
Seorang remaja berwajah dingin, dengan kristal biru di kening, malam itu mengenakan jubah hitam, tampak jubah itu menggunakan bahan yang sedikit kaku, dan melebar pada bagian bawah nya, serta begitu panjang melewati mata kaki nya.
jubah itu memiliki banyak lipatan secara vertikal dari bawah sampai pinggang pemuda itu, dengan motif segitiga keemasan pada ujung bawah nya dan berjejer begitu rapi pada setiap lipatan itu, ikat pinggang lebar membuat pemuda itu terlihat begitu agung dengan tinggi yang ideal dan tampak menjulang.
pakaian tengah nya yang berwarna putih menutupi leher bersih nya, di balut jubah hitam ketat di bahu, dan lengan jubah lebar dengan motif yang sama, rambut kecoklatan nya yang sedikit panjang membuat nya benar-benar seperti berlian indah di atas kain beludru hitam.
Ratu Xhin Ye yang masih menatap Sang Pengganti, dan menyadari telah terjadi sesuatu yang membuat aula agung nya menjadi hening, dan perlahan mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Ratu Xhin Ye menatap wajah dari orang-orang di aula itu, terutama para wanita yang bibir mereka sedikit terbuka, dengan wajah memerah, dan akhirnya menemukan penyebab nya, wajah Ratu Xhin Ye tidak kalah terkejut dari wanita-wanita lain nya itu, dan dada nya berdetub kencang
Mata Ratu Xhin Ye melebar saat mengetahui penyebab keheningan itu adalah penampilan seorang pemuda di tengah-tengah aula agung yang melangkah pelan menuju ke arah nya dengan begitu tenang, dan tanpa ekspresi yang berlebihan, membuat bibir indah Ratu Xhin Ye memperlihatkan gigi samping nya yang agak runcing.
"Sang Pengganti... apa yang kau maksud, adalah pemuda itu?" tanya Ratu Xhin Ye yang masih menatap Xiao Zhou.
Wajah Sang Pengganti sedikit memucat, tidak menyangka pemuda yang di maksud nya begitu berani memasuki aula agung, dan menunjukkan kemesraan mereka di depan umum.
"apa mereka sudah gila? menunjukkan perselingkuhan mereka di depan umum," batin Sang Pengganti dan menyipitkan matanya.
"siapa pemuda ini? tidak... ini tidak mungkin!!!" ucap Sang Pengganti, saat mulai mengenali wajah pemuda itu.
"kau benar... dia adalah suamiku, awal aku juga tidak menduga wajah nya seperti ini, jadi katakan padaku sang pengganti apa aku salah melakukan itu dengan suami ku sendiri?" tanya Ratu Xhin Ye dan berbalik menatap Sang Pengganti.
"maafkan aku penguasa, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Sang Pengganti menundukkan kepalanya, rahang bawah nya terlihat bergerak-gerak.
Ratu Xhin Ye menggelengkan kepalanya dan mendekati Sang Pengganti
"Zhou Lan apa yang terjadi padamu? aku sudah tidak mengenal mu lagi saat ini, tapi... bagaimana pun juga, aku harus berterimakasih padamu, kau sudah menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, dan kau.... telah meyakinkan aku saat ini, bahwa aku sudah memilih orang yang tepat sebagai suami, dan nyaris saja aku melakukan kesalahan dengan memilih mu sebagai suami ku," ucap Ratu Xhin Ye, sengaja berbohong.
Sang pengganti menjadi beku mendengar kebohongan Ratu Xhin Ye dan mempercayai nya, yang hampir memilih nya sebagai suami, hati nya terasa hancur, mengingat mimpi nya hampir menjadi kenyataan, dan lenyap saat begitu dekat di depan matanya, rasa benar-benar benci mulai menyeruak dari dalam kepada Xiao Zhou.
Xiao Zhou sudah berdiri di belakang Ratu Xhin Ye
"Ye'er.... jika acara nya sudah selesai, sebaiknya kita pulang," ucap Xiao Zhou, mata kecil nya berkedip pelan.
semua orang di tempat itu begitu terkejut mendengar ucapan pemuda itu, dan menyipitkan matanya mengingat pemuda dengan wajah penuh dengan kerak abu naga beberapa bulan lalu.
sudut bibir Ratu Xhin Ye melengkung ke atas, dan alis terangkat, masih menatap ke arah Sang Pengganti, yang tetap menunduk.
"suara mu benar-benar membuat ku nyaman suami," batin Ratu Xhin Ye.
"tentu saja suami... tentu saja, kita akan pulang ke rumah kita," ucap Ratu Xhin Ye masih memunggungi Xiao Zhou untuk beberapa saat, dan berbalik menatap pemuda itu.
semua orang mulai berbisik, dan tersenyum melihat kemesraan pasangan itu.
Ratu Xhin Ye dapat mendengar pujian dari orang-orang itu bahwa mereka adalah pasangan yang begitu serasi, membuat nya lebih percaya diri berdekatan dengan Xiao Zhou
"aku tidak menyangka kau begitu gagah, dan lebih dewasa dengan pakaian resmi ini," ucap Ratu Xhin Ye seperti ingin menelan Xiao Zhou bulat-bulat.
keduanya melangkah meninggalkan aula itu, sambil bergandengan tangan, semua orang tertunduk hormat saat kedua orang itu melintas.
__ADS_1
****
sudah sebulan setelah malam ritual yang ke dua, Ratu Xhin Ye sudah tidak pernah memasuki aula agung lagi, dan tibalah hari dimana saat- saat terakhir nya bersama suami tercinta nya.
Xiao Zhou mengakhiri latihan pedang bulan nya, dan seorang wanita berselimut menutupi lengan dan kakinya sedang menungguinya dengan sabar di hutan persik tua, sesekali hembusan angin menghempaskan rambut panjang nya
terlihat wanita itu duduk di sebuah bangku lembut sedang begitu serius membaca sebuah kitab, dan wajah nya terlihat selalu ceria, mengingat apa yang di katakan tabib beberapa hari yang lalu.
"selamat penguasa anda akan segera menjadi seorang ibu," ucap tabib itu.
"selamat penguasa," ucap Beberapa pejabat perbintangan dan dayang di tempat itu.
tanpa di sadari air mata Ratu Xhin Ye keluar dengan deras, tangan nya bergetar dan perlahan menyentuh perut nya.
"suami..... a-aku akhirnya mengandung a-anak dari mu," ucap Ratu Xhin Ye, terdengar Isak tangis bahagia nya, dan ingin segera berlari menemui Xiao Zhou
"tunggu!!!! tabib dan semua orang yang ada di sini, tolong kalian semua merahasiakan tentang kehamilan ku, terutama kepada suami ku, aku ingin memberi kejutan untuk nya," ucap Ratu Xhin Ye tersenyum sambil menghapus air matanya.
"hohoho... tentu saja penguasa, tentu saja, ini kabar yang begitu menggembirakan, baiklah penguasa kami mohon diri, hamba sendiri yang akan membuatkan ramuan untuk menguatkan kehamilan anda, dan ini kitab untuk panduan ibu yang sedang mengandung," ucap tabib sepuh itu, terlihat begitu bersemangat.
"terimakasih tabib," ucap Ratu Xhin Ye yang terlihat begitu lembut hari itu dan hangat, sangat berbeda dari sebelumnya.
***
Xiao Zhou mendekati nya, dan membuyarkan lamunan indah itu, dan dengan cepat mengusap air mata bahagia nya, dan tersenyum indah ke arah Xiao Zhou.
"suami kau tidak pernah mengganti pakaian mu, sudah dua hari ini kau selalu menggunakan pakaian itu," ucap Ratu Xhin Ye berpura-pura kesal, menatap Xiao Zhou dan menutup kitab nya meletakkan di pangkuan nya.
"benarkah? aku membelikan mu di kota huangdong, itu pakaian yang mahal, dan kau suami ku yang pelit.. kau memberiku hanya sedikit uang," ucap Ratu Xhin Ye merajuk.
"hemm... kenapa bocah ini tidak menatap kitab di pangkuan ku?" batin Ratu Xhin Ye, yang sudah tidak sabar ingin membagi berita bahagia dengan suaminya.
Xiao Zhou hanya tersenyum, menatap pohon persik yang mulai mengeluarkan pucuk-pucuk daun nya.
"musim dingin akan segera berakhir," guman Xiao Zhou.
"kau benar suami, tapi suami bisakah kau mencarikan aku sebiji buah persik naga, aku ingin memakan nya," ucap Ratu Xhin Ye.
"tapi Ye'er.... kau bisa melihat nya sendiri, tidak ada satu pun pohon yang berbuah," ucap Xiao Zhou.
Ratu Xhin Ye hanya tersenyum, dan menggelengkan kepalanya.
"di dekat desa Fuzhu ada sebuah pohon persik naga tua, pohon itu selalu berbuah sepanjang tahun, kau akan mengambilkan untuk ku bukan?" tanya Ratu Xhin Ye.
"hemm... baiklah aku akan mengambilkan nya untuk mu," ucap Xiao Zhou, dan mengelus kepala Ratu Xhin Ye.
"tapi benarkah aku suami yang pelit?" tanya Xiao Zhou sambil mengeluarkan sebuah kalung berliontin putih kecil yang begitu cantik.
bibir Ratu Xhin Ye sedikit terbuka, matanya tidak berkedip menatap kalung di tangan Xiao Zhou.
__ADS_1
"su-ami apa itu untuk ku?" suara nya sedikit bergetar dan terputus-putus.
"he'eh...." Xiao Zhou mengangguk.
"awalnya seperti itu, tapi setelah kau menyebut ku pelit, jadi sebaiknya aku bersikap benar-benar pelit sekarang, lagipula saat ini kau sudah memakai kalung yang tidak kalah indah dari punyaku ini," ucap Xiao Zhou tersenyum dan berpura-pura memasukkan kalung itu ke dalam jubah nya.
"berikan padaku!!!!" ucap Ratu Xhin Ye, suaranya serak dan mata berkaca-kaca.
"suami kau dengar aku? berikan benda itu padaku!!" ucap Ratu Xhin Ye suara nya begitu pelan dan tampak begitu serius.
jari-jari kurus nya menarik kalungnya yang ada di lehernya dengan kasar, dan melempar nya begitu saja, air matanya sudah meleleh di pipinya.
Xiao Zhou sedikit terkejut dengan perubahan sikap Ratu Xhin Ye.
"Ye'er??? tenanglah... katakan apa yang terjadi?" tanya Xiao Zhou menatap Ratu Xhin Ye.
"aku tidak tahu suami, hanya saja aku begitu menginginkan benda itu saat ini, aku sangat bersedia menukar semua harta yang kumiliki dengan benda itu," ucap Ratu Xhin Ye.
"baiklah Ye'er... kau tidak perlu melakukan itu, terimalah!" ucap Xiao Zhou dan menyerahkan kalung itu.
tangan Ratu Xhin Ye bergetar menerima kalung itu, dan menatap sebentar dan mencium kalung itu sambil menangis sejadi-jadinya, dan memeluk Xiao Zhou.
Xiao Zhou menenangkan Ratu Xhin Ye, dengan mengusap kepala nya.
"maafkan aku suami, tapi tidak tahu perasaan ku begitu sensitif hari ini, bisakah kau memakaikan nya?" ucap Ratu Xhin Ye, dan mengangkat rambut belakang keatas kepalanya.
Xiao Zhou mulai memakaikan kalung cantik itu di leher Ratu Xhin Ye, wanita itu meraba liontin putih itu dengan senyum di wajahnya.
"suami kalung ini sangat cantik, meski tidak terlalu mewah tapi membuat ku begitu bahagia, ini adalah barang pemberian pertama dari mu, terimakasih suami," ucap Ratu Xhin Ye memeluk tubuh Xiao Zhou erat.
Xiao Zhou memegang wajah Ratu Xhin Ye dan jempol nya mengusap air matanya istri nya itu.
"kau terlihat sangat cantik saat tersenyum, jangan pernah bersedih lagi, sekarang tersenyum lah untuk ku! aku mencintaimu," ucap Xiao Zhou.
"deggg...." dada Ratu Xhin Ye bergetar sangat kencang, dadanya terasa sesak, mendengar ucapan Xiao Zhou, Ratu Xhin Ye menggenggam tangan Xiao Zhou di pipinya.
"aku juga sangat mencintai mu, suami," ucap Ratu Xhin Ye, dan berusaha tersenyum meski di paksakan.
Xiao Zhou tersenyum getir, dan berdiri.
"aku akan mengambil buah persik untuk mu, Ye'er.... aku akan pergi sekarang jaga dirimu," ucap Xiao Zhou melangkah meninggalkan Ratu Xhin Ye yang duduk membeku.
"apa ini? kenapa aku merasa begitu sedih, di saat untuk pertama kalinya dia memuji ku, dan mengatakan mencintai ku, dan kenapa dia bicara seperti itu? aku merasa dia seperti sedang meninggalkan aku,"
"Tidak... aku ini hanya perasaan ku saja, suamiku akan baik-baik saja," ucap Ratu Xhin Ye dengan mata berkaca-kaca, serta menggelembung kan bibir dan mengeluarkan udara dari bibir itu, seperti menahan agar air mata tidak keluar lagi.
Ratu Xhin Ye menatap punggung panjang Xiao Zhou, semakin menjauh, dan masih terasa elusan hangat jemari Xiao Zhou di wajah nya.
Xiao Zhou melangkah meninggalkan istana itu, tidak pernah di pikirkan olehnya jika itu adalah salam perpisahan dari keduanya.
__ADS_1
****