
di pesisir barat kekaisaran Ming, di bekas reruntuhan perpustakaan tua milik Dewa suci Qing Tao.
seseorang pemuda tanpa bayangan melangkah, jenggot yang tidak terlalu panjang dan sudah memutih di di bagian tengah nya, membuat nya tampak sangat berkharisma, bola mata berwarna keabu-abuan, dengan rahang tegas dan rambut panjang yang di ikat rapi bagian depan nya saja, menampakkan wajah gagah dari pemuda itu.
"uhukkkkk...." darah hitam keluar di sudut bibir pemuda itu.
"penjaga pulau... tunggu pembalasan ku," guman pemuda tanpa bayangan itu.
dengan sekali lambaian tangan reruntuhan itu tersingkir, dan menyisakan lantai yang terbuat dari bata merah.
pemuda tanpa bayangan itu mengeluarkan sebuah kitab, dan membuka nya.
mata nya menerawang, dan mengingat saat dirinya mendapatkan kitab itu dari cincin pilar Langit Ling Zhai Yuk.
"Ayah.... apa kau sudah puas memenjarakan anak mu di alam itu selama lebih dari lima ratus ribu tahun? kau memang ayah yang baik," ucap sang pembunuh dewa menatap pilar langit Ling Zhai Yuk.
wajah tua Ling Zhai Yuk menatap anak nya dengan tenang,
"zhein'en... kau sudah begitu banyak melakukan kejahatan, demi ambisi mu itu ayah harap kau bisa merenungkan kesalahan mu di alam itu," ucap pilar langit Ling Zhai Yuk.
"tapi sangat di sayangkan semakin hari kau semakin memburuk, aahhh ini adalah kegagalan ku sebagai seorang ayah," wajah keriput Ling Zhai Yuk tampak terlihat begitu sedih.
sreebbbb....
sebuah pedang tebal menembus dada Ling Zhai Yuk.
darah segar mengucur dari bibir Ling Zhai Yuk,
"seharusnya kau sadar zhein'er, masa kejayaan mu sudah habis, dia sudah terlahir saat ini, cepat lah sadar," ucap pilar langit Ling Zhai Yuk.
Ling Zhai Yuk merapal sebuah mantra, huruf-huruf suci keluar dari bibirnya, dan beberapa saat menghilang, bersamaan dengan nyawa nya.
sang pembunuh Dewa mengambil cincin di jari pilar langit Ling Zhai Yuk, dan menatap nya.
suara burung membuyarkan lamunan sang pembunuh dewa, tentang kejadian saat dirinya membunuh pilar Langit Ling Zhai Yuk, dan kembali menatap kitab yang di dapat dari cincin ayah nya itu, senyum tipis terlihat di wajah, seperti tidak ada penyesalan apa yang telah di lakukan nya beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"terimakasih ayah, kau sudah memberikan apa yang selama ini aku cari, aku harap kau tidak dendam padaku di alam sana,"
tangan nya mengusap kitab itu dan tujuh simbol Dewa muncul dari kitab itu, dan ketujuh simbol itu melayang dan masuk ke dalam lantai batu bata merah itu.
prakkkkk.....
prakkkk.......
batu-batu bata itu bergetar, dan saling saling bertukar tempat dan terus bergerak sedemikian rupa, dan membentuk anak tangga kebawah bekas bangunan itu, dan api menyala di obor yang menempel di dinding di sepanjang anak tangga itu sebagai penerangan nya.
"hemmm.... ternyata ayah ku dan Dewa suci itu menyembunyikan nya di tempat ini," ucap pemuda itu dan melangkah menuruni anak tangga itu.
dengan langkah tenang pemuda itu mengikuti anak tangga itu dan sampai pada sebuah ruangan yang cukup luas, dan di tengah ruangan itu terdapat sebuah kolam yang di dalamnya terlihat dua ikan sedang berenang dengan warna yang hitam dan putih.
"ikan ini sudah menghisap hawa semesta, namun belum berubah bentuk menjadi manusia, jadi ini akan sedikit sulit, karena hawa nya masih begitu murni," guman pemuda itu.
pemuda itu mulai menutup gerbang itu dan perlahan ruangan itu menjadi gelap, dan pemuda itu mengeluarkan energi qi yang di miliki nya.
matanya bersinar kemerahan, seluruh tubuh mengeluarkan cahaya ke emasan, terlihat sisik emas menyelimuti tubuh pemuda itu.
"kulit naga emas ku akan mampu menahan energi semesta ini, tapi aku harus sangat berhati-hati," guman pemuda itu.
tidak beberapa lama kedua ikan itu berenang keluar dari kolam itu dan berputar di udara dan mengelilingi tubuh pemuda itu.
"aahhhhkkkkkk..... setidaknya butuh setahun bagiku untuk menyerap kekuatan sebesar ini," batin pemuda itu, dan mulai berkonsentrasi.
*****
di rumah hiburan di kota huangdong.
pelayan wanita itu bergetar,
"namanya pelayan kecilmu," ucap pelayan itu dengan suara yang juga gemetar.
"cepat kejar pemuda itu, dan jangan kembali jika kau tidak membawa nya ke tempat ini, cepat!!!!!" teriak Han Yui, matanya terpejam dan terlihat derai air mata menelusuri pipi nya.
__ADS_1
pelayan itu pun berlari keluar ruangan itu dan dalam beberapa menit sudah kembali, tampak beberapa orang sedang menemani nya, dan mencoba menenangkan Han Yui.
"nyonya pemuda itu sudah ada di bawah menunggu," ucap pelayan itu, masih gugup, dan tangan bergetar.
Han Yui mengelus dadanya, dan menghela nafas panjang, tampak wajahnya begitu lega.
dan beberapa saat terlihat kekhawatiran di wajahnya dengan senyum terlihat di paksakan, begitu banyak pikirannya yang bergejolak di kepalanya.
"katakan seperti apa pemuda itu?" tanya Han Yui seperti tidak sabaran.
"pemuda itu memiliki kristal biru di kening nya nyonya, dan...."
"cukup.... sekarang kau layani pemuda itu dengan minuman terbaik, dan kau pengelola siapkan ruangan pelayanan terbaik di lantai teratas, tidak ada tamu hari ini di lantai teratas, dan.." ucapan Han Yui terputus, menatap para pelayan yang masih mematung.
para pelayan mengerti dan buru-buru pergi, meninggalkan pengelola dan Han Yui berdua saja.
"pengelola, siapkan kamar khusus untuk ku, kau mengerti bukan?" tanya Han Yui.
"aku mengerti nyonya, maksud anda kamar yang biasa untuk tamu istimewa yang melewatkan malam pengantin mereka di tempat ini bukan?" ucap pengelola itu.
wajah Han Yui memerah, dan mengangguk.
dan dengan cepat memasuki ruangan pribadi nya, dan memilih pakaian serta pakaian dalam terbaik milik nya.
Xiao Zhou memasuki ruangan di lantai teratas, seperti ruangan kelas atas pada umumnya, ruangan luas itu di lengkapi dengan tempat duduk utama, panggung khusus pertunjukan, balkon, dan kamar untuk membersihkan diri, juga ruang tidur yang begitu mewah.
Xiao Zhou di persilahkan dan duduk di bangku panjang dengan sandaran yang sangat empuk, dari tempat nya duduk Xiao Zhou langsung bisa menonton penari yang sudah mulai melakukan tarian nya di iringi musik dari beberapa pemusik.
cahaya lentera yang redup kemerahan memberi nuansa yang menggairahkan di ruangan yang di tutupi oleh tirai transparan, dengan warna sedikit gelap, berbanding terbalik dengan suasana di panggung penari itu yang lebih terang.
seorang wanita cantik memasuki ruangan yang di tempati Xiao Zhou, dan keduanya saling menatap untuk sesaat.
para pelayan yang awalnya menemani Xiao Zhou membungkuk dan meninggalkan tempat itu saat wanita cantik yang baru datang itu memberi isyarat pada mereka.
Han Yui, mengenakan pakaian berbentuk terusan, berwarna merah gelap kesukaannya, dan terdapat belahan di bagian depan yang hampir sampai ke paha atas nya.
__ADS_1
dandanan nya begitu sensual dengan bibir berwarna merah senada dengan pakaian ketat yang membungkus tubuh dewasa nya.
"nyonya... lama tidak berjumpa," ucap Xiao Zhou berdiri mendekati Han Yui yang sedari tadi hanya mematung menatap pujaan hatinya.