
Karin sudah mandi dan berpakaian dengan rapi. Karin memakai dress warna biru muda. Warna yang menjadi kesukaannya selain warna pink and peach. Karin menuju ke meja riasnya. Karin berdandan dengan cantik dengan lipmatte berwarna pink yang menghiasi bibirnya dan rambutnya juga dibiarkan digerai dengan indah. Orang tidak akan menyangka bahwa Karin sudah bersuami jika tidak sedang hamil. Karena Karin seperti masih gadis saja. Wajahnya masih terlihat imut dan kecantikan Karin mewarisi ke putrinya.
Setelah berdandan dengan cantik Karin memutar tubuhnya. Pandangannya ke arah suaminya yang sedang main game. Karin melotot dan menggelengkan kepalanya, sudah menjadi seorang ayah dari kedua anaknya dan mau tiga anak tapi kelakuan suaminya masih seperti anak kecil enak-enakan main game.
"Mas, mandi dulu sana!" Perintahnya agar suaminya segera beranjak dari sofa.
Yudha masih terdiam di sofa sambil asyik main game.
"Mas cepetan! Keburu siang ntar mall rame kalau saat jam makan siang."
"Sebentar sayang. Lagi nanggung ini, karena sebentar lagi mau menang."
Yudha masih fokus dengan game-nya dan tidak melihat istrinya yang sudah berdandan dengan cantik.
"Lihat nak, Papa kamu tadi kalau sudah main game jadi lupa waktu dan lupa sama kita," ucapnya sambil mengelus perutnya.
"Anakku, lihatlah nak Papa kamu kalau sudah main game jadi lupa waktu dan lupa sama kita. Kalau kamu besar nanti jangan seperti Papamu ya nak." Batin Karin sambil mengelus perutnya pelan.
Karin lalu melihat ke arah suaminya dan masih saja main game.
"Pilih mandi sekarang atau hpnya nanti aku sita." Ancamannya dengan tatapan tajam.
"Iya sayang. Iya, aku akan mandi sekarang....." Yudha langsung meletakkan hpnya di meja.
Yudha melongo saat melihat penampilan istrinya yang sangat cantik seperti bidadari yang turun dari kayangan. Sekarang Yudha tanpa berkedip.
"Cantik......." Yudha takjub dengan istrinya
"Mas kok malah melamun sih? cepetan mandi entar keburu siang!" Teriaknya.
Yudha lalu membuyarkan lamunannya mendengar istrinya berteriak.
"Iya sayang. Kamu jangan galak-galak dong."
"Apa katamu? Aku galak?"
"Tidak sayang, aku cuma bercanda kok tadi. Nanti kamu minta apa saja pasti aku turuti," ucapnya dengan tersenyum menampilkan gigi putihnya.
"Gak mempan dengan rayuan kamu Mas. Anak-anak sudah menunggu kita sama Bibi di bawah. Masa kamu kalah sama anak-anak yang sudah mandi dan rapi."
"Iya sayang, aku akan mandi sekarang juga," ucapnya sambil berjalan ke arah kamar mandi.
"Hmm sabar... Sabar... Karin akan tidak marah-marah lagi entar setelah melahirkan." Batin Yudha.
__ADS_1
Semenjak hamil Karin jadi sering marah-marah. Selalu begitu, saat hamil si kembar juga Karin selalu marah-marah. Namun setelah kelahiran si kembar Karin sudah tidak marah-marah lagi. Yudha jadi tahu mungkin karena bawaan sang bayi jadi emosinya naik turun.
Karin bersyukur suaminya selalu setia dengannya. Yang menjadikan Karin kesal hanya saat Yudha main game. Tapi Karin beruntung juga sih suaminya hanya main game daripada main perempuan.
Sekarang Yudha sudah mandi dan berpakaian rapi.
"Ayo sayang, kita temui anak-anak."
"Iya ayo sayang," ucapnya sambil tersenyum.
"Kalau aku sudah mandi dan wangi istriku jadi baik lagi. Beda sekali saat tadi aku sebelum mandi." Batin Yudha.
Mereka lalu keluar dari kamarnya dan menemui si kembar.
"Sudah siap jalan-jalan anak-anaknya?"
"Ciap Papa." [Siap Papa.] Berkata bersamaan sambil hormat.
"Anakku lucu sekali kalau seperti ini." Batin Karin tersenyum bahagia melihat anak-anaknya.
Yudha lalu melajukan mobilnya ke mall. Karin duduk di depan bersama Yudha. Anak-anaknya duduk dibelakang bersama Bibi. Tadinya si kembar ingin duduk di depan. Namun setelah diberi pengertian oleh Yudha anak-anaknya pun mengerti. Yudha bersyukur punya anak yang penurut. Yudha hanya takut terkena tilang polisi saja. Nanti urusannya jadi panjang dan tidak jadi jalan-jalan. Kalau mereka ke rumah Risa atau ke rumah orang tuanya Karin baru kedua anaknya boleh duduk di depan. Meskipun mereka harus duduk berdempetan.
...*****...
Sekarang Karin semakin sukses dan banyak orang yang suka dengan rancangannya. Karena pusing mikirin butiknya dan akhirnya Mama Sabrina lebih memilih refreshing ke mall. Suntuk di rumah karena suaminya belum pulang.
...*****...
Sekarang Yudha dan Karin sedang berbelanja baju. Tak lupa Karin memilih baju untuk anak-anaknya yang menurutnya lucu. Bibi sedang izin sebentar untuk pergi ke toilet. Yudha bersama Keisha memilihkan baju untuk Karin. Sedangkan Karin sedang bersama Keifano memilih baju anak-anak.
"Nak, ini bagus tidak buat Mama?"
Keisha mengacungkan jempolnya.
Keisha juga memilihkan dress untuk Karin dan lalu memberikannya kepada Yudha. Anak perempuannya lebih dekat dengan Yudha. Sedangkan putranya lebih dekat dengan Karin.
"Putriku seleranya bagus juga," ucapnya sambil tersenyum.
Karin sedang memilih baju untuk kedua anaknya. Mereka berbeda tempat namun masih dalam satu toko. Karena saking asyiknya memilih baju untuk anak-anaknya Karin tidak sadar kalau putranya sudah tidak ada disampingnya.
Keifano berjalan menuju ke arah ayunan yang ada di sebuah toko mainan. Keifano lalu menaiki ayunan tersebut. Mama Sabrina habis beli sepatu. Mama Sabrina melewati toko mainan. Pandangan Mama Sabrina langsung ke arah anak yang sedang bermain ayunan di toko mainan tersebut.
__ADS_1
Saat mau turun dari ayunannya. Ada seseorang yang sudah ada di depannya.
"Hai anak manis," ucapnya sambil tersenyum.
Keifano lalu mendongakkan kepalanya.
"Anak ini kenapa mirip sekali dengan Yudha?" Batin Mama Sabrina.
"Kamu kesini sama siapa nak? Kok kamu sendirian?"
"Mama..........." Keifano celingak-celinguk bingung mencari Mamanya.
"Nama kamu siapa nak?"
"Keifano Nek....."
Mendengar kata Nenek seketika hatinya langsung berdesir.
"Seandainya kamu memang cucuku nak. Aku pasti akan sangat bahagia mempunyai cucu yang lucu seperti dirimu." Batin Mama Sabrina.
Saat itu juga terdengar pengumuman bahwa ada seseorang yang kehilangan anaknya dan ciri-cirinya seperti yang disebutkan. Siapapun yang menemukannya akan diberi imbalan.
"Papa dan Mama kamu mencarimu nak. Ayo Nenek antar kamu untuk bertemu dengannya."
Keifano hanya menganggukkan kepalanya. Mama Sabrina lalu menggandeng Keifano untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Karin kini bingung saat ini. Karena anaknya tiba-tiba hilang.
"Mas, ini semua salahku. Anak kita jadi hilang." Kini Karin sudah meneteskan air matanya.
"Bukan salah kamu sayang. Salah aku juga yang tidak memperhatikan kamu."
Yudha juga sedih anaknya hilang.
"Kalau anak kita tidak ketemu bagaimana?" ucapnya cemas.
"Anak kita pasti akan ketemu sayang. Aku yakin akan ada orang baik yang menemukan anak kita."
"Aku takut kalau anak kita diculik Mas."
"Sayang, kamu mikirnya jangan kejauhan. Sudah kita serahkan saja semuanya dengan petugas mall. Kita berdoa saja semoga Keifano cepat ketemu."
Karin mengangguk pelan dan sambil menggandeng putrinya. Karin benar-benar takut kalau beneran ada yang menculik Keifano.
__ADS_1