"Bunga mawar merah itu sebagai tanda cinta atau kasih sayang seseorang kepada orang yang disayanginya. Mawar merah muda pertanda arti sebuah kebahagiaan. Sedangkan mawar putih berarti sebuah ketulusan."


"Papamu juga selalu kasih Mama bunga mawar putih saat Mama ngambek atau marah sama Mama Karin."


"Iya Mama. Papa selalu romantis ya sama Mama meskipun sedang marahan," ucap Karin.


"Oh iya, Kakak kok tahu arti setiap bunga?"


"Kakak belajar dari orang yang sudah pernah punya pacar Karin. Dokter Rio yang memberi tahu Kakak."


"Dokter Rio yang sedang bucin dengan Dokter Siska itu kan Kak?"


"Iya sayang, kamu kan tahu betapa bucinnya saat mereka datang menjenguk Kakak, saat masih dirawat di rumah sakit." Yudha keceplosan bilang sayang kepada Karin.


"Ehem............." Papa Keynan berdehem setelah Yudha bilang sayang kepada anaknya.


Yudha sadar atas hal itu. Yudha jadi tersenyum dan sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal karena canggung saat ini.


"Sudahlah nak gak usah canggung. Papa juga pernah muda," ucap Papa Keynan sambil tersenyum.


Yudha bahagia calon mertuanya yang ia takuti kini tersenyum kepadanya.


"Pa, saya mau minta izin mau ajak Karin jalan."


"Iya nak boleh, asalkan pulangnya jangan sampai malam. Sebelum jam 21:30 wib putriku sudah harus sampai di rumah."


"Siap Papa....."

__ADS_1


Karin dan Yudha lalu mengecup punggung tangan Papa Keynan dan Mama Chintya. Setelah itu mereka lalu keluar rumah. Setelah anaknya pergi bersama Yudha Mama Chintya menutup pintunya dan Papa Keynan masih duduk di ruang tamu.


"Pa, Mama senang deh Yudha bisa romantis seperti Papa. Mama berharap Yudha akan seperti ini terus sampai mereka menikah nanti."


"Iya Ma. Kalau Yudha berani menyakiti hati anak kesayangan kita, Papa tidak akan tinggal diam."


"Iya Papa. Mama juga setuju. Bagaimanapun juga kebahagiaan Karin adalah hal yang paling utama."


...*****...


Yudha dan Karin sudah sampai di restoran. Seperti biasa mereka selalu memesan ruangan VIP yang bebas dengan asap rokok dengan alasan agar selalu menjaga kesehatan di manapun sedang berada.


"Sayang, kamu hari ini terlihat sangat cantik." Yudha tersenyum sambil menatap wajah Karin.


"Kamu mulai gombal deh sayang. Padahal aku biasa saja."


"Enggak kok beneran sayang, kamu memang cantik."


Karin lalu mengalihkan pembicaraannya.


"Eh iya Astrid dan Andre bentar lagi akan menikah sayang."


"Oh ya? Kapan sayang?"


"3 mingguan lagi. Setelah tadi pagi dapat SKL dari sekolah, kita kan langsung makan bareng tuh berempat. Nah sorenya mereka langsung foto prewedding."


"Ah iya, kita lalu kapan akan foto prewedding sayang?" ucap Yudha sambil menggenggam tangan Karin.


Karin menatap wajah Yudha.


"Emang harus ya Kak? Dion dan Kak Alya saja tidak ada foto prewedding. Bukannya itu tidak wajib ya?"


"Tapi kan aku ingin ada foto prewedding kita sayang yang nantinya akan dipajang di acara resepsi pernikahan kita."


"Nanti tanyakan sama Mama dan Papa dulu ya Kak."


"Baiklah. Semoga mereka menyetujuinya sayang."


"Iya, mudah-mudahan sayang."


Mereka lalu makan malam bersama. Yudha sangat ingin ada foto prewedding agar nantinya bisa dipasang di depan pintu masuk saat resepsi pernikahannya. Mereka sudah selesai makan malam bersama.


"Sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi istriku. Aku bahagia banget akhirnya kamu mau aku nikahin setelah lulus SMA. Tadinya aku was-was kamu akan menolaknya lagi."


"Eh? Iya sayang. Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi. Kejadian kecelakaan kamu kemarin yang membukakan pintu hatiku agar selalu bersamamu."


"Sayang, aku berjanji akan selalu setia dan sehidup semati. Aku akan selalu membahagiakanmu sampai kita akan menua bersama."


"Buktikan ucapanmu sayang. Aku butuh bukti bukan janji!" ucap Karin dengan tegas.

__ADS_1


"Siap Calon Nyonya Sanjaya." Yudha memberikan hormat kepada Karin.


Karin terkekeh melihat tingkah laku Yudha. Sedangkan Yudha tersenyum senang saat ini Karin benar-benar mau menikah denganya dan tadi Karin bilang tidak ingin kehilangannya. Yudha bahagia sebentar lagi akan menikah dengan Karin. Yudha juga tidak akan pernah mengingkari janjinya. Karena Yudha sangat mencintai Karin. Yudha ingin kebahagiaan selalu datang dalam hidupnya bersama dengan Karin dan juga anak-anaknya kelak. Yudha tidak ingin sampai ada pelakor ataupun pebinor di dalam rumah tangganya.


__ADS_2