Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Waktu nya minum


__ADS_3

Zhang Rui menatap mata pria itu sambil menggigit bibir bawahnya, jari-jari panjang dan lentik itu di bagi dua sehingga membentuk celah seperti segitiga, dan mengusap permukaan milik nya sesuai bentuk nya, yang sedang berusaha keras menelan milik pemuda itu


"yaahhhh.... ini benar-benar membuat ku gila, ouuuhhhh......," lenguhan panjang nya kembali terdengar.


pria itu melakukan dengan pelan, benda itu seperti terjepit oleh milik Zhang Rui, dan seperti kesulitan masuk lebih dalam, karena ukuran nya dan urat yang menggerijal di beberapa bagian bahkan terlihat berbogol-bogol, dan wajah wanita itu terlihat begitu serius menikmati sensasi benda besar itu. dan setiap gerakan sekecil apapun membuat tubuh wanita itu bergetar hebat.


"ehhh... aku sudah tidak ta-han, aku benar-benar gatal, emmmsss, lakukan lebih kencang lagi," tangan Zhang Rui menarik bokong pemuda itu, dan tangan yang satu meremas rambut pemuda itu, dengan sedikit kasar.


"sebentar lagi aku akan keluar," ucap Zhang Rui yang sudah mengimbangi gerakan pemuda itu dengan sedikit kasar dan tidak beraturan.


Zhang Rui sudah di ujung kenikmatan nya karena benda besar itu begitu memanjakan setiap rongga nya, membuat nya begitu sensitif, dan mengeluarkan cairan seperti buih membaluri benda berurat itu, tubuh nya bergetar sebentar, dengan bibir terbuka, tubuh besarnya berkedut-kedut.


untuk beberapa saat mereka berhenti, dan pria itu mulai mengayunkan lagi milik nya,


keduanya kakinya panjang nya kini sudah di tekuk, tubuh nya menyender kebelakang bertumpu pada kedua tangan nya, tapi wanita itu dapat melihat milik nya yang begitu cembung, di penuhi oleh benda besar berurat yang bergerak pelan, dan penuh dengan lapisan licin putih semakin banyak, dan tidak berselang lama,


Zhang Rui semakin bergairah melihat pemandangan itu, tubuh nya mulai ikut bergerak, begitu seirama sehingga dirinya bisa mengatur seberapa dalam kenikmatan yang diinginkan nya.


"aaahhss... aku keluar lagi," ucap Zhang Rui dan tangan nya mendorong pria di depannya dan cairan menyiram keluar dari milik nya, nafas nya masih tersengal, dan mencoba mengatur nafasnya lagi, tubuh nya masih berkedut-kedut di bagian perut nya.


"aahhh... kau benar-benar luar biasa," Zhang Rui memeluk pemuda itu dan mereka berciuman dengan lembut dan semakin lama liur keduanya sudah saling bertukar, dan kembali melanjutkan permainan liar mereka.


***


pagi itu matahari tidak menampakkan dirinya, kabut tebal menyelimuti pulau keseimbangan, Ratu Xhin Ye terbangun dan mendapati putera nya masih terlelap di samping nya.


Ratu Xhin Ye mengusap wajahnya dengan kedua tangan nya,


"terimakasih suami, aku sudah membuat ku tidur begitu nyenyak, meski kau datang lewat mimpi," guman Ratu Xhin Ye, yang berpikir jika kejadian itu hanya mimpi, dan merasakan nyeri di gunung nya.


"putera ku sudah waktunya minum susu, makanan mu sudah menunggu," ucap Ratu Xhin Ye mulai menggendong bayi nya, dan mengeluarkan gunung putih yang begitu halus dan lembut.


Seorang remaja dengan mata acuh masuk ke ruangan Ratu Xhin Ye dan melihat pemandangan itu.

__ADS_1


"kenapa kalian masuk tanpa mengetuk..." teriak Ratu Xhin Ye, namun kata-kata nya tidak selesai saat melihat Xiao Zhou sudah berdiri mendekati nya.


bibir Xiao Zhou sedikit terbuka,


"aku tidak tahu kau sedang mengeluarkan it-u mu," ucap Xiao Zhou menatap gunung indah milik istri nya.


"suami???... tidak.... jadi yang semalam?" suara Ratu Xhin Ye terputus dan menatap Cincin di telunjuk nya


"aku... aku akan membunuhmu jika ini mimpi lagi," guman Ratu Xhin Ye dengan suara bergetar dan meletakkan bayi nya dengan lembut, dan berhamburan ke arah Xiao Zhou sambil memeluk erat pemuda itu.


"suami.... apa ini benar-benar kau? suami.... jawab aku..." ucap Ratu Xhin Ye dengan nafas berat, di barengi Isakan wanita itu, dan tidak mempedulikan kedua gunung nya yang keluar menempel di dada Xiao Zhou.


"sebaiknya kita makan, mereka sudah menunggu mu," ucap Xiao Zhou.


"tidak... aku tidak akan melepaskan mu... jangan pernah berani meninggalkan ku lagi, suami aku benar-benar merindukan mu hu...hu...hu...., berjanjilah tidak pernah melakukan itu lagi padaku, aku begitu sakit saat kau pergi," ratu Xhin Ye menangis seperti anak kecil.


"kakak Xhin sebaiknya kita makan, kami juga merindukan nya," ucap Xia Xhialun.


Mata Ratu Xhin Ye terbuka dan melepaskan pelukannya dengan sedikit kasar karena kaget, matanya menatap sekeliling, dan melihat jika Xia Xhialun sudah berada di sana.


"adik Xia sejak kapan kau di sini? aah... baiklah... maafkan aku, sebaiknya kita makan ," ucap Ratu Xhin Ye sedikit malu, dan ingin melangkah keluar,


"kakak Xhin, sebaiknya kau itu terlebih dahulu," ucap Xia Xhialun menunjukkan gunung Ratu Xhin Ye yang masih di luar pakaian nya.


"aaahh...," terdengar pekikan Ratu Xhin Ye, mata nya mendelik ke arah Xiao Zhou dengan wajah memerah, karena lupa jika tadi ingin memberikan susu ke buah hatinya.


"Adik Xia.... ini tidak seperti yang kau pikirkan, tadi aku ingin..." suara Ratu Xhin Ye terputus, oleh tawa Xia Xhialun.


"hihihi sudahlah kakak Xhin... tidak apa-apa, aku paham jika kalian begitu ingin melakukan nya pagi ini," ucap Xia Xhialun.


Wajah Ratu Xhin Ye menggeleng, dan tampak panik,


"bukan... bukan itu, adik.. kau salah paham, tadi itu," lagi-lagi Ratu Xhin Ye tidak dapat menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


"Sudah kakak Xhin cukup, kau tidak perlu menjelaskan nya, lagipula aku sudah melakukan 3 kali dari semalam, hihihi.... benarkan suami?" ucap Xia Xhialun tertawa menggoda ke arah Xiao Zhou, dan memberi isyarat ingin melakukan nya lagi.


"apa semalam? tiga kali?" ucap Ratu Xhin Ye, menatap penuh kemarahan ke arah Xiao Zhou.


"suami... kenapa kau tidak membangunkan aku tadi malam?" tanya Ratu Xhin Ye dengan hawa pembunuh.


Xiao Zhou hanya tersenyum hambar, menatap ke arah Xia Xhialun.


"adik Xia.... katakan pagi ini kami tidak lapar, kami akan makan malam bersama kalian," ucap Ratu Xhin Ye dengan tatapan mematikan ke arah Xia Xhialun.


Xia Xhialun meninggalkan ruangan mewah itu dan terdengar samar-samar, seperti orang berciuman.


"lakukan empat kali!!!" terdengar teriakan Ratu Xhin Ye dari kamar itu.


****


di aula keluarga terlihat seorang gadis kecil berambut cokelat panjang, bermata kehijauan memeluk tubuh Xiao Zhou, gadis itu terlihat begitu manja di memeluk ayahnya, di ruang makan yang di terangi ratusan batu kristal kuning.


dia adalah Puteri satu-satunya dari Xiao Zhou dengan Puteri Shin, telinga nya yang runcing membuat gadis itu terlihat begitu manis, dan bermain dengan saudara nya yang lain.


Malam itu mereka semua berkumpul, Xiao Zhou menggendong putera Jung Min Ha, tampak Ratu Xhin Ye juga ikut dengan wajah sedikit tertunduk, karena beberapa pasang mata menatap nya yang melangkah dengan sedikit kesulitan.


"kakak Xhin... kau seperti nya sedikit lelah," ucap Yun Li Wei yang malam itu menggunakan gaun sedikit ketat memperlihatkan gunung nya yang begitu bulat dan menonjol, dengan potongan lebar memperlihatkan sedikit belahan nya.


"aku baik-baik saja adik Yun, sebaiknya kau mengganti tirai ranjang mu adik Yun, leher dan dada mu penuh bekas gigitan nyamuk," ucap Ratu Xhin Ye, yang begitu yakin jika kulit leher nya bersih karena selalu memukuli Xiao Zhou saat ingin menandai leher nya.


"hihihi.... kalian berdua apa tidak ada obrolan lain," ucap Li Mei Yin dan memberikan seperti bedak untuk menghilangkan bekas kenakalan suami mereka kepada Yun Li Wei.


Terlihat Zhang Rui sedikit menutupi bekas-bekas merah di lehernya dengan pakaian sedikit tertutup, dan juga menengadahkan tangan nya ke arah Li Mei yin, mereka semua tampak begitu bahagia, dan beberapa anak kecil berlari-larian di sekitar meja panjang yang di penuhi hidangan.


Yu Jin tua, Lou Fang, dan Zhang Gong, juga hadir dalam perjamuan itu, dan para ayah mertua Xiao Zhou ini akhirnya tertidur dengan memeluk guci mereka masing-masing.


***

__ADS_1


di rumah tamu pangeran ke empat sedang menikmati tubuh seorang wanita dengan perawakan tinggi dengan begitu kasar,


"nyonya Zhang, kau benar-benar wanita murahan," ucap pangeran ke empat dan terus bergerak di atas wanita itu.


__ADS_2