
dan di sebuah Lembah di alam Langit, dua orang pria sedang mendekati beberapa prajurit yang sedang menjaga di lembah itu.
seorang prajurit itu menghentikan kedua orang itu.
"siapapun kalian tanpa izin Kaisar Langit, tidak akan bisa masuk ke dalam lembah terlarang ini," ucap penjaga itu.
salah satu dari kedua orang itu, sesekali mendesis, terlihat lidah bercabang menjulur di sela-sela bibirnya.
"lancang," ucap pria berlidah ular itu.
"ka-kalian siluman," ucap penjaga itu dan mengeluarkan senjata nya, dan di ikuti oleh beberapa rekannya yang ada di belakang nya.
kedua telapak tangan orang yang berlidah ular itu terbuka, dan kepala para penjaga itu seperti terhisap ke telapak tangan orang itu.
"aaahhhkkkkk....."
Terdengar teriakan para penjaga itu saat kepala mereka mulai menciut dan terus terhisap,
"blaaarrrrr.... "
Tubuh mereka hancur, dan hanya menyisakan pakaian dan senjata yang sudah menjadi serpihan kain dan logam.
Tempat ini menjadi hening, kedua orang itu masuk ke lembah terlarang, yang lebih dikenal dengan sebutan Lembah Kuno.
Lembah kuno, sebuah lembah yang kini hanya di tumbuhi oleh jutaan pohon Pinus baja, pohon-pohon ini begitu besar dan tinggi, tidak ada yang bisa menebang pohon ini karena begitu keras, bahkan pusaka-pusaka Langit akan hancur jika di paksakan memotong pohon yang sudah tua, pohon Pinus baja biasa tidak sekeras itu, seperti nya kekerasan dari pohon-pohon itu di sebabkan karena menyerap hawa yang misterius dari bawah Lembah Kuno, yang memiliki sifat begitu keras.
di bawah hutan ini begitu remang, hanya makhluk-makhluk rendah yang menempati tempat remang ini, bau tanah basah begitu menyengat hidung. Sang Pembunuh Dewa yang di temani oleh Yun Fengyin dengan begitu tenang melangkah dan melompat-lompat di bawah hutan itu menghindari akar-akar tua yang bermunculan dan bergerak di sekitar nya.
__ADS_1
"jangan memotong satu akar pun, atau kau akan terikat di tempat ini selama nya," ucap Sang Pembunuh Dewa membuat wajah Yun Fengyin memucat membayangkan dirinya yang setengah abadi terikat di bawah tanah basah itu.
keduanya masuk semakin kedalam hutan, kini mereka berada di celah-celah jurang yang terjal,
"hemm.... hanya ayahku yang berani memasuki hutan ini, dan tempat yang sering di datangi nya ada di sana," guman Sang Pembunuh Dewa menatap sebuah dinding batu di sebuah bukit terjal.
dan mereka sampai di sebuah tempat yang terasa begitu dingin dan lembab.
Sang Pembunuh Dewa mendekati dinding batu itu. dan melihat segel itu.
Sang Pembunuh Dewa mengeluarkan kitab milik mendiang ayahnya.
"ayah aku akan membuka segel yang selama ini kau jaga, setiap yang kau jaga aku akan merusak nya, jika kau tidak ingin mahluk yang ada di dalam tempat ini, aku akan menginginkan nya" ucap Sang Pembunuh Dewa, yang terdengar begitu membenci ayahnya.
Sang Pembunuh Dewa melihat kitab itu lagi, dan dalam beberapa jam segel di dinding batu itupun terbuka.
"kenapa kau membangun kami?" ucap suara yang keluar dari celah batu itu, suara nya terdengar sedikit serak, tapi dapat di pastikan itu adalah suara seorang wanita.
"hahaha.... aku ingin kau menjadi pelayan ku," ucap Sang Pembunuh Dewa dengan wajah yang begitu tenang, tanpa ketakutan sama sekali.
"benarkah? kami tidak bisa di kuasai begitu saja, melihat kemampuan mu, sampai kapanpun kau tidak akan mampu mengendalikan ku. Tapi baiklah aku akan aku akan membantu mu, meski kau sama sekali tidak layak menjadi majikan kami, keabadian mu itu bukan hal istimewa untuk kami," ucap suara serak itu.
Wajah Sang Pembunuh Dewa sedikit memucat, tidak menyangka akan ada mahluk begitu berani saat berhadapan dengan nya.
"kau terlalu sombong dengan kemampuan mu, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa hah?" ucap Sang Pembunuh Dewa.
"hahaha.... tentu saja kami tahu, kau orang bodoh yang mengemis kekuatan kami," ucap suara itu.
__ADS_1
"kalian berani menghina ku, kalian semua akan aku bunuh hari ini," ucap Sang Pembunuh Dewa, matanya berubah menjadi putih pakaian nya berkibar karena energi yang keluar dari tubuh nya.
dan sesuatu bergerak di dalam tebing batu itu dan melesat keluar ke arah dada Sang Pembunuh Dewa, pria yang sudah terlihat seperti setelah baya itu, bersiap dengan pedang tebal nya, dan sebuah senjata sebesar cincin dan berbentuk separuh cincin, berputar menembus pedang tebal itu, dan sekaligus menembus tubuh Sang Pembunuh Dewa, meski tubuh nya sudah terlindungi pagoda emas.
tubuh nya terlempar dan menghantam dinding batu karang yang membuat bukit karang itu hancur dengan ledakan yang begitu dahsyat.
Darah segar menyembur dari bibir Sang Pembunuh Dewa. senjata itu berputar menghancurkan pohon-pohon Pinus baja yang tumbuh di sekitar nya, dan cincin itu berputar kembali dan masuk ke dalam tebing batu itu.
"Siapa kalian sebenarnya," ucap Sang Pembunuh Dewa, tubuh nya terlihat kembali segar, dan mendekati dinding karang itu.
"baiklah... aku akan menceritakan sedikit tentang kami, aku adalah cincin langit, aku adalah pusaka terkuat di jaman ku, awal nya alam tengah memiliki cincin pelindung, seperti hal nya bintang Miong Ju (Saturnus), cincin itu melindungi alam tengah dari kehancuran, dan majikan ku yang seorang Dewi menginginkan cincin itu, dan Dewi itu mengumpulkan 700 juta kepingan batu yang mengelilingi alam tengah itu, dan memadatkan nya, dan menjadi kan nya sebuah senjata, namun Dewi itu tidak begitu mampu mengendalikan nya, karena Dewi itu hanya dari klan penyihir.
dan jadilah senjata itu tidak berguna dengan baik, dan saat perang besar terjadi, dua belas Dewa melebur dua belas senjata terkuat, dan mencampurinya dengan jantung dari Zhangji, dan terbentuk lah pusaka ini, karena menggunakan jantung maka pusaka ini membutuhkan jiwa, dan pusaka ini menginginkan jiwa kedua belas Dewa terkuat itu, hanya jiwa Dewi itu yang terserap ke cincin ini, sedang kan sebelas jiwa lain nya bersatu dan menjadi seorang pemuda, dia adalah adikku ini." ucap cincin langit.
Sang Pembunuh Dewa menarik nafas nya,
"jadi kau adalah Dewi itu?" tanya Sang Pembunuh Dewa.
Dan tiba-tiba benda tadi sudah melayang berputar-putar di hadapan kedua pria itu.
"kau cukup pintar, benar aku adalah Dewi yang mengumpulkan 700 juta serpihan cincin alam tengah itu, jiwaku terhisap oleh pusaka ini," ucap cincin langit, dan terlihat bayangan seorang wanita dengan wajah dingin, tetapi begitu mempesona, keluar dari cincin langit dan melayang.

ilustrasi Dewi cincin langit.
yang menyerang mu tadi adalah kekuatan dari senjata ini, bukan kekuatan ku, aku hanya jiwa yang terjebak di tempat ini, kekuatan senjata ini sesuai dengan kemampuan dari penggunaan nya, meski aku yang menciptakan nya dahulu, tapi senjata ini tidak menganggap ku tuan nya karena kemampuan ku tidak bisa melampaui nya, sekarang kau kuberikan kesempatan mengendalikan nya, semoga kau bisa mengeluarkan kemampuan terkuat dari cincin langit," ucap bayangan jiwa dari Dewi itu, dan kembali masuk ke dalam cincin Langit.
__ADS_1
kedua pria itu terdiam sesaat, dan terpesona menatap kecantikan dari jiwa cincin langit itu.