Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
gagal


__ADS_3

malam itu Xiao Zhou sedang merenung di ruang baca nya,


"aku harus bisa menghentikan sang pembunuh Dewa, bagaimana dengan penjaga pulau? apa tetua Zhifu mampu menghadapi nya? tapi hawa sang pembunuh dewa sangat berbeda dari sebelumnya aku tidak yakin tetua Zhifu mampu," batin Xiao Zhou dan mengingat akan akar jiwa Dewa kuno mou lu.


"aku akan menyerap jiwa mou lu seutuhnya," batin Xiao Zhou dan masuk ke alam him Sui.


Xiao Zhou memejamkan matanya, melakukan hal yang sama seperti saat pertapaan pertama nya.


Xiao Zhou mulai memfokuskan pikiran nya pada Dewa kuno mou lu.


testttt......


setahun berlalu di alam him Sui, mata Xiao Zhou tiba-tiba terbuka,


"apa yang terjadi? aku sama sekali tidak dapat menyerap jiwa Dewa Mou lu, pedang semesta apa kau tahu apa yang terjadi?" tanya Xiao Zhou dalam pikirannya.


"kau tidak akan bisa menyerap jiwa suci Dewa kuno di bawah bayangan waktu, tuanku harus bertapa di bawah waktu yang sebenarnya, berbeda dengan Dewa iblis, Dewa iblis memiliki sifat seperti bayangan, maka akan lebih baik jika tuanku bertapa di tempat ini, dan juga saat ini pikiran mu belum searah dengan pemikiran Dewa kuno, aku harus banyak belajar," ucap pedang semesta.


"waktu ku tidak akan cukup jika bertapa di bumi," batin Xiao Zhou.


"adakah yang bisa menghadapi sang pembunuh dewa," tanya Xiao Zhou.


"tidak banyak, jiwa Dewa kuno mou lu, salah satu nya," ucap pedang semesta.


"bagaimana dengan mu?" tanya Xiao Zhou.


"hemm.... jika kau mampu mengendalikan seluruh kekuatan ku, sang pembunuh dewa hanya akan terlihat seperti ayam peliharaan penduduk suku bul-bul," ucap pedang semesta.


"bantu aku menguasai kekuatan mu pedang semesta," ucap Xiao Zhou.


"tentu saja, meskipun tidak mungkin tapi kau adalah majikan ku, sudah tugas ku untuk membantu mu, dan membuat mu tetap hidup," ucap pedang semesta.


"apa maksud mu tidak mungkin?" tanya Xiao Zhou.

__ADS_1


"tehnik pedang mu hampir sempurna saat ini, tapi kau memerlukan setidaknya tiga sampai empat ribu tahun untuk bisa menggunakan seirama dengan kemampuan ku," ucap pedang semesta.


"jika tuanku menggunakan aku sekarang, gerakan anda masih sangat kaku, karena energi ku jauh di atas anda itu akan membuat banyak lubang untuk menembus anda, atau pun untuk lawan melepaskan diri dari serangan anda," ucap pedang semesta lagi.


"baiklah kita akan mulai," ucap Xiao Zhou, mengabaikan ucapan pedang semesta.


"tidak tuanku... tidak di tempat ini, aku hampir sama dengan jiwa suci mou lu, hanya bisa di pelajari di bawah waktu yang sesungguhnya, bukan di bawah bayangan roda waktu, alam mu ini adalah di bawah bayangan roda waktu, bukan waktu yang sesungguhnya nya," ucap pedang semesta.


"saat di mimpi itu kemampuan sang pembunuh dewa begitu tinggi, kau harus segera menyempurnakan jurus nyanyian pedang kematian mu " ucap pedang semesta lagi


****


seorang wanita duduk di atas ranjang dengan memeluk kedua kakinya yang di tekuk, wajah nya terlihat begitu hampa, tidak ada semangat sedikit pun di wajah lemas itu.


seorang pria sepuh mendekati nya dan menyentuh pundak nya dan duduk di samping nya, keduanya hening untuk beberapa saat.


"hemm... Puteri ku ada pemuda mencari mu, apa kau tidak ingin menemui nya?" tanya pria sepuh itu yang tidak lain adalah Lou fang.


wanita itu hanya menggeleng,


"maafkan aku ayah angkat, aku sudah membuat ayah khawatir,"'ucap Jung Min Ha.


"aahhh... seorang puteri memang akan selalu membuat ayah nya khawatir hahaha... baiklah Puteri ku berpikir lah lebih dewasa dan cobalah menerima kenyataan, meski kenyataan itu sangat sulit," ucap Lou Fang mengelus kepala Jung Min Ha dan meninggalkan nya.


****


beberapa hari telah berlalu, di sebuah rumah kecil di dekat aliran sungai jernih, Xiao Zhou berlatih pedang, tempat itu cukup jauh dari istana nya,


tetapi tidak ada peningkatan yang berarti di rasakan oleh Xiao Zhou.


seorang wanita itu dan pria sepuh mendekat ke arah nya.


"Dewa kebijaksanaan," ucap Xiao Zhou membungkuk dan memberi hormat.

__ADS_1


"Zhou'er menantuku kau tidak perlu terlalu sungkan, panggil aku ayah mertua," ucap Dewa Kebijaksanaan.


ketiga nya duduk, dan mulai berbincang, Li Mei yin menuangkan teh ke dalam cawan yang ada di meja mereka.


"Zhou'er aku sudah mendengar dari saudara Li tentang penglihatan Puteri ku, kau tidak perlu cemas, kami para dewa walaupun tidak bisa merubah semua itu, kami pasti punya cara untuk menyelamatkan Kaisar kami, pertempuran itu ada di langit dan kau tidak perlu berlatih terlalu keras untuk membantu langit," ucap Dewa Kebijaksanaan.


"ayah mertua apakah mimpi itu tidak bisa di rubah?" tanya Xiao Zhou yang mengingatkan kejadian terdahulu, tentang mimpi kematian istri-istri nya.


"haha... ini bukan bayangan masa depan menantu, Puteri ku memiliki kemampuan untuk melihat kejadian di masa depan yang tidak bisa di rubah oleh siapa pun," ucap Dewa kebijaksanaan.


Xiao Zhou hanya mengangguk,


"baik ayah mertua, maafkan aku tidak dapat menolong mu di langit, tapi walaupun tidak sekuat para dewa, tapi aku akan berusaha meningkatkan kemampuan untuk melindungi keluarga ku ayah mertua," ucap Xiao Zhou.


"hemmm.... kau benar, kau sebagai suami harus mampu melindungi keluarga mu, aku bangga memiliki menantu seperti mu," ucap Dewa Kebijaksanaan.


"oh ya, hari ini aku begitu bahagia, aku akan menjadi seorang kakek, di sisa waktu ku aku akan sering mengunjungi cucu ku," ucap Dewa Kebijaksanaan, sambil mengelus kepala Li Mei yin.


"Ayah... aku mohon jangan bicara seperti itu, aku tidak ingin ayah pergi," ucap Li Mei yin wajah nya terlihat suram.


"hahaha.... Puteri ku dengarkan ayah mu yang sudah tua ini, ayah sudah hidup begitu lama, dan di akhir hidup ayah akan melihat cucu pertama ayah, itu sudah lebih dari cukup, sayang nya adik mu Fei yu begitu keras kepala dan belum menikah sampai saat ini," ucap Dewa Kebijaksanaan.


"maafkan aku ayah, aku sudah melihat yang seharusnya tidak di lihat," ucap Li Mei yin.


"kami sudah merahasiakan semua ini dari para dewa, jika ini tersebar akan terjadi kekacauan besar, kau tidak salah Puteri ku, bahkan kami sangat beruntung dengan penglihatan mu itu, kami bisa mengisi waktu-waktu terakhir kami dengan kebahagiaan, dan kami akan mati tanpa penyesalan, dewa pengetahuan sudah mewariskan kitab dan ilmu nya pada putera Yun Li Wei, kami sangat beruntung," ucap Dewa Kebijaksanaan.


"ada satu hal lagi menantu dan kau Puteri, sebelum aku pergi ada yang ingin aku tanyakan, apakah kalian yakin orang itu adalah sang pembunuh dewa?" tanya Dewa kebijaksanaan.


kedua pasang mata suami istri itu melebar, dan saling menatap.


"aku tidak melihat wajah nya ayah, aku hanya melihat dari belakang, dari belakang aku melihat jenggot nya yang tersapu angin, aku merasakan hawa yang hampir sama dengan hawa yang di keluarkan Zhou'er," ucap Li Mei yin


hari sudah siang, Dewa kebijaksanaan dan Li Mei yin meninggalkan Xiao Zhou.

__ADS_1


****


__ADS_2