Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Nampan Penyihir Agung


__ADS_3

Hampir semua bibir terbuka, mata mereka menatap satu sama lain, semua terdiam beberapa detik, keheningan memuncak saat itu, bahkan suara nafas pun seperti di tahan.


keheningan itu seketika berubah menjadi kegaduhan, setelah beberapa orang ingin naik ke atas panggung, sang pengganti dengan cepat melangkah di depan Ratu Xhin Ye, dan dengan energi qi nya membuat sebuah perisai menahan semua pejabat lama yang ingin naik ke atas panggung.


"jangan pernah berani mendekati penguasa," ucap sang pengganti dengan wajah kesal nya, ratusan pengawal berlari dan membantu sang pengganti dan membuat pagar dengan tubuh mereka.


Ratu Xhin Ye maju mendekati para pejabat yang ingin naik ke panggung itu,


"tenanglah kalian, jika ada yang ingin di sampaikan padaku, aku ijinkan hanya kepada para ketua klan, dan tidak di tempat ini, kau pejabat senior ikut aku keruang pertemuan ku" ucap Ratu Xhin Ye, seperti sudah bisa menebak kegaduhan ini.


Para ketua klan naik ke atas panggung, dan mengikuti langkah Ratu Xhin Ye memasuki sebuah ruangan.


Ruangan besar dengan meja kayu berbentuk oval yang terlihat kokoh dan mewah, sangat terlihat meja itu perpaduan kekuatan dan kemewahan dan di balut sentuhan para ahli seni pahat yang sangat handal.


Xiao Zhou dan Ratu Xhin Ye duduk di bangku panjang yang khusus untuk mereka, dan ketika ketua klan yang memiliki kemampuan langit tingkat tinggi, duduk di sebrang mereka, dan seorang pejabat senior berdiri di sudut ruangan dan mengeluarkan sebuah buku dan mulai mencatat.


"jangan bicara sepatah pun tanpa izin dariku, dan bertingkah lah seperti seorang suami," bisik Ratu Xhin Ye.


terlihat wajah para ketua klan itu sangat serius, hanya wajah Penyihir Agung yang tampak tenang, dan melambaikan tangan nya sebuah nampan lengkap dengan teko dan beberapa cawan sudah muncul di atas meja di depan nya itu.


mata nya tidak menatap kedua pengantin itu, dan terlihat sibuk sendiri dengan guci dan cawan-cawan nya itu, seperti cawan itu adalah bidak catur yang perlu di pikirkan.


seorang pria sepuh berpenampilan seperti biksu lah yang pertama bicara, dengan suara serak nya.


"penguasa... ini tidak bisa di benarkan, suami anda harus seorang yang memenuhi kriteria yang mumpuni, aahhh anak muda... aku bukan nya meremehkan kemampuan mu, tapi sayang nya ini terlalu di bawah, sangat di bawah...." ucap pertapa suci, sambil menggelengkan kepalanya.


"itu benar penguasa, dia adalah calon pelindung mu, dan pelindung pulau ini, aku tidak bisa membayangkan pelindung kami hanya seorang bocah di tingkat dasar, sebaiknya batalkan saja pernikahan ini," ucap Petarung Besar yang merupakan ketua dari klan petarung.


"dasar... tubuh mu saja yang besar, tapi bodoh," guman Penyihir Agung tersenyum seperti merendahkan Petarung Besar.


"apa?? apa kau mengatakan sesuatu Penyihir Agung?" tanya Petarung Besar menatap kesal ke arah Penyihir Agung.


Ratu Xhin Ye hanya tersenyum, masih dengan wajah tenang.


"Maafkan aku... itu sama sekali tidak mungkin ketua klan petarung, sampai kapan pun aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini.


"Penguasa benar, saudara petarung ku, apa kau lupa siapa penguasa sebenarnya, sebelum datang ke pulau ini? pernikahan penguasa bukan hal yang bisa dibatalkan dengan begitu saja, atau mengganti nya dengan pemuda lain, ini menyangkut wibawa dan kehormatan penguasa kita, hanya ada satu cara untuk menenangkan penduduk pulau ini, pemuda itu harus mengikuti ujian sebagai seorang pendamping penguasa, sepuluh hari dari sekarang," ucap Pertapa Suci.

__ADS_1


wajah Ratu Xhin Ye masih terlihat tenang, membuat Penyihir Agung menyipitkan matanya, menatap wajah tenang itu


"Penguasa tidak pernah menyentuh wajah nya, dia begitu tenang, seharusnya dia sudah ketakutan setengah mati saat ini, seperti nya wanita memiliki sesuatu yang tidak dapat di tolak di belakang nya, aku tidak boleh gegabah," batin Penyihir Agung, dan menuangkan isi teko kecil ke sebuah cawan, serta menyeruput isi cawan nya itu.


"apa ujian? hahaha... pertapa suci katakan jika kau sedang tidak serius ? tidak.... apa kau ingin membunuh suami ku ini secara halus?" ucap Ratu Xhin Ye menatap dingin ke arah Pertapa Suci.


"maafkan aku penguasa, tapi ini adalah jalan satu-satunya, penduduk akan menerima pernikahan ini jika pemuda ini berhasil melewati ujian itu." ucap pertapa suci


"itu benar, aku juga akan menerima pernikahan ini jika pemuda ini bisa lolos ujian." ucap Petarung Besar.


Ratu Xhin Ye memejamkan mata nya, dan bicara lagi.


"pejabat senior berhenti mencatat, dan keluar lah," ucap Ratu Xhin Ye, dan pejabat itu pun membungkuk dan keluar dari ruangan bermeja oval itu.


"baiklah... jika itu keputusan kalian, bagaimana jika aku memiliki hal yang lebih menarik daripada ujian membosankan yang kalian tawarkan itu," ucap Ratu Xhin Ye dengan alis kecil nya yang terangkat keatas, menatap ketiga ketua klan di hadapan nya.


"akhirnya, kartu pun di buka," batin Penyihir Agung, tampak sungging di sudut bibir nya.


Penyihir Agung menaruh cawan nya dengan perlahan, dan mendorong pelan nampan berisi teko kecil dan beberapa cawan menjauh dari hadapan nya tadi, seakan sedang baru saja mulai percakapan, kedua tangan nya di lipat dan meletakkan nya dengan pelan di atas meja.


"baiklah kalian semua ikut aku ke menara tertinggi di istana ini," ucap Ratu Xhin Ye dan menarik lengan Xiao Zhou agar mengikuti nya, dan meninggalkan para ketua itu jauh di belakang mereka.


"apa ini nyo-, maksud ku, istri ku?" tanya Xiao Zhou gugup.


"aku tahu apa yang aku lakukan, tetap lah tenang dan diam saja, ketiga orang tua itu sangat menggilai kekuatan, apa aku hanya boleh menikahi orang yang kuat saja? ucap Ratu Xhin Ye kesal.


tangan nya bergelut pada lengan Xiao Zhou, dan sesekali gundukan lembut itu tanpa sengaja menyentuh lengan Xiao Zhou, saat mereka menaiki tangga menuju menara tertinggi di istana itu.


seketika Ratu Xhin Ye melepaskan pelukan tangan nya, wajahnya begitu kesal dan sedikit menunduk, terlihat rona merah di wajah nya, yang diterangi cahaya lentera di Dinding istana.


"dasar pemuda mesum," batin Ratu Xhin Ye, menatap anak tangga itu dengan kesal.


setelah di atas menara, mereka semua bisa menatap ke segala penjuru, terlihat bukit batu terjal di belakang mereka.


"baiklah dari kalian bertiga siapa yang merasa paling kuat dengan kemampuan kalian, aku ingin mengujinya dengan suami ku," ucap Ratu Xhin Ye, membuat Xiao Zhou menelan ludah nya.


ketiga nya saling menatap dan petarung besar lah yang terlihat paling tidak sabaran dan melangkah ke arah Ratu Xhin Ye.

__ADS_1


"penguasa aku harap ini tidak main-main, karena bocah ini akan mati dalam hitungan detik saja, jika bertarung melawan ku," ucap Petarung Besar menatap wajah Xiao Zhou.


"tidak ada bedanya, saat ujian yang kalian inginkan itu, dengan kemampuan suamiku ini, tidak ada kesulitan bagi kalian untuk membunuh nya di hadapan orang banyak, dan itu akan sangat menyakitkan bagiku, dan sekarang Petarung Besar keluarkan jurus naga apapun yang kau miliki dengan sekuat yang kau mampu," ucap Ratu Xhin Ye.


semua orang menatap Ratu Xhin Ye dan seperti tidak mengerti maksud dari penguasa mereka, tanpa pikir panjang, Petarung Besar mengeluarkan semua kemampuan nya, dan seekor naga api yang sangat besar sedang berputar-putar di udara,.


"Petarung Besar!!!" ucap Ratu Xhin Ye sambil menunjuk puncak tebing batu itu.


Petarung Besar pun mengerti mengarahkan naga itu dan menghantam ujung tebing itu dan naga itu pun menghilang.


semua diam dan hanya menatap ke arah Ratu Xhin Ye.


"baiklah kini giliran mu suamiku," ucap Ratu Xhin Ye mendekati Xiao Zhou,


"suami... keluarkan jurus naga air mu, dengan semua kekuatan mu," ucap Ratu Xhin Ye.


Xiao Zhou hanya mengikuti perintah Ratu Xhin Ye tanpa mengetahui maksud dari wanita itu.


Xiao Zhou membentang tangan nya, sebuah pedang beruap biru muncul di tangan kanan nya.


prakkkkk....


praaakkkkk....


otot dan urat-urat Xiao Zhou mulai bermunculan di lengan kanan nya, karena kulit hitam nya, maka tidak terlihat perbedaan warna seperti biasanya.


sebagian kanan tubuh Xiao Zhou sudah berubah, energi qi nya mulai terpancar begitu dahsyat, dan angin kencang mulai berhembus, dan istana itu mulai bergetar.


Wajah Pertapa Suci, dan Ratu Xhin Ye pun tampak berubah menjadi tegang.


"ini di luar perkiraan ku," batin Ratu Xhin Ye.


pertapa suci menggelengkan kepalanya, dan memejamkan matanya, urat-urat di kening nya mulai terlihat, dengan keringat yang bercucuran di wajah nya.


"kemampuan bocah ini sangat berbeda, aku bisa merasakan nya, bahkan pulau ini juga," batin Pertapa Suci, dan membuka matanya.


"cukup!!!! hentikan anak muda, kami.... kami mengaku kalah," ucap Pertapa Suci dengan nafas tersengal, bergegas mendekati dan membungkuk di hadapan Xiao Zhou.

__ADS_1


__ADS_2