Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
kuil tua


__ADS_3

"Lepaskan" ucap puteri mendorong tubuh xiao zhou dengan tatapan kesal.


"sebaik nya kau kembali ke desa aku mencium bau amis darah di sekitar sini," guman xiao zhou


mendengar ucapan xiao zhou mata puteri melebar,


"aku ikut kau bocah" ucap Puteri Ming Mei.


di balik hutan bambu itu terdapat sebuah kuil yang sudah sangat tua tetapi masih tampak terawat dan bersih, seorang biksu sepuh tanpa lengan kanan dengan kumis dan jenggot yang panjangnya, sedang duduk bersila dengan mata terpejam.


"Apa yang kalian inginkan?" suara biksu sepuh itu menggema sampai keluar kuil menghentikan orang yang sedang membantai.


Pemimpin penyerangan kuil itu seorang pria sangat tampan, berusia sekitar 40 tahun dengan hiasan mahkota kecil di kepala nya seperti layaknya seorang pangeran.


"apa kau Liu Chen?? tanya orang yang sepeti pangeran itu


"namaku adalah Goh Hui, tidak ada orang yang bernama Liu Chen di kuil ini" ucap Goh Hui, dan membuka matanya.


"namaku Long Fei aku adalah pangeran iblis, dan kau menyembunyikan sesuatu yang ku inginkan " ucap Long Fei


"aku akan menghentikan mu pangeran iblis," ucap Goh Hui.


kedua nya mulai bertukar jurus, sampai akhir nya pedang Long Fei berhasil menembus dada goh hui.


"huffff... " darah keluar dari bibir Goh Hui.


Long Fei mencabut pedang nya dari dada Goh Hui, dan menatap patung berukuran raksasa di tengah kuil itu.


Long Fei terbang ke atas sambil mengeluarkan energi qi nya, dan memukul ke arah patung tembaga berukuran raksasa yang berada dalam bangunan tersebut.


bammmm...


patung raksasa terbuat dari tembaga itu terhempas keluar menghancurkan bangunan kuil tua itu, Long Fei berdiri di atas bekas patung itu berada, dan mengambil sebuah pedang hitam dengan aura iblis yang sangat pekat.


"Pedang iblis." guman nya sambil tertawa, menatap pedang dengan hitam itu


pangeran iblis dan pasukan nya meninggalkan kuil dengan kuda mereka.


"Seperti nya kita terlambat," ucap Xiao Zhou yang melihat banyak mayat dan bangunan kuil yang sudah hancur.


Xiao Zhou melihat seseorang masih mengawasi dan segera mengejar orang tersebut.


"katakan siapa kalian dan kenapa kalian menghacurkan kuil ini" ucap Xiao Zhou.


"Aku adalah pengawal pangeran iblis, dan kau akan mati karena sudah berani mencampuri urusan kami," ucap orang itu mereka bertarung di udara.


puteri ming mei berlari mendekati biksu Goh Hui yang duduk bersila dengan luka menganga.

__ADS_1


"bertahanlah biksu"ucap Puteri Ming Mei, sambil mengeluarkan obat penyembuh.


biksu Goh Hui menggelengkan kepala nya,


"tidak perlu nona.... waktu ku sudah tiba, terimalah ini... semoga kau berjodoh dengan benda ini," ucap Goh Hui, menyerahkan sebuah lencana batu kepada Puteri Ming Mei Mei.


"benda apa ini biksu?" tanya Puteri Ming Mei, sambil menatap benda yang diberikan oleh Biksu itu.


"aku sendiri tidak tahu nona, tapi benda itu memiliki kekuatan yang misterius." ucap nya lagi dan biksu itu menutup mata nya dan tewas.


Puteri Ming Mei melihat benda tersebut mirip sebuah lencana pengenal yang sudah usang, wanita itu pun menyimpan nya.


"apa kau berhasil menangkap nya?" tanya Puteri Ming Mei ke arah Xiao Zhou.


"kultivasi ku tidak terlalu kuat orang itu sudah pergi" jawab xiao zhou acuh.


"Sebaik nya kita mengubur mereka." ucap Puteri Ming Mei,,,


hari sudah mulai gelap Xiao zhou dan Puteri Ming Mei selesai mengubur semua mayat di kuil itu.


"sebaik nya kita segera kembali." ucap xiao zhou


Dalam perjalanan Puteri Ming Mei memperlihatkan lencana itu kepada Xiao Zhou.


"apa kau tau ini?" tanya Puteri Ming Mei sambil menatap ke arah Xiao Zhou.


Xiao Zhou menerima lencana tersebut, dan memerhatikan dengan teliti.


Xiao Zhou mengenal suara berat itu merupakan suara milik tungku batu.


"Lencana ini?" guman xiao zhou.


"pantas saja terasa tidak asing," batin nya lagi


Puteri Ming Mei melihat kalau xiao zhou menginginkan lencana itu,


"kembalikan" ucap Puteri Ming Mei


Dengan seperti tidak rela Xiao Zhou mengembalikan lencana tersebut ke tangan Puteri Ming Mei.


"Apa kau ingin tahu dimana aku mendapatkan nya?" tanya puteri memancing reaksi Xiao Zhou.


Xiao Zhou hanya menganggukan kepala dengan senyum begitu semangat, membuat Puteri Ming Mei tertawa dalam hati dan tersenyum.


"anak ini masih terlalu polos" batin Puteri Ming Mei.


"ini milikku yang sangat berharga" ucap puteri memancing perasaan Xiao Zhou lagi, sambil melempar-lempar lencana itu ke udara.

__ADS_1


Mata Xiao Zhou mengikuti arah kemana lencana itu bergerak seperti kucing melihat mainan yang bergerak-gerak, Puteri Ming Mei sangat puas melihat reaksi xiao zhou yang lucu di mata nya, dan otak nya mulai menemukan ide.


sesampai nya mereka di di gerbang desa.


"Aku akan memberikan padamu" ucap Puteri Ming Mei


wanita cantik itu melempar lencana ke arah Xiao Zhou, membuat pemuda itu sedikit gugup, dan menangkap lencana itu sambil memegang nya erat.


"benarkah?" ucap xiao zhou wajah nya begitu gembira.


"cih.. lihat wajah mu itu," ucap Puteri Ming Mei mengejek Xiao Zhou.


Xiao Zhou tidak peduli ejekan dari Puteri Ming Mei, baginya lencana itu begitu berharga dan terus menatap benda itu dengan mata berbinar dan senyum di bibir nya.


"'Terima kasih puteri," ucap Xiao Zhou sambil memeluk tubuh puteri ming mei, penduduk desa yang melihat itu pun diam menatap ke arah mereka berdua.


Puteri Ming Mei yang awal nya merasakan harum hembusan nafas Xiao Zhou di leher nya merasa bergetar merinding, kulit nya menjadi sangat sensitif dan ingin membalas pelukan pemuda itu, tetapi mata nya terbuka dan melihat penduduk menatap mereka dengan tatapan mencemooh.


bukkk....


bukkkk...


puteri ming mei menghajar Xiao Zhou dengan garang karena malu.


"bocah bodoh....siapa yang mengizinkan kau memelukku hah?" teriak Puteri Ming Mei, dengan mata melebar.


"rasakan ini " teriak Puteri Ming Mei.


bukkkk...


bukkkk....


Puteri Ming Mei kembali menginjak-injak tubuh xiao zhou, karena malu tubuh nya di peluk seorang pemuda di hadapan banyak orang.


penduduk pun pergi meninggalkan mereka berdua dan kasihan melihat Xiao Zhou, tidak ada penduduk yang berani mendekat lagi.


"maafkan aku puteri" hanya itu keluar dari bibir Xiao Zhou.


"baiklah bocah.. kali ini kau, aku maafkan," ucap Puteri Ming Mei.


"aku memberimu lencana itu tidak dengan cuma-cuma, ada 2 syarat yang harus kau penuhi," ucap Puteri Ming Mei.


"hemmmm... baiklah puteri dua syarat," ucap Xiao Zhou tanpa berpikir menyetujui nya, sambil memperlihatkan dua jari panjang nya,


"selama itu tidak bertentangan dengan prinsip ku, akan ku lakukan, tapi jika tidak sesuai aku akan mengembalikan lencana mu ini," ucap Xiao Zhou


"katakan apa syarat mu?" tanya xiao zhou lagi

__ADS_1


"saat ini belum terpikirkan oleh ku, nanti aku akan memberi tahu mu lagi" ucap puteri Ming Mei.


"baiklah... aku akan menunggu mu," ucap Xiao Zhou sambil berjalan acuh meniggalkan Puteri Ming Mei.


__ADS_2