
Park Min Ji menatap sinis kearah Xiao Zhou dan menaikkan sudut bibir atas nya.
Mereka duduk, berjauhan Xiao Zhou mendapat ranjang dengan matras tipis di ruangan sekaligus menyatu dengan ruang tamu.
"berikan berapa sisa nya padaku," ucap Park Min Ji menatap dan mendekati Xiao Zhou yang duduk di pinggiran ranjang nya.
"berikan apa nyonya?" tanya Xiao Zhou.
"kau membayar sewa rumah ini tiga puluh puluh koin perak, cepat berikan sisa nya!!" ucap Park Min Ji.
Xiao Zhou tampak begitu kesal, dan merogoh jubah nya mengeluarkan kantong uang nya, dan memberikan nya pada Park Min Ji.
Park Min Ji dengan cepat menyambar kantong uang itu dan mengeluarkan isi nya di atas meja.
prrrraaakkkkkk....
Park Min Ji memejamkan mata nya dalam-dalam, menatap isi dari kantong uang Xiao Zhou.
"jika di gabung kan uang kecil ini tidak lebih dari empat koin emas, aahhh.... apa kau tidak mendapat gaji yang cukup dari majikan mu?" ucap Park Min Ji dan mulai melotot ke arah Xiao Zhou.
"apa yang kau harapkan dari seorang pelayan nyonya?" ucap Xiao Zhou, meletakkan pedang kematian di sudut dekat ranjang nya,
mata Park Min Ji seperti berbinar menatap cincin di jemari panjang Xiao Zhou,
"ehemmm... cincin itu berikan padaku, dan juga Pedang berkarat mu itu, mungkin itu bisa di jual, meski aku yakin harga nya begitu murah," ucap Park Min Ji mendekati Xiao Zhou.
mata Xiao Zhou melebar,
"tidak nyonya... semua ini adalah pemberian seseorang aku tidak bisa memberikan nya," ucap Xiao Zhou dan menyembunyikan jemari nya.
Park Min Ji dengan cepat menarik tangan Xiao Zhou dan keduanya bergulat memperebutkan cincin di jemari Xiao Zhou,
"kau jangan memasukkan nya," teriak Park Min Ji berusaha menarik tangan Xiao Zhou yang mencoba memasukkan nya kedalaman jubah nya.
"keluarkan," teriak wanita itu lagi.
dan mereka berhenti saat kedua tangan Xiao Zhou sudah mendarat dan menyentuh langsung sedikit meremas gunung Park Min Ji,
"aahhhhss....." Park Min Ji melenguh, dan membeku sejenak menatap tubuh nya, kini dirinya sedang mengangkangi Xiao Zhou jubah mandi nya yang hanya terikat pada bagian perut, di bagian atas kerah pakaian nya sudah melorot memperlihatkan bahu kurus dan punggung serta gunung nya yang begitu membulat halus.
__ADS_1
mereka berdua kini seperti sedang melakukan itu, karena kedua pahanya yang di tekuk, begitu jelas terlihat, dan di balik jubah nya celah sensitif wanita itu tidak mengenakan pakaian dalam dan bersentuhan langsung dengan milik Xiao Zhou meski pemuda itu masih berpakaian lengkap.
Park Min Ji masih diam sesaat kepala nya perlahan menoleh, tampak seorang wanita tua dengan dandanan menor sedang berdiri membeku, dengan sebuah nampan di tangan nya.
wanita itu menatap kedua insan itu sedang berkutat dengan tubuh saling menindih dengan pakaian acak-acakan tanpa berkedip.
Xiao Zhou menatap wajah Park Min Ji dan mengikuti gerakan mata wanita yang sedang di atas tubuh nya.
"siluman," guman Xiao Zhou menatap wanita tua itu.
"apa yang di masukkan?" guman wanita tua itu pelan tanpa sadar.
kalian berdua... apa yang kalian lakukan, bukan kah ini masih siang hari?" teriak wanita tua itu saat kesadaran penuh dan meletakkan nampan di meja di dekat nya.
Park Min Ji mulai mencerna kejadian dan kata-kata yang di ucapkan nya tadi saat bergulat, dan menatap posisi nya dan letak tangan Xiao Zhou yang begitu hangat di ujung gunung nya, jika tidak ada wanita tua itu mungkin Xiao Zhou sudah di hajar habis-habisan, dan hanya menampar tangan Xiao Zhou yang masing nyaman meremas gunung nya.
"itu bibi Wen yang sudah berdandan, bukan siluman," guman Park Min Ji pelan.
Park Min Ji dengan cepat turun dari tubuh Xiao Zhou dan merapikan pakaian nya dan mendekati wanita tua itu,
"aahhh... bibi, maafkan kami, kami lupa menutup pintu nya, kami baru menikah beberapa bulan, jadi hihi," ucap Park Min Ji dan membawa wanita itu keluar dari ruangan itu.
mata Park Min Ji masih sesekali menatap kesal ke arah Xiao Zhou sambil keluar dari ruang tamu itu, tangan nya secara sembunyi-sembunyi mengusap di bagian bawah, dari luar gaun mandi nya itu.
"hehe... sudah lah tidak perlu meminta maaf, bibi juga pernah muda dan cantik seperti mu," ucap wanita tua.
"benarkah? aku tidak berpikir jika nanti akan bisa secantik bibi," ucap Park Min Ji memuji wanita tua itu agar tidak mengingat apa yang di lihat nya barusan.
"sudah-sudah.... jangan memuji ku terus, aku datang membawakan kalian makanan, cobalah selagi panas, bagaimana dengan suami mu, apa dia sudah bekerja?" tanya wanita yang dipanggil bibi Wen itu.
"suami? aku belum..... um, maksud ku suami ku belum mendapat pekerjaan," ucap Park Min Ji yang hampir mengatakan belum menikah.
"aahhh... baiklah, bibi akan ke rumah kepala desa sekarang, beberapa hari lagi putera nya akan menikah, semua orang akan di undang, aku akan mengenalkan suami mu padanya, dia pasti akan memberi pekerjaan pada suami mu, kau tenang saja," ucap bibi Wen.
"hihihi... terimakasih bibi Wen, Kami sudah begitu merepotkan bibi, tapi aku jadi sedikit lega," ucap Park Min Ji dan mereka berbincang beberapa saat.
"baiklah... bibi akan berangkat sekarang, bibi ingin berpamitan dengan suami mu," ucap bibi Wen.
"oh iya bibi... selamat jalan," ucap Park Min Ji.
__ADS_1
wanita tua itu hanya diam sesaat dan keduanya saling menatap saja.
"aahh... gadis bodoh, cepat panggil suami mu," ucap bibi Wen lagi.
Park Min Ji hanya tersenyum getir, dan menatap ke dalam rumah.
"suami.... suami.... cepat kesini," teriak Park Min Ji.
namun Xiao Zhou tidak muncul juga,
"ahhh,.. bibi mungkin suami ku sedang tidur, sebaiknya bibi cepat berangkat," ucap Park Min Ji, namun tiba-tiba Xiao Zhou melangkah keluar dan menuju ke arah Park Min Ji namun tatapan Xiao Zhou jauh ke depan ke arah rerumputan luas di depan rumah kecil mereka.
"suami.... bibi Wen ingin berpamitan, dia akan mencarikan mu pekerjaan," ucap Park Min Ji sambil mencubit perut Xiao Zhou.
"aaahhh... kalian berdua terlihat begitu manis, baiklah Zhou'er, bibi mohon diri, jaga diri kalian," ucap bibi Wen.
"suami?" guman Xiao Zhou hampir tidak terdengar dan membungkuk sambil menatap Park Min Ji sesaat seperti meminta penjelasan.
Park Min Ji melebarkan matanya penuh ancaman, dan mengangguk ke arah Xiao Zhou agar tidak bicara.
"suami apa yang kau lihat?" tanya Park Min Ji mengikuti arah mata Xiao Zhou ke arah ladang rumput yang luas, dan bibi Wen pun membalikkan badannya dan ikut menatap ke arah pandangan Xiao Zhou
"ahhh... tidak aku hanya... aku hanya seperti melihat seseorang tapi aku hanya salah lihat," ucap Xiao Zhou dan bibi Wen hanya mengangguk karena tidak ada seseorang pun di kejauhan.
dan tiba-tiba saja wajah Park Min Ji mulai pucat, dan mulai melihat seorang pemuda berambut panjang putih, dan berwajah begitu pucat. pria itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
"aahhh.... kau terlihat sakit adik Park , Zhou'er... cepat bawa istri mu ke dalam, mungkin dia sedang mengandung," ucap bibi Wen yang merapikan pakaian nya karena udara tiba-tiba terasa dingin.
"mengandung? aahhh... bibi Wen, aku tidak mungkin mengandung," ucap Park Min Ji yang kembali tenang saat pemuda berambut panjang itu menghilang.
"aahhh... kalian pasangan bodoh, bocah tengik cepat papah istri mu ke dalam, bibi juga akan pergi sekarang," ucap bibi Wen.
"baik bibi," ucap Xiao Zhou
Xiao Zhou memeluk pinggang park Min Ji dan membawa masuk, Park Min Ji hanya diam saat pinggang nya di sentuh oleh Xiao Zhou, dan tidak lama Park Min Ji sudah berbaring di ranjang nya, dan tiba-tiba pria berambut putih itu sudah di dalam ruangan itu.
"Park Min Ji sudah 40 tahun tidak bertemu, dan sekarang waktu mu sudah dekat, aku datang untuk menjemput jiwa mu," ucap pria itu
Park Min Ji hanya mengangguk, dan menatap sekeliling ruangan sederhana itu, sesekali menatap pria berwajah pucat itu, tampak bulir air mata menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
tangan nya memegang tangan Xiao Zhou,