
Key sampai di rumah Andin. Key menekan bel pintunya, tak lama kemudian ada asisten rumah tangga yang membukakan pintunya.
"Den Key, silakan masuk," ucap Bibi ramah.
Key mengangguk kemudian masuk dan langsung duduk di ruang tamu.
"Bi, Om Rio dan Tante Siska ada Bi?" basa-basi Key.
"Tuan dan Nyonya sedang kondangan."
"Kalau Andin Bi?"
"Non Andin tadi sedang mengaji. Sepertinya sebentar lagi selesai kok Den. Bibi tinggal ke belakang dulu ya Den."
"Iya Bi..."
"Wanita yang sempurna. Cantik, baik dan sholehah. Dia yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku jadi ingin segera menikahinya." Batin Key penuh percaya diri kalau Andin akan menerima cintanya.
Bibi itu langsung ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamu.
"Den Key romantis sekali. Bawa bunga saat ngapel. Ah Non Andin sangat beruntung sekali disukai oleh Den Key."
Bibi jadi senyam-senyum sendiri sambil membuatkan jus jeruk untuk tamunya. Andin yang sudah selesai mengaji lalu tenggorokannya merasa kering seketika karena haus. Akhirnya Andin turun dari kamarnya dan saat sampai di dapur Andin mengernyitkan dahinya karena asisten rumah tangganya itu tidak seperti biasanya tersenyum saat membuat minuman.
"Bibi kok senyam-senyum sendiri. Ada apa Bi?"
"Eh Non... Itu ada Den Key datang ngapel. Den Key bawa sebuket bunga mawar buat Non."
Andin matanya terbelalak saat mendengarnya. Key yang tiba-tiba datang dan membawa bunga mawar untuknya.
"Loh Non kok malah melamun? Temuin Den Key. Non dandan yang cantik dulu."
__ADS_1
"Ah Bibi. Aku seperti ini saja menemuinya."
"Non, jangan membuat Den Key kecewa."
"Hmm, baiklah..."
Bibi tersenyum tipis dan memang mengetahui bahwa sepertinya anak majikannya itu menyukai Key dalam diam selama ini. Setelah minum segelas air putih Andin pergi ke kamarnya untuk berganti baju dan memoles wajahnya agar lebih segar saat dipandang.
"Begini saja sudah cukup," ucapnya sambil menaruh bedaknya.
Andin keluar dari kamarnya dan langsung duduk di depan Key. Andin menundukkan kepalanya ada rasa yang dirinya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Gugup saat melihat tadi laki-laki yang datang membawa sebuket bunga mawar segar yang membuat jantungnya berdegup kencang. Dengan segera Key langsung menaruh gelas yang berisi jus jeruk tersebut dan memandang wajah gadis pujaan hatinya.
"Sangat sempurna," ucap Key keceplosan dan langsung menutup bibirnya dengan tangannya.
Andin lalu menoleh dan kemudian diakhiri dengan senyumannya. Key beranjak dari tempat duduknya dan langsung berlutut di depan Andin dengan menggenggam sebuket bunga mawar segar yang tadi ia petik dengan adiknya di taman belakang rumahnya.
"Andin, sudah lama aku memendam perasaan ini. Kamu selalu ada dalam pikiranku setiap saat. Sebenarnya sudah sejak kita masuk kuliah aku telah menyukaimu. Benih-benih cinta itu tumbuh begitu saja. Aku rasa aku harus segera menyatakan perasaanku padamu sebelum semuanya terlambat. Maukah kamu menerima cintaku? Hidup bersamaku hingga akhir hayatku."
Andin tatkala jantungnya semakin berdetak kencang saat Key tiba-tiba menyatakan perasaannya. Hatinya berbunga-bunga dan seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang dari tubuhnya saat ini. Keduanya itu tidak tahu bahwa sebenarnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Andin melihat wajah Key yang penuh dengan harapan darinya. Namun Andin tidak bisa memberikan harapan palsu dengan Key karena alasannya yang tak lain adalah sudah dijodohkan dengan laki-laki pilihan kedua orangtuanya. Andin juga belum pernah bertemu dengan laki-laki itu sampai saat ini. Kedua orangtuanya bilang nanti laki-laki itu akan datang bersama kedua orangtuanya untuk melamarnya. Andin jadi tidak bisa menerima bunga pemberian dari Key meskipun dirinya juga menyukai teman kecilnya itu.
"Key makasih kamu telah menyatakan perasaan kamu. Tapi maaf, kita tidak bisa bersama dan memiliki hubungan yang lebih jauh lagi. Kamu tahu sendiri kalau aku itu sudah dijodohkan dengan laki-laki pilihan kedua orangtuaku. Meskipun aku juga tidak tahu seperti apa laki-laki pilihan kedua orangtuaku karena kita belum pernah bertemu sebelumnya. Key bisakah kamu mengerti akan posisiku saat ini," ucap Andin yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
Key jadi merasa tidak enak dengan Andin. Aksi nekad menyatakan perasaannya itu justru membuat gadis pujaan hatinya seakan ingin menangis saat ini.
"Maafkan aku yang nekad berbicara seperti tadi. Tapi aku lega sudah memberitahu kamu akan perasaanku. Aku juga tahu diri kok Andin. Sepertinya kedua orangtua kamu itu memilihkan laki-laki yang lebih baik segala-galanya dariku dan pastinya yang sudah sangat mapan. Tidak seperti diriku yang statusnya masih sebagai seorang mahasiswa. Om Rio dan Tante Siska pasti memilih menantunya seorang Dokter juga."
Andin melihat guratan wajah Key yang tampak kecewa dan bersedih. Andin jadi merasa tidak enak hati dengan Key. Mereka sejak kecil sudah berteman dan saling mengenal. Keluarga mereka juga cukup akrab selama ini.
"Sudahlah, lupakan saja apa perkataan aku tadi Andin. Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Semoga kamu bahagia bersama laki-laki pilihan orangtua kamu," ucapnya kembali sambil berusaha tersenyum tipis meskipun hatinya sakit seperti sedang diiris-iris.
__ADS_1
Key bangkit berdiri dan meletakkan bunga mawar segar itu di meja ruang tamu. Bunganya masih segar tapi tubuh Key yang layu. Seperti tidak punya semangat hidup saja saat gadis pujaannya menolak cintanya. Tak terasa air matanya juga jatuh saat berjalan menuju pintu.
"Key tunggu..."
Key langsung membalikkan tubuhnya. Andin tak sengaja melihat air mata Key yang belum sempat Key hapus.
"Laki-laki itu menangis?" Batin Andin.
Andin baru melihat ini pertama kalinya Key menangis. Biasanya Key selalu saja ceria saat bertemu dengannya.
"Key, kita masih bisa berteman seperti biasa kan? Kamu tidak membenci aku kan?"
"Iya, kita masih bisa berteman seperti biasanya Andin dan kamu tenang saja ya. Jangan pikirkan apa yang tadi aku katakan padamu. Anggap saja aku tidak pernah berbicara seperti itu. Yang ada nanti pertemanan kita akan rusak jika kamu masih memikirkannya," ucap Key tersenyum tipis.
"Hmm iya Key, makasih ya bunganya. Aku sangat suka dan nanti akan aku taruh pada vas bunga yang ada di kamar."
"Kamu menyukai bunga pemberian dariku. Tapi tidak menyukai diriku." Batin Key sakit hati tapi berusaha untuk tegar.
"Alhamdulillah kalau kamu menyukainya. Sampai bertemu besok di kampus Andin. Aku pulang dulu wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam..."
Andin mengantarkan Key sampai teras lalu dia melambaikan tangannya dengan senyumannya yang begitu manis. Setelah Andin melihat kepergian mobil Key yang keluar dari rumahnya Andin masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Tak terasa air matanya menetes saat melihat bunga mawar pemberian dari Key.
"Aku juga mencintaimu. Tapi kita tidak bisa bersatu." Batin Andin.
Andin lebih memilih untuk berteman seperti biasa dengan Key. Andin lalu membawa bunga mawar tersebut ke kamarnya dan sebagai penghias kamarnya. Sekarang bunga-bunga itu sudah Andin masukkan ke dalam vas yang berisi sedikit air. Andin menghirup aroma bunga tersebut.
"Key, seandainya saja kedua orangtuaku membebaskan aku untuk memilih pasangan hidupku sendiri dan aku pasti akan memilih kamu sebagai calon imanku," ucapnya lirih.
Bibi yang ingin mengambil pakaian kotor dari kamar majikannya itu seketika mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Kasihan mereka saling mencintai tapi tidak bisa bersama. Tuan dan Nyonya seharusnya tidak boleh egois. Karena bagaimanapun juga kebahagiaan anak itu nomor satu. Tapi Tuan dan Nyonya sepertinya mengambil langkah yang salah dalam hal ini, menjodohkan Non Andin dengan laki-laki pilihannya. Menikah tanpa cinta, apa hidupnya akan bahagia." Batin Bibi lalu pergi dan memilih untuk besok pagi saja untuk mengambil pakaian kotor.
Bibi kasihan dengan anak majikannya itu. Saling mencintai tapi tidak bisa untuk bersama.