
Karin seketika air matanya menetes. Karin jadi teringat saat tadi bicara dengan Yudha di mobil, bahwa dia tadi sempat membentak Yudha karena Yudha mengajaknya menikah saat sudah lulus SMA. Bukannya Karin tidak mau menikah cepat dengan Yudha tapi dia masih belum siap jika harus menjadi ibu muda. Lalu Karin merasakan perih kesakitan saat terkena pecahan gelas kaca tersebut.
"Ya ampun Non Karin terluka. Non tunggu disini sebentar ya Non. Bibi akan ambilkan kotak P3K," ucap Bi Ika.
Karin hanya mengangguk dan meringis yang melihat kakinya yang berdarah terkena pecahan kaca. Setelah 10 menit Bi Ika akhirnya sudah mengobati luka Karin.
"Terima kasih Bi."
"Sama-sama Non."
Karin lalu melangkahkan kakinya ke kamarnya.
"Tap..... Tap...... Tap......."
Karin sudah berada di kamarnya. Saat menutup pintunya dan berbalik dia melihat bunga mawar yang masih segar yang diberikan Yudha tadi sore saat mereka bertemu di restoran. Seketika air mata Karin jatuh kembali saat mengingat perlakuan Yudha yang begitu manis tadi sore.
"Hiks..... Hiks....... Hiks..........."
"Kak Yudha maafkan Karin. Karin salah, Karin telah menyakiti hati Kakak. Kak Yudha bertahanlah untukku. Aku akan segera ke Rumah Sakit menemuimu," ucap Karin sambil meletakkan sebuket bunga mawar merah yang tadi Yudha berikan.
Karin lalu menghapus air matanya kemudian mengambil jaket dan tasnya. Karin berjalan pelan-pelan keluar kamarnya. Saat sudah keluar kamarnya ada Mama Angel yang hendak ke kamarnya Karin.
"Loh sayang kamu kenapa menangis?" tanya Mama Angel.
"Kak Yudha...... Kak Yudha kecelakaan. Hiks..."
Mama Angel lalu memeluknya dan menenangkan keponakannya. Bagaimanapun juga dia sekarang menjadi tanggung jawab Karin selama di Indonesia, karena adik iparnya sedang jauh berada di Korea Selatan. Mama Angel sudah menganggap Karin sebagai anaknya sendiri.
"Ya udah sayang kita kesana ya, kamu tunggu di depan. Mama mau panggil Papa dulu."
Karin hanya mengangguk dan berjalan menuju teras rumah. Di teras Karin langsung menghubungi Risa dan memberitahukannya bahwa Yudha kecelakaan. Risa dan Rey pun kaget soalnya tadi habis jalan-jalan bersama sekarang Yudha kecelakaan dan sedang dirawat di ruang sakit. Risa dan Rey langsung menuju rumah sakit sesuai alamat yang Karin berikan. Karin tak lupa juga menghubungi calon mertuanya Mama Sabrina. Sekarang Mama Sabrina dan Papa Yudhistira sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Papa Kevin dan Mama Angel sudah siap.
"Ayo nak," ucap Papa Kevin.
"Iya Pa."
__ADS_1
Mama Angel duduk dibelakang menemani Karin yang dari tadi menangis. Papa Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Sayang, kamu jangan menangis terus. Mama yakin Yudha pasti baik-baik saja. Kamu yang tenang ya nak," ucap Mama Angel sambil menghapus air mata keponakannya satu-satunya.
"Iya Ma." Karin langsung memeluk Mama Angel.
Yudha sedang berada di IGD. Orang yang menolong Yudha sudah menunggu disana dan tak lama kemudian Mama Sabrina dan Papa Yudhistira datang.
"Bagaimana anak saya bisa kecelakaan Pak?"
"Begini Pak, ada sebuah truk dari lain arah melaju dengan kencang, terus anak bapak berusaha untuk menghindar dan akhirnya mobilnya menabrak sebuah pohon."
Papa Yudhistira dan Mama Sabrina kaget mendengar kronologi kecelakaan anaknya.
"Pak sepertinya anak anda mengalami luka cukup parah, karena tadi saya lihat tidak menggunakan sabuk pengamannya." Orang yang menolong Yudha tidak tega mengatakan bahwa kepala anaknya mengeluarkan darah.
Yudha tadi memang pikirannya sedang kacau balau jadi tidak fokus kalau hal sepenting itu sampai lupa. Sedangkan Mama Sabrina yang mendengar anaknya dalam keadaan cukup parah pun langsung lemas. Dia tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya.
"Oh iya ini yang berhasil saya selamatkan sebelum mobilnya terbakar Pak," ucap orang yang menolong Yudha saat kecelakaan dengan memberikan hp dan dompetnya ke Papa Yudhistira. Papa Yudhistira lalu menyerahkannya ke istrinya.
"Saya ikhlas menolong anak bapak dan ibu."
"Subhanallah, ternyata masih ada orang yang baik di dunia ini. Tapi saya tidak mau ada penolakan dan bapak harus menerimanya."
Akhirnya bapak yang menolong Yudha tadi menerima amplop pemberian Mama Sabrina
"Terima kasih. Tapi Bapak dan Ibu ini terlalu kebanyakan." saat menerima amplop yang isinya lumayan tebal.
"Tidak apa-apa Pak. Kalau tidak ada bapak yang menolong anak saya, saya tidak tahu bagaimana kondisi anak saya sekarang. Bapak mohon terima ya."
"Baiklah Pak, Bu. Nanti seperempat dari yang bapak berikan akan saya sumbangkan ke panti asuhan. Kalau begitu saya permisi dulu semoga anak Bapak dan Ibu cepat sembuh."
"Aamiin........."
18 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruang IGD. Terdapat disana Mama Sabrina dan Papa Yudhistira sedang cemas.
__ADS_1
"Mama......" Karin menghampiri calon mertuanya.
"Nak, dokter dari tadi belum keluar dari IGD dan tadi orang yang menolong Yudha bilang keadaan Yudha cukup parah bahkan mobilnya terbakar. Ini yang bisa diselamatkan orang tersebut." sambil memperlihatkan hp dan dompet Yudha dan air matanya yang masih menetes dari tadi.
"Ini semua salahku, jika aku tidak menolak ajakan menikah Kak Yudha tadi, pasti Kak Yudha saat ini tidak akan seperti ini." batin Karin menyesal atas ucapannya tadi.
"Nak, Mama takut Yudha kenapa-kenapa soalnya keadaan cukup parah. Mama tidak sanggup jika harus kehilangan Yudha secepat ini."
Karin lalu memeluk calon mertuanya.
"Mama tidak boleh bicara seperti itu. Kak Yudha pasti akan baik-baik saja."
Mama Angel dan Papa Kevin mendekati Papa Yudhistira.
"Yud, Yudha pasti tidak kenapa-kenapa, dalam hatiku Yudha akan selamat."
"Aku tidak tahu Kevin. Soalnya keadaannya cukup parah kata orang yang menolong Yudha dan dari tadi dokter juga belum keluar."
Tak lama kemudian dokter keluar.
"Dok bagaimana keadaan anak saya?" tanya Papa Yudhistira cemas.
"Anak bapak saat ini sedang kritis. Keadaannya cukup parah karena pendarahan di kepalanya yang menyebabkan pasien mengalami gagar otak ringan. Pasien harus segera di operasi."
Karin langsung merasakan hatinya hancur saat ini mendengar kondisi Yudha sedang kritis.
"Baik dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya. Selamatkan anak saya dok berapapun biayanya."
"Iya Pak kami akan berusaha semaksimal mungkin. Kalau begitu bapak segera lunasi administrasinya dan kami akan segera melakukan operasi."
Papa Yudhistira lalu segera pergi ke bagian administrasi untuk membayar operasi anaknya. Karin terkejut dengan kondisi Yudha saat ini. Karin belum bisa menerima kenyataan pahit yang Yudha alami. Mendengar anaknya gagar otak Mama Sabrina langsung tak sadarkan diri.
"Mama.................." ucap Karin lirih dan khawatir.
Papa Kevin lalu memanggil suster untuk membawa Mama Sabrina ke ruang perawatan dan Mama Angel yang menemani Mama Sabrina disana. Sedangkan Karin masih berada di ruang IGD bersama dengan Papa Kevin. Karin mengambil hp dan dompet Yudha yang terjatuh di lantai saat Mama Sabrina tadi melepaskannya saat tidak sadarkan diri.
__ADS_1