Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch.82


__ADS_3

terlihat celah dari bulatan itu dan semakin lama semakin melebar


prakkkkkkk.....


praaakkkk.....


"prakkkkkk... praaakkkk.., prakkkkkk,"


suara seperti benda retak itu semakin sering terdengar, dan sinar menyilaukan tampak keluar dari bulatan itu.


blaaarrrrr......" bulat logam itu hancur menjadi serpihan kecil.


Xiao Zhou tampak melayang dengan mata tertutup dengan rambut dan pakaian melambai-lambai, remaja itu turun tepat di hadapan Dewa Wang Riu.


"ba-bagaimana mungkin cermin langit ku bisa hancur," ucap Dewa Wang Riu.


Xiao Zhou hanya mengeluarkan seringai nya


"sudah ku katakan, tempat itu tidak akan cukup, aku sudah mengelabui pusaka mu itu, saat cermin langit tahap ke delapan dan mulai membaca pikiran ku, kau dengar mantra penutup pikiran ku, mantra itu aku sembunyikan berlapis-lapis di balik topeng ku, dan tidak bisa di lihat oleh cermin langit, aku menutup sebagian pikiran ku, jika saja pusaka mu membaca kekuatan ku, mungkin dia tidak akan mengurungku, dia akan memilih menjadi pelindung mu saja, dan itu sedikit menyulitkan ku," ucap Xiao Zhou.


"apa? benarkah ada mantra yang tidak terlihat oleh cermin langit? guman Dewa Wang Riu


"mungkin jika kau menguasai sampai tingkat ke delapan belas, tidak ada yang bisa luput, cermin langit tahap sembilan mu hanya membaca kemampuan pengendalian waktu milik ku saja, sehingga membuat ruang tanpa waktu, tanpa memperhitungkan berapa jumlah energi qi dalam yang mampu aku keluar kan,"tanya Xiao Zhou.


mata Dewa Wang Riu terbelalak, tidak ada kata yang mampu keluar dari bibir nya.


"kau sudah melakukan kesalahan, sekarang semua sudah berakhir, tanpa cermin langit kau hanya seperti semut di hadapan pengendali waktu seperti ku," ucap Xiao Zhou lagi.

__ADS_1


dan tiba-tiba semua orang berhenti bergerak, bahkan tiupan angin yang membawa dedaunan kering diam di hadapan kedua, hanya bola mata Wang Riu yang mampu bergerak.


"aku yakin kau bisa mendengar ku, saat ini aku bisa melukai mu Dewa," ucap Xiao Zhou, mencabut pedang kematian nya dan menyeret pedang melengkung itu di atas lantai batu bata yang sebagian besar sudah hancur.


Xiao Zhou menggoreskan ujung pedang nya di kulit leher Dewa Wang Riu, tampak kulit nya terluka, namun tidak ada darah yang keluar.


"bagaimana? ini sangat tidak adil bukan?" ucap Xiao Zhou dan waktu kembali berjalan.


Wang Riu berlutut, dan kepala nya merunduk, darah segar kini mulai mengalir dari luka di leher nya,


"dengarkan aku Dewa Wang Riu, aku bisa membunuh mu dengan semudah itu saat ini, tapi aku memberikan kesempatan untuk mu bertarung secara adil, agar kau bisa mati dengan tenang," ucap Xiao Zhou.


Dewa Wang Riu mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya terdengar,


"sejauh inikah perbedaan kekuatan kami, meski penghinaan ini begitu besar karena dia tidak membunuh ku barusan, tapi bocah itu benar, aku tidak rela mati tanpa bertarung," batin Dewa Wang Riu.


pakaian dan rambut nya berkibar kencang karena energi yang begitu besar keluar dari seluruh tubuh nya,


"dan aku tidak rela mati tanpa bertarung...." teriak Dewa Wang Riu dan sebuah tongkat yang terbuat dari logam putih keperakan, keluar dari telapak tangan nya dan tongkat itu berputar ke udara, dan dalam sedetik Dewa itu sudah di atas Xiao Zhou dengan kedua tangan di atas kepala memegang tongkat dan memukulkan nya secara vertikal.


traankkkk.... "


Xiao Zhou menahan tongkat itu dengan Pedang nya, kedua nya saling menekan cukup lama, Xiao Zhou menghempaskan Pedang membuat Dewa Wang Riu terlempar, dan hanya sedetik Dewa itu sudah berada dalam jarak serang lagi, dan kembali mengayunkan tongkat nya ke arah Xiao Zhou,


traankkkk...


traankkkk....

__ADS_1


di sisi lain pertempuran sudah hampir berakhir, manusia-manusia itu sudah terbakar oleh panas nya pedang api purba, hanya menyisakan beberapa dewa yang sudah terdesak oleh sungai pedang Dewa Fei Yu, dan keganasan Dewa Yang Dong, namun Pedang api purba yang tertancap mulai membuat retakan di tanah, dan tampak retakan itu mulai melebar dan terlihat lava membara dari celah itu,


retakan itu dengan cepat menjalar menuju ke segala arah, salah satu nya menuju istana keseimbangan.


"gerrrrhhhhhh....." istana megah milik Xiao Zhou bergetar dan terbelah.


"blurrrr...." beberapa bagian istana mulai terjatuh kedalam jurang lava pijar yang baru saja terbentuk, dan terbakar, asap hitam mengepul dimana-mana, dan bau daging terbakar begitu menusuk hidung.


beberapa Dewa mencoba mendekati pedang itu namun tidak ada yang mampu menembus segel yang di buat jendral Yuan Zhou di sekitar Pedang yang semakin memanas itu.


"pulau ini akan terbelah, dan hancur, jika pedang ini terjatuh ke danau biru, maka alam tengah akan merah membara, jendral Yuan Zhou benar-benar ingin membuat neraka baru, tidak ada yang mampu membuka segel ini," ucap Dewa pengetahuan,


Dewa itu duduk tidak jauh dari tempat itu,


"jangan katakan saat ini kau sedang mabuk," guman Dewa pengetahuan, mulai memejamkan matanya, dan mencoba memanggil Dewa Lou Yi yang merupakan Dewa formasi segel.


***


di pertarungan di halaman depan istana yang sudah pecah itu,


gerakan kedua begitu lincah, meski sebuah tebing berisi cairan lava ada si sekeliling mereka, Xiao Zhou terlihat sedikit kesulitan karena jangkauan tongkat Dewa Wang Riu begitu panjang, Dewa Wang Riu semakin jauh dan mengayunkan tongkat nya secara vertikal dari atas, dan dalam sedetik ujung tongkat itu sudah begitu besar melesat begitu cepat ke arah Xiao Zhou berdiri.


blaaarrrrr.....


tongkat logam besar itu menghancurkan batu bata di halaman istana itu , dan sekaligus sebagian istana di belakang nya, membuat istana itu hanya tinggal puing-puing.


Xiao Zhou sudah tidak ada di tempat nya berdiri dan sudah melayang di belakang Dewa Wang Riu,

__ADS_1


"tidak bermata, tidak berhati, tidak bernyawa, dan tidak terpikirkan," ucap Xiao Zhou.


__ADS_2