
Xiao Zhou hanya membeku melihat Yu Jin tua, dan menatap begitu marah kepada Sang Pengganti, karena untuk pertama kalinya dirinya tidak bisa bertarung saat tubuh nya masih begitu siap.
"ayah..." hanya itu yang keluar dari bibir Xiao Zhou, dan menatap penuh kemarahan ke arah sang pengganti, dan tidak ada yang dipikirkan nya lagi selain keselamatan ibu angkatnya.
Xiao Zhou mengangguk,
"aahhh... baiklah, bedebah pengecut.... bagaimana kau akan menepati janji mu?" tanya Xiao Zhou.
"hemm bagus... jika kau pergi ke gerbang itu, aku Zhou Lan bersumpah akan melepaskan istri Yu Jin tua dan anak yang di kandung nya dengan selamat," ucap Sang Pengganti sambil menunjuk gerbang menuju pulau tingkat ke tiga.
pedang semesta perlahan menghilang dari genggaman Xiao Zhou, dan memegang bahu Yu Jin tua agar berdiri.
"baiklah ayah... aku akan pergi," Xiao Zhou mengambil buah persik nya, dan melepaskan pakaian atas nya,
"ayah... tolong berikan buah ini pada penguasa, katakan padanya untuk menjadi wanita di menara itu, dan tidak bereaksi apapun sampai kedatangan ku, katakan padanya udara saat ini begitu dingin, jangan menggunakan baju tipis itu lagi, jaga ibu dan diri ayah baik-baik," bisik Xiao Zhou.
Xiao Zhou mundur beberapa langkah dan bersujud di hadapan Yu Jin tua,
"terima hormat ku ayah," ucap Xiao Zhou
tubuh Yu Jin tua bergetar air mata terus mengalir tidak berhenti.
"a-anak ku, kau sungguh anak yang berbakti," ucap Yu Jin tua dan berlutut, dan memeluk pakaian Xiao Zhou, saat Xiao Zhou melewati gerbang menuju pulau tingkat ke tiga,
__ADS_1
Sang pengganti tersenyum penuh kemenangan, saat Xiao Zhou keluar dari pulau tingkat ke dua, pedang kematian bergetar dan lenyap mengejar tuan nya.
Sang Pengganti membuat segel di gerbang itu, dan melangkah mendekati Yu Jin tua.
"Tua bangka.... kau tidak perlu ke istana, dan jangan pernah bicara apapun, ingat katakan saja jika putera mu ingin pergi ke dunia luar," ucap sang pengganti dan meninggalkan tempat itu tanpa meninggalkan bukti apapun.
*****
sore itu Ratu Xhin Ye sedang berdandan di depan cermin nya, tatapan nya begitu kosong entah apa yang sedang mengisi benaknya.
jemari kurus dan kuku runcing yang mengkilap, mengusap liontin putih di bawah lehernya membuat nya sedikit mendapat ketenangan.
"hari ini aku akan menyampaikan berita bahagia ini," guman Ratu Xhin Ye sambil tersenyum.
"suami... apa kau tidak bisa melihat perubahan pada tubuh istri mu ini?" ucap Ratu Xhin Ye tersenyum indah seperti sedang latihan di depan cermin.
beberapa dayang dan pelayan pria telah menyiapkan makanan di ruang makan, seperti sedang mengadakan perayaan besar.
**
langit sudah gelap Ratu Xhin Ye dengan wajah murung nya menatap ke arah gerbang menuju pulau tingkat ke tiga, karena pohon itu ada di dekat gerbang menuju pulau tingkat ke tiga.
"tidak.... suami ku pasti berlatih di telaga terlarang, atau minum dengan guci bodoh nya di suatu tempat tersembunyi," batin Ratu Xhin Ye saat para pengawal nya tidak menemukan Xiao Zhou di semua tempat, tampak kekhawatiran begitu terlihat di wajah nya.
__ADS_1
cincin pasangan nya juga tidak bisa memberi tahu tempat Xiao Zhou berada saat ini
hampir tengah malam Yu Jin tua kembali dengan langkah gontai, rambut acak-acakan, wajah bengkak, dan noda darah kering di seluruh wajah nya.
Yu Jin tua memasuki halaman rumah nya, saat seorang wanita cantik sudah berdiri, di temani seorang pria berusia 40 tahun, dan seorang pria gemuk dengan wajah penuh jambang dan alis yang besar, menatap kearah nya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"ayah mertua apa yang terjadi dengan mu?" ucap wanita itu mendekati Yu Jin tua dengan wajah khawatir.
Yu Jin tua hanya membeku, tubuh nya kembali bergetar menatap Sang Pengganti yang juga sedang menatap kearah nya dengan wajah tegang.
"ayah mertua?" ucap Ratu Xhin Ye lagi, membuat sang pengganti memalingkan wajahnya agar Yu Jin tua tersadar.
"ahhh.... menantu kau datang rupanya, duduk lah," ucap Yu Jin tua berusaha menyembunyikan wajahnya yang bengkak, satu tangan nya merapikan beberapa rambut yang menutupi wajahnya.
mata Ratu Xhin Ye terbelalak saat melihat benda di tangan Yu Jin tua, yang terlihat mirip pakaian yang di beli nya di kota huangdong, dan dengan secepat kilat merampas dari tangan Yu Jin tua, dan meraih benda itu dengan tangan gemetar, dan begitu tergesa-gesa serta sedikit kasar karena tidak sabar membuka lembaran kain, tangan nya seperti membeku saat sebuah buah persik naga jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah kaki nya.
jari-jari tangan nya dengan cepat menutup bibir indah nya, air matanya menetes deras karena sudah tidak dapat di bendung sedari tadi, tangan bergetar nya membentang kan kain yang di rampas dari tangan Yu Jin tua, matanya terbelalak saat melihat darah dan sobekan besar di bagian dada pakaian itu.
"de-demi Kaisar Dewa, ayah mertua.... katakan apa yang terjadi pada suamiku!!!!!" teriak Ratu Xhin Ye yang sudah tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
"penguasa.... duduk lah dulu," ucap Yu Jin tua.
Isak tangis Ratu Xhin Ye terus terdengar dan semakin kencang.
__ADS_1
"tidak.... tidak.... hentikan..... aku datang bukan untuk itu, aku datang untuk suami tercinta ku, aku mohon ayah mertua, tolong jangan membuat menantu mu yang sedang hamil ini berpikiran yang tidak-tidak tentang suamiku ayah mertua," teriak Ratu Xhin Ye, dan berlutut di depan Yu Jin tua, dengan derai air mata hebat, bahkan air di hidung nya pun ikut mengalir deras, membasahi bibir merah nya, dan Ratu Xhin Ye sudah tidak mempedulikan penampilan nya lagi.
Semua menatap Ratu Xhin Ye, dan tidak percaya apa yang di dengar nya, bahwa Ratu Xhin Ye sedang hamil.