Perjuangan Cinta Dokter Yudha

Perjuangan Cinta Dokter Yudha
BAB 9 - Tak Sengaja Bertemu di Mall


__ADS_3

Hari ini Dokter Yudha memberi tahu bahwa ia tidak datang ke rumah Keluarga Alexander karena ada perlu bertemu temannya yang tak lain adalah Dokter Rio.


Sore hari Karin kali ini di antar Pak Udin ke sebuah mall. Karin ingin membeli alat perlengkapan sekolah yang sudah mulai habis tak lupa Karin juga membeli kuas dan kanvas untuk melukis. Karin mengikuti kegiatan extra kulikuler melukis di sekolahnya. Setelah semuanya sudah di bayar. Karin menuju ke salah satu toko baju dia ingin membeli beberapa kaos dan juga sweater. Saat sedang memilih untuk mengambil sweater yang dia ingin beli. Seketika ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Karin berbalik badan dan menghadap kepada orang tersebut. Karin kaget dengan orang yang menepuknya tadi.


"Eh Pak," ucap Karin.


"Hallo nak kita ketemu lagi. Oh iya kamu sendirian?" tanya Yudhistira.


"Iya Pak saya sendirian. Kalau Bapak?" tanyanya kembali.


"Saya dengan istri saya."


Sabrina sedang memilih baju tapi suaminya tiba-tiba menghilang. Sabrina mencari suaminya saat dia tahu tadi tidak ada suaminya tidak ada disampingnya. Sabrina langsung membayar beberapa baju yang dia sudah pilih tadi dan akan mencari suaminya.


"Papa," ucap Sabrina yang melihat suaminya bersama seorang gadis yang ada didepannya.


"Ma, ini gadis yang pernah Papa ceritakan sama Mama."


Sabrina kaget saat mendengar ucapan suaminya. Gadis baik berhati malaikat yang diceritakan suaminya itu ternyata benar masih muda dan begitu cantik.


"Kenalkan ini istri saya Sabrina. Eh iya bahkan saya belum sempat nanya nama kamu waktu itu kita bertemu di supermarket."


"Nama saya Karina Alexander," ucapnya dengan senyuman.


"Saya Yudhistira Sanjaya dan ini istri saya Sabrina Lim."


Karin langsung mengecup punggung tangan Yudhistira dan Sabrina secara bergantian.


"Gadis yang sopan santun. Pantas saja Papa ingin menjodohkannya dengan Yudha. Sepertinya anaknya juga baik." batin Mama Sabrina.


"Mama sudah selesai belanjanya?" tanyanya dengan istrinya.


"Ini sudah Mama bayar baru saja Pa," ucapnya sambil memperlihatkan beberapa paper bag.


"Nak Karin, sudah selesai belanjanya?"


"Iya Pak. Saya mau bayar belanjaan saya dulu. Habis itu saya mau pulang ke rumah. Permisi saya duluan ya Pak dan Ibu," ucapnya dengan senyum manis lalu mulai berjalan menjauh dari Papa Yudhistira dan Mama Sabrina.


Karin lalu berjalan menuju kasir. Papa Yudhistira dan Mama Sabrina saling memandang saat Karin sudah mulai berjalan jauh.


"Pa, kita undang Karin makan bersama yuk hari ini. Mama masih penasaran sama gadis itu Pa."


"Yaudah habis ini kita langsung saja bawa dia ke rumah."

__ADS_1


"Iya Pa, Mama setuju dengan usul Papa."


"Sebentar Mama mau telepon Yudha."


Tutt... Tuttt.... Terdengar telepon tersambung.


📞 Sabrina : "Sayang kamu lagi dimana nak?"


📞 Yudha : "Ini lagi di jalan Ma. Sebentar lagi sampai di rumahnya Rio. Ada apa Ma?"


📞 Sabrina : "Kamu bisa pulang sekarang tidak? Mama dan Papa ingin memperkenalkan kamu dengan gadis pilihan Papa."


📞 Yudha : "Maaf Ma. Tapi Yudha sudah ada janji dengan Rio."


📞 Sabrina : "Yah gak bisa ya sayang? Yaudah kamu hati-hati dijalan ya salam untuk Keluarga Halim."


📞 Yudha : "Iya Ma."


Telepon pun terputus.


Sebenarnya Yudha bisa saja membatalkan pertemuannya dengan Rio kalau berhubungan dengan keluarganya. Tapi Yudha males untuk bertemu dengan gadis yang katanya Pilihan Papanya. Karena ia sudah memiliki Karin. Yudha tidak tahu bahwa gadis yang dimaksud oleh Papa dan Mamanya adalah Karin. Soalnya tidak pernah Papanya menyebutkan siapa nama gadis itu. Sedangkan Yudhistira baru tahu nama Karin hari ini saat bertemu dengannya untuk kedua kalinya.


Karin telah membayar semua belanjaannya dengan ATM yang dia punya pemberian dari Mama dan Papanya. Saat akan meninggalkan kasir Karin mematung saat Papa Yudhistira dan Mama Sabrina sudah berada didepannya.


"Bapak dan Ibu belum pulang?"


Karin mengeryitkan dahinya, Karin bingung dengan kedua suami istri ini maksudnya apa menunggunya.


"Maksudnya gimana Bu?" tanyanya.


"Saya dan istri saya berniat untuk mengajak nak Karin makan bersama di rumah kami. Tolong nak jangan menolak, anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya pernah berbicara seperti itu saat di supermarket."


"Baiklah Pak. Saya hubungin sopir saya terlebih dahulu."


Karin lalu menghubungi Pak Udin untuk pulang terlebih dahulu. Karin bilang ke sopirnya kalau dia mendadak ada urusan.


"Sudah nak?" tanya Mama Sabrina.


"Sudah Bu."


"Ayo. Ikut dengan kami."


Karin hanya mengangguk.

__ADS_1


Mama Sabrina sudah menghubungi asisten rumah tangganya untuk menyiapkan semua makan sore hari ini. Setelah kurang lebih 27 menit akhirnya mereka sampai di kediaman Keluarga Sanjaya. Sopirnya lalu membukakan pintu mobil untuknya.


Belanjaan Karin masih di mobil Yudhistira. Sedangkan belanjaan Mama Sabrina sudah diantar masuk ke dalam rumah. Mereka langsung masuk ke dalam rumahnya. Karin ketika sudah melewati ruang tamu ia melihat foto anak kecil laki-laki kira-kira usianya 5 tahun. Karin melihat foto itu. Yudhistira memperhatikan Karin memandangi foto anaknya.


"Itu anak saya Karin. Sekarang dia sudah dewasa dan sekarang bekerja sebagai seorang Dokter di Rumah Sakit punya keluarga kami."


"Oh begitu ya Pak. Wah hebat anak dan Bapak sama-sama Dokter." Karin tahu Yudhistira seorang Dokter saat melihat kartu namanya yang pernah diterima.


"Saya selain menjadi Dokter saya juga seorang Dosen."


"Yaudah ayo kita langsung saja ke ruang makan. Kamu pasti sudah lapar kan habis muter-muter mall," ucapnya kembali.


"Hehe iya Bapak tahu aja," ucapnya sambil cengengesan.


Mereka sudah sampai di ruang makan.


"Silahkan dinikmati makanannya nak," ucap Mama Sabrina.


Karin mengangguk pelan dan lalu tersenyum. Suasana ruang makan seketika hening saat makan bersama sore ini. Saat akan memasukkan makanan terakhirnya. Mama Sabrina memberikan pertanyaan yang begitu mengejutkan Karin.


"Karin, apakah kamu sudah memiliki seorang kekasih?"


"Uhuk.... Uhukk......"


Karin langsung tersedak dan langsung minum air putih yang ada di sebelah kanannya.


"Mama, bisa nanyanya nanti saja kalau Karin sudah selesai makan," ucap Papa Yudhistira.


"Mama penasaran Pa. Karin sudah mempunyai pacar atau belum."


"Saya tidak memiliki kekasih. Tapi saya sudah memiliki calon suami," ucapnya pelan namun masih terdengar di telinga Mama Sabrina dan Papa Yudhistira.


"Oh kamu sudah memiliki calon suami ya nak. Wah padahal saya ingin kamu yang menjadi menantu saya," ucap Papa Yudhistira.


Terlihat sedih wajah Papa Yudhistira dan Mama Sabrina ketika Karin bilang bahwa sudah memiliki calon suami.


"Iya Pak, Bu saya juga baru-baru ini berkomitmen dengannya. Sebenarnya saya sudah dijodohkan dengan kakek dan nenek saya. Namun saya memiliki pilihan sendiri untuk hidup saya kedepannya karena saya sendiri yang akan menjalani kehidupan rumah tangga nantinya."


"Saya setuju denganmu nak. Maafkan saya tadi sudah lancang menanyakan hal ini sama kamu," ucap Mama Sabrina.


"Iya tidak apa-apa Bu."


"Saya salut dengan kamu nak. Masih SMA tapi sudah berpemikiran dewasa."

__ADS_1


"Iya karena saya tidak ingin berpacaran Pak. Saya berpemikiran dewasa karena sepupu saya sudah menikah dan sebentar lagi saya akan mempunyai ponakan."


Anak muda yang pintar dan mempunyai pendirian. Andai saja Karin yang akan menjadi menantuku pasti Sabrina juga akan bahagia. Itulah yang ada di pikiran Yudhistira saat ini.


__ADS_2