
Di alam Neraka.
Sang Pembunuh Dewa sudah membuat segel dikawasan Palung Neraka, tidak ada dengan yang mampu menembus segel buatan, pria yang kini terlihat seperti berusia 50 tahun itu.
pria itu menatap pemandangan di hadapan nya, kepala nya sedikit menggeleng seperti tidak yakin, dan menatap kembali kitab tebal yang baru di keluarkan nya, karena tidak sesuai dengan apa yang muncul di kepala nya saat mendengar nama tempat itu.
"Palung Neraka," guman nya.
Palung Neraka tidak seperti namanya, tidak terlihat lautan lava pijar di tempat itu, hanya terdapat sebuah bukit kecil yang di tutupi es, pemandangan sangat ganjil di alam neraka terdapat bukit es.
Sang pembunuh Dewa, mendekati pinggiran bukit es itu, dan membaca kitab milik mendiang ayahnya Pilar Langit Ling Zhai Yuk.
"aku Ling Zhein, membangunkan mu dari tidur panjang mu," ucap Sang Pembunuh Dewa,
kitab di tangan Sang Pembunuh Dewa melayang, dan pria itu mengerakkan tangan nya sedemikian rupa, seperti membuka sebuah segel.
dari kitab itu muncul beberapa simbol suci dan bergerak berputar dan menyebar ke lima penjuru di sekitar bukit es tersebut, dan simbol-simbol suci membesar, dan masuk kebawah menghancurkan batu karang di sekitar bukit es tersebut.
Tempat disekitar bukit es itu mulai bergetar, tempat Sang Pembunuh Dewa berdiri retak dan retakan itu menjalar ke segala penjuru, batu-batu karang besar di sekitar bukit es itu mulai pecah dan memperlihatkan cahaya merah dari bawah tempat itu, menunjukkan bahwa lava pijar ada di bawah pijakan Sang Pembunuh Dewa.
Sang Pembunuh Dewa melayang di udara, dan bukit es di hadapan nya mulai bergerak ke atas, dan terus bergerak keatas, di dorong oleh batu-batu besar di bawahnya yang juga mulai bergerak naik, seakan Neraka seperti runtuh.
Sang Pembunuh Dewa menjauhi tempat itu agar dapat melihat apa yang terjadi, dan matanya melebar setelah melihat apa yang baru saja di lakukan nya.
kepala nya menggeleng seperti tidak percaya,
tiga buah gunung besar kini keluar dari bawah batu karang itu, dan ketiga gunung itu berputar di udara dan melayang, sedangkan tempat Sang Pembunuh Dewa itu berpijak kini sudah menjadi lautan lava yang meletup-letup dan sesekali menyembur kan uap panas ke udara.
"ternyata tiga gunung ini yang memenuhi Palung Neraka itu," ucap Sang Pembunuh Dewa.
"kau telah membangun kami, sebutkan satu permintaan mu," ucap gunung yang mengeluarkan lava pada puncak nya.
"aku ingin kalian harus jadi pengikut ku," ucap Sang Pembunuh Dewa.
"apa? tidak, kami tidak bisa menjadi pengikut siapa pun, tapi selain itu kami bisa melakukan nya, tidak ada yang bisa mengatur kami, kami para Zhangji, akan melakukan apapun yang kamu inginkan, tidak kau atau siapapun, bahkan kami membantai para pencipta kami," ucap gunung yang terbuat dari batu karang keras itu.
__ADS_1
Sang Pembunuh Dewa mengangguk,
"jadi seperti itu rupanya, baiklah... aku ingin kalian membantu ku perang ku melawan kekaisaran langit di mulai," ucap Sang Pembunuh Dewa.
"kau bisa memanggil kami saat kau membutuhkan nya, dan sebelum itu kami bisa keluar dari alam ini," ucap gunung yang hampir seluruh nya tertutup es, ternyata bukit es tadi adalah puncak dari gunung es besar itu.
"seperti nya aku melakukan sedikit kesalahan, mahluk ini di luar kendali ku, aku harap tempat satu nya lagi yang akan aku datangi, lebih bisa aku kendalikan," batin Sang Pembunuh Dewa keluar dari alam Neraka, terlihat keningnya sedikit tertekuk.
"kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan, saat kami keluar dari alam ini, dan tidak ada tempat yang cukup untuk kami tempati, dan kau adalah orang yang pertama kami bunuh," ucap gunung api itu, sambil tertawa.
****
peristiwa itu mulai terdengar di alam langit, persiapan Perang pun sudah hampir selesai, benteng-benteng besar sudah selesai di bangun, prajurit perang pun sudah menempati semua posisi mereka.
tampak seorang Dewa sepuh sedang berdiri di belakang sebuah meja altar, di halaman istana langit, kedua tangan nya bergerak sedemikian rupa, dan sebuah sinar hijau melayang di atas meja itu, Dewa sepuh itu adalah Dewa ritual menghempaskan tangan nya, dan seketika sinar hijau itu terpecah menjadi dua belas bagian dan melesat ke arah yang berbeda.
masing-masing dari cahaya hijau itu masuk kedalam patung-patung raksasa di sekitar istana langit, membuat mata dari patung-patung itu menyala hijau,
prakkkkk.....
terdengar suara retakan dari patung-patung berbagai bentuk itu, debu mulai keluar dari retakan itu, dan ke dua belas binatang penjaga langit telah bersiap.
****
di kota huangdong.
Choe Eun Soo dan teman pria nya sedang keluar dari toko pakaian itu, dan seorang anak kecil berlari menuju ke arah mereka, dan tepat sebuah kereta kerajaan sedang melintas.
Choe Eun Soo dengan cepat menarik anak laki-laki itu dan memeluk nya menyelamatkan dari kereta kuda yang melintas, seorang wanita yang begitu cantik berlari mendekati mereka dan memeluk anak laki-laki itu.
"aku ucapkan banyak terima kasih nyonya, kau sudah menyelamatkan putera ku," ucap wanita itu yang tidak lain adalah Kim Yun.
"sudah lah, tidak perlu seperti itu nyonya, semua orang pasti akan melakukan seperti ku jika melihat situasi seperti tadi," ucap Choe Eun Soo.
Kim Yun masih memeluk Putera nya, dan menggendong nya,
__ADS_1
"aku Kim Yun, ini adalah toko milik ku, jika kalian tidak keberatan aku ingin mengundang anda untuk makan malam, sebagai ucapan terimakasih," ucap Kim Yun menatap ke arah Choe Eun Soo.
"dari nama mu, kau seperti nya tidak berasal dari kekaisaran ini, apa kau dari tempat seperti yang aku pikirkan?" tanya Choe Eun Soo.
"senang kita bisa bertemu di kekaisaran orang," ucap Kim Yun dengan bahasa kekaisaran Yunha, yang melihat wajah Choe Eun Soo yang begitu khas kekaisaran Yunha.
"aku juga begitu," ucap Choe Eun Soo menggunakan bahasa yang sama, keduanya pun tersenyum.
Hari menjelang sore, mereka bertiga menuju pulau keseimbangan, Choe Eun Soo dan pangeran ke empat sedikit terkejut saat Kim Yun mengatakan jika suami nya bernama Xiao Zhou, keduanya hanya diam hanya mendengarkan saja.
dan makan malam pun di gelar, kedua tamu itu duduk di meja makan yang panjang, semua istri Xiao Zhou mulai makan bersama,
Li Mei yin dan Yun Li Wei pun mengenali Choe Eun Soo.
"bagaimana kabar mu adik, lama kita tidak bertemu," ucap Yun Li Wei.
"aku baik kakak Dewi, dimana suami kalian aku tidak melihat nya?" ucap Choe Eun Soo, tidak mengingat nama Yun Li Wei, hanya mengingatkan wajah tak bercela milik wanita itu, yang juga adalah seorang Dewi.
Kim Yun sedikit terkejut dengan kejadian itu, dan hanya mengangguk saja.
"suami kami sedang ada keperluan, jadi tidak bisa menyebutkan kalian," ucap Li Mei Yin.
Pangeran ke empat hanya mengangguk dan tersenyum, matanya hanya sesekali menatap para wanita yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh nya jika ada wanita secantik mereka di dunia ini.
"apakah ini surga, kenapa para Dewi cantik berkumpul di tempat ini?" batin pangeran ke empat, tapi tidak berani menunjukkan sikap kurang ajar nya.
"adik siapa teman mu ini?" tanya Yun Li Wei.
"aku Lee Jung Won, salam kenal nyonya semua nya," ucap pria itu sopan, dengan bahasa dataran utama yang sedikit kaku.
"hihihi... kau terlihat begitu muda, logat mu begitu kaku, tapi terdengar lucu, selamat datang di pulau keseimbangan," ucap Yun Li Wei, tertawa memperlihatkan senyum sempurna nya.
bibir Lee Jung Won sedikit terbuka, dan tanpa sadar ikut tersenyum menatap wajah Yun Li Wei yang tersenyum cerah, dan segera menundukkan wajahnya, tidak ingin di anggap kurang ajar.
"Tolong maafkan aku, aku akan belajar lebih giat bahasa daratan utama," ucap Lee Jung Won senyum hangat nya terlihat lagi.
__ADS_1
"Selera orang yang bernama Xiao Zhou begitu tinggi, bagaimana pria itu bisa menaklukkan wanita-wanita seperti ini? aku begitu penasaran seperti apa wajah nya? seperti nya kali ini aku memiliki lawan yang tepat dalam menaklukkan wanita, ini sangat menarik," batin Lee Jung Won.