
Yu Jin tua berlari ke arah Ratu Xhin Ye dan mencoba mengangkat tubuh menantunya berdiri
"Yu Jin tua.... kau sahabat ku, cepat katakan apa yang terjadi dengan buah besar!!!!" teriak penjaga pulau, matanya sedikit memerah dan terlihat berair karena merasa iba melihat wajah putus asa penguasa nya, dan juga membantu wanita itu berdiri
"berdiri lah menantu, jangan seperti ini, kau sedang mengandung tenang kan dirimu, ayah mertua akan menceritakan nya," ucap Yu Jin tua yang ikut berderai air mata, sesekali menatap ke arah Sang Pengganti.
bibir bergetar penuh noda darah Yu Jin tua mulai bicara perlahan.
"putera ku... putera ku telah pergi ke pulau tingkat ke tiga, dia berpesan kepada anda agar penguasa menjadi wanita di menara itu, dan tidak melakukan apapun tentang kepergian nya, dan.... dan juga mengatakan udara saat ini begitu dingin, jangan menggunakan pakaian tipis itu lagi," ucap Yu Jin tua, suaranya terputus-putus dan bergetar karena menahan tangisnya nya.
bola mata Ratu Xhin Ye bergerak ke kanan dan kiri bergantian, mencoba mencerna apa yang ucapan Yu Jin tua, dan dengan cepat mengerti apa yang di maksud Xiao Zhou.
Ratu Xhin Ye mengusap air matanya, dan perlahan mengambil buah persik naga yang kotor karena noda tanah, dan sedikit noda darah dari pakaian Xiao Zhou, Ratu Xhin Ye memasukkan pakaian Xiao Zhou dan buah persik itu begitu pelan dan tangan bergetar seperti benda itu begitu berharga kedalam cincin penyimpanan.
Telinga nya seperti tuli, hanya bisa melihat bibir Yu Jin tua yang penuh noda darah bergerak tapi tidak bisa mendengar apapun,
"istri ku aku akan pergi sekarang jaga dirimu, aku mencintaimu," suara Xiao Zhou terngiang di kepala nya.
"suami kau?" bibir nya terus terbuka hatinya begitu sakit, sesekali tangannya memukul-mukul dadanya sendiri, mencoba menghilangkan sesak yang membuat nafas nya begitu berat dan tersengal.
"hak... aahhh..." Ratu Xhin Ye mencoba bernafas normal, namun sia-sia.
****
semalam penuh Ratu Xhin Ye memeluk pakaian penuh darah milik Xiao Zhou, dan memegang buah persik kotor itu, di ranjang besar dan mewah nya, bayangan Xiao Zhou terus bermunculan di kepala nya.
"ini adalah satu-satunya pakaian yang kau berikan padaku istri, aku akan memakai sekali lagi," terngiang ucapan Xiao Zhou dan terbayang senyum riang dengan mata tertutup Xiao Zhou, dan kembali bayangan saat Xiao Zhou memeluk nya di kediaman Penyihir Agung, saat mereka menikah di pinggiran telaga, semua terlihat begitu nyata di kepala Ratu Xhin Ye.
"ooohhh tidakkkk..... aku begitu merindukan nya, suami... kau dimana? kenapa kau pergi begitu saja, kau tidak berpamitan dengan anak kita, bahkan kau juga belum tahu kabar bahagia ini, yaahhh Dewa.... ini tidak adil... hik.... hik.... tidak adil.
__ADS_1
Ratu Xhin Ye membenamkan wajahnya di pakaian Xiao Zhou yang ada di pangkuan nya,
"suami tidak.... kau tidak boleh pergi seperti ini, aku berjanji akan baik padamu," suara tangisan nya terhenti, tangan nya mengusap air mata dan hidung nya, yang sedikit bengkak dan memerah.
"aku juga tidak akan memukuli mu lagi, aku juga tidak akan memakai pakaian tipis itu lagi hik.... hik.... dan.... dan kau boleh memujiku dengan sebutan anak anjing.... bahkan aku tidak akan melarang mu jika ingin menikahi teman pejabat mu itu, jadi suami... aku mohon kembali lah..... hik.... hik..... aku tidak akan marah padamu... tangisan nya semakin menjadi-jadi, dan Ratu Xhin Ye pun tertidur karena kelelahan.
sudah tiga hari Ratu Xhin Ye mengurung dirinya di dalam kamar, matanya selalu menatap ke balkon yang mengarah ke gerbang menuju pulau ke tiga.
dayang kepala masuk dan membawakan makanan dan meletakkan di atas meja nya.
"penguasa sebaiknya anda makan sedikit," ucap kepala dayang itu dengan sedikit kekhawatiran di wajahnya.
"aku tidak akan makan sampai suamiku kembali kepala dayang," ucap Ratu Xhin Ye yang terlihat begitu kelelahan, tatapan nya seperti kosong.
"hamba mengerti kesedihan anda penguasa, tapi tolong di pikirkan putera kalian berdua," ucap kepala dayang itu.
wajah Ratu Xhin Ye sedikit terkejut, dan tersadar dengan kehamilan nya, jari-jari kurus itu perlahan mengelus perut nya dari luar pakaian nya.
Ratu Xhin Ye berdiri dari ranjang nya, dan perlahan melangkah serta duduk di sebuah bangku, dan mulai menyuapi bibir nya dengan makanan, dengan sedikit kasar.
"suami apa kau sudah makan? meski kau begitu kurus, aku tahu kau begitu menyukai makanan, aku harap kau tidak merasa lapar di sana," guman Ratu Xhin Ye dan terus makan meski tidak tahu apa yang di masuk ke dalam bibir nya wanita dengan wajah kotor karena noda pakaian Xiao Zhou itu terus saja mengunyah makanan meski bibir nya sudah penuh, dengan derai air matanya.
"penguasa pelan-pelan," ucap kepala dayang itu yang ikut keluar air mata, dan menyerahkan segelas air kepada wanita malang itu.
Ratu Xhin Ye mengusap air matanya dan minum dengan pelan.
"kepala dayang... aku begitu merindukan suamiku," ucap Ratu Xhin Ye.
"penguasa... tenanglah tuan muda adalah seorang suami yang baik, meskipun hamba baru mengenal nya, tapi tuan muda adalah orang yang bisa di percaya, penguasa... tuan muda pasti akan kembali, meski tidak dalam waktu dekat," ucap kepala dayang, menyeka air matanya
__ADS_1
Ratu Xhin Ye terdiam sesaat, dan mengangguk,
"kau benar kepala pelayan, suamiku pasti akan datang mencari ku, aku akan menunggu nya dan menjaga putera kami dengan baik," ucap Ratu Xhin Ye
"aku tahu kau tidak pergi begitu saja suami, Ayah mertua tidak berani bicara pasti ada orang yang kuat di belakang semua ini, aku mengerti kenapa kau melarang ku berbuat sesuatu, karena kau mengkhawatirkan keselamatan ku, terimakasih kau sudah begitu mencintai ku suami.
tapi aku Xhin Ye istri mu, aku tidak akan tinggal diam, dan akan menyelidiki ini diam-diam, kau tenang saja aku tidak akan masuk perangkap mereka seperti mu," ucap Ratu Xhin Ye, dan sumpit di tangan kanan nya mulai hancur menjadi debu halus yang berterbangan.
"suami ku meminta ku menjadi wanita di menara itu, wanita licik, penuh tipu daya, tanpa perasaan, baiklah suami... untuk mu aku bisa melakukan apapun," batin Ratu Xhin Ye,
Ratu Xhin Ye menutup matanya perlahan, dan membuka nya beberapa saat, wajah Ratu Xhin Ye menjadi begitu dingin, jemari tangan yang panjang tidak bergetar sama sekali, dan senyum kepalsuan kembali tersirat di sudut bibir nya, dan tidak lama terdengar tawa dari wanita itu dari ruangan nya.
"kau lihat suami, aku sudah menyimpan perasaan cinta kita baik-baik, saat ini yang ada hanya kepalsuan, dan tipu daya," guman Ratu Xhin Ye.
Ratu Xhin Ye meninggalkan meja makan nya dan mulai membersihkan dirinya, dan beberapa hari berikutnya, dan di hadapan seluruh undangan, dan pejabat di aula agung Ratu Xhin Ye kembali mengenakan topeng suci yang di buat oleh Pertapa Suci. tampak seorang pejabat wanita juga mata nya terlihat sembab karena kepergian Xiao Zhou.
"aku Ratu Xhin Ye tidak akan membuka topeng suci ini, sampai suamiku kembali." ucap Ratu Xhin Ye.
"suami bersabarlah, setelah anak kita besar dan tumbuh kuat, aku akan menyusul mu ke gerbang itu, meski aku begitu takut dengan gerbang itu bahkan mendengar nya saja aku sudah gemetar, tapi untuk mu neraka itu akan tidak menakutkan sedikit pun bagiku, aku... aku bersedia menanggung nya lagi, untuk mu, bersabarlah," ucap Ratu Xhin Ye, dan duduk di atas singgasana sana nya dengan tenang, matanya menatap ke tiga ketua klan, dan terakhir menatap sang pengganti.
"salah satu dari kalian pasti terlibat," batin Ratu Xhin Ye sambil tersenyum.
*****
sebuah gerbang teleportasi muncul di atas permukaan samudera, dan seorang pemuda berusia 35 tahun keluar, dengan rambut panjang terurai.
janggut pendek dan rahang tegas serta alis melengkung ke atas menambah kegagahan wajah pemuda ini.
pemuda itu tidak lain adalah Sang Pembunuh Dewa, dengan mengerakkan tangan nya, dan menghentakkan telapak tangan nya ke arah lautan di bawah nya, air laut mulai berputar seperti pusaran air yang sangat besar, dan perlahan tercipta lubang besar di sumbu putaran air itu.
__ADS_1
Pemuda itupun melesat kearah lubang itu dan menelusuri nya hingga ke dasar lautan dalam itu, tampak semakin dalam sinar matahari tidak dapat menjangkau lubang itu lagi dan menjadi gelap.
tampak gerakan air berputar dan bergejolak begitu besar, di sekeliling pemuda yang melesat menuju dasar samudera, pemuda itu terlihat begitu kecil di bandingkan dengan air yang bergolak itu, penampakan yang begitu menakutkan bagi manusia normal, tapi bagi Sang Pembunuh Dewa itu hanya seperti air di kolam dangkal saja, wajah nya terlihat begitu tenang dan dingin.