
Jangan lupa untuk tinggalkan jempol kalian sebelum baca ❤️
Keisha sudah sampai di tempat acara yang untuk reunian. Matanya membulat sempurna saat melihat suaminya itu menggandeng wanita cantik. Keisha berjalan dengan langkah seribu. Dia tak lupa mengambil segelas air dan lalu menyiram ke wanita itu di depan semua orang.
"Kenapa kamu nyiram aku?"
"Dasar pelakor tak tahu malu. Bisa-bisanya jalan bersama suamiku."
"Keisha kamu keterlaluan," ucap Adrian yang melayangkan tamparan keras pada pipi istrinya.
"Mas, kenapa kamu menampar aku?"
"Kamu keterlaluan dan bikin malu saja. Ini tempat umum dan tidak seharusnya kamu berperilaku seperti ini. Kamu seperti wanita yang tidak berpendidikan saja dan percuma kamu kuliah sampai S3 jika kamu tidak punya otak untuk berpikir."
Tak terasa air mata Keisha menetes saat suaminya berbicara pedas seperti itu. Terlebih mereka sekarang sedang berada di tempat umum.
"Apa lebihnya dia dibandingkan diriku Mas? Cepat jawab!" teriak Keisha.
"Jelas saja dia lebih menarik dibandingkan kamu yang gendut dan seperti badut."
Wanita yang disampingnya tersenyum puas meskipun tubuhnya sedikit basah karena tadi Keisha menyiramnya dengan air.
"Mas tubuhku menggendut juga karena aku sedang hamil. Ini anak kamu, darah daging kamu Mas!"
"Kamu sendiri yang ingin hamil. Sudah aku bilang jangan hamil dulu. Eh kamu malah hamil secepat inil. Sekarang cepat pulang ke rumah sebelum aku emosi!" kesal Adrian.
"Kamu tega sama aku Mas," ucapnya dengan derai air mata dan lalu pergi meninggalkan acara reunian tersebut.
Keisha berlari dan meninggalkan tempat reunian tersebut. Dia menangis dan tak melihat jalanan. Keisha menyebrang sembarangan dan duduk di jalan raya karena seketika merasakan perutnya yang sakit. Tak lama kemudian akhirnya ada mobil yang lewat dan akan menabraknya karena Keisha berada di tengah jalan. Pria itu mengira kalau Keisha berusaha untuk bunuh diri.
"Astagfirullah, Keisha ..."
Pria yang tak sengaja melihat Keisha memegang perutnya dan lalu terjatuh itu membolakan matanya saat Keisha merasakan kesakitan.
"Arghhh perutku sakit," teriaknya.
Ferdi lalu menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit.
"Istri Anda akan segera melahirkan."
"Eh? Ehm, melahirkan?" tanyanya gugup.
"Iya, ayo support istrinya Pak. Berikan dia semangat," ucap Suster yang lalu mengajak Ferdi masuk ke ruangan.
Ferdi lalu masuk ke ruangan dan melihat Keisha yang tengah kesakitan.
"Seandainya saja kamu benar-benar istriku," batin Ferdi.
"Semangat Keisha," ucapnya sambil menggenggam tangan wanita yang masih dalam hatinya itu dengan erat.
Ferdi memberikan dukungan kepada Keisha. Dia saat ini berperan menjadi suami dadakan.
"Sakit Mas!" keluh Keisha dengan keringat yang sudah bercucuran.
"Kamu pasti bisa cantik," lirihnya memberi semangat dengan tak sadar Ferdi juga mendaratkan kecupannya pada kening Keisha.
"Mas Adrian .......," teriaknya sambil memejamkan mata.
Tak lama kemudian suara tangisan bayi terdengar.
"Bayinya perempuan," ucap Dokter.
"Alhamdulillah," ucap Ferdi tersenyum.
Meskipun Ferdi bukan Ayah dari bayi tersebut namun ia bahagia karena satu-satunya laki-laki terdekat yang pertama kali melihat wajah bayinya dan bukan Adrian.
"Dia cantik banget Keisha. Wajahnya sangat imut seperti kamu," ucapnya sambil tersenyum.
"Aku tidak menyangka Mas Ferdi yang menemaniku melahirkan. Mas Adrian keterlaluan sekali tega menduakan aku dan menyuruhku untuk pulang dari acara reunian," gerutu Keisha dalam hati.
Sekarang Keisha sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Yudha dan Karin tadi dihubungi Ferdi dan langsung datang.
"Loh mana Adrian?" tanya Karin.
"Dia sedang bersenang-senang di acara reunian dengan selingkuhannya," jawab Keisha kesal.
"Keterlaluan!"
"Suami macam apa itu hah? Sudah kamu bercerai saja sama Adrian nak," geram Yudha.
"Mungkin yang Papa katakan benar. Aku ingin berpisah darinya karena aku merasa dikhianati."
"Nanti Papa bantu urus semuanya."
Keisha hanya mengangguk pelan sambil menepuk-nepuk anaknya agar tertidur. Ferdi tersenyum tipis dan masih menanti Keisha menjadi janda. Ia tak menyangka dulu perkataan dalam hati itu akhirnya Tuhan mengabulkan.
__ADS_1
"Mudah-mudahan setelah ini kamu bisa menerima aku menjadi pasangan hidupmu Keisha," ucapnya dalam hati.
"Om, Tante, maaf kalau saya lancang. Tadi saya yang menemani Keisha melahirkan dan mengadzani putrinya."
"Tidak apa-apa nak. Makasih ya sudah bantu banyak sama keluarga Om."
"Tidak masalah Om. Justru saya senang bisa membantu."
"Nak Ferdi bisa belajar dari hal ini. Jadi nanti kalau punya istri sudah tahu apa yang harus dilakukan saat akan melahirkan. Oh iya, sekarang sudah punya calon istri belum?"
"Ehem, belum punya Tante. Wanita yang saya cintai belum bisa saya dapatkan. Tak hanya hati tapi juga cintanya."
"Kejar cintamu nak," ucap Yudha sambil tersenyum dan menepuk pundak Ferdi memberinya semangat karena Yudha tahu kalau Ferdi masih menyukai anaknya.
"Iya Om, saya tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintanya."
Sedangkan Keisha hanya terdiam saat mengetahui Ferdi punya wanita yang dicintainya.
"Siapa wanita yang dicintai Mas Ferdi? Apakah wanita itu masih aku? Sepertinya aku terlalu berharap banyak. Mas Ferdi baik selama ini karena Papanya temannya Papa Yudha. Ia tidak mungkin mau dengan janda anak satu seperti diriku," batin Keisha.
Sebentar lagi Keisha akan menjadi janda jadi dia yakin kalau sudah tidak ada yang mau dengannya. Keisha akan menikmati kesendiriannya dengan membesar anaknya. Yang penting bagi Keisha anaknya bahagia.
"Aku suka dengan cara kamu nak. Sifat kamu yang optimis itu sama persis dengan suamiku," ucap Karin.
"Om Yudha dulu seperti itu ya, Tante?"
"Iya, bahkan suamiku ini dulu sering sekali menjemput aku saat sekolah."
"Kamu tahu tidak nak. Dulu aku merasa minder karena umurku dan dia jaraknya 7 tahun. Sedangkan Karin saat itu akan dijodohkan. Aku waktu itu nekad mengatakan cinta kepadanya dan akhirnya dia menerima aku dibandingkan laki-laki yang dijodohkan dengannya. Sekarang justru yang dijodohkan dengan istriku itu menjadi besan kita."
"Abinya Anisa atau Papanya Andin yang dijodohkan dengan Tante Karin, Om?"
"Abinya Anisa nak."
Mereka lalu saling tersenyum saat melihat bayi mungil cantik itu menggeliat.
"Wah Om dan Tante akan punya dua cucu lagi nih yang masih belum lahir."
"Iya nih, kedua menantuku sedang hamil. Seharusnya Anisa duluan yang melahirkan tapi Keisha duluan."
"Anakku lahir secara prematur Mama."
"Iya nak tidak apa-apa yang penting sehat semuanya."
Seketika bayi mungil itu menangis.
"Tadi sebelum Mama datang aku sudah memberikannya asi."
"Coba sini Papa yang gendong," ucap Yudha.
Pelan-pelan Yudha menggendong cucunya dan mengecup pipi cucunya yang cantik itu dua kali.
"Namanya siapa nak?"
"Keira Sanjaya, Papa."
"Keira sayang, cup, cup, cup..."
Yudha menepuk-nepuk pelan cucunya. Bayi mungil itu masih saja terus menangis.
"Mas, mungkin dia ingin digendong Neneknya," ujar Karin.
"Ya sudah kamu saja yang menggendongnya," ucap Yudha yang lalu menyerahkan cucunya.
Karin mengecup kening cucunya.
"Cucuku yang cantik. Jangan menangis ya sayang."
Bayi mungil itu justru menangis kencang saat Karin gendong.
"Loh, kok tambah kencang nangisnya."
"Tante, kalau boleh saya coba yang menggendongnya," ucap Ferdi.
"Iya, coba kamu yang menggendongnya nak. Siapa tahu tidak menangis lagi."
Ferdi menggendong Baby Keira. Ia usap perlahan bayi mungil itu dan mengecup pipinya. Tak lama kemudian bayi cantik itu terdiam.
"Aku seperti seorang Ayah jika seperti ini. Padahal ini bukan anakku," ucap Ferdi dalam hati sambil menimang-nimang Baby Keira.
Keisha tersenyum tipis saat melihat Ferdi menggendong anaknya.
"Meskipun Mas Ferdi bukan Ayah dari anakku. Namun Keira bisa berhenti menangis saat digendongnya. Aku tidak tahu hal itu akan terjadi juga atau tidak saat Keira digendong Papannya," ucap Keisha dalam hati.
"Wah hebat kamu nak sudah bisa mengurus anak."
"Sayangnya saya belum punya istri Tante."
__ADS_1
"Bahagianya yang akan menjadi istri kamu nak. Kamu orangnya sabar dan bisa ngurus anak."
"Keisha mana mau sama aku? Dia hanya menganggap aku sebagai Kakaknya saja selama ini," ucapnya dalam hati.
"Mungkin karena saya seorang Dokter spesialis anak Tante."
"Ah iya benar juga."
Andin dan Key nanti akan menyusul untuk menjenguk Keisha dan keponakannya. Mereka akan bersama-sama dengan Anisa dan Keifano ke rumah sakit.
Di kamarnya, Anisa merasakan perutnya semakin melilit.
"Ayah, perutku sakit sekali. Sepertinya aku mau melahirkan."
"Hah? Melahirkan sekarang? Kan belum saatnya sayang."
"Kamu tadi tidak dengar kalau Mama telepon dan Keisha sudah melahirkan. Bahkan kandungan Keisha baru 8 bulan lebih dua mingguan sedangkan aku sudah mau 9 bulan meskipun kurang 2 hari," ucapnya sambil meringis menahan rasa sakit.
"Bunda mungkin hanya mengalami kontraksi palsu saja," jawabnya santai.
Keifano membolakan matanya saat melihat sendiri air ketuban istrinya sudah pecah.
"Astaga, kamu benar-benar akan melahirkan saat ini juga sayang."
"Arghhh, sudah aku bilang dari tadi kalau aku akan melahirkan. Tapi kamu tidak mengerti dan bersantai saja menanggapinya," kesal Anisa sambil menjambak rambut suaminya.
Keifano menggendong istrinya dan turun dari kamarnya.
"Aduh sakit sayang," keluh Keifano saat istrinya masih menjambak rambutnya.
"Biarkan saja. Jangan mau enaknya doang kamu!" teriak Anisa.
Key dan Andin menoleh saat sedang asyik makan rujak. Andin tengah ngidam rujak buah saat ini dan Key sendiri yang harus membuatnya.
"Key tolong setir mobilnya. Anisa mau melahirkan sekarang juga."
"Baiklah, untung saja sudah selesai makan rujak buahnya."
"Iya sayang, ayo kita antar mereka ke rumah sakit sambil jenguk Keisha dan Keira."
Key lalu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Key cepatlah! Kamu tidak bisa lihat kalau Anisa sudah merasakan kesakitan," kesal Keifano karena adiknya menyetir mobil seperti keong.
"Kakak juga harus lihat dong kalau aku juga bawa istriku. Dia juga sedang hamil anakku. Aku takut kalau kandungannya kenapa-kenapa jika aku ngebut."
"Arghhh, kalian bisa diam tidak! Aku bisa melahirkan di mobil kalau kalian berisik."
"Sayang tambah saja kecepatan mobilnya."
"Ta-Tapi," ucapnya terbata-bata.
"Anak kita gak akan kenapa-kenapa kok. Kandungan aku sekarang sudah kuat karena sudah masuk usia 6 bulan," ucapnya sambil mengusap perutnya.
"Baiklah sayang..."
Key hanya pasrah saja dan lalu menambahkan kecepatan mobilnya. Setelah mereka sampai di rumah sakit, Keifano langsung menemani istrinya melahirkan. Anisa melahirkan secara normal. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi. Key dan Andin mengucapkan syukur atas kelahiran keponakan barunya.
"Sayang tak menyangka ya Kak Keifano dan Kak Anisa punya 3 anak. Mereka dulu bahkan tidak saling mencintai."
"Cinta bisa tumbuh kapan saja seiring berjalannya waktu."
"Aku bersyukur punya istri sepertimu."
"Astaga, sayang... Kita belum kasih tahu Papa dan Mama kalau Kak Anisa juga melahirkan."
"Astagfirullah iya, aku sampai lupa sayang. Berdekatan denganmu bikin lupa akan segalanya."
"Gombal deh!"
Key tersenyum tipis dan lalu meraih ponselnya. Key menghubungi Mama Karin bahwa saat ini Anisa juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan Keisha. Sedangkan Andin memberitahu Keyla bahwa Anisa dan Keisha sudah melahirkan.
Bersambung sudah 1,7k lebih nih ntar kepanjangan 😁🤣
Selamat Idul Adha. Maaf lahir dan batin ya 🤗🙏
Kuy Vote gratis guys dan munculnya tiap seminggu sekali dan tidak mengurangi poin kalian kok. Aku sampai vote sendiri di karyaku biar tambah 🙂
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan gift and vote gratisnya ya guys karena hanya dengan itu aku semangat nulis di platform ini 🙏
__ADS_1