
Ratusan genderang perang pun mulai bergemuruh terdengar, panji-panji berkibar, membuat suasana begitu tegang, para prajurit langit di bawah perintah jarum emas pun mulai menyerang, salah satu dari jenis mereka mengeluarkan sayap burung dari punggung nya, dan melesat di atas prajurit yang khusus bertarung di darat, mereka mulai mendekati benteng-benteng kokoh yang penuh segel pelindung dari mutiara formasi, yang di kepalai oleh Dewa Formasi Lou Yi.
Seorang Dewi cantik di balut pakaian perang berdiri di atas benteng kokoh itu, rambut nya diikat seperti ekor kuda, matanya yang begitu tajam mengeluarkan sinar kemerahan, dan menarik tali busur nya dan puluhan ribu anak panah dengan ujung mengeluarkan cahaya merah melesat dari busurnya ke arah pasukan jarum Emas, anak panah itu seperti aliran air, dan bergerak sendiri.
Sang Pembunuh Dewa melepaskan segel pelindung ke di atas pasukan jarum Emas, semua anak panah itu hancur menghantam pelindung dari Sang Pembunuh Dewa.
Dari barisan belakang para Zhangji yang berwujud gunung berapi, memuntahkan batu-batu begitu besar dan diselimuti api terlempar ke udara, membuat nya terlihat seperti bola api besar dari jauh dan mengarahkan ke benteng-benteng besar itu,
blarrrrr......
blarrrrr....
Ratusan bola api begitu besar berterbangan di angkasa, dan membuat segel dari mutiara formasi mulai retak, pasukan langit di depan benteng mulai membentuk formasi yang di susun oleh ahli formasi bertempur terbaik di pejabat militer,
Kedua pasukan mulai bertemu, berbagai jenis binatang yang terbuat dari energi qi berbagai warna muncul, dan beradu, pertarungan berpadu dan berkelompok-kelompok, pelindung tubuh saling berbenturan menimbulkan suara mendengung.
Dewa-dewa elemen pun beradu, hujan api, salju, air, dan semua elemen berhamburan di angkasa.
Pertemuan berdarah pun tidak dapat di hindari, puluhan ribu anak panah dari kedua belah pihak berputar di udara, dan mencari sasaran orang yang pelindung tubuh terlemah, atau pecah saat bertarung, dan anak panah ini dengan cepat menembus kepala-kepala mereka yang lengah, atau bagian tubuh lainnya yang tidak terlindungi oleh pelindung tubuh mereka, anak panah ini melesat di antara orang-orang yang bertarung di darat ataupun udara.
pertempuran sudah berlangsung berbulan-bulan, tapi tidak ada yang terlihat lebih unggul, dan tiba-tiba saja dari ketiga gunung itu muncul pasukan yang mirip Dewa Yang Dong tetapi ukuran mereka lima kali lipat lebih besar dari Dewa batu itu, mereka berlari dan melompat kearah pasukan yang ada di depan benteng-benteng kokoh itu, dan memukul para prajurit langit dengan buas, membuat para petarung dari pasukan Kaisar Langit harus tewas dengan tubuh yang remuk.
di pihak kekaisaran langit para binatang pelindung istana langit mulai kewalahan menghadapi makhluk-makhluk besar yang terbuat dari batu, ataupun es itu, bahkan beberapa binatang pelindung harus hancur saat tubuh mereka di robek-robek oleh mahluk yang keluar dari tiga gunung itu.
"ini benar-benar merepotkan," batin Dewa lautan yang menatap keganasan dari raksasa-raksasa batu itu, dari atas benteng itu.
Pasukan langit mulai terdesak, dan tiba-tiba sebuah roda besar berputar menutupi angkasa di Medan pertempuran itu,
Roda kebijakan membuat para prajurit jarum Emas sedikit mundur, tenaga mereka mulai melemah, terhisap oleh roda kebijakan.
Roda besar itu terus berputar, bola-bola api itu mencoba menghancurkan roda kebijakan tetapi roda itu begitu keras, bola-bola api itu hancur saat menghantam roda milik Dewa kebijaksanaan.
Dewa api sudah bertarung dengan Dewa petir yang membelot ke pihak Sang Pembunuh Dewa,
Dari istana langit dapat di lihat pertarungan para Dewa yang mengeluarkan semua senjata dan tehnik bertarung mereka, ledakan dahsyat terjadi dimana-mana, Puteri Yun Qixuan menatap cemas ke arah Medan perang itu.
"Ayah... apakah kita bisa menghadapi orang itu," ucap Puteri Yun Qixuan.
"Puteri ku, tidak ada yang tahu akhir dari perang ini, dan berapa lama, tapi bisakah kau berjanji pada ayahmu ini?" ucap Kaisar Langit menatap wajah Puteri nya yang kini sudah terlihat lebih dewasa.
"katakan ayah! kau ingin aku melakukan apa? aku akan melakukan apapun asal jangan usir aku dari sisi ayah sebelum perang ini usai," Puteri Yun Qixuan.
"dengarkan ayah mu ini, kekuatan lawan kita saat ini begitu hebat, dan dibantu pasukan dari tiga gunung misterius itu, jadi saat benteng kedua hancur berjanji lah kau akan pulang ke rumah calon suami mu," ucap Kaisar Langit.
"Ayah.... apa tidak ada cara yang bisa mengalahkan nya?" ucap Puteri Yun Qixuan, matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"hahaha.... Puteri bodoh ku, tenang lah ayah memiliki begitu banyak prajurit dan dewa-dewa kuat, kami tidak kalah dengan begitu mudah, tapi kau harus kembali, karena saat ini pulau keseimbangan adalah tempat yang tidak bisa tertembus oleh orang itu, dengan dua penjaga terkuat di seluruh alam, orang itu harus berpikir dua kali jika memasuki tempat itu, dan juga Ratu Xhin Ye adalah seorang yang berkemampuan setara Pilar Langit.
di garis depan,
Terlihat Petarung Besar dan ribuan Petarung lainnya, menebaskan Pedang nya dan menghancurkan beberapa mahluk yang mirip Dewa Yang Dong, Petarung Besar meski sudah sepuh tetapi kemampuan nya begitu mengerikan, cara bertarung begitu brutal, dan menyerang ke arah- arah vital lawan.
tidak tampak Yun Fengyin dalam perang itu, roda kebijakan mengeluarkan petir yang menyambar membunuh ribuan pasukan jarum Emas, karena petir yang di hasilkan oleh roda itu begitu besar, terlihat petarung bersayap di terbang di celah-celah roda besar yang berputar.
Sang Pembunuh Dewa, menatap roda besar yang menutupi langit di atas nya, dan dengan pelan melempar cincin separuh nya, senjata kecil itu melesat ke udara dan tepat di pusat dari roda kebijakan itu.
"ini sudah hari ke keseratus," guman Sang Pembunuh Dewa,
cinggggg.......
terlihat sebuah cahaya kecil dari beradu nya dan suara dari cincin kecil itu menembus roda kebijakan itu, dan sesaat cincin itu sudah kembali ke tangan Sang Pembunuh Dewa.
dan tidak lama roda kebijaksanaan itu bergetar, retakan mulai terlihat dari tepat di tengah-tengah roda itu, dan retakan itu semakin membesar, serta mulai menyebar ke segala arah.
prakkkkk.....
praaakkkkk....
suara retakan menggema di udara,
dan roda besar itu pecah dan langit terlihat lagi setelah secara perlahan roda itu terbelah menjadi beberapa bagian dan terjatuh dengan pelan menimpa apapun yang ada dibawah nya.
"tidakkkkk....." teriak Puteri Yun Qixuan yang sedari tadi berdiri di belakang Kaisar Langit.
"paman kebijaksanaan, tidakkkkk.... kau tidak boleh mati," guman nya air matanya mulai berair, ada banyak kenangan bersama Dewa sepuh itu di pulau keseimbangan bersama para istri Xiao Zhou lain nya.
****
dua tahun lalu di kekaisaran Yunha.
di sebuah ruangan luas, dan berlantai kayu seorang bocah sedang belajar tehnik pedang bersama ayah nya yang merupakan seorang jenderal, adalah Jendral Tae Yoon yang sedang mengajarkan tehnik pedang kepada putera nya.
bocah tujuh tahun itu terlihat lincah meski gerakan nya sekedar saja, tiba-tiba seorang pangeran masuk keruangan itu, mendekati kedua orang yang sedang berlatih itu.
Tidak jauh dari tempat nya seorang wanita dengan wajah keibuan sedang mengawasi putera nya berlatih sambil minum teh dari cawan nya.
Jendral Tae Yoon memberi hormat kepada Pangeran ke empat,
"Jendral aku ada tugas untuk mu, bawa beberapa orang mu, dan kau awasi dermaga malam ini, aku mendengar ada beberapa mata-mata dari dataran utama akan datang malam ini, selidiki orang-orang yang mencurigakan," ucap Pangeran ke empat.
"aku akan berangkat sekarang Pangeran," ucap Jendral Tae Yoon, dan bersiap melakukan tugas nya.
__ADS_1
Pangean ke empat mendekati Putera Jendral itu,
"bagaimana jika kita berlatih berdua, ucap Pangeran ke empat sambil tersenyum nakal menatap ibu dari bocah kecil itu.
"sebaiknya nyonya juga ikut berlatih," ucap Pangeran ke empat.
wanita itu menggelengkan kepalanya dan juga tersenyum nakal,
"tidak... aku baru saja selesai membersihkan diri," tolak wanita itu yang tidak lain adalah Jang Song Yi.
Pangeran ke empat mendekati wanita itu dan menarik tangan nya.
"nyonya aku memaksa," ucap pangeran ke empat.
"kau? kenapa kau selalu memaksa hah?" ucap Jang Song Yi berpura-pura menolak.
Pangeran ke empat memberikan sebuah pedang kepada wanita itu, dan memegang tangan kanan wanita itu dan memeluk pinggang nya merapat kan tubuh nya berdiri di belakang wanita itu.
"tehnik Pedang apa ini Pangeran?" tanya Jang Song Yi matanya menatap mata Pangeran ke empat
"ini jurus pedang walet emas," ucap Pangeran ke empat dan menekan tubuh ke arah pinggul Jang Song Yi membuat mata wanita itu sedikit melebar.
"apa yang kau lakukan? putera ku ada di sini," ucap Jang Song Yi.
"apa maksud mu nyonya kita sedang berlatih," ucap Pangeran ke empat, kedua bergerak tidak tentu arah, tangan kirinya nya mulai gunung dari Jang Song Yi, dan tangan kanan nya mulai turun menelusuri lekuk perut wanita itu dan semakin kebawah.
"eenghhhhhh... " lenguhan pelan terdengar dari bibir Jang Song Yi, dan sudah berhenti bergerak bibir pangeran ke empat sudah di tengkuk Jang Song Yi, yang kini tubuh nya sudah bersandar di tubuh pangeran ke empat.
"nyonya tubuh anda terlalu kaku, sebaiknya kau melemaskan nya terlebih dahulu," ucap Pangeran ke empat, dan mengarahkan posisi Jang Song Yi seperti merangkak.
Pangeran ke empat berlutut di belakang Jang Song Yi, tangan kirinya memegang ketiak Jang Song Yi, dan perlahan menempel kan tubuh nya dari belakang sehingga bagian mereka bersentuhan.
karena terkejut secara refleks tubuh Jang Song Yi bergerak kedepan menjauh dari benda yang menyentuh milik nya, dan ingin berdiri, tapi Pangeran ke empat menahan nya.
"Cukup Pangeran...di sana ada putera kami, ini sudah keterlaluan," ucap Jang Song Yi, berusaha berontak, menatap cemas ke arah putera nya yang masih berlatih sendiri.
"tenanglah nyonya kita hanya melakukan pemanasan saja, tidak lebih," ucap pangeran ke empat,
Pria itu menarik kembali tubuh Jang Song Yi, mendekati ke arah nya, pakaian tipis yang di pakai Jang Song Yi, membuat bentuk nya begitu tercetak, dan terlihat jelas, sehingga Pangeran ke empat dengan mudah mengetahui posisi yang tepat.
kepala Jang Song Yi menggeleng, wajah nya memerah yang sedikit malu saat pemuda itu menatap bagian yang begitu di rahasiakan nya itu, dan tanpa sepengetahuan nya pangeran ke empat sudah membebaskan milik nya.
"tidak... jangan di lihat," mata Jang Song Yi mulai terpejam, saat secara perlahan bagian yang tercetak itu kembali bersentuhan dan membuat pakaian tipis yang sudah basah itu sedikit terdorong masuk, membuat milik pangeran ke empat sedikit tertelan, dengan begitu pelan.
"aassss....." suara lenguhan keluar dari bibir wanita itu, terlihat wajahnya begitu menikmati sentuhan kedua nya, yang hanya di lapisi pakaian tipis milik Jang Song Yi.
__ADS_1