
jendral Hong hanya mengangguk, dan memerintahkan rombongan itu untuk mengikuti nya dengan melangkah seperti semula.
Dewa penjaga pagoda itu menatap bayangan hitam mendekati nya begitu cepat dan dengan mencabut pedang harimau merah nya yang tertancap di batu jalanan jalur itu melesat ke udara.
"hiaaahhhh.... " teriak dari Dewa penjaga pagoda itu, dan sebuah bayangan harimau merah dan kini seperti berselimut api keluar dari tebasan pedang nya mengarah ke bayangan hitam itu.
pria berpakaian hitam itu mencabut dua pedang runcing di pinggangnya, dan memutar tubuhnya ke arah bayangan harimau api itu.
pria berpakaian hitam itu mengeluarkan tebasan nya dan ribuan pedang runcing membetuk sebuah aliran sungai dan dengan mudah menghacurkan bayangan harimau merah itu.
blaaarrrrr......
suara ledakan dahsyat terdengar saat sungai pedang runcing beradu dengan bayangan harimau merah itu, dan seperti tidak puas aliran sungai pedang itu melesat ke arah Dewa penjaga pagoda itu dan menerjang Dewa penjaga pagoda itu.
"jika tidak melihat sendiri, aku tidak akan percaya ini? itu adalah sungai pedang Dewa Li Fei yu," ucap Dewa penjaga pagoda dan berusaha menghindar namun gerakan nya seperti terbaca oleh sungai pedang itu dan menghantam nya.
bammmmm......
"uhukkkk....." suara batuk darah keluar dari bibir Dewa penjaga pagoda dan terlempar ke dinding tembok perbatasan.
bommmm...
suara tubuh yang menghantam dinding tembok perbatasan, para prajurit yang berjaga di tempat itu seperti tidak percaya jika orang terkuat di tempat itu harus terlempar begitu cepat.
para prajurit itu berlarian mendekati Dewa penjaga pagoda yang sudah terluka cukup serius.
Dewa Fei yu mendekati nya dan menyatukan kedua pedang runcing nya di satu tangan serta melipat nya ke belakang, dan tangan yang lain merogoh jubah nya serta melemparkan sebuah gulungan ke arah Dewa penjaga pagoda yang pakaian perang nya sudah hancur.
Dewa penjaga pagoda itu menatap gulungan itu dan mengetahui jika itu adalah undangan dari Adipati Zhou Yun.
__ADS_1
"maafkan atas kesombongan ku, Dewa Kematian Li Fei yu, aku benar-benar mendapat pelajaran berharga dari mu," ucap Dewa penjaga pagoda itu mencoba berdiri dan menyerahkan gulungan itu ke pada prajurit yang membantu nya berdiri.
"kau bisa menanyaiku baik-baik, bukan mengeluarkan hawa pembunuh yang begitu pekat di hadapan salah satu istri kakak ipar ku, dan juga jangan memanggilku Dewa lagi, aku sekarang sudah menjadi penduduk biasa di pulau keseimbangan," ucap Fei yu dan memasukkan kembali pedang runcing nya di pinggang nya.
Dewa penjaga pagoda itu mengangguk,
"prajurit... apa yang kalian tunggu!!! cepat buka gerbang nya, undangan Adipati Zhou Yun telah tiba," teriak Dewa penjaga pagoda itu, sambil berusaha berjalan.
para prajurit itu berlarian dan membuka gerbang kota lebar-lebar, yang awalnya hanya terbuka beberapa meter saja.
***
kesalahan pahaman di perbatasan sampai di telinga Adipati Zhou saat langit mulai gelap, pria itu melangkah di ikuti oleh Zhou Chan dan di ikuti beberapa petinggi yang mengekor di belakang nya.
"kenapa Dewa bodoh itu tidak mampu membunuh mereka semua, darimana Kaisar Zhang mendapat pengikut yang mampu memukul seorang dewa hanya dengan beberapa jurus saja, cari tahu orang itu dan janjikan apapun yang di inginkan nya asal bersedia menjadi orang ku," guman Adipati Zhou tanpa melambatkan langkah nya.
Adipati Zhou dan para pengikutnya berhenti sesaat di luar aula tamu yang begitu megah, kepalanya mengangguk seperti isyarat agar para pengikutnya tidak ikut masuk ke aula itu.
Adipati Zhou Yun sedikit membungkuk dan mempercepat sedikit langkah nya, dan setengah berlutut di hadapan wanita tinggi yang masih membelakangi nya.
"Yang Mulia... maafkan atas kesalahpahaman ini, aku benar-benar tidak mengerti cara pikir seorang dewa," ucap Adipati Zhou dengan senyum getir nya memperlihatkan gigi depan nya yang begitu rata.
"hahaha.... salah paham?" terdengar tawa Zhang Rui menggelegar di ruangan itu.
Zhang Rui berbalik menatap Adipati Zhou Yun dan sedikit membungkuk kan badan nya agar bisa lebih dekat dengan Adipati Zhou yang setengah berlutut.
"kalian berani sekali menyerang rombongan kami, tidak tahu kah apa arti nya itu? kau bisa kehilangan kepala dan seluruh keluarga mu, jika aku memperpanjang masalah ini hingga ke Kaisar zharzantium," ucap Kaisar Zhang Rui sambil tersenyum licik.
Adipati Zhou memejamkan matanya dalam-dalam, tampak rahangnya bergeretak,
__ADS_1
"Yang Mulia...... itu tidak benar, hamba tidak akan berani, mohon ampuni keluarga ku, kau boleh mengambil kepala ku atas kesalahan ini," ucap Adipati Zhou Yun dan bersujud di kaki Zhang Rui.
"tidak ku sangka kau begitu licik pria tua, baiklah... cepat hentikan drama yang sedang kau mainkan ini sekarang juga, kita berdua tahu apa yang sedang kau lakukan di daerah perbatasan ku, pencurian dan banyak kejahatan terutama kekejaman terhadap para wanita," ucap Zhang Rui.
Adipati Zhou Yun tersenyum sambil kening nya masih menyentuh lantai,
"Yang Mulia... berhati-hatilah, ucapan tanpa bukti tidak pantas di ucapkan oleh Kaisar sebesar anda," ucap Adipati Zhou Yun dan kini sudah mengangkat kepalanya.
Zhang Rui mengepalkan tangannya dan mencoba tersenyum,
"baiklah... aku akan melupakan insiden di perbatasan tadi siang, tapi berikan aku alasan untuk melupakan peristiwa itu," ucap Kaisar Zhang Rui.
"hihihi..... kau benar-benar Kaisar yang agung, tidak diragukan lagi kekaisaran Wang akan semakin besar jika di pimpin oleh Kaisar sehebat anda, tentu saja aku akan membayar dengan harga yang pantas sebagai penebus kesalahan kami, tapi mohon Yang Mulia bersabar untuk beberapa hari lagi," ucap Adipati Zhou Yun tersenyum.
Kaisar Zhang Rui mengangkat dagu Adipati Zhou Yun sehingga kini mereka bertatapan,
"kau akan menyesali nya rubah tua, aku pastikan kau tidak akan pernah tenang dalam kuburan mu," ucap Kaisar Zhang Rui begitu pelan.
Adipati Zhou Yun hanya tertawa dengan gigi rata yang dirapatkan,
"tentu saja Yang Mulia.... tentu saja," balas nya pelan.
****
di rumah sederhana jauh dari pemukiman desa.
tangan seorang wanita sedang memegang tangan Xiao Zhou, dan seorang pria berambut panjang melayang tidak jauh dari tempat mereka, hanya diam dan memperhatikan kedua orang itu.
"apa aku akan mati di sini?" guman Park Min Ji, tampak rasa tidak percaya waktu nya akan tiba.
__ADS_1
"kematian hanyalah pintu menuju ke alam lain, jadi di mana pun tidak ada bedanya, tidak ada yang perlu di cemaskan," ucap Xiao Zhou dingin.
"bocah bodoh.... kata-kata mu begitu kejam, bicara lah seperti orang seusia mu, seharusnya kau menenangkan orang yang sudah sekarat seperti ku, bukan mengatakan yang sebenarnya," ucap Park Min Ji menatap Xiao Zhou dengan kesal.