Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Malam ritual


__ADS_3

di alam langit sebuah lereng kecil yang di penuhi bunga, dan tanaman merambat di menutupi sebagian kecil bangunan rumah yang mungil.


Seorang Dewa berpakaian kuning, dipadu dengan merah muda, sedang menata bunga berwarna ungu dalam ****** bunga yang cantik.


Sesekali tangannya pria itu berhenti bekerja, dan keningnya berkerut, dan pria itupun kembali dalam aktivitas sambil menggelengkan kepalanya, dan tidak lama dua orang berpakaian hitam sudah berada di gerbang nya, dan perlahan mendekati Dewa dengan pakaian berwarna itu.


"Dewa asmara kami menghadap" ucap dua orang berpakaian hitam itu dan berlutut.


orang yang di panggil Dewa asmara itu tidak bergeming dan tetap dengan kesibukan nya.


"kalian tahu bunga ungu ini melambangkan apa?" tanya Dewa Asmara tanpa menatap kedua tamu nya.


"tidak Dewa," ucap kedua tamu nya itu.


"angrek piring ungu adalah melambangkan kematian," ucap Dewa asmara dan memetik dua tangkai, dan menyerahkan kepada kedua tamu nya itu.


kedua tamu nya menerima bunga itu, wajah keduanya tampak begitu serius.


"berdiri lah kalian berdua, kalian adalah pengikut setia ku, dan kemampuan kalian dalam kultivasi sudah tidak di ragukan lagi, sekarang pergilah dan bawakan aku kematian dari penguasa pulau keseimbangan, dengan bunga ini kalian akan mengetahui dimana pemuda itu berada," ucap Dewa asmara dengan wajah tersenyum, tetapi sorot matanya begitu mengerikan.


kedua orang berpakaian hitam itu kembali berlutut, dan berubah menjadi asap hitam, dan terbang dari lereng kecil penuh bunga itu.


Dewa asmara mengangguk sambil menarik nafas nya dalam-dalam, tidak ada senyum di wajah serius nya itu.


"hemmm.... andai saja aku bisa tehnik bertarung, mungkin aku yang akan menghabisi nyawa pemuda itu dengan tangan ku sendiri, dendam ini harus terbalas, dan aku akan melihat bagaimana kau mati," guman Dewa asmara.


*****


di pulau tingkat kedua,


Xiao Zhou membaca kedua kitab tipis itu, dan langit sudah mulai gelap, bulan terlihat membulat penuh, di atas istana megah milik Ratu Xhin Ye.


sebuah ranjang indah terletak di tengah-tengah sebuah ruangan besar, ranjang itu beratap dan keempat sisinya di tutupi tirai tipis, hanya beberapa lentera yang di nyalakan di segala sudut ruangan itu membuat nya menjadi remang-remang, dan orang akan dapat melihat bayangan dari orang yang ada di balik tirai itu.


beberapa pejabat ritual sedang melakukan aksinya, membacakan beberapa mantra, pejabat-pejabat itu berasal dari klan pertapa dan penyihir, dan semua persiapan telah selesai di lakukan.


sang pengganti sedang berdiri di luar ruangan itu, dan menatap sepasang suami istri sedang melangkah menuju ruangan dengan ranjang yang terletak tepat di tengah-tengah nya.


sang pengganti membungkuk,


"penguasa jika anda tidak menginginkan nya, ini belum terlambat, hamba dengan seluruh pendukung hamba akan membantu anda untuk menenangkan aula agung," ucap sang pengganti.

__ADS_1


Ratu Xhin Ye berhenti di samping sang pengganti, tanpa menatap ke pria itu, matanya masih tertuju pada ranjang yang terletak di tengah tengah ruangan yang akan di masuki nya.


"jika aku tidak melakukan ini, maka semua nya akan terbongkar, dan jika sampai mereka tahu bahwa pemuda ini bukan suami sebenarnya, aku akan kehilangan muka, karena mereka akan menganggap aku hanya lah seorang wanita murahan, yang kehilangan kesucian nya," batin Ratu Xhin Ye.


Akhir Ratu Xhin Ye menatap sang pengganti.


"Aku tidak keberatan sama sekali sang pengganti, lagipula.... aku melakukan ritual ini dengan suami ku sendiri, tidak ada yang salah dengan ini," ucap Ratu Xhin Ye.


Xiao Zhou membungkuk ke arah sang pengganti, tapi tidak di gubris oleh sang pengganti.


Xiao Zhou dan Ratu Xhin Ye memasuki ruangan itu dengan hanya menggunakan jubah tidur saja, wajah Ratu Xhin Ye hanya menunduk, tidak ada suara yang keluar dari bibir nya.


Kedua berdiri di depan ranjang itu.


beberapa pejabat membawa nampan ke arah mereka, Xiao Zhou dan Ratu Xhin Ye mengambil cawan di atas nampan itu dan meminum nya perlahan.


malam itu Ratu Xhin Ye terlihat begitu tegang, sesekali menelan ludah nya, bulir-bulir keringat tampak di kening nya, dan leher nya, dan bahkan sampai mengalir ke arah gunung di bawah nya.


Xiao Zhou hanya tersenyum tipis, dan mengetahui ketakutan di wajah Ratu Xhin Ye.


Xiao Zhou menggenggam jemari Ratu Xhin Ye dan menarik nya pelan, dan kedua nya masuk ke dalam ranjang itu, dan menutup tirai nya.


"apakah akan begitu sakit?" tanya Ratu Xhin Ye pelan.


"benar kah?" mata Xhin Ye menatap mata Xiao Zhou mencoba mencari tahu kebenaran dari ucapan pemuda itu.


"ini akan sulit, semua pejabat dan tabib ada di dalam ruangan ini, mereka mengelilingi ranjang kita, dan kau tahu apa yang barusan kita minum berdua?" bisik Ratu Xhin Ye.


"aku tahu nyonya, itu bukan obat perangsang, hanya penambahan energi, dan menyubur untuk mu," ucap Xiao Zhou pelan.


"apa kau yakin? tapi tubuh ku terasa panas," ucap Ratu Xhin Ye berbisik, membuat Xiao Zhou sedikit bingung.


"penguasa sudah waktunya, melepaskan pakaian anda." ucap suara dari luar.


mata Ratu Xhin terbelalak, bibir sedikit terbuka membuat nya tampak begitu menggoda,


"kera hitam tutup mata mu, jangan pernah membuka sebelum aku perintahkan," bisik Ratu Xhin Ye begitu kesal, dan pemuda itu pun mengikuti perintah nya.


Ratu Xhin Ye melepaskan jubah nya dan hanya tangan nya saja yang menjulur keluar melewati tirai memberikan jubah nya, dan seorang dayang sudah menunggu dan mengambil jubah tidur Ratu Xhin Ye, dan wanita tanpa busana itupun mulai masuk kedalam selimut.


"kau boleh membuka mata mu," bisik Ratu Xhin Ye

__ADS_1


"tuan pakaian anda" ucap dayang itu lagi masih berdiri di samping ranjang itu.


Ratu Xhin Ye yang sudah berada di balik selimut menatap kesal kepada Xiao Zhou yang belum melepaskan pakaian nya.


terlihat Xiao Zhou dengan ragu-ragu melepaskan pakaian nya, mata Ratu Xhin Ye terpejam saat Xiao Zhou melepaskan pakaian nya dan menyerahkan pada dayang itu, dan dayang itupun berlari kecil meninggalkan ranjang itu.


keduanya berbaring agak berjauhan,


"apa yang kita lakukan sekarang? tanya Xiao Zhou


"aku tidak tahu," ucap Ratu Xhin Ye air mata nya sudah membasahi pipinya.


"baiklah nyonya... kau tidak perlu menangis, percayakan padaku, sekarang cukup pejamkan mata mu," ucap Xiao Zhou, dan wanita itu pun memejamkan mata nya, dan membuka matanya kembali.


"Zhou'er apa kau yakin dengan ucapan mu barusan?" tanya Ratu Xhin Ye lagi.


"hemmm... tenanglah nyonya, lakukan apa yang aku perintahkan," bisik Xiao Zhou kesal.


dan memperbaiki posisi selimut agar Ratu Xhin Ye terlindungi selimut dengan baik.


Xiao Zhou menindih tubuh Ratu Xhin Ye di atas selimut nya, tubuh mereka kini di pisahkan hanya dengan selembar selimut yang tidak terlalu tebal.


"apa kau akan melakukan nya?" tanya Ratu Xhin Ye masih berbisik, membuka matanya lagi, mata mereka saling menatap, Xiao Zhou meletakkan telunjuk nya di depan bibirnya sebagai isyarat untuk Ratu Xhin Ye diam.


Ratu Xhin Ye mengerti, bola matanya bergerak ke bawah melihat apa yang sedang terjadi, wajah tampak sedikit lega karena mereka masih di pisahkan oleh selembar selimut.


"nyonya Xhin aku akan mulai bergerak, agar mereka percaya kita sedang melakukan nya," ucap Xiao Zhou, Ratu Xhin hanya mengangguk.


Xiao Zhou bergerak-gerak di atas selimut, tampak bayangan nya terlihat dari luar seperti sedang melakukan itu, kepala sesekali turun seperti sedang mencium,


"nyonya berpura-pura mendesah lah, agar terlihat seperti nyata," bisik Xiao Zhou di telinga Ratu Xhin Ye, kedua pipi mereka saling bergesekan.


"apa maksud mu? aku ini wanita terhormat, aku tidak boleh melakukan itu, dan tidak akan pernah, itu sangat memalukan, apa kau mengerti." bisik Ratu Xhin Ye kesal, tetapi nafas nya mulai terdengar, kaki nya mulai sedikit melebar, dan rasa aneh pun mulai di rasakan wanita itu meski di lapisi selimut.


wajah Ratu Xhin Ye sudah tidak terlihat takut lagi, bahkan tampak begitu tenang, dan sedikit terlihat sedang terangsang.


Xiao Zhou sedikit terkejut mendengar jawaban Ratu Xhin Ye,


"apa ini? wanita terhormat tidak boleh mendesah, yaaahhhh dewa... mereka hidup di zaman apa? batin Xiao Zhou.


"apa wanita terhormat bisa berciuman?" tanya Xiao Zhou bercanda, dan mengolok-olok Ratu Xhin Ye.

__ADS_1


"berciuman? kau jangan membuat ku tertawa, itu sangat tidak boleh dilakukan, tidak ada yang boleh menyentuh wajah agung dari Kaisar Langit," bisik Ratu Xhin Ye.


__ADS_2