Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Tewas nya Sang pengacau


__ADS_3

Sang Pembunuh Dewa terlempar dan menghantam lantai, dan berlutut tidak mampu berdiri karena merasakan panas yang begitu mengerikan di perut bawah nya, tetapi tidak bisa mati karena tubuh abadi nya.


"panas apa ini? dantian ku meleleh, ini begitu menyakitkan," ucap Sang Pembunuh Dewa


"Ling Zhein... jika kau pintar seharusnya tadi kau melarikan diri selagi ada kesempatan, tapi sekarang semua nya sudah terlambat, aku akan membunuhmu," ucap Xiao Zhou


Wajah Sang Pembunuh Dewa memucat, dan merasakan ketakutan untuk pertama kalinya, mendengar ancaman dari seseorang.


"cih... aku ingin tahu bagaimana kau menghadapi seseorang yang abadi, apa yang akan kau lakukan padaku hah?" teriak Sang Pembunuh Dewa seperti menantang.


"aku penguasa waktu, dan aku bisa menarik bayangan roda waktu yang telah kau serap," ucap Xiao Zhou dengan wajah acuh.


Tangan nya bergerak sedemikian rupa, dan tubuh Sang Pembunuh Dewa bergetar hebat, dan melayang di udara, namun dantian nya sudah kembali menyatu, meski belum benar-benar sempurna.


"aahhkkkk....." darah menyembur dari bibirnya dan semua rongga di tubuh nya,


Terlihat bayangan bulan dan matahari keluar dari tubuh Sang Pembunuh Dewa, dan bayangan itu masuk ke tubuh Xiao Zhou, Seluruh tubuh Sang Pembunuh Dewa keluar asap dan terjatuh dan berlutut kedua tangan nya memegang perutnya, karena masih merasakan panas.


"huffff.... hoss..... " suara nafas Sang Pembunuh Dewa yang terasa begitu tersiksa saat keluar nya bayangan roda waktu dari tubuh nya.


Sang Pembunuh Dewa hanya mampu menggelengkan kepalanya, tidak percaya jika berhadapan dengan seseorang yang bagitu mudah menghapus semua impian dan jerih payahnya selama ini.


"jika kau menyesal, ini sudah terlambat," ucap Xiao Zhou berdiri di belakang nya.


Xiao Zhou mendekati Sang Pembunuh Dewa, dan mencabut tusuk rambut yang terbuat dari emas, membuat mahkota kecil nya terjatuh ke lantai dan rambut nya terurai, menutupi wajahnya dari kedua sisi.


Xiao Zhou melepaskan tusuk rambut itu, dan benda itu melayang mendekati Ratu langit,


"ini jarum Emas ku, terimakasih menantu," ucap Ratu langit tersenyum, membuat wajah Puteri Yun Qixuan semakin malu, karena sudah menyebut calon suami nya sebagai menantu.


Ratu langit membisikkan sesuatu di tusuk rambut itu, dan seketika prajurit langit yang awalnya saling bertarung kini berhenti, dan mereka menatap ke arah para raksasa batu dan juga para dewa yang membelot ke pihak Sang Pembunuh Dewa, bahkan pakaian Kaisar Langit pertama yang dikenakan oleh Sang Pembunuh Dewa menghilang dari tubuh pemuda itu dan hanya menyisakan pakaian putih biasa.


"Yang Mulia... aku akan meninggalkan penjahat ini pada anda, dia adalah tawanan anda saat ini," ucap Xiao Zhou.


"baiklah... terimakasih kau sudah bersedia membantu kami," ucap Kaisar Langit.


Dewa lautan mendekati Kaisar Langit, dengan mata masih menatap Xiao Zhou,

__ADS_1


"Tapi Yang Mulia.... para raksasa itu masih terus bertambah banyak," ucap Dewa lautan membungkuk di hadapan Kaisar Langit.


"mereka para Zhangji, mereka tidak akan berhenti sampai alam ini kosong, biarkan teman ku menyelesaikan nya Yang Mulia," ucap Xiao Zhou.


Xiao Zhou memutar telapak tangan kirinya, dan sekarang cincin setengah itu bergerak dan mulai bergetar.


prakkkkk......


"pedang bulan kau memiliki jantung dari para Zhangji itu, kau tahu apa yang harus kau lakukan," ucap Xiao Zhou.


prakkkkk.....


prakkkkk......


tiba-tiba cincin langit membesar dan semakin membesar, berputar-putar di sekitar Xiao Zhou dan melesat di atas Medan perang itu, membuat para raksasa batu itu berlutut, wajah mereka semua yang awalnya begitu buas kini seperti begitu ketakutan.


melihat para raksasa batu itu berlutut di hadapan cincin langit, peperangan pun berhenti, pasukan langit kembali membentuk formasi bertahan saja.


"pemilik pusaka ini benar-benar luar biasa," batin Petarung Besar dan masih berdiri di barisan paling depan dengan beberapa luka di tubuh nya.


****


wajah Sang Pembunuh Dewa menunduk, dan merapal sebuah mantra, sudut matanya menatap pedang tebal di samping nya.


"tidak... ini belum berakhir," guman Sang Pembunuh Dewa dan dalam sekali gerakan, pedang tebal itu melayang ke arah kaisar langit.


Xiao Zhou yang sedang mengendalikan cincin langit berusaha mengendalikan pedang tebal itu, namun Sang Pembunuh Dewa merangkul Xiao Zhou dan membawa nya ke udara.


pilar Langit Zhou Shilin dengan cepat membuat sebuah perisai besar dan menahan laju pedang tebal itu, membuat pedang itu terpental dan berganti arah melesat masuk ke aula agung istana langit dan menancap di salah satu pilar penunjang di belakang singasana besar Kaisar Langit.


"pedang ini hanya pengalihan perhatian," guman Pilar Langit Zhou Shilin, yang merasa serangan pedang itu tidak seberapa.


Sang Pembunuh Dewa menyeringai ke arah Xiao Zhou,


"kau sudah mengacaukan segalanya nya, setidaknya kita akan mati berdua," teriak Sang Pembunuh Dewa.


bommmm.......

__ADS_1


Terdengar suara ledakan yang begitu memekakkan telinga di halaman istana langit itu.


Sang Pembunuh Dewa meledakkan dantian nya, sebuah gelombang energi begitu besar keluar dari ledakan itu, menghancurkan apa saja, tembok halaman istana itu terkikis menjadi dan menjadi serpihan debu, logam-logam yang ada di halaman itu meleleh karena panas nya ledakan itu, namun Kaisar Langit dan keluar nya masih terlindungi oleh perisai yang di keluarkan oleh Pilar Langit Zhou Shilin yang di bantu olehDewa formasi Lou Yi.


Mata Puteri Yun Qixuan melebar, melihat ledakan dahsyat di udara, dan akhirnya menutup kedua matanya dengan lengan nya karena silau ledakan itu semakin membesar dan gelombang-gelombang energi kembali keluar, benteng-benteng kokoh di luar istana mulai hancur dan alam langit bergetar hebat.


"su-ami..... tidak, kau tidak boleh mati, kau begitu kuat, katakan ledakan ini tidak apa-apa bagimu," guman Puteri Yun Qixuan.


Ledakan dahsyat di halaman istana langit membuat, semua orang yang ada di Medan pertempuran itu menatap nya, semua bertanya apa yang sedang terjadi di tempat itu, belum ada yang tahu kejadian di tempat itu karena jarak cukup jauh.


debu masih menyelimuti halaman istana itu, kini istana langit terlihat seperti sebuah istana kecil di pinggir lubang kawah besar.


semua menatap ke arah pusat ledakan dan berharap Xiao Zhou dapat selamat, mata mereka melebar saat menatap seseorang remaja melayang dengan kristal biru cerah di kening nya, matanya terpejam dengan pakaian melambai-lambai, terlihat sedikit darah keluar dari ujung bibirnya, dan perlahan melesat ke arah para Zhangji itu, yang di ikuti oleh pedang bulan.


pedang bulan itu semakin membesar dan melebihi besar ke tiga gunung itu, melesat kearah tiga gunung itu, dan


sreeessstttt.....


pedang bulan memotong ke tiga akar dari gunung itu, kini Xiao Zhou sudah berada di depan ketiga gunung itu, setiap gunung mengeluarkan sepasang mata mereka, dengan berbeda warna.


"tuanku, kau adalah pemegang jantung kami, kami akan tunduk pada semua perintah anda, tapi tuanku kami sudah menjadi seperti ini tidak ada tempat untuk cukup untuk kami, kami akan menghisap semua energi kehidupan di alam manapun," ucap gunung yang terbuat dari es.


Xiao Zhou mengangguk,


"apakah ini cukup?" tanya Xiao Zhou sambil membuka telapak tangan kirinya.


"itu lebih dari cukup tuan," ucap gunung karang itu dan ketiganya melayang dan mengecil dan masuk ke telapak tangan kiri Xiao Zhou.


setelah kepergian para Zhangji itu, raksasa batu itu hancur dan hanya menjadi tumpukan batu.


Xiao Zhou menyentuh reruntuhan roda kebijakan itu, membuat nya semua serpihan dari roda kebijaksanaan bergetar dan menghilang.


Xiao Zhou menatap sisa Dewa pengikut Sang Pembunuh Dewa, mereka belum mengetahui jika pimpinan mereka sudah tewas, semua Dewa itu menatap Xiao Zhou penuh kebencian.


Xiao Zhou menatap mereka dengan seringai iblis nya, dan menyelipkan pedang kematian di pinggang nya.


"pengkhianatan harus di bayar dengan nyawa kalian," teriak Xiao Zhou.

__ADS_1


Remaja tanggung itu melesat ke arah para Dewa yang berkhianat itu, menebaskan pedangnya panjang melengkung nya, terlihat potongan tubuh mulai berhamburan, dengan senyum lebar terlihat di wajah pemuda itu saat melihat darah di depan matanya, dan menjelang sore pembantaian itu pun usai.


***


__ADS_2