Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch. 86


__ADS_3

delapan bulan setelah pulau keseimbangan menghilang, di sebuah kedai minum berlantai dua, di pinggiran hutan iblis.


meski tidak setenar lembah kuburan, kota hantu, dan gerbang naga, namun hutan iblis adalah salah satu dari sekian banyak tempat yang cukup di perhitungkan dalam rute punggung serigala.


di sebuah balai kecil di halaman kedai itu, seorang pendeta duduk bersila dan berdoa begitu dengan damai, dan seorang remaja sedang meringkuk di samping nya sambil memeluk pedang yang begitu panjang dan melengkung, tampak guci berserakan serta mangkuk bekas makanan di sekitar mereka.


pagi itu sekitar lima puluh perampok memasuki kedai berlantai dua itu, tampak pemilik kedai begitu senang menyambut para perampok itu.


"aaahhh... tuan Chu, lama tidak datang, silahkan duduk, tuan-tuan terhormat silahkan, pelayan... pelayan..." teriak pemilik kedai begitu sibuk, dua orang pelayan yang berusia remaja dengan cepat menghampiri pemilik kedai.


"paman siapkan kami pesta besar, kami baru saja mendapatkan tangkapan besar, cepatlah, cepat!!! teriak pria Kumal yang di panggil tuan Chu itu, dan naik ke lantai dua, sambil melihat sekeliling dari atas.


tampak di antara rombongan itu seorang wanita muda dengan tubuh subur mengenakan berpakaian bangsawan, dengan tangan terikat dan wajah kotor.


wanita itu duduk di meja paling luar tampak wajah nya begitu ketakutan.


salah satu perampok menaikkan kaki di samping wanita itu, pria itu mengelus dagu wanita itu,


"meski kau tidak cantik, tapi malam ini kita akan bersenang-senang, hahaha...." ucap perampok itu


wanita itu memalingkan wajahnya, tanpa bicara,


di lantai dua, pemimpin perampok itu bersandar dengan kedua tangannya di pagar balkon, menatap ke arah pendeta yang sedang berdoa di halaman kedai itu, dan pemilik kedai mendekati pimpinan perampok itu.


"paman, sebaiknya usir tamu pendeta mu itu, atau aku akan membunuh nya," ucap pimpinan perampok itu beberapa pengikut nya mendekati pemimpin mereka dan ikut melihat ke arah pendeta itu.


"aahhh... tuan Chu, pelan kan suara mu, aku melihat mereka berdua keluar dari hutan iblis, apa tuan pernah mendengar cerita tentang seorang pendeta jasad?" ucap pemilik kedai itu.


"pendeta jasad?" ucap pemimpin perampok sambil mengerutkan keningnya, seperti mencoba mengingat sesuatu.


wajah pemimpin perampok itu menjadi pucat dan beberapa pengikut mereka menunduk tidak berani melihat ke arah pendeta itu sambil mengelus tengkuk mereka.

__ADS_1


"paman aku hanya pernah mendengar nama nya, namun aku tidak pernah mendengar jika dia dari hu-hutan iblis," ucap pemimpin perampok tampak keringat dingin membasahi kening nya.


pemilik kedai itu mengangguk dan sedikit mendekatkan wajahnya ke arah pemimpin perampok itu.


"aku dengar enam bulan terakhir, di hutan iblis ada seorang pendeta yang selalu menggendong karung terikat, pendeta itu berkeliaran di hutan iblis, tidak ada yang mampu melawan pendeta itu, dan pendeta itu akan membantai setiap orang yang menanyakan isi dari karung nya itu, para korban dari pendeta jasad itu selalu sulit dikenali karena tubuh mereka akan rusak parah," ucap pemilik kedai dengan mata sesekali melirik ke arah pendeta yang berdoa itu.


wajah pemimpin perampok itu menjadi semakin tegang, matanya berusaha mencari karung di sekitar pendeta itu, namun tidak melihat nya.


"paman apa kau tahu apa isi karung dari pendeta itu?" tanya kakak Chu, dan beberapa pengikut nya juga menunjukkan kengerian yang sangat.


"mungkin itu jasad istrinya," jawab seorang pengikut nya.


"bodoh.. pendeta tidak memiliki istri, mungkin itu potongan kepala para korban nya di hutan itu," ucap salah seorang lagi pengikut kakak Chu.


"kalian semua diam," ucap pemilik kedai itu, kini tampak begitu berwibawa dengan alis tua yang menyentuh pipinya, dan guratan-guratan keriput di keningnya,


"isi karung itu... isi karung itu adalah,"


"glekkk,"


"sreeessstttt......"


"aahhhhkkkkk......" jeritan wanita itu terikat itu terdengar, pakaian dan wajah di penuhi noda darah.


pemimpin perampok itu terlihat begitu terkejut, dan menatap sekeliling nya, pria gempal itu dengan cepat turun melihat apa yang terjadi, mata nya melebar saat melihat sesosok tubuh bawahnya mengejang tanpa kepala, dengan darah menyembur dari lehernya.


"lepaskan wanita itu, dan kalian silahkan berpesta kembali," ucap pendeta itu tanpa ekspresi.


para perampok itu mulai mengurung pendeta itu, dan seseorang perampok dari halaman itu berteriak.


"pendeta... sebaiknya kau menyerah atau leher anak mu ini aku tebas," ucap perampok itu sambil menempelkan pedang di leher Xiao Zhou yang masih tertidur.

__ADS_1


pendeta itu hanya mengangguk tanpa ekspresi,


"aku pendeta tidak memiliki anak, sebaiknya kau tidak membangun iblis itu, karena aku tidak yakin kalian semua bisa bernafas lagi jika ia sampai terbangun hanya dengan merasakan hawa nya saja," ucap Yang Tian.


pemimpin perampok itu menatap ke arah Xiao Zhou, terlihat sebuah karung yang di lipat rapi sebagai alas pemuda itu tertidur, dengan cepat pria Kumal itu meraih pedang dan memotong tali di tangan wanita itu,


"nyonya... maafkan kami, nyonya boleh pergi sekarang," ucap pemimpin perampok itu.


"dasar perampok bodoh... lepaskan putera dari pendeta jasad," ucap pemimpin perampok itu, yang sudah tidak sadar, dan menyimpulkan sendiri, sambil menatap ke arah anak buahnya yang masih masih memegang pedang.


semua mata terbelalak karena Xiao Zhou sudah tidak berada di tempat sebelum nya,


"demi Dewa... ampuni kami pendeta jasad," ucap pimpinan perampok itu dan bersujud di hadapan Yang Tian.


"pendeta jasad?" guman para perampok lain nya seperti bergidik, dan mengikuti pimpinan mereka bersujud.


"Yang Tian... sebaiknya kita berangkat," ucap Xiao Zhou sambil menarik lengan wanita itu, meninggalkan para perampok yang masih bersujud.


ketiga nya menelusuri jalan menuju ke Utara,


"ketakutan mu terlihat begitu berlebihan Dewi, jika menyamar sebaiknya berlatih padaku," ucap Xiao Zhou sambil memeluk pinggang wanita itu.


"iblis mesum, lepaskan aku!!!! kau baru saja meremas milik ku," teriak wanita itu meronta berusaha lepas dari pelukan Xiao Zhou.


wanita subur itu kini terlihat begitu berbeda, pakaian nya begitu indah, dengan lekuk tubuh yang hampir sempurna.


Yang Tian hanya menggeleng, dan sedikit menjaga jarak dengan majikan nya, matanya yang sipit menatap punggung Xiao Zhou.


"dia sudah tertidur hampir enam bulan, tapi hawa iblis nya masih begitu pekat, seperti nya doa ku setiap hari tidak begitu berhasil," guman Yang Tian.


paman pemilik kedai itu duduk tenang di lantai dua kedainya sambil memainkan kuku jari nya, mata cerah di bawah alis panjang itu menatap jauh ke jalan setapak yang di lalui oleh ketiga orang yang terlihat saling cakar.

__ADS_1


"dia menyembunyikan kekecewaan, dan kesedihan atas hancur nya pulau keseimbangan di balik wajah acuh nya, akan tetapi di hari yang sama, sepuluh sekte besar aliran putih, dan dua puluh tiga aliran hitam kehilangan ketua mereka di pulau itu juga, mereka semua ingin membalas dendam pada nya, dan akan memburu Zhou'er, hemmm... tapi aku kini sedikit bingung, siapa sebenarnya yang akan menjadi memburu? dan siapa yang diburu?"


__ADS_2