
Pagi hari yang cerah Yudha dan Karin bersiap untuk ke rumah sakit. Yudha akan memeriksa kandungan istrinya sekaligus melihat jenis kelamin ketiga anaknya. Yudha sudah tidak sabar ingin melihat jenis kelamin ketiga anaknya. Yudha berharap ketiga anaknya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kini Yudha masih memeluk perut Karin dan menempelkan telinganya di sana.
"Mas, mau sampai kapan kamu akan seperti ini? Sudah seperempat jam kamu seperti ini Mas," ucapnya sambil mengelus rambut Yudha pelan.
"Aku sedang ingin mendengarkan mereka didalam ngapain saja sayang. Aku kangen sama mereka bertiga."
"Hahaha... Kamu ini lucu Mas. Mereka kan baru bisa memberikan tendangan kecil dari dalam dan tidak bisa bersuara."
"Iya aku tahu sayang. Tapi kan aku penasaran saja."
"Ehm... Kita kapan nih Mas ke rumah sakitnya kalau kamu terus seperti ini?"
"Biarkan sebentar lagi ya sayang. Aku masih ingin bersama mereka.
"Hmm... Iya Mas." Karin sebenarnya nyaman Yudha seperti ini karena Yudha sangat perhatian dengan ketiga anaknya.
"Aku takut Fani akan melakukan hal yang tidak-tidak dengan kamu dan juga anak-anak kita sayang. Aku akan berusaha untuk menjaga kamu dan juga ketiga anak kita. Maafkan aku yang tidak cerita kepadamu. Aku takut kamu akan kepikiran dan itu membahayakan bagi kondisi kamu." Batin Yudha.
Yudha lalu teringat hari ini akan melihat jenis kelamin ketiga anaknya.
"Sayang ayo kita ke rumah sakit."
Karin hanya mengangguk pelan. Kini mereka sedang menuju perjalanan ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Yudha sengaja memilih rumah yang dekat dengan rumah sakit karena agar bisa pulang cepat. Kini Karin sudah berbaring di ranjang rumah sakit. Yudha tadi sudah mengoleskan gel ke perut Karin. Yudha sedang melihat layar monitor mencari tahu jenis kelamin ketiga anaknya.
"Sayang, jenis kelamin anak kita satu laki-laki dan dua perempuan."
__ADS_1
"Wah... Sudah bisa terlihat ternyata ya Mas." matanya berbinar-binar saat melihat ke layar monitor.
"Iya sayang aku bahagia sekali. Mereka pasti akan cantik sepertimu sayang."
"Iya dan anak kita yang satunya pasti akan ganteng seperti Papanya."
Yudha bahagia bisa mengecek kandungan istrinya sendiri. Tujuannya ingin menjadi dokter kandungan ya memang karena ingin melihat anaknya setiap saat. Yudha rajin mengecek kandungan istrinya setiap dua minggu sekali.
Karin lega sekarang saat sudah mengetahui ketiga jenis kelamin anaknya. Kini Yudha sudah membersihkan gel di perut Karin dan membantu istrinya untuk duduk.
"Sayang, aku bahagia akhirnya anak kita lengkap laki-laki dan perempuan." Yudha memeluk Karin.
"Iya Mas. Aku bahagia banget tadi melihat mereka tumbuh sehat di rahim aku." Karin membalas pelukannya.
"Iya, pokoknya kamu harus rajin minum vitamin yang aku berikan ya sayang. Insya'allah anak kita akan sehat-sehat saja."
"Mas, jangan terlalu erat memeluknya. Ingat ada ketiga anak kita."
"Hehe iya. Aku sudah tidak sabar untuk menunggu mereka bertiga lahir agar aku bisa memelukmu dengan erat." Yudha mengelus perut Karin pelan dan ketiga anaknya meresponnya.
"Wah, anak Papa sudah pada tidak sabar ya ingin ketemu Papa kalian yang ganteng ini."
"Hahaha... Mas terlalu percaya diri."
"Itu benar faktanya sayang. Kalau aku tidak ganteng kan kamu juga tidak mau menikah sama aku. Apalagi umur kita berbeda 7 tahun."
__ADS_1
"Mas, aku mencintaimu dengan tulus dan apa adanya. Bukan karena kamu seorang dokter muda yang ganteng hehehe," ucapnya terkekeh.
"Aku juga hanya mencintaimu istriku. Selamanya cintaku hanya untukmu."
"Mas, aku hanya butuh bukti bukan janji."
"Iya sayang kan sudah aku buktikan bahwa hanya kamu yang ada di hatiku. Dan aku juga tidak pernah dekat dengan wanita lain kan?"
Karin mengangguk pelan pertanda mengiyakan perkataan suaminya.
"Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Bahkan cintaku lebih besar kepada kamu daripada rasa sayangku kepada Mama."
Memang Yudha selama ini tidak terima jika Karin dimarahi oleh Mamanya. Kejadian salah paham waktu itu membuat mata Yudha terbuka dengan lebar bahwa Mamanya tidak begitu menyukai Karin. Terlebih Mamanya hanya ingin cucu dari menantunya agar bisa menjadi penerus pemilik rumah sakitnya. Sejak Fani datang beberapa bulan yang lalu kasih sayang Mama Sabrina semakin berkurang karena melihat Fani sudah kembali ke Indonesia.
"Sayang, aku antar sampai rumah ya."
"Tidak usah repot-repot Mas. Sebentar lagi pasien kamu banyak yang datang."
"Sayang jangan berbicara seperti itu. Aku ini kan suami kamu. Lagian jarak rumah kita ke rumah sakit tidaklah jauh."
"Hmm... Iya sayang ya sudah ayo kita pulang," ucapnya dengan senyuman dan tidak mau mengecewakan suaminya.
Setelah Yudha mengantar Karin sampai masuk ke dalam rumahnya perasaan Yudha lega. Semenjak Bibi bilang ada yang memata-matai rumahnya, sejak itu pula Yudha harus selalu waspada dengan orang-orang yang ingin mencelakakan istri dan juga anaknya. Yudha tidak mau sampai kecolongan.
Di kamarnya Karin menelepon kedua orang tuanya dan mengobari bahwa ketiga calon cucu mereka berjenis kelamin dua perempuan dan satu laki-laki. Papa Keynan bahagia kini cucunya ada yang berjenis kelamin laki-laki. Karena keinginan terbesarnya akan menjadikan cucunya untuk memimpin perusahaannya nanti setelah mereka dewasa. Sedangkan Mama Chintya tak kalah terkejutnya saat mendengar ketiga calon cucunya berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Bahagia mereka akan mendapatkan cucu tiga sekaligus dengan jenis kelamin mereka yang berbeda yaitu laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
Tak lupa Karin menghubungi Papa Yudhistira. Memberitahu kabar bahwa mereka telah USG ketiga anaknya dan Papa Yudhistira bahagia sekali ketiga cucunya sehat didalam kandungan menantu kesayangannya. Karin lebih cocok dengan Papa Yudhistira dibandingkan dengan Mama Sabrina. Karena Papa mertuanya itu sifatnya bisa mengayomi berbeda dengan Mama Sabrina sifatnya yang egois, kepo dan suka mencampuri urusan kehidupan rumah tangga Yudha dan Karin.
Setelah menghubungi mereka semua kini Karin lega. Seketika dirinya ingin makan yang segar dan asam. Karin teringat masih ada salad buah di dalam kulkasnya. Dengan segera Karin berjalan menuju dapur untuk mengambil salad buah. Rasa segar asam dan manis jadi satu. Kini Karin bahagia ngidamnya tidak aneh-aneh selama hamil ketiga anaknya. Karin bersyukur anaknya semakin sehat tumbuh di rahimnya. Karin tidak sabar akan segera bertemu dengan ketiga anaknya beberapa bulan lagi. Kini Karin sedang mengelus perutnya pelan dan menyapa ketiga anaknya yang masih dalam kandungannya. Karin tadi melihat hasil USG ketiga anaknya ada rasa bahagia menyelimuti dirinya. Karin tidak menyangka akan menjadi seorang ibu dari ketiga anaknya sebentar lagi.