
di kekaisaran Ming, di istana kediaman Ratu,
dua orang berlainan jenis sedang melakukan kegiatan nikmat di atas ranjang mewah, si wanita terlihat begitu menikmati perlakuan kasar dari pasangan nya, dan beberapa saat mereka sudah selesai.
"bagaimana dengan suamimu yang bodoh itu, apa seperti yang aku rencana kan?" tanya Jing Hao.
"iya kakak Jing, suami ku sudah terlihat sangat putus asa" ucap Wei Huaran.
"itu bagus, tetap jalan kan rencana ku, kau harus terus meminum obat itu agar tidak hamil" ucap Jing Hao
"baik kakak Jing, apa rencana mu sekarang?" tanya Wei Huaran.
tatapan mata Jing Hao menjadi dingin dan mencekik leher dari Wei Huaran.
"sebaiknya kau tidak banyak tahu, kau hanya perlu melakukan yang aku perintahkan" ucap Jing Hao dan melempar tubuh Wei Huaran ke atas ranjang.
"aku menginginkan singasana Kaisar," ucap Jing Hao.
"itu akan sulit, meskipun Kaisar meninggal kau hanya bangsawan kelas menengah di kekaisaran Ming, walaupun kau putera seorang raja, para menteri senior pasti akan melempar mu keluar dari istana ini" ucap Wei Huaran.
"hemmm.... aku tahu para menteri kotor itu begitu berkuasa, mereka hanya takut pada keluarga Kaisar, dan jalan yang paling mudah adalah menjadi kerabat Kaisar terlebih dahulu, dan itu adalah menjadi suami dari Puteri Ming Mei" ucap Jing Hao.
"apa kau sudah gila, Puteri Ming Mei sudah menikah dan memiliki putera" ucap Wei Huaran.
"hemm, mendiang Kaisar hanya memiliki satu Puteri saja, jadi jika aku ingin menjadi kerabat Kaisar, aku harus menikahi nya, tapi aku begitu kesulitan mencari informasi tentang suami dari Puteri Ming Mei yaitu Penguasa ke 15" ucap pangeran Jing Hao kening nya sedikit berkerut.
"aku pernah mengunjungi pulau keseimbangan, dan melihat Penguasa ke 15, tapi aku tidak pernah melihat wajah karena selalu menggunakan topeng, tapi yang aku dengar penguasa ke 15 tidak pernah mencampuri urusan politik kekaisaran" ucap pangeran Jing Hao lagi.
__ADS_1
"berhati-hati kakak Jing, penguasa ke 15 begitu terkenal di dataran utama, setelah berhasil menghentikan pasukan iblis, penguasa ke 15 begitu di cintai rakyat hingga ke kekaisaran zarzantium." ucap Wei Huaran.
"hemm... aku tahu kemampuan kultivasi ku tidak akan bisa menghadapi nya, tapi tidak semua di dunia ini bisa di menangkan dengan otot, hehe.... Puteri Ming Mei sayang sekali giliran mu terakhir, aku sudah tidak sabar menjadi suami mu" ucap pangeran Jing Hao.
"cih" ucap Wei Huaran membuang wajah nya, terlihat kecemburuan di wajahnya.
"pemuda itu bukan halangan bagi ku saat ini, halangan terbesar ku adalah ibu dari Kaisar, dia masih begitu berkuasa atas semua keputusan yang di ambil suami mu itu, dan juga hampir semua menteri senior ada di pihak nya" ucap Jing Hao.
*****
beberapa malam Lun Zhing Yue mengajari Xiao Zhou, bermain kecapi kadang salah satu istri Xiao Zhou juga ikut belajar bermain kecapi,
Lun Zhing Yue menatap dua buah pil di tangan nya.
"sudah dua bulan ini aku tidak meminum pil penyubur rahim pemberian kakak Huang ini, pemuda itu sering masuk di kamar ku, dan tidur bersama ku, aku tidak ingin hamil anak nya" batin Lun Zhing Yue.
dan malam itu mereka hanya berlatih berdua saja, kedua nya duduk berdampingan di sebuah bangku panjang, dengan meja besar di depan nya. Lun Zhing Yue terlihat begitu bersemangat, dan senyum nya seperti tidak pernah pergi dari bibir nya yang indah.
malam itu Lun Zhing Yue menggunakan pakaian yang memperlihatkan bahu dan punggung kurus nya, pakaian itu hanya tergantung di leher nya, di balik jubah nya yang transparan. Xiao Zhou sesekali menatap nakal ke tubuh Lun Zhing Yue di sela-sela latihan mereka.
"apa kau menikmati nya? tanya Lun Zhing Yue yang mengetahui jika tubuh nya selalu di perhatikan oleh pemuda itu.
"ehemmm..." Xiao Zhou mendeham dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Lun Zhing Yue hanya tersenyum,
"katakan kenapa kau tidak pernah mengunjungi ku lagi?" tanya Lun Zhing Yue.
__ADS_1
"aku tidak mengerti maksud mu guru" ucap Xiao Zhou.
"sudahlah hentikan kepura-puraan mu itu, aku tahu kau yang menaruh bunga ilalang di ranjang ku" ucap Lun Zhing Yue yang masih malu mengakui jika dirinya tidak tidur saat Xiao Zhou datang di kamar nya.
Xiao Zhou menghentikan permainan kecapi nya dan mengeluarkan guci nya dan menuangkan ke cawan yang ada di hadapannya nya.
"sebaiknya kita lupakan saja, aku sudah menyerah dan menerima takdir ku untuk memikul janji yang tidak bisa ku tepati," ucap Xiao Zhou, dan meneguk isi cawan nya.
"latihan kali ini sudah cukup, dan berikan padaku juga" ucap Lun Zhing Yue dan menyodorkan cawan nya,
Xiao Zhou menuangkan guci nya ke cawan yang di pegang Lun Zhing Yue.
"besok pagi aku akan kembali ke rumahku, dan kembali menjadi istri untuk suami ku" ucap Lun Zhing Yue terdengar ucapan nya begitu getir dan tatapan nya terlihat kosong.
"aku tidak mengerti, saat aku ada di tempat ini aku begitu merasa bahagia, kalian semua seperti keluarga ku, bahkan aku bisa mengatakan apapun yang ku ingin kan, aku merasa begitu bebas" ucap Lun Zhing Yue lagi,
"aku juga senang jika kau bisa bahagia" ucap Xiao Zhou dan menatap danau biru yang mulai berselimut kabut malam itu.
"iya aku bahagia, aku adalah pengendali air aku mengadaptasi sifat air, di permukaan aku terlihat begitu tenang, tapi aku memiliki sifat liar yang tersembunyi di bawah, aku begitu penurut tapi juga terkadang seperti badai yang tidak bisa di kekang apapun" ucap Lun Zhing Yue.
Xiao Zhou hanya mengangguk, dan menatap wajah Lun Zhing Yue.
"di hadapan suami ku aku begitu penurut, tapi di hadapan mu badai dalam diri ku bisa keluar dengan sesuka hati ku, dan itu sangat melegakan" ucap Lun Zhing Yue.
"baiklah aku akan ajarkan satu lagu terakhir, aku tidak akan mengajarimu lagu ini lagi" ucap Lun Zhing Yue.
Lun Zhing Yue berdiri dan duduk di pangkuan Xiao Zhou dan membelakangi nya, jari-jari nya mulai memainkan kecapi di atas meja besar di hadapan nya.
__ADS_1