
Xiao Zhou menatap tanpa berkedip ke arah pria itu,
"dia adalah ketua dari klan penyihir, dia adalah penyihir Agung Bai Ling," ucap Yu Jin tua sambil menepuk punggung Xiao Zhou.
dan tidak lama berselang, seekor singa bersayap mendarat di atas panggung itu, seorang pria sepuh dengan perawakan besar mengenakan pakaian merah tua, turun dari singa itu, dan singa bersayap itu terbang lagi, semua orang kembali berdiri, dan beberapa detik kemudian sebuah cahaya muncul dari atas panggung itu, sebuah teratai emas turun di atas nya duduk seorang mirip biksu dengan pakaian abu-abu khas warna klan pertapa, turun dari teratai emas itu. mereka semua saling menyapa dengan santun.
kali ini Xiao Zhou dapat menebak siapa kedua orang sepuh itu.
"mereka pasti ketua dari klan petarung dan klan pertapa," guman Xiao Zhou menatap wajah Yu Jin tua.
"kau benar, mereka adalah Petarung besar, dan Pertapa suci," ucap Yu Jin tua.
****
setelah para ketua klan hadir para pemusik istana memulai memainkan alat musik mereka, dan para penari melakukan aksi nya di panggung lain yang di sediakan di pinggir aula itu, para undangan mulai berbincang penuh tawa.
di meja bundar tempat para pejabat kelas tinggi terlihat Huan Zhi di dampingi ibu nya Huan Zhi tua, sedang menikmati minuman yang di sediakan, Liu Fang juga tampak sudah begitu akrab dengan mereka.
dan tiba-tiba penyihir Agung turun dari panggung, dan mendekat ke arah meja mereka, Huan Zhi tua berdiri dan menyapa penyihir Agung.
"salam ketua klan," ucap Huan Zhi tua, wanita itu terlihat masih anggun meski kerutan di wajah nya sudah terlihat.
"hahaha... Puteri ku kau selalu begitu formal," ucap penyihir Agung.
"kakek kau terlihat tampan," ucap Huan Zhi memeluk pria sepuh itu.
"Zhi'er.... jaga sikap mu, ini adalah perjamuan resmi," ucap Huan Zhi tua dengan wajah dingin.
"hahaha... sudah... sudah... ini cucu ku yang sangat membanggakan, Puteri ku kau harus belajar banyak dari cucuku ini," ucap Penyihir Agung, membela cucu nya, sambil mengelus kepala Huan Zhi muda.
"ayah kau begitu memanjakan gadis nakal ini," ucap Huan Zhi tua dan mereka semua duduk sambil tersenyum.
Liu Fang mulai mendekati Penyihir Agung untuk mengambil hati nya, dan seorang pengajar wanita berbisik ke pada penyihir Agung itu, pengajar itu adalah wanita setengah baya yang membantu Xiao Zhou saat kejadian mutiara bakat.
wanita pengajar itu menceritakan tentang apa yang di lihat nya dari mutiara bakat itu.
__ADS_1
"aku hanya bisa melihat sepuluh detik terakhir apa yang di ucapkan mutiara bakat itu Penyihir Agung, aku tidak bisa melihat dari awal," ucap wanita pengajar itu.
Penyihir Agung tampak sesekali mengangguk, dan kemudian matanya sedikit terbelalak, setelah mendengar cerita dari wanita pengajar itu.
"a-pa legenda serigala biru, demi pelindung klan, ini tidak mungkin," guman Penyihir Agung.
Penyihir Agung itupun berdiri, tangan kanan nya memegang tongkat panjang itu, untuk membantu nya berdiri, dan meninggalkan tempat Huan Zhi.
"ayah kau mau kemana?" ucap Huan Zhi tua.
"ada seseorang yang harus aku temui," ucap Penyihir Agung.
"ayah terlihat lelah, sebaiknya ayah memanggil orang itu saja," ucap Huan Zhi yang merasa kasian menatap ayahnya berjalan, tetapi tidak di gubris oleh penyihir Agung dan tetap melangkah menuju lantai yang sedikit lebih rendah dari tempat Huan Zhi duduk, dan di ikuti oleh wanita pengajar itu.
dan tidak lama Penyihir Agung sudah kembali ke meja itu di ikuti oleh seorang pemuda dan pria tua lain di samping nya.
"Puteri ku perkenalkan ini adalah teman ku, nama nya Yu Jin muda, dan ini adalah ayah nya Yu Jin tua," ucap Penyihir Agung, semua mata terbelalak menatap kedua tamu nya.
wajah Liu Fang terlihat begitu pucat, saat Penyihir Agung memperkenalkan Xiao Zhou sebagai teman nya, berbeda dengan Huan Zhi walaupun tidak kalah terkejut, tetapi ada raut bahagia di wajah nya.
Penyihir Agung melambaikan tangan nya, sebuah nampan dengan teko kecil berwarna coklat, dan beberapa cawan kecil sudah muncul di hadapan nya.
Penyihir Agung menuangkan isi teko itu dengan sangat perlahan ke cawan-cawan itu, seperti benda-benda itu begitu berharga, bibir nya seperti merapal mantra.
"aahhh... Jin'er minum lah teh ini, ini adalah teh kesukaan ku," ucap Penyihir Agung dan menyerahkan sebuah cawan di dekat Xiao Zhou.
Xiao Zhou mengangguk, dan sekilas terlihat sinar biru di mata Xiao Zhou dan mengetahui jika cawan itu sudah di segel oleh Penyihir Agung dengan segel level dewa,
"kau tidak akan bisa mengerakkan cawan ini tanpa membuka segel nya, hanya seorang jenius yang mampu membuka segel ini," batin Penyihir Agung.
"minumlah anak muda, tapi jika kau tidak mampu aku tidak akan menyalahkan mu, kau masih muda dan perlu belajar banyak," ucap Penyihir Agung itu.
Xiao Zhou bisa saja membuka segel nya dengan mudah, tapi itu akan membuat Penyihir Agung mengawasi nya.
"sebaiknya tidak menarik perhatian Penyihir Agung," batin Xiao Zhou.
__ADS_1
semua orang mendengar ucapan Penyihir Agung walaupun tidak mengerti dengan jelas maksud ucapan Penyihir Agung tetapi mata mereka semua menatap Xiao Zhou, karena belum meminum teh yang sudah di pegang nya, wajah Penyihir Agung menatap nya sambil tersenyum tipis, seperti menunggu.
"anakku kau tidak boleh menolak perintah Penyihir Agung, itu akan menyinggung nya, cepat minum lah," bisik Yu Jin tua yang tidak tahu jika cawan itu tersegel.
"orang tua ini begitu licik," batin Xiao Zhou, dan mengangguk.
"terimakasih Penyihir Agung, teh ini sedikit panas," ucap Xiao Zhou dan seperti meniup nya, dan beberapa detik sudah mengangkat dan menelan isi cawan itu.
mata penyihir Agung seperti terbelalak,
"butuh tiga menit untuk ku membuka segel itu, tapi pemuda ini melakukan hanya beberapa detik saja," batin Penyihir Agung
"hahaha.... sangat mengesankan, ini sebuah keberuntungan, Jin'er suatu kehormatan bisa bertemu dengan mu, walaupun di ujung usia ku ini, kau akan selalu menjadi tamu kehormatan di kediaman ku, Yu Jin tua kau memiliki keturunan yang sangat mengagumkan, aku benar-benar iri," ucap Penyihir Agung menatap Yu Jin tua, yang seperti sudah ingin menangis karena begitu bangga, di puji oleh Penyihir Agung.
"terimakasih ketua klan," ucap Yu Jin tua
"hahaha... sebaiknya kau cepat datang mengunjungi ku Jin'er, karena aku juga memiliki cucu yang sangat cantik...
"ayah itu sudah berlebihan," ucap Huan Zhi tua menatap kesal ke arah penyihir Agung.
Penyihir Agung hanya tersenyum saat Puteri nya mulai marah-marah,
"hahaha... Puteri ku aku hanya sedikit bercanda," ucap Penyihir Agung, terlihat wajah Huan Zhi merona karena malu, senyum simpul terlihat di sudut bibir nya.
Penyihir Agung menatap wajah hitam Xiao Zhou,
"Jin'er... sebaiknya kau menjauh dari penjaga pulau, atau tubuh mu ini selalu tertutup abu dari nya, dan cucu ku akan menjadi milik pemuda lain," guman Penyihir Agung pelan.
"aku mendengar nya kakek," ucap Huan Zhi muda, matanya sesekali mencuri pandang ke arah Xiao Zhou.
semua orang tertawa di tempat itu, terkecuali Liu Fang tentunya.
tiba-tiba terompet istana bersuara, semua orang mulai berdiri dan gerbang besar terbuka.
"penguasa telah tiba," ucap seorang pengawal istana dengan lantang.
__ADS_1
gerrreeeggggggg...... terdengar suara gerbang di dorong.