Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
Mimpi Ratu Xhin Ye


__ADS_3

Ratu Xhin Ye tidak dapat melanjutkan langkahnya, kakinya begitu lemas, dan berlutut di hadapan Xiao Zhou, wajah nya tertunduk matanya masih tidak menatap Xiao Zhou.


"Ye'er apa yang kau lakukan? tidak kah kau ingin menghajar ku?" tanya Xiao Zhou.


"tidak jangan mendekati ku, dan aku tidak akan menatap mu, karena jika aku menatap mu tubuh mu akan perlahan menghilang, ini mimpi yang berulang-ulang, kau selalu menghilang saat aku menatap mu dalam mimpi ini, diamlah di sana aku ingin merasakan kau di samping ku," ucap Ratu Xhin Ye yang berpikir jika saat ini dirinya sedang bermimpi.


pasangan Yu Jin tua hanya bisa menangis menatap tingkah menantu nya itu, keduanya saling memeluk sambil menggendong seorang bayi lucu, hati mereka begitu bahagia melihat Xiao Zhou sudah kembali.


Xiao Zhou mendekati Ratu Xhin Ye dan menggendong nya, Ratu Xhin Ye masih tidak berani menatap Xiao Zhou, dan memejamkan matanya erat-erat, perlahan kedua tangan nya bergelantungan di leher Xiao Zhou.


kepala nya di rebahkan di dada Xiao Zhou,dan menghirup aroma tubuh suami nya, Xiao Zhou membawa Ratu Xhin Ye dan duduk di sebuah batu di samping buah persik naga nya.


Ratu Xhin Ye duduk di pangkuan Xiao Zhou dengan posisi kedua kakinya menyamping, nafas halus nya mulai terdengar.


"Ayah... ibu... aku senang kalian baik-baik saja," ucap Xiao Zhou.


"penguasa begitu merindukan mu, dia terlihat kelelahan yang sangat," ucap istri Yu Jin tua, sambil mengusap air matanya.


Yu Jin tua mengangguk,


"putera ku kau akhirnya kembali, ayah begitu bahagia, baiklah ayah dan ibumu akan pulang dulu, sebaiknya kalian bicara dulu, istri mu begitu menderita saat kau pergi, ayah akan menyiapkan pakaian yang baru untuk mu, karena sebentar lagi pakaian mu akan hancur karena kemarahan nya, kau meninggalkan nya tampa berpamitan," ucap Yu Jin tua menatap Ratu Xhin Ye yang terlihat tertidur nyenyak di gendongan Xiao Zhou.


"baik ayah, sebentar lagi aku akan mengunjungi kalian, ibu aku ingin melihat putera ku," ucap Xiao Zhou.


Dan bayi yang berselimut hangat itu melayang dan mendekat ke arah Xiao Zhou, dan bayi itu kini tidur di pangkuan Ratu Xhin Ye, dengan sekali lambaian tangan nya mereka bertiga sudah berada di ranjang mewah milik Ratu Xhin Ye.


Xiao Zhou menyelimuti tubuh istri dan putera nya,


"aku harus ke kota huangdong sebentar," ucap Xiao Zhou menatap ke arah Zhang Rui yang sedang tertawa terbahak menonton badut yang sedang di gelar.


****


di kota huangdong,


"hahaha... itu sangat menggelikan, aahhh perut ku sakit karena terus tertawa," ucap Zhang Rui, sambil mengelus perut bawah nya yang sedikit cembung, menatap kearah pangeran ke empat.


"terimakasih kau sudah menemani kami seharian," ucap Zhang Rui, matanya sedikit menyipit menatap seseorang yang berada jauh di belakang Pangeran ke empat,


mata Zhang Rui yang awalnya menyipit seketika terbelalak, dan mengenali pria yang berdiri jauh di belakang pangeran ke empat, bibir wanita itu sedikit bergetar, dadanya terasa berhenti.


Pangeran ke empat yang menundukkan wajahnya, dan tersenyum tipis, tidak menyadari perubahan wajah wanita di depan nya, mulai berani dan menggenggam jemari panjang milik Zhang Rui, dan meremas nya.


Melihat tidak ada reaksi penolakan dari Zhang Rui hati Pangeran ke empat bersorak,


"hemm... akhirnya kau sudah takluk juga, malam ini aku akan membawa mu ke ranjang," batin Pangeran ke empat dan mulai mengeluarkan rayuan nya dan tidak ingin kesempatan ini hilang.

__ADS_1


"aku begitu senang melihat mu tertawa, kau terlihat begitu cantik dan menggairahkan malam ini nyonya, bagaimana jika kita menghabiskan malam ini dengan tenang, dan hanya berdua," ucap Pangeran ke empat, tersenyum senang


Zhang Rui sudah tidak mempedulikan tangan nya di pegang oleh Pangeran ke empat, matanya masih menatap pemuda di belakang Pangeran ke empat, dan tidak mendengar apapun di tempat itu, pikiran nya begitu kosong, yang ada dipikirannya hanya orang di belakang Pangeran ke empat.


"aku begitu merindukan mu," guman Zhang Rui tanpa sadar, dan orang yang berada di belakang Pangeran ke empat itu pun melangkah pergi.


Pangeran ke empat begitu kaget mendengar ucapan Zhang Rui, dan mengangkat wajahnya dan menatap mata wanita itu sedikit berair.


"benarkah kau merindukanku? nyonya sebaiknya kita tidak membuang waktu sedetik pun, kau sudah kesepian begitu lama, aku akan membahagiakan mu malam ini bahkan sampai pagi," ucap Pangeran ke empat.


Mata Zhang Rui berkedip-kedip seperti tersadar dan dengan cepat menarik tangan nya,


"Yang Tian bisakah kau membawa putera ku kembali ke istana, malam ini aku sedikit ada urusan," ucap Zhang Rui seperti terburu-buru.


Mata Zhang Rui menatap sekeliling mencari keberadaan seseorang, tetapi tidak melihat nya.


Yang Tian menggendong Putera Zhang Rui dan melesat tanpa bicara apapun, Zhang Rui berdiri dari tempat duduknya merapikan sedikit rambut panjang nya, di ikuti oleh Pangeran ke empat.


Zhang Rui menahan dada Pangeran ke empat, agar tidak beranjak dari tempat duduknya.


"sebaiknya kau tetap di sini, aku tidak lama," ucap Zhang Rui dan melangkah meninggalkan Pangeran ke empat.


"hemm... wanita selalu ingin tampil sempurna dan harum di mata lelaki nya, apa kau ingin membersihkan milik mu itu agar harum, dan memberikan aku kejutan padaku? aku benar-benar menyukai kejutan, hahaha..." Pangeran ke empat membentang lengan nya merenggangkan tubuh dan duduk menunggu dengan tidak sabar.


****


Xiao Zhou melangkah gontai ke arah tepian Danau Biru, kepala nya menggeleng,


"tuanku.... kenapa anda membiarkan pemuda itu mendekati istri anda?" tanya pedang semesta.


"aku tidak bisa melarang nya pedang, apa yang di lakukan pria itu masih bisa di bilang wajar, aku tidak bisa melarang istriku berteman dengan siapapun, lagi pula kesetiaan hati dan cinta dari seseorang, aku tidak bisa memaksa orang untuk setia atau cinta kepada ku, meski aku menginginkan nya, dan aku juga ingin menguji kesetiaan mereka padaku," ucap Xiao Zhou menghela nafasnya.


"tapi jika orang itu melakukan paksaan, atau tipu daya, maka aku akan membunuhnya," ucap Xiao Zhou, dengan acuh nya.


"tuan anda sudah membunuh keledai itu, kenapa anda seperti masih begitu muram?" tanya pedang semesta.


"Pedang... kau sangat tahu apa yang aku pikirkan saat ini pedang," ucap Xiao Zhou menatap ke arah Kekaisaran Ming.


di sebuah goa yang di penuhi semacam jaring laba-laba, namun jari itu terbuat dari semacam usus yang di dalamnya mengalir darah.


di pusat jaring laba-laba itu terdapat sesuatu yang terbungkus kulit tipis yang berlendir, seukuran manusia yang meringkuk, dan mulai berdetak serta menggeliat.


"tentu tuan, tapi itu bukan lah apa-apa di hadapan anda," ucap Pedang Semesta.


"aku tahu..... tapi mahluk itu begitu jahat, dan keji, aku bahkan bisa merasakan kebencian nya begitu mengakar kepada ku, aku hanya khawatir apa yang akan di lakukan nya kelak," ucap Xiao Zhou.

__ADS_1


"jika seperti itu anda bisa membunuhnya saat ini sebelum terjadi masalah kelak," ucap pedang semesta.


"hehe... semua ada aturan nya pedang, kau tidak bisa membunuh seseorang hanya karena dia membenci mu, kau bisa membunuh jika mereka sudah melakukan sesuatu," ucap Xiao Zhou dan pandangan nya sesekali ke alam langit.


"aahhh... patah tumbuh hilang berganti, ini begitu memuakkan," guman Xiao Zhou dan menengguk isi guci nya dan berjalan dengan langkah gontai nya, menuju bulan yang baru muncul di atas danau biru.


****


"Paman Yang Tian kenapa aku harus pulang bersama mu," ucap putera Zhang Rui.


"ibumu sedang ada urusan dengan pemuda tadi tuan kecil," ucap Yang Tian.


"Paman.... apa paman tidak memiliki anak?" tanya putera Zhang Rui.


"Aku seorang pendeta tuan kecil, aku tidak memiliki anak," ucap Yang Tian tanpa ekspresi.


Anak kecil itu hanya mengangguk, dan tidak mengerti maksud dari Yang Tian yang menjawab sekedar saja.


"paman... apa ibuku masih lama?" tanya putera Zhang Rui.


"itu urusan orang dewasa, aku tidak tahu tuan muda," ucap Yang Tian.


****


"aaahhh.... aahh... pe-lan lah,... aku tidak kemana-mana, aku sudah begitu lama merindukan hal seperti ini, dan juga sudah begitu basah," bisik seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi sedang duduk di atas meja, kedua paha berisi dan panjang nya terlihat, karena gaun hitam nya sudah melorot ke pangkal paha itu, dan bibir keduanya sedang beradu saling bertukar ludah dengan liar nya, wanita itu tidak lain adalah Zhang Rui.


******* wanita itu samar-samar terdengar dari sebuah gubuk di tempat para nelayan beristirahat pada siang hari, namun saat malam gubuk-gubuk itu kosong, gubuk itu hanya di terangi sebuah lentera yang memang si siapkan jika mereka sedang ingin mencari ikan saat malam hari.


Wanita cantik itu sedang mengapit seorang pria, yang sedang menciumi leher panjang nya, dan pria itu menarik sedikit bokong besar wanita itu sedikit lebih kepinggir meja, wanita itu hanya bisa pasrah kepala nya sedikit mendongak karena ciuman di lehernya.


Tangan kiri pemuda itu begitu terampil seperti sedang melakukan sesuatu di pangkal paha wanita itu, dan


"haakkk.... mmmhhh..... eessss..."


tiba-tiba terdengar pekikan dari bibir nya, matanya terpejam meresapi semua kenikmatan yang mulai menjalar, kedua nya terdiam untuk sesaat, dan tubuh besar wanita itu mulai bergetar, bibirnya sedikit terbuka dan terus mengeluarkan lenguhan yang seperti di tahan, nafas nya mulai berat, dan lenguhan terus keluar seiring dengan nafas yang tersengal-sengal.


"aaahhhhsss... ka-u benar- benar sudah memasukkan nya, aahhsss," ucap kening nya sedikit berkerut, menahan sedikit nyeri dan nikmat di saat bersamaan,


"maafkan aku, apakah aku menyakitimu?" tanya pria itu


Kedua kaki Zhang Rui melilit bokong pria yang ingin mencabut benda nya,


Zhang Rui sedikit menggeleng,


"tidak apa-apa, aku menyukai nya, teruskan!! bergerak lah dengan pelan.... eehhhh,"

__ADS_1


__ADS_2