
sudah tiga hari Xiao Zhou menjaga, tubuh Ratu Xhin Ye yang menerima inti darah Xiao Zhou, dan bersamaan dengan terbuka nya mata Ratu Xhin Ye, pulau itupun bergetar, dan bergerak semakin merendah, dan bukit-bukit karang mulai bergesekan dataran pulau itu sudah sama tinggi, istana merdeka sudah hampir berdampingan, meskipun istana Ratu Xhin Ye lebih tinggi karena ada di atas perbukitan, tangga mulai terbentuk seperti jembatan menghubungkan dua istana itu, diakhiri dengan sebuah gempa kecil.
semua penduduk kedua pulau keluar dan menatap ke tempat pulau lain nya, hanya saja tidak dapat melihat nya dengan jelas karena segel dari mendiang suami Ratu Xhin Ye.
Ratu Xhin Ye berdiri dengan lemas, dan tubuh nya yang penuh cairan lengket berwarna hitam, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.
"ada apa dengan pulau ku?" Ratu Xhin Ye, menatap Xiao Zhou.
Xiao Zhou memejamkan matanya,
"aku dapat merasakan pulau mu saat ini istri, pulau mu sudah melebur dengan pulau ku, pelindung pulau sudah menyatu, tapi masih di halangi oleh segel milik mendiang suami mu saja," ucap Xiao Zhou.
"seperti nya kita benar-benar sudah menjadi suami-istri saat ini," ucap Ratu Xhin Ye dan memeluk Xiao Zhou dengan senyum bahagia di bibirnya.
"seperti begitu, tapi istri apa kau tidak ingin membersihkan dirimu?" tanya Xiao Zhou membuat mata Ratu Xhin Ye menyipitkan belum mengerti maksud Xiao Zhou, dan mulai menatap tangan nya, dan mulai menyentuh wajah nya sendiri, mata Ratu Xhin Ye terbelalak, senyum nya mulai menghilang dari bibirnya dan hawa pembunuh begitu pekat keluar dari tubuh Ratu Xhin Ye.
"bommmmm....."
"kera hitam.... kali ini aku akan benar-benar membunuhmu!!!!!!" teriak Ratu Xhin Ye
"jedummmmmm...."
"blaaarrrrr......"
****
Pagi itu Ratu Xhin Ye memaksa Xiao Zhou untuk menemani nya keluar dari istana nya, terlihat para penduduk begitu ramai di pinggiran jalan, mereka memasang lentera yang bertingkat-tingkat, seperti akan ada perayaan, beberapa anak-anak menggunakan topeng dan berlari-larian dengan riang.
"hari ini giliran mu yang membawa ku seharian, aku akan menemanimu," bisik Ratu Xhin Ye, tersenyum ceria seperti anak-anak.
Xiao Zhou masuk ke sebuah tempat penjual topeng dan membawa keluar dua buah topeng dan menarik tangan Ratu Xhin Ye membawa nya ke lorong sepi, mereka memakai nya, Ratu Xhin Ye mengerti dan dengan sekali hentakan semua perhiasan rambut nya sudah lenyap dan rambut indah nya jatuh tergerai, dan sebagian menutupi wajahnya yang mengenakan topeng.
hari ini Ratu Xhin Ye memakai pakaian, berwarna merah muda yang begitu lembut, jadi tidak begitu mencolok di keramaian, dengan sebuah pita lebar mengikat di atas dadanya.
mereka berdua mengelilingi kota kecil di pulau Ratu Xhin Ye, Xiao Zhou menatap seorang lelaki paruh baya sedang menggendong anak kecil yang wajah mereka hitam seperti nya, dan tidak ada orang yang mempedulikan mereka.
"hemmm.... ternyata memiliki wajah seperti itu, sudah biasa di tempat ini," batin Xiao Zhou.
keduanya memasuki sebuah rumah makan, pagi itu Ratu Xhin Ye mengenakan pakaian yang begitu sopan, tapi perubahan pada tubuh nya karena menyerap inti darah Xiao Zhou, membuat pakaian nya menjadi ketat, untungnya jubah luar nya tebal, sehingga garis-garis pakaian dalam nya yang tercetak jelas tidak terlihat dari luar.
__ADS_1
mereka duduk di sudut ruangan lantai dua rumah makan itu, kedua menatap ke arah pusat kota, dan melihat ratusan ahli bangunan, sedang membangun sesuatu yang besar di pusat kota itu.
"mereka aku perintahkan membuat penginapan," ucap Ratu Xhin Ye yang mengetahui mata Xiao Zhou sedang menatap para pekerja, dan ahli bangunan itu.
"penginapan?" nyonya di pulau ini tidak ada orang asing, dan mereka semua sudah memiliki rumah," ucap Xiao Zhou yang sudah terbiasa memanggil istrinya dengan sebutan nyonya.
"kau bisa memanggilku Ye'er, penginapan itu untuk kita," ucap Ratu Xhin Ye tersenyum senang, kulit wajah nya terlihat begitu kencang bahkan gunung nya sekarang lebih keatas dan juga bokong wanita dewasa itu begitu menonjol kebelakang, membuat pakaian nya kini menjadi lebih ketat di bagian itu.
"Ye'er... yang aku tahu kau adalah wanita yang pintar, tapi sepertinya membuat penginapan untuk kita sedikit berlebihan dan..." ucapan Xiao Zhou terhenti saat beberapa pelayan membawakan mereka makanan.
Ratu Xhin Ye mengeleng pendek,
"kau lihat cincin pasangan kita!? cincin giok milik ku berubah," ucap Ratu Xhin Ye sambil memperhatikan jari-jari kurus nya yang lentik.
Xiao Zhou membuka topeng nya, menatap cincin di jari telunjuk Ratu Xhin Ye, dan benar cincin itu kini terbuat dari emas putih dan bermata berlian berwarna bening yang sangat cantik.
"kau lihat, cinta dapat merubah batu giok menjadi berlian, seperti itu lah cinta kemurnian nya mampu merubah seseorang, suami kau sebaiknya mulai percaya," ucap Ratu Xhin Ye.
Ratu Xhin Ye membuka topeng nya, tangan nya menyapukan seluruh rambut nya, dan membawa nya ke sisi kanan bahu nya, sehingga sisi kanan dari wajah Ratu Xhin Ye sekarang tertutupi rambut indah itu, terlihat anting panjang menghiasi telinga kiri wanita itu, membuat nya terlihat sempurna di mata lelaki.
Xiao Zhou sedikit membuka bibirnya terpesona oleh kecantikan wanita itu, membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya dan wajah nya merona merah, tidak berani menatap Xiao Zhou, telapak tangan kirinya berusaha menutup mata Xiao Zhou.
Seorang pemuda dengan kerudung penutup kepala, sedang duduk di sudut jauh dari tempat Xiao Zhou dan wanita nya.
Dadanya berdebar kencang melihat Ratu Xhin Ye yang tampak sangat berbeda dari biasa nya, sesekali terdengar ludah tertelan dari bibir nya, dan mengawasi setiap gerak-gerik dari pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.
mereka berdua mulai makan terlihat sesekali Xiao Zhou mengusap-usap kepalanya dipukuli oleh Ratu Xhin Ye, saat di telaga terlarang itu, Xiao Zhou mengambil daging dan meletakkan nya di mangkuk Ratu Xhin Ye, membuat wanita itu tersipu, dan makan dengan sangat pelan dan sedikit, agar tetap terlihat anggun di hadapan pria yang selalu cari nya selama ini.
Xiao Zhou menggelengkan kepalanya, melihat cara makan Ratu Xhin Ye
"Tidak... tidak seperti itu," ucap Xiao Zhou membuat Ratu Xhin Ye menjadi sedikit bingung, alis nya terangkat meminta penjelasan dari pria di hadapannya.
"buka bibir mu Ye'er.... aaaaa" ucap Xiao Zhou, mengajari wanita itu, sambil membuka bibirnya lebar, dan Ratu Xhin Ye pun mengikuti ucapan Xiao Zhou.
"lebih lebar," ucap Xiao Zhou, Ratu Xhin Ye membuka lebih lebar bibir nya, perasaan nya begitu malu, karena tidak pernah melakukan hal semacam itu, dan juga di tempat keramaian.
"istriku buka sedikit lagi!" bisik Xiao Zhou pelan dengan nada tegas, yang kesal karena Ratu Xhin Ye terlihat masih begitu malu.
Xiao Zhou mengambil daging dan mencelupkan nya ke saus yang ada di meja itu, dan menyuapkan potongan daging itu dan memenuhi bibir wanita cantik itu, membuat wajah Ratu Xhin Ye membeku dengan bibir menggelembung.
__ADS_1
"sekarang kunyah," ucap Xiao Zhou, dan juga melakukan hal yang sama, kedua nya terlihat saling menatap dengan bibir penuh makanan.
Ratu Xhin Ye melakukan ucapan Xiao Zhou lagi, terlihat bibirnya penuh mengunyah makanan dengan pelan, terlihat senyum menghiasi wajah nya, karena merasakan rasa yang berbeda dari makanan itu, dan kunyahan bibir nya semakin cepat.
"emmm... iii eaak," ucap Ratu Xhin Ye masih dengan bibir penuh, dan sedikit senyum nya, suara nya tidak terdengar jelas.
dan Ratu Xhin Ye membuka bibirnya selebar yang dirinya bisa, dan memberi isyarat agar Xiao Zhou melakukan nya lagi, Xiao Zhou pun kembali menyuapi berbagai hidangan di meja mereka, hati Ratu Xhin Ye begitu senang di suapi oleh Xiao Zhou.
pria berkerudung itu sedikit membuka bibirnya, tidak menyangka wanita itu melakukan hal seperti itu, bahkan kali ini melakukan nya di keramaian.
Xiao Zhou memberi isyarat ada saus yang tersisa di sudut bibir Ratu Xhin Ye, namun wanita itu terlalu menikmati cara makan baru nya, dan tidak mengerti hanya menaikkan alisnya seperti biasa, jika tidak mengerti.
tangan Xiao Zhou menyentuh wajah Ratu Xhin Ye, wajah Ratu Xhin Ye menjadi kaku, mata nya sedikit melebar dan berhenti mengunyah makanan nya.
"suami... di sini begitu ramai," ucap Ratu Xhin Ye dengan bibir penuh, yang berpikir Xiao Zhou ingin mencium nya.
jempol Xiao Zhou mengusap sisa saus di sudut bibir nya, dan melepaskan tangannya dari wajah wanita itu.
Ratu Xhin Ye tersadar, dan mulai mengerjap-ngejapkan matanya, wajah nya sedikit tertunduk, air matanya mulai membasahi pipi nya, sesekali terdengar Isak tangisan sambil mengunyah sisa makanan nya dengan pelan dan tidak pernah bisa iya telan karena menangis, Ratu Xhin Ye meletakkan sumpit nya dan mengusap air matanya.
"hik... hik.... tidak ada yang pernah melakukan ini padaku, aku seperti terlahir lagi," guman Ratu Xhin Ye, Isak tangisan nya terdengar lagi.
"terimakasih suami, aku begitu bahagia hari ini, terimakasih...." ucap Ratu Xhin Ye berpindah duduk mendekati Xiao Zhou, dan memeluk pemuda dengan wajah hitam berkerak.
dan mereka makan dengan saling menyuapi, Ratu Xhin Ye terlihat begitu bahagia, sesekali bibirnya mencium ringan, bibir Xiao Zhou yang penuh makanan, membuat mata Xiao Zhou melebar.
"istri apa kau tahu kita sekarang ada dimana?," ucap Xiao Zhou menatap sekeliling.
"tentu suami..... aku ini istrimu yang sah, dan hari ini aku begitu bahagia aku sama sekali tidak peduli lagi apa yang orang pikirkan apa kau mengerti? tidak peduli." bisik Ratu Xhin Ye pelan, dan nada nya mempertegas pada kata peduli.
"baiklah nyonya," ucap Xiao Zhou yang lupa lagi dan memanggil Ratu Xhin Ye dengan sebutan nyonya, membuat wanita itu begitu kesal.
Ratu Xhin menarik leher baju Xiao Zhou dan wajah mereka begitu dekat.
"dengar suami bodoh, panggil aku Ye'er, aku sudah menjadi istrimu sepenuhnya saat kau memasukkan benda besar mu itu kedalam tubuh ku, apa kau mengerti," ucap Ratu Xhin Ye sedikit berteriak.
Xiao Zhou menutup bibir Ratu Xhin Ye, agar tidak ada orang yang mendengar ucapan nya, tapi untungnya semua orang sedang berbicara tentang gempa besar di pulau mereka dengan begitu tegang, dan antusias, terkecuali seorang pemuda berkerudung itu, yang mengepal kan tangan nya kencang hingga bergetar.
Ratu Xhin Ye seperti sudah melupakan jika mereka sedang berada di tempat umum, dan pemuda yang berkerudung itu seluruh tubuh nya seperti terbakar melihat adegan mesra itu, tangan meremas sumpit di tempat nya hingga menjadi debu.
__ADS_1