
Dewa kebijaksanaan mengangguk, matanya menatap Ratu Xhin Ye sesaat, dan kembali menatap Xiao Zhou seperti sedang bertanya siapa wanita itu.
"ohhh... ayah mertua, dia....
"namaku Xhin Ye paman, dan aku istri dari menantu mu ini," ucap Ratu Xhin Ye sambil membungkuk sopan di hadapan Dewa kebijaksanaan.
bola mata Xiao Zhou sedikit melebar, dan menunduk.
"oohhh... menantu aku tidak akan meragukan mu dalam mendapatkan istri baru, tapi kali ini kau membawa seorang wanita yang di luar jangkauan pemikiran kami, wanita ini memiliki kemampuan langit tingkat tinggi, hanya para pilar langit memiliki kemampuan seperti ini, nona Xhin bagaimana kau bisa memiliki kemampuan sehebat ini? kekuatan mu mampu menggetarkan langit, ini seperti mustahil jika langit tidak mengetahui nya?" ucap Dewa Kebijaksanaan.
"paman Dewa, kau terlihat begitu bijaksana, paman pasti mengerti tidak ada yang mustahil di alam ini, katakan jika aku salah paman," ucap Ratu Xhin Ye, mulai bermain dengan kata-kata nya.
Dewa Kebijaksanaan menyipitkan matanya menatap Ratu Xhin Ye dengan seksama, terlihat senyum di bawah kumis panjang nya yang putih,
"apa ini? hahaha... aku tidak percaya ini, menantu kali ini pilihan mu sangat istimewa, istri mu ini benar-benar berbakat dan juga begitu cantik, aku yakin bocah itu tidak pernah bisa memalingkan wajahnya dari wajah mu nona Xhin, tapi nona apa kita pernah bertemu?" tanya Dewa kebijaksanaan, dan kembali menatap wajah Ratu Xhin Ye, kening nya berkerut seperti sedang mencoba mengingat-ingat.
"paman Dewa anda terlalu memujiku, suami ku ini perlu belajar dari paman, dia bahkan hanya pernah sekali memujiku, tapi maafkan aku paman, aku yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya," ucap Ratu Xhin Ye tersenyum.
"Hemmm... seperti itu rupanya?, baiklah nyonya tapi aku yakin pernah melihat wajah cantik ini, tapi aku tidak ingat dimana? aahhhh sudahlah... lupakan saja, baiklah nona Xhin, maafkan ucapan ku tadi, aku mohon diri, dan menantu apa kau akan pulang ke pulau mu?" tanya Dewa kebijaksanaan.
"Tapi aku sangat yakin pernah melihat wanita ini," batin Dewa Kebijaksanaan
"maafkan aku ayah mertua, aku masih ada urusan, aku belum bisa kembali sekarang," ucap Xiao Zhou.
"baiklah... aku mengerti, kau tampak semakin kuat, semoga kau berhasil menantu," ucap Dewa kebijaksanaan dan melangkah dan menghilang dalam kegelapan.
****
keduanya sudah masuk ke gerbang pulau tingkat ke dua, mereka tidak jadi kembali ke kota huangdong karena Ratu Xhin Ye, sudah kehilangan keinginan itu, setelah melihat naga hitam Xiao Zhou.
Xiang Sun sudah menunggu mereka dengan senyum lebar nya.
"kalian sudah tiba, silahkan penguasa," ucap Xiang Sun.
"naga kau tersenyum? ucap Ratu Xhin Ye lembut dan pelan, dan senyum yang begitu mematikan.
"aku bahkan belum membuat perhitungan dengan mu tentang pemuda ini," ucap Ratu Xhin Ye seperti berbisik menatap Xiao Zhou, membuat wajah Xiang Sun menjadi pucat, dan menelan ludah nya.
bola mata Xiang Sun dan Xiao Zhou saling bertemu, seperti sedang saling menyalahkan.
"baiklah kali ini aku sedang lelah, aku akan ke istana," ucap Ratu Xhin Ye dan mereka berdua meninggalkan Xiang Sun yang masih membeku
"dan kau bocah pelit, ada banyak yang ingin aku tanyakan padamu bersiap lah," ucap Ratu Xhin Ye menatap Xiao Zhou seperti ingin menelan nya.
Ratu Xhin Ye dan Xiao Zhou mengendap-endap dan masuk ke istana tanpa ada seorang yang mengetahui nya.
****
pagi itu udara terasa dingin, kabut menyelimuti pulau ke dua, seorang pria sepuh, mengenakan jubah hijau tua dengan mahkota kecil di kepala nya, sedang berdiri hi aula keluarga.
wajah berkerak Xiao Zhou sedikit berkeringat, di udara dingin itu menatap sebuah kitab tebal di atas meja, Ratu Xhin Ye hanya menatap wajah serius dari Xiao Zhou.
kedua tangan nya bergerak di atas sebuah gambar berbentuk simbol Dewa pertengahan, dan beberapa saat lembaran-lembaran kitab itu mulai terbuka satu demi satu, membuat wajah Ratu Xhin Ye dan Penyihir Agung menegang dan terlihat buah jakun dari Penyihir Agung bergerak naik turun, dan menjatuhkan cawan kesayangan di atas meja.
"kitab ini adalah milik serigala biru, dan menjelaskan tentang suatu tempat yang bernama desa Fuzhu," ucap Xiao Zhou yang membaca hanya halaman depan nya saja.
"tentu saja.... tentu saja..." guman Penyihir Agung, dan perlahan membuka lembaran demi lembaran kitab itu.
"siapa serigala biru, dan ada apa dengan desa Fuzhu?" tanya Xiao Zhou.
"serigala biru adalah ketua klan Penyihir yang melegenda di pulau ini, dia menjabat dua kali sebagai ketua klan karena usia nya yang panjang, dan desa Fuzhu...
Ratu Xhin Ye menghentikan kata-kata nya sebentar,
"desa Fuzhu terletak di ujung pulau ini, dekat dengan gerbang tingkat ke tiga, dan sering di sebut desa terkutuk, tapi desa itu menyimpan harta yang sangat berharga buat kami, hanya di desa itu suku Fiji bisa menghasilkan ginseng pengetahuan, setelah desa itu terkutuk desa itu tidak dapat menghasilkan nya lagi, dan kemampuan otak ketiga klan begitu menurun, seharusnya banyak di antara kami yang mampu menembus kemampuan langit tingkat menengah, tapi kurang nya sumber daya membuat hanya satu-dua dari kami yang mampu melakukan nya." ucap Ratu Xhin Ye.
"dengan kemampuan rendah kami, sangat sulit untuk membuka segel milik mendiang suamiku," ucap Ratu Xhin Ye lagi.
Xiao Zhou mengangguk, mencerna kata-kata dari Ratu Xhin Ye.
__ADS_1
"aku akan mempelajari kitab ini, dan aku akan secepatnya mengabari penguasa jika ada sesuatu yang penting," ucap Penyihir Agung dan meninggalkan nampan kesayangan di aula keluarga itu.
"apa yang terjadi dengan desa Fuzhu?" tanya Xiao Zhou
"desa itu hanya bisa di masuki pada siang hari oleh suku Fiji, untuk tetap merawat desa itu, karena setiap malam di desa itu akan muncul makhluk-makhluk yang tidak bisa mati, dan memakan mahluk hidup yang ada di sekitar desa itu, kemampuan mereka tidaklah tinggi kami sudah berkali-kali memberantas nya, tapi malam berikutnya mahluk itu muncul lagi dan begitu seterusnya,"
"dan serigala biru lah yang membuat segel yang mulai muncul saat matahari terbenam, di desa itu agar mahluk itu tidak keluar dan menyerang penduduk wanita dan anak-anak suku Fiji yang kemampuan nya bertarung nya lemah." ucap Ratu Xhin Ye mengakhiri cerita nya.
"nyonya Xhin apakah aku boleh ke desa itu?" tanya Xiao Zhou.
"tidak... serigala biru tidak mengizinkan seorang pun memasuki desa itu pada malam hari, karena akan bisa merusak segel nya, dan kami sudah membangun tembok mengelilingi desa itu dan seribu prajurit berjaga setiap malam di atas tembok itu.
"dan mulai saat ini kau jangan memanggilku dengan sebutan nyonya lagi, pernikahan pura-pura kita sudah berakhir, ikut aku!!" ucap Ratu Xhin Ye.
keduanya memasuki sebuah pintu gerbang teleportasi, dan mereka kini sudah berada di sebuah ruang tidur di gubuk kecil pinggiran telaga terlarang.
keduanya duduk di pinggiran ranjang,
"aku sudah mendengar cerita mu, dan hanya yang memiliki hawa semesta yang bisa mengandung anak mu, sekarang aku menuntut hak ku sebagai seorang istri, karena aku tidak memiliki hawa semesta, jadi berikan aku inti darah mu," ucap Ratu Xhin Ye dengan wajah seperti memohon.
"bagaimana dengan perasaan mu tentang pemuda yang menahan hati mu?" tanya Xiao Zhou.
"saat ini aku sangat yakin jika pemuda itu sudah tidak ada lagi," ucap Ratu Xhin Ye sambil tersenyum.
"baiklah istri, bertahan ini akan menyakitkan," ucap Xiao Zhou.
"hihihi.... aku sudah siap, tidak ada yang bisa menyakiti ku lagi saat ini," ucap Ratu Xhin Ye, dan mulai berbaring di ranjang sederhana nya.
Dan kristal biru di kening Xiao Zhou mulai bersinar, dan setetes darah seperti berlian keluar dari kristal biru Xiao Zhou, dan masuk ke kristal merah yang memang sudah ada di kening Ratu Xhin Ye.
sudah tiga hari Xiao Zhou menjaga, tubuh Ratu Xhin Ye yang menerima inti darah Xiao Zhou, dan bersamaan dengan terbuka nya mata Ratu Xhin Ye, pulau itupun bergetar, dan bergerak semakin merendah, dan bukit-bukit karang mulai bergesekan dataran pulau itu sudah sama tinggi, istana merdeka sudah hampir berdampingan, meskipun istana Ratu Xhin Ye lebih tinggi karena ada di atas perbukitan, tangga mulai terbentuk seperti jembatan menghubungkan dua istana itu, diakhiri dengan sebuah gempa kecil.
semua penduduk kedua pulau keluar dan menatap ke tempat pulau lain nya, hanya saja tidak dapat melihat nya dengan jelas karena segel dari mendiang suami Ratu Xhin Ye.
Ratu Xhin Ye berdiri dengan lemas, dan tubuh nya yang penuh cairan lengket berwarna hitam, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"ada apa dengan pulau ku?" Ratu Xhin Ye, menatap Xiao Zhou.
"aku dapat merasakan pulau mu saat ini istri, pulau mu sudah melebur dengan pulau ku, pelindung pulau sudah menyatu, tapi masih di halangi oleh segel milik mendiang suami mu saja," ucap Xiao Zhou.
"seperti nya kita benar-benar sudah menjadi suami-istri saat ini," ucap Ratu Xhin Ye dan memeluk Xiao Zhou dengan senyum di bibirnya.
"seperti begitu, tapi istri apa kau tidak ingin membersihkan dirimu?" tanya Xiao Zhou membuat mata Ratu Xhin menatap tangan nya, dan mulai menyentuh wajah nya sendiri, mata Ratu Xhin Ye terbelalak, senyum nya mulai menghilang dari bibirnya dan hawa pembunuh begitu pekat keluar dari tubuh Ratu Xhin Ye.
"bommmmm....."
"kera hitam.... kali ini aku akan benar-benar membunuhmu!!!!!!" teriak Ratu Xhin Ye
"jedummmmmm...."
"blaaarrrrr......"
****
pagi itu Xiao Zhou dan Ratu Xhin Ye keluar dari istana nya, terlihat para penduduk begitu ramai di pinggiran jalan, mereka memasang lentera yang bertingkat, seperti akan ada perayaan, beberapa anak-anak menggunakan topeng dan berlari-larian dengan riang.
Xiao Zhou masuk ke sebuah tempat penjual topeng dan membawa keluar dua buah topeng dan menarik tangan Ratu Xhin Ye membawa nya ke lorong sepi, mereka memakai nya, Ratu Xhin Ye mengerti dan dengan sekali hentakan semua perhiasan rambut nya sudah lenyap dan rambut indah nya jatuh tergerai, dan sebagian menutupi wajahnya yang mengenakan topeng.
mereka berdua mengelilingi kota kecil di pulau Ratu Xhin Ye, Xiao Zhou menatap seorang lelaki paruh baya sedang menggendong anak kecil yang wajah mereka hitam seperti nya, dan tidak ada orang yang mempedulikan mereka.
"hemmm.... ternyata memiliki wajah seperti itu, sudah biasa di tempat ini," batin Xiao Zhou.
keduanya memasuki sebuah rumah makan, dan duduk di sudut ruangan lantai dua rumah makan itu, kedua menatap ke arah pusat kota, dan melihat ratusan ahli bangunan, sedang membangun sesuatu yang besar di pusat kota itu.
"mereka aku perintahkan membuat penginapan," ucap Ratu Xhin Ye yang mengetahui mata Xiao Zhou sedang menatap para pekerja, dan ahli bangunan itu.
"penginapan?" nyonya di pulau ini tidak ada orang asing, dan mereka semua sudah memiliki rumah," ucap Xiao Zhou yang sudah terbiasa memanggil istrinya dengan sebutan nyonya.
"kau bisa memanggilku Ye'er, penginapan itu untuk kita," ucap Ratu Xhin Ye tersenyum senang, kulit wajah nya terlihat begitu kencang bahkan gunung nya sekarang lebih keatas dan juga bokong wanita dewasa itu begitu menonjol kebelakang, membuat pakaian nya kini menjadi lebih ketat di bagian itu.
__ADS_1
"Ye'er... yang aku tahu kau adalah wanita yang pintar, tapi sepertinya membuat penginapan untuk kita sedikit berlebihan dan..." ucapan Xiao Zhou terhenti saat beberapa pelayan membawakan mereka makanan.
Ratu Xhin Ye mengeleng pendek,
"kau lihat cincin pasangan kita!? cincin giok milik ku berubah," ucap Ratu Xhin Ye sambil memperhatikan jari-jari kurus nya yang lentik.
Xiao Zhou menatap cincin di jari telunjuk Ratu Xhin Ye, dan benar cincin itu kini terbuat dari emas putih dan bermata berlian berwarna bening yang sangat cantik.
"kau lihat, cinta dapat merubah batu giok menjadi berlian, seperti itu lah cinta kemurnian nya mampu merubah seseorang, suami kau sebaiknya mulai percaya," ucap Ratu Xhin Ye dan
Ratu Xhin Ye membuka topeng nya, tangan nya menyapukan seluruh rambut nya, dan membawa nya ke sisi kanan bahu nya, sehingga sisi kanan dari wajah Ratu Xhin Ye sekarang tertutupi rambut indah itu, terlihat anting panjang menghiasi telinga kiri wanita itu, membuat nya terlihat sempurna di mata lelaki.
Xiao Zhou sedikit membuka bibirnya terpesona oleh kecantikan wanita itu, membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya dan wajah nya merona merah, tidak berani menatap Xiao Zhou, telapak tangan kirinya berusaha menutup mata Xiao Zhou.
"kau jangan melihat ku seperti itu, aku sedikit malu," ucap Ratu Xhin Ye, tersenyum malu, dan jemari kecil nya sesekali ingin mencakar mata Xiao Zhou yang selalu memandangi nya
Seorang pemuda dengan kerudung penutup kepala, sedang duduk di sudut jauh dari tempat Xiao Zhou dan wanita nya.
Dadanya berdebar kencang melihat Ratu Xhin Ye yang tampak sangat berbeda dari biasa nya, sesekali terdengar ludah tertelan dari bibir nya, dan mengawasi setiap gerak-gerik dari pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.
mereka berdua mulai makan terlihat sesekali Xiao Zhou mengusap-usap kepalanya dipukuli oleh Ratu Xhin Ye, saat di telaga terlarang itu, Xiao Zhou mengambil daging dan meletakkan nya di mangkuk Ratu Xhin Ye, membuat wanita itu tersipu, dan makan dengan sangat pelan dan sedikit, agar tetap terlihat anggun di hadapan pria yang selalu cari nya selama ini.
Xiao Zhou menggelengkan kepalanya, melihat cara makan Ratu Xhin Ye
"Tidak... tidak seperti itu," ucap Xiao Zhou membuat Ratu Xhin Ye menjadi sedikit bingung, alis nya terangkat meminta penjelasan dari pria di hadapannya.
"buka bibir mu Ye'er.... aaaaa" ucap Xiao Zhou, mengajari wanita itu, sambil membuka bibirnya lebar, dan Ratu Xhin Ye pun mengikuti ucapan Xiao Zhou.
"lebih lebar," ucap Xiao Zhou, Ratu Xhin Ye membuka lebih lebar bibir nya, perasaan nya begitu malu, karena tidak pernah melakukan hal semacam itu, dan juga di tempat keramaian.
"istriku buka sedikit lagi!" bisik Xiao Zhou pelan dengan nada tegas, yang kesal karena Ratu Xhin Ye terlihat masih begitu malu.
Xiao Zhou mengambil daging dan mencelupkan nya ke saus yang ada di meja itu, dan menyuapkan potongan daging itu dan memenuhi bibir wanita cantik itu, membuat wajah Ratu Xhin Ye membeku dengan bibir menggelembung.
"sekarang kunyah," ucap Xiao Zhou, dan juga melakukan hal yang sama, kedua nya terlihat saling menatap dengan bibir penuh makanan.
Ratu Xhin Ye melakukan ucapan Xiao Zhou lagi, terlihat bibirnya penuh mengunyah makanan dengan pelan, terlihat senyum menghiasi wajah nya, karena merasakan rasa yang berbeda dari makanan itu, dan kunyahan bibir nya semakin cepat.
"emmm... iii eaak," ucap Ratu Xhin Ye masih dengan bibir penuh, dan sedikit senyum nya, suara nya tidak terdengar jelas.
dan Ratu Xhin Ye membuka bibirnya selebar yang dirinya bisa, dan memberi isyarat agar Xiao Zhou melakukan nya lagi, Xiao Zhou pun kembali menyuapi berbagai hidangan di meja mereka, hati Ratu Xhin Ye begitu senang di suapi oleh Xiao Zhou.
pria berkerudung itu sedikit membuka bibirnya, tidak menyangka wanita itu melakukan hal seperti itu, bahkan kali ini melakukan nya di keramaian.
Xiao Zhou memberi isyarat ada saus yang tersisa di sudut bibir Ratu Xhin Ye, namun wanita itu terlalu menikmati cara makan baru nya, dan tidak mengerti hanya menaikkan alisnya seperti biasa, jika tidak mengerti.
tangan Xiao Zhou menyentuh wajah Ratu Xhin Ye, wajah Ratu Xhin Ye menjadi kaku, mata nya sedikit melebar dan berhenti mengunyah makanan nya.
"suami... di sini begitu ramai," ucap Ratu Xhin Ye dengan bibir penuh.
jempol Xiao Zhou mengusap sisa saus di sudut bibir nya, dan melepaskan tangannya dari wajah wanita itu.
Ratu Xhin Ye tersadar, dan mulai mengerjap-ngejapkan matanya, wajah nya sedikit tertunduk, air matanya mulai membasahi pipi nya, sesekali terdengar Isak tangisan sambil mengunyah sisa makanan nya dengan pelan dan tidak pernah bisa iya telan karena menangis, Ratu Xhin Ye meletakkan sumpit nya dan mengusap air matanya.
"hik... hik.... tidak ada yang pernah melakukan ini padaku, aku seperti terlahir lagi," guman Ratu Xhin Ye, Isak tangisan nya terdengar lagi.
"terimakasih suami, aku begitu bahagia hari ini, terimakasih...." ucap Ratu Xhin Ye berpindah duduk mendekati Xiao Zhou, dan memeluk pemuda dengan wajah hitam berkerak.
dan mereka makan dengan saling menyuapi, Ratu Xhin Ye terlihat begitu bahagia, sesekali bibirnya mencium ringan, bibir Xiao Zhou yang penuh makanan, membuat mata Xiao Zhou melebar.
"istri apa kau tahu kita sekarang ada dimana?," ucap Xiao Zhou menatap sekeliling.
"tentu suami..... aku istri yang sah, dan aku sama sekali tidak peduli, apa yang orang pikirkan apa kau mengerti? tidak peduli." bisik Ratu Xhin Ye pelan, dan nada nya mempertegas pada kata peduli.
"baiklah nyonya," ucap Xiao Zhou yang lupa lagi dan memanggil Ratu Xhin Ye dengan sebutan nyonya, membuat wanita itu begitu kesal.
Ratu Xhin menarik leher baju Xiao Zhou dan wajah mereka begitu dekat.
"dengar bocah bodoh, panggil aku Ye'er, aku sudah menjadi istrimu sepenuhnya saat kau memasukkan benda besar mu itu kedalam tubuh ku, apa kau mengerti," ucap Ratu Xhin Ye sedikit berteriak.
__ADS_1
Xiao Zhou menutup bibir Ratu Xhin Ye, agar tidak ada orang yang mendengar ucapan nya, tapi untungnya semua orang sedang berbicara tentang gempa besar di pulau mereka dengan begitu tegang, dan antusias, terkecuali seorang pemuda berkerudung itu, yang mengepal kan tangan nya kencang hingga bergetar.
Ratu Xhin Ye seperti sudah melupakan jika mereka sedang berada di tempat umum, dan pemuda yang berkerudung itu seluruh tubuh nya seperti terbakar melihat adegan mesra itu, tangan meremas sumpit di tempat nya hingga menjadi debu.