
terjangan naga neraka," teriak Xiao Zhou dan menebaskan pedang nya serta melempar pedang semesta ke udara seekor naga hitam keluar dan mengikuti pedang semesta itu
ROAAAAARRRRRRRGGGGG......
suara naga yang begitu mengerikan, melesat keatas, pedang semesta kembali ke tubuh Xiao Zhou.
Xiao Zhou keluar dari gerbang itu dan bertemu dengan Xiang Sun.
"paman Xiang...." ucapan Xiao Zhou terhenti di potong oleh ucapan Xiang Sun.
"sudahlah.... setidaknya kau sudah mencoba nya, terimakasih buah besar, terimakasih banyak," ucap Xiang Sun, sambil tersenyum walaupun senyum itu tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
"bagaimana dengan mutiara naga mu ini," tanya Xiao Zhou.
"jika kau sudah sembuh kembalikan lah padaku, aku akan selalu di tempat ini," ucap Xiang Sun dan mereka berdua kembali ke gerbang menuju pulau Xiao Zhou.
"semoga kau cepat menyelesaikan masalah akar jiwa itu buah besar," ucap Xiang Sun.
"aku akan kembali paman Xiang," ucap Xiao Zhou dan keluar dari pulau ke dua.
malam itu Xiao Zhou memberikan inti darah nya kepada seluruh istri nya, dan juga calon istri nya, Tan Lien begitu senang menerima inti darah Xiao Zhou karena dengan itu dirinya sudah di haruskan menjadi istri Xiao Zhou.
tiga hari berlalu Xiao Zhou membantu para penerima inti darah agar tidak mengalami kehancuran pada tubuh mereka.
para wanita yang menerima inti darah Xiao Zhou seperti biasa, akan panik saat wajah mereka terlihat penuh cairan hitam dan berbau di hadapan suami mereka, maka dengan cepat sebelum para wanita itu sadar Xiao Zhou sudah meninggalkan ruangan itu.
beberapa hari kemudian.
setelah berpamitan dengan semua istrinya malam itu Xiao Zhou memasuki alam him Sui.
Xiao Zhou melesat ke arah pulau di tengah danau itu dan duduk di sebuah batu besar.
"pemilik alam him Sui, apakah aku boleh tinggal lebih dari sebulan di tempat ini?" teriak Xiao Zhou, karena sebelumnya Xiao Zhou harus meninggalkan alam itu jika lebih dari sebulan.
tetapi kali ini tidak ada jawaban di alam itu,
"pedang semesta apa kau tahu kenapa mereka tidak menjawab ku saat ini?" tanya Xiao Zhou.
"tentu saja tidak ada jawaban tuan, saat ini kaulah penguasa alam ini, jika dulu jiwa mou lu masih terpisah, dan jiwa-jiwa itu yang menjalankan alam ini, sama seperti pedang dan Tungku mu itu, mereka bisa berbicara dengan mu," ucap pedang semesta.
"baiklah... apa sekarang aku bisa bertapa di tempat ini?" tanya Xiao Zhou.
"tentu saja tuanku," ucap pedang semesta
"hemm... aku tidak yakin dengan hal ini, tapi aku akan mulai pertapaan ku, aku harus memfokuskan pikiran ku pada jiwa mana akan aku serap lebih dulu, aku akan ke alam bawah sebaiknya aku menyerap jiwa iblis itu terlebih dahulu," batin Xiao Zhou, dan mulai duduk bersila dan memfokuskan pada jiwa dewa iblis kuno Zhen lu.
"ingatlah tuanku, jika kau ingin berhasil lepaskan semua keinginan mu, lepaskan semua hasrat mu, dan lupakan semua nya, lupakan dirimu," ucap pedang semesta dan mata Xiao Zhou mulai tertutup.
__ADS_1
tessssst...... hari berganti..
waktu berlalu di alam him Sui berbeda dengan alam di bumi.
tessssst...... bulan berganti.....
tubuh Xiao Zhou di penuhi salju saat musim salju tiba di alam itu,
tessssst......, tahun berganti.....
beberapa tumbuhan mulai hidup di pakaian Xiao Zhou yang mulai hancur.
*****
beberapa hari perpustakaan tempat Xiao Zhou bekerja tutup, seorang wanita selalu menatap ke tempat itu dari rumah makan yang tidak jauh dari tempat itu.
"apa yang terjadi pada bocah itu? apa dia begitu terpukul atas ucapan ku? biarkan saja aku masih marah, dan kesal pada nya," guman wanita itu yang tidak lain adalah Choe Eun Soo.
seorang pemuda mendekati nya, pemuda itu adalah pengawal nya.
"nyonya... beberapa hari lagi akhir tahun, bagaimana dengan rencana kita?" tanya pemuda itu.
"tenang saja bok Joo, semuanya sudah sesuai rencana," ucap Choe Eun Soo, yang masih menyembunyikan jika stempel itu sudah ada di tangan nya.
wajah Choe Eun Soo tampak begitu muram, sangat berat bagi nya meninggalkan kota itu.
malam tiba, Choe Eun Soo menyelinap masuk ke dalam perpustakaan itu, bagi seorang pencuri seperti nya akan sangat mudah baginya untuk masuk ke ruangan yang terkunci.
Choe Eun Soo mengendap-endap dan masuk ke bekas ruangan Xiao Zhou, yang gelap, wanita itu menyalakan lentera di tempat itu, membuat ruangan itu sedikit terang.
mata Choe Eun Soo, menjelajah kemana-mana, dan mengenang kejadian di tempat itu beberapa hari yang lalu.
"aahhh.... aku merindukan hari-hari indah itu," guman nya.
Choe Eun Soo meraba permukaan ranjang yang sering di tiduri bersama Xiao Zhou dan melakukan hal yang sama pada meja makan itu, mata Choe Eun Soo sedikit menyipit dan menatap sepucuk surat di atas nya.
dengan cepat tangan nya menyambar surat itu, dan seperti tidak sabaran membaca nya.
tangan nya mulai bergetar, matanya pun berkaca-kaca.
"nyonya choe... aku tidak yakin kau akan membaca surat ini, aku tidak akan menyalakan mu, jika kau mendekati aku hanya untuk memanfaatkan aku, aku senang bisa membantu mu, semoga kau berhasil dengan impian mu," Choe Eun Soo tidak melanjutkan membaca surat itu dan meremas nya, tubuh nya jatuh di ranjang Xiao Zhou, dan tubuh nya meringkuk memeluk bantal Xiao Zhou, air matanya terus mengalir dan tertidur.
pagi itu Choe Eun Soo melihat keributan di kediaman nya, begitu banyak orang yang ingin melihat kejadian di rumah itu, para petugas keamanan memeriksa dan menanyai beberapa orang.
Choe Eun Soo menyelinap di antara keramaian dan matanya mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi.
dan tubuh nya bergetar hebat saat melihat beberapa petugas keamanan kota, membawa tandu keluar dari dalam kediaman beberapa tandu membawa jasad wanita.
__ADS_1
Choe Eun Soo seketika ingin berlari masuk kedalam kediaman nya sampai tubuh nya di peluk seorang pria dan mencoba menahan nya.
"nyonya Choe hentikan, kendalikan dirimu," bisik pria itu memeluk erat tubuh Choe Eun Soo, dan membawa nya pergi.
mereka berdua duduk di pinggiran aliran sungai di kota huangdong, sungai itu begitu jernih, dan pinggiran nya mulai membeku karena musim salju masih berlangsung.
"apa yang terjadi?" tanya Choe Eun Soo.
"mereka semua terbunuh oleh seseorang," ucap bok Joo.
"bagaimana kau tahu pelakunya hanya seorang saja?" mata Choe Eun Soo menerawang.
"aku mendengar nya dari seorang nenek yang melihat kejadian tadi malam, dan aku rasa pemuda itu adalah penjaga perpustakaan itu," ucap bok Joo.
mata Choe Eun Soo melebar, dan menatap tajam bok Joo, tidak ada kata yang keluar dari bibir nya.
"aku tahu kau tidak akan percaya ucapan ku, tapi kau hanya dekat dengan orang itu saja di kota ini, apa kalian sedang bertengkar atau semacamnya?" tanya bok Joo.
"bawa orang yang menyaksikan kejadian itu secepatnya pengawal bok Joo," teriak Choe Eun Soo, yang tidak percaya jika Xiao Zhou bisa melakukan pembantaian bahkan kebanyakan korban nya adalah wanita.
"baik ketua Choe," ucap bok Joo, terlihat wajah bok Joo sedikit pucat seperti terkena racun.
dan sore itu seorang nenek tua sedang duduk dihadapan Choe Eun Soo.
"apa benar kau menyaksikan kejadian tadi malam?" tanya Choe Eun Soo.
"iya nyonya, aku menyaksikan nya, seorang pria bercadar, tubuh nya tinggi dan terlihat kurus, di kening nya terdapat kristal biru, pemuda itu menyerang secara brutal, dan membunuh semua orang di tempat itu, aku sangat ketakutan nyonya, aahhh aku takut," ucap nenek itu dan mulai menangis.
Choe Eun Soo membiarkan nenek itu pergi,
"apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya bok Joo.
"misi ini telah gagal, sebaiknya kita kembali ke kekaisaran Yunha, dan mengikuti perintah Kaisar selanjutnya," ucap Choe Eun Soo, matanya menatap nenek tadi yang seperti sedang jatuh, beberapa koin emas jatuh dari jubah nya, tidak jauh dari hadapan nya. nenek itu pergi membiarkan uang nya jatuh begitu saja.
"nyonya Choe apa kau yakin? kita telah gagal Kaisar tidak akan senang dengan hal ini, hanya hukuman yang akan kita dapati jika kembali, bagaimana jika menetap di tempat ini nyonya? dan memulai hidup baru menjadi orang biasa," ucap bok Joo
"itu terdengar seperti nya sangat menyenangkan kakak bok Joo, tetapi aku adalah seorang prajurit kekaisaran Yunha, dan aku ketua dalam misi ini, dan bertanggung jawab atas semua kegagalan yang terjadi, sebaiknya nya kita bersiap kembali ke kekaisaran Yunha," ucap Choe Eun Soo.
"kakak bok Joo apa kau baik-baik saja, kau terlihat pucat? beristirahatlah," ucap Choe Eun Soo.
Choe Eun Soo mengendap-endap mengikuti nenek tua itu, dan langit mulai gelap Choe Eun Soo bersembunyi di sebuah ruangan kecil di rumah nenek itu.
"aahhh... punggung ku sakit, dan penglihatan sudah sangat jelek," guman nenek itu dan duduk di sebuah balai kecil di pekarangan nya, dan seorang berpakaian hitam memasuki gerbang rumah nya yang kecil.
"siapa yang datang?" tanya nenek itu menatap orang yang masuk di gerbang nya dan sekaligus menutup pintu gerbang kecil itu.
"bok joo... aku sudah menduga nya," batin Choe Eun Soo yang mengintip dari celah di ruangan kecil seperti sebuah gudang.
__ADS_1