
cring... cring.... cring... cring...
bunyi beberapa lonceng kecil di atas sebuah tongkat panjang milik seorang pria sepuh.
pendeta itu melangkah perlahan, terlihat begitu kurus, dengan rambut putih panjang yang tidak beraturan, di bawah caping yang sudah sedikit rusak.
kulit keriput nya begitu terlihat di wajahnya, sesekali kening nya berkerut seperti sedang menahan rasa yang begitu sakit.
crinnnnnggggg...
pendeta tua itu menancapkan tongkatnya di tanah, dan merogoh pakaian nya dan mengeluarkan kertas kuning bertuliskan merah, menyerupai sebuah jimat, dan menempelkan nya pada dada kanan nya.
tidak terlihat tangan kanan dari pendeta itu, dan mulai melangkah lagi dengan sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
kakinya melangkah dan memasuki sebuah gerbang rumah di pinggiran kota huangdong.
"ooohhhh.... hahaha... anda sudah datang pendeta, mari silahkan masuk, namaku Chu Liang" ucap seorang pria berusia sekitar 60 tahun.
beberapa orang mendekat kearah pendeta itu sambil membungkuk memberi hormat,
"selamat datang pendeta, kami semua sudah menunggu anda" ucap seorang wanita tua berusia hampir sama dengan Chu Liang, dan seorang wanita lainnya yang berusia lebih muda sekitar 40 tahun.
Chu Liang adalah seorang bangsawan rendahan, memiliki kediaman di pinggiran kota huangdong yang agak jauh dengan penduduk lain nya, di rumah nya Chu Liang memiliki seorang puteri, dua orang istri dan lima pelayan.
"kami sangat senang tuan pendeta bersedia datang, Puteri ku satu-satunya sedang sakit, setiap malam tubuh nya kerasukan siluman, dan mengatakan Puteri kami akan sembuh jika di obati oleh seorang pendeta yang memiliki ciri-ciri seperti anda tuan pendeta, aku sudah lima hari menyuruh pelayanan ku mencari keberadaan anda, baru tadi pagi salah satu dari pelayan ku berhasil menemukan anda, ini sungguh kebaikan dari dewa" ucap bangsawan Chu Liang yang kini sudah mereka sudah memasuki kamar Puteri nya yang terbaring tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"hahaha... kebaikan dewa?? kau benar tuan bangsawan... kau benar sekali, sayang nya kali ini dewa sudah meninggalkan rumah kalian" ucap pendeta tua itu, tangan kiri pendeta itu menotok leher dari Chu Liang, dan dari jubah lengan kanan nya keluar seekor ular yang sangat berbisa dan mematuk wanita tua di sebelah nya.
beberapa pelayan yang melihat kejadian itu berlari ingin keluar dari kediaman bangsawan Chu Liang, tapi pendeta itu mengerakkan sedikit jubah lengan kanan nya, membuat gerbang itu tertutup.
"sore ini kalian semua akan mati di tempat ini" ucap pendeta itu
dan tiba-tiba saja para pelayan itu mengeluarkan busa dari bibir mereka semua, wajah mereka terlihat berwarna biru keunguan.
"mereka semua sudah terkena jarum beracun ku, dan kau bangsawan Chu, kau akan melihat kebaikan Dewa seperti yang kau ucapkan sebentar lagi" ucap pendeta itu, sambil menatap wanita berusia 40 tahun itu, yang terlihat begitu ketakutan dan perlahan melangkah mundur.
"sebaiknya nyonya tidak bergerak jika ingin hidup lebih lama" ucap pendeta itu dan hanya sekali gerakan pendeta itu sudah menotok dada wanita itu, membuat nya tidak dapat bergerak.
"sekarang kalian akan menikmati tontonan yang tidak pernah kalian bayangkan, bahkan dalam mimpi buruk sekalipun, hahaha" ucap pendeta itu sambil merapal mantra, dan seorang wanita cantik berusia sekitar 22 tahun bangun dari tidur nya dan dengan patuh duduk di hadapan pendeta itu.
pendeta itu membuat dua mangkuk ramuan di atas meja kecil yang ada dikamar wanita muda itu, dan memberikan nya kepada wanita muda itu.
"siluman yang ada di tubuh Puteri mu adalah bawahan ku, semua ini adalah rencana ku " ucap pendeta itu menatap wajah Chu Liang sambil tersenyum lebar.
"tuan pendeta aku mohon lepaskan Puteri kami,kau boleh mengambil harta dan nyawa kami, tapi Puteri kami masih begitu muda, aku mohon pendeta" ucap bangsawan Chu Liang.
"hahaha... aku tidak butuh harta dan nyawa mu, yang aku butuhkan tubuh anak dan istri mu itu, dan kau siluman ular keluar lah dari tubuh gadis ini," ucap pendeta itu dan tiba-tiba sebuah bayangan ular berwarna hijau keluar dari tubuh wanita muda itu.
"ayah, ibu apa yang telah terjadi," ucap wanita muda itu yang mulai tersadar.
"aaahhhh... apa yang terjadi dengan tubuhku ayah?" ucap wanita muda itu lagi dan tangan nya mulai meraba seluruh tubuhnya dengan tatapan matanya menjadi sendu dan terlihat gejolak birahi di dalam nya.
__ADS_1
"to-tolong aku ayah" ucap wanita muda itu mencoba melawan rangsangan yang terjadi pada tubuh nya, dan kembali mendesah desah.
"hahaha... kau sekarang dalam kendali nona cantik, kita akan bersenang-senang, namaku adalah Hua Bai, aku adalah raja racun dari kekaisaran Utara (kekaisaran Tang)." ucap pendeta itu dan melepaskan pakaian nya.
semua mata terbelalak, melihat penampakan mengerikan di depan mereka.
lengan kanan Hua Bai, berwarna biru keunguan, beberapa kepala binatang beracun tampak tertanam di lengan nya, dan bergerak-gerak.
warna kehitaman mulai menyebar ke daerah dada kanan Hua Bai, dan dengan cepat Hua Bai menempelkan kertas kuning seperti sebelumnya, membuat warna kulit dada kanan Hua Bai normal kembali.
"kalian tidak tahu betapa menyakitkan nya ini" ucap Hua Bai yang terlihat kelelahan.
Hua Bai mulai memperkosa Puteri dari Chu Liang, dan saat sudah selesai kepala binatang beracun itu menggigit dan menghisap darah dari tubuh Puteri Chu Liang dan dalam beberapa menit tubuh wanita muda itu sudah membiru dan membusuk.
"saat wanita di mengalami kepuasan dalam bercinta, tubuhnya akan mengeluarkan energi yang menenangkan, dan energi itu dapat menenangkan teman-teman beracun ku ini untuk waktu yang cukup lama" ucap Hua Bai, sambil menatap beberapa kepala binatang beracun itu mulai terlihat tenang.
Chu Liang hanya membeku, mata nya tidak dapat mengeluarkan air mata lagi,
"Dewa akan membalas perbuatan mu berkali-kali lipat dari yang kau lakukan saat ini kepada Puteri ku" ucap Chu Liang terlihat urat-urat di kepala mulai menonjol karena begitu marah.
"semoga saja dewa benar-benar mendengarkan permintaan mu" ucap Hua Bai dan tangan kanan nya sudah menembus tubuh Chu Liang dan membiarkan kepala binatang-binatang itu mulai memakan organ dalam dari Chu Liang.
Hua Bai kembali melakukan hal yang sama kepada istri muda Chu Liang, seperti yang dilakukan kepada Puteri wanita itu.
langit mulai gelap, api nampak berkobar di kediaman bangsawan Chu Liang, dan membakar habis seluruh kediaman nya.seorang pendeta bercaping keluar dari gerbang rumah dari Chu Liang dengan tangan kiri memegang tongkat panjang, dengan beberapa lonceng kecil di ujung nya.
__ADS_1
"hemmm... dewa akan membalas nya, hahaha" guman Hua Bai.