Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Restu orang tua


__ADS_3

Xiao Zhou sudah berdiri di hadapan Kaisar Langit di taman belakang istana itu, semua orang sudah kembali ke aula agung dan Dewa Kebijaksanaan tampak sudah kembali bugar.


"Penguasa ke 15 kali ini kau menjadi penyelamat kekaisaran langit, katakan jika ada yang kau inginkan jika mungkin aku akan mengabulkan permintaan mu," ucap kaisar langit, Ratu Langit dan Puteri Yun Qixuan hanya tersenyum di belakang Kaisar Langit.


"tidak perlu terlalu sungkan Yang Mulia, anda bisa memanggilku Zhou'er, tidak ada yang hamba inginkan, hampa mohon diri," ucap Xiao Zhou dan menyatukan kedua tinju nya di depan sambil membungkuk.


Puteri Yun Qixuan berlari ke arah Xiao Zhou dan berbisik di telinga pemuda itu, dan tampak kedua nya saling tatap sedikit ragu.


"cepatlah bocah bodoh, hanya kali ini saja kau memiliki kesempatan," ucap Puteri Yun Qixuan sambil mendorong bahu Xiao Zhou.


mata Kaisar Langit sedikit menyipit menatap Puteri nya, merasakan Puteri nya akan memeras nya.


Xiao Zhou tidak berani menatap Kaisar Langit, dan wajah nya penuh keraguan.


"um- .... itu Yang Mulia ada satu permintaan ku, itupun jika Yang Mulia bersedia, hamba ingin memohon restu untuk pernikahan kami," ucap Xiao Zhou dengan wajah menunduk.


Kaisar langit menatap ke arah lain sambil mengelus janggut panjang nya.


"hemmm.... ini sedikit sulit, awal nya aku sudah menjodohkan kalian, dan Puteri ku mengacaukan semua, saat ini posisi Puteri ku telah melanggar aturan langit... maafkan aku sebagai Kaisar Langit aku tidak bisa merestui pernikahan dari seseorang yang melanggar aturan langit, seperti itulah aturan nya," ucap Kaisar Langit.


"ayah aku mohon, pemuda ini sudah mencium ku," ucap Puteri Yun Qixuan sedikit kesal karena kekakuan ayahnya.


"ehemmm.... " wajah Kaisar Langit begitu terkejut mendengar ucapan Puteri nya.


"Puteri ku kau tidak boleh bicara tentang hal-hal memalukan itu di hadapan Yang Mulia, tapi suamiku tolong lah restui hubungan mereka," ucap Ratu langit mendukung Puteri Yun Qixuan.


"kalian berdua diamlah, aku masih belum selesai, aturan adalah aturan aku tidak bisa melanggar, tetapi sebagai seorang ayah aku akan merestui pernikahan kalian ini," ucap Kaisar Langit.


Puteri Yun Qixuan berhamburan memeluk Kaisar Langit dan juga memeluk Xiao Zhou membuat pemuda itu sedikit canggung dan menepiskan tangan Puteri Yun Qixuan pelan.


"terimakasih atas restu nya ayah dan ibu mertua," ucap Xiao Zhou dan bersujud di hadapan pasangan suami istri itu.


"sudah..... sudah... kau Zhou'er kau boleh kembali ke alam tengah, tetapi Puteri ku kau harus menunggu beberapa hari lagi, ibu ingin memberikan hadiah pernikahan mu," ucap Ratu langit.


"ibu.... aku tidak ingin apa-apa lagi, aku akan ikut suami ku ke pulau kami," ucap Puteri Yun Qixuan.


"aahhh... Puteri ku apa kau tidak ingin membahagiakan calon suami mu saat malam pengantin kalian?" ucap Ratu langit.


"ehemmm.... kalian ini," guman Kaisar Langit berpura-pura tidak mendengar ucapan istrinya.


"baiklah.... hamba mohon diri," ucap Xiao Zhou dan sebuah gerbang sudah terbuka di belakang nya.


terlihat mata Yun Qixuan memerah, dan memeluk Xiao Zhou,

__ADS_1


"suami pergilah lebih dahulu, tunggu aku di rumah kita," ucap Puteri Yun Qixuan, dan dalam sekejap sudah mencium bibir Xiao Zhou.


******* bibir basah Puteri Yun Qixuan begitu rakus, membuat semua mata terbelalak, bahkan kedua orang tua dari Puteri Yun Qixuan harus meninggalkan tempat itu.


****


Kota Huangdong, kota yang begitu terkenal karena keindahan danau birunya, dan pulau mengambang yang begitu mengagumkan, membuat kota ini begitu ramai di kunjungi pelancong yang begitu penasaran dengan keberadaan pulau mengambang di atas danau biru itu.


seorang wanita dengan tubuh tinggi dengan lekuk tubuh begitu menggoda sedang duduk menikmati pertunjukan, dan seorang pemuda tampan sedang memangku seorang bocah.


"Nyonya apa kau tidak tertarik berlatih tehnik pedang?" tanya Pangeran ke empat dan mengingat latihan nya bersama Jang Song Yi.


"hemm... seperti nya itu cukup menarik," ucap Zhang Rui, matanya yang indah masih menatap para penari di atas panggung.


"Aku dengan senang hati akan membantu mu nyonya, aku sangat ganas saat tangan ku memegang pedang, tehnik itu namanya walet emas, kau pasti menyukai nya," ucap Pangeran ke empat.


"Nama jurus mu sangat tidak meyakinkan, hahaha... tapi baiklah kapan-kapan aku ingin melihat bagaimana kemampuan mu itu," ucap Zhang Rui.


saat sedang berbincang seorang wanita yang tidak kalah cantik menyela mereka,


"kakak Zhang bisa kita bicara?" tanya wanita cantik yang menyela percakapan itu.


"tentu saja adik Kim," ucap Zhang Rui dan kedua wanita yang menjadi pusat perhatian itu memasuki sebuah ruangan kecil.


"berdua? hahaha... adik Kim aku sudah begitu banyak mengenal jenis manusia, dan aku tahu betul siapa pemuda itu, jadi tenang lah... lagipula kamu tidak berdua," ucap Zhang Rui sambil mengangguk kepada dan menatap seorang pria tanpa ekspresi duduk di belakang putera nya.


"ohhh... tuan pembunuh, hihihi.... maafkan aku kakak Zhang, aku sudah meragukan kesetiaan mu, tapi berhati-hatilah aku lihat pemuda ini begitu lihai," bisik Kim Yun dan memeluk Zhang Rui.


"tidak apa-apa adik Kim, aku senang kita saling mengingatkan, dan terimakasih kau sudah peduli padaku," ucap Zhang Rui dan mencium bibir Kim Yun membuat wanita itu begitu terkejut.


"kakak Zhang.... apa yang kau lakukan kali ini?" ucap Kim Yun sedikit terpekik, dan menutup bibirnya dengan jemari panjang nya.


"hihihi... sudah lah, bagaimana jika kita melakukan nya bersama saat suami kita pulang?" ucap Zhang Rui.


"aku hanya ingin bersama Zhou'er ku saja, dan tidak ingin di ganggu oleh mu kakak, jadi lupakan ide gila mu itu," ucap Kim Yun dan berlari sambil tersenyum, meninggalkan tempat itu.


Matahari sudah mulai sedikit tenggelam, langit berubah kemerahan, dan awan tebal sudah mendekati nya, sebentar lagi akan gelap.


***


di tempat lain sebuah gerbang tinggi berdiri dengan megah, itu adalah batas pulau, menuju pulau tingkat ke tiga, seorang wanita begitu cantik sedang duduk di bawah pohon persik naga yang begitu tua di dampingi seorang wanita tua yang menggendong seorang bayi, dan seorang kakek yang terlihat begitu bahagia, tidak jauh dari tempat mereka puluhan dayang dengan setia menunggui wanita cantik itu.


Mereka adalah pasangan Yu Jin tua dengan menantu mereka Ratu Xhin Ye,

__ADS_1


Yu Jin tua tidak ikut kembali ke alam langit karena lebih merasa bahagia hidup di pulau mereka,


Mereka bercengkrama, Yu Jin tua menikmati sebuah apel, sedangkan Ratu Xhin Ye meletakkan buah persik naga peninggalan suami nya di atas sebuah batu, buah itu masih ada bekas noda darah dari Xiao Zhou yang sudah berwarna coklat tua, Ratu Xhin Ye memperlakukan buah itu layak nya seorang suami.


Yu Jin tua dan istri nya hanya menggelengkan kepalanya, sesekali air mata keluar di ujung mata keriput itu, melihat menantu mereka yang terlihat masih belum bisa melupakan suami nya.


"suami kau lihat cucu kita ini begitu lucu, dia sudah dua kali pipis di gendongan ku,' ucap istri Yu Jin tua, mengalihkan perhatian Ratu Xhin Ye agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


Wajah Ratu Xhin Ye seketika berubah menjadi gembira, saat menatap wajah putera nya, dan mendekati nya.


"aahhh... ibu mertua maafkan aku, biar aku yang menggendong nya," ucap Ratu Xhin Ye, meraba kepala putera nya, dan tidak menyadari jika jari telunjuk nya kini sudah melingkar sebuah cincin begitu cantik dengan bermata berlian putih.


"menantu langit sudah mulai gelap sebaiknya kita kembali," ucap istri Yu Jin tua.


"ibu benar sebaiknya kita pulang," ucap Ratu Xhin Ye menatap sesaat kearah buah persik naga itu, seperti berpamitan dan mencium kepala putera nya.


Mata indahnya seketika melebar dan melepaskan kepala putera nya, dan mengangkat jari telunjuk nya yang panjang dan ujung melengkung kebelakang menatap nya lebih dekat.


"jangan katakan ini mimpi? ibu mertua kita tidak sedang bermimpi bukan?" ucap Ratu Xhin Ye dengan suara bergetar dan terputus-putus


Yu Jin tua yang sedang menikmati apel sedikit terkejut melihat cincin pasangan Ratu Xhin Ye yang kembali menghiasi jari telunjuk menantu nya, yang biasanya cincin itu menemani liontin di leher panjang nya.


bibir nya tidak lagi mampu menggigit apel itu dan di biarkan terjatuh begitu saja,


"menantu cin-cincin di jari mu," ucap Yu Jin tua.


Ratu Xhin Ye menganggukan kepala, air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa di bendung.


"iya ayah... katakan kau juga melihat nya, aku begitu bahagia, ini menandakan suami ku baik-baik saja saat ini," ucap Ratu Xhin Ye, kristal merah di keningnya dan huruf suci di bawah telinga nya kembali terlihat terang kembali.


"suami aku senang kau baik-baik saja, aku akan benar-benar marah jika kau begitu lama di tempat itu, dan melupakan kami," guman Ratu Xhin Ye begitu pelan.


"seperti nya akan sulit untuk ku melupakan wanita segalak dirimu istriku, dan aku harap kali ini kau sedang tidak marah," ucap seorang pemuda berpakaian hitam dengan rambut yang acak-acakan, keluar dari gerbang tinggi itu, langit mulai gelap namun Ratu Xhin Ye dengan jelas bisa mengenali siapa orang itu.


"ibu mertua aku titip putera ku sebentar, aku harus menghajar ayah dari bayi ini karena begitu tidak sopan pergi tanpa berpamitan pada kami," ucap Ratu Xhin Ye, menahan untuk tidak menangis, terlihat urat di leher nya seperti kesusahan menelan ludah nya.


Ratu Xhin Ye melangkah dengan pelan namun matanya mulai mengeluarkan air mata tanpa bisa di tahan sedikit pun juga, menatap seorang pria bermata biru melangkah ringan keluar dari gerbang menuju pulau tingkat ke tiga.


Saat keduanya semakin dekat kepala Ratu Xhin Ye menggeleng, mengalihkan pandangannya ke tempat lain, dan tersenyum kesedihan, sesekali menggigit bibir bawahnya yang bergetar,


"ini tidak mungkin, gerbang itu begitu sulit dan rumit, hik... hikkk... aku pasti sedang bermimpi," batin Ratu Xhin Ye, nafasnya mulai tersengal-sengal,


"baiklah... ja-ngan.... jangan ada yang berani membangun ku saat ini, meski ini mimpi aku ingin ini sedikit lebih lama, tolong jangan bangunkan aku, izinkan aku bersama mu sebentar saja, suami ku meski kau mati aku ingin ikut bersama mu... hik... hik.... tangisan Ratu Xhin Ye pecah,

__ADS_1


Ratu Xhin Ye adalah wanita dewasa yang biasanya terlihat begitu anggun dan dingin, tetapi saat dihadapan Xiao Zhou wanita itu berubah drastis kini Ratu Xhin Ye seperti seorang gadis belasan tahun saja, dengan kedua tangan nya terus mengusap air matanya.


__ADS_2