
di zaman berbeda dari saat ini, zaman dimana para zhangji masih menjadi prajurit setia dari kekaisaran langit, zaman di mana tiga klan mencapai masa kejayaan, dan zaman dimana dua orang yang begitu dipuja-puja dari lawan jenis mereka, bersatu dalam balutan asmara, dan menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai.
Dewa Wang Riu, pria dari latar belakang begitu terhormat, memiliki karier militer begitu mengesankan, di usianya yang terbilang begitu muda sudah menjadi ujung tertinggi di posisi itu, sebagai seorang panglima, sedangkan Dewi Xhin Ye juga berasal dari keluarga yang tidak kalah hebat, ayah nya seorang penasehat Kaisar, dan begitu berpengaruh di kekaisaran langit, bahkan hampir setengah menteri di istana itu adalah orang-orang kepercayaannya.
Dewi Xhin Ye tumbuh menjadi wanita mandiri, pintar, namun juga berhati dingin, tidak ada dewa yang mampu meluluhkan hatinya, hingga beberapa generasi di bawahnya, istana langit selalu meminta nya menjadi pejabat, namun wanita itu memilih menjadi seorang ketua sekte, dan melatih klan penyihir menjadi pejabat-pejabat tinggi di istana, hingga akhirnya seorang Dewa yang begitu beruntung datang, dan mampu menggetarkan dingin nya hati wanita cantik itu, dan keduanya menjalin hubungan itu secara diam-diam.
"hahaha..... ini bagus, bagus, hahahaha...." tawa seorang pria sepuh dalam sebuah jamuan kecil yang di hadiri tidak lebih dari sepuluh orang.
pria sepuh itu mengelus jenggotnya di temani seorang wanita cantik meski usianya sudah senja,
"istriku.... aku begitu bahagia, Puteri kita mendapatkan jodoh yang begitu sepadan, ini keberuntungan," ucap pria sepuh itu lagi
wanita pendamping itu ikut tersenyum bahagia,
"aahhh.... rahasia waktu memang begitu rumit, aku bahkan tidak menyadari jika kau gadis nakal yang selalu merepotkan kami, kini kau sudah menjadi wanita dewasa Puteri ku," ucap wanita itu.
"ibu.... apa ibu mau aku melajang selama nya, di generasi ku hanya aku yang belum menikah," ucap Dewi Xhin Ye dengan lembut, sambil tersenyum tipis.
dan semua orang di meja bundar itu tertawa, dan seorang pria meremas jemari indahnya yang ada di atas meja itu.
keduanya bertatapan untuk sesaat,
"aku Wang Riu kini sudah menjadi seorang panglima di istana, dan kupikir sudah saat nya jika...
tiba-tiba seorang pelayan berlari mendekati pria sepuh itu dan berbisik membuat ucapan Wang Riu berhenti.
pria sepuh itu mengerutkan keningnya untuk beberapa saat, dan menganggukkan kepalanya,
"benarkah? cepat persilakan," ucap pria sepuh itu, wajah nya tampak masih tenang, meski sorot mata nya menjadi serius.
__ADS_1
dan pelayan itu pergi dengan terburu, pria sepuh itu berdiri dari tempat duduknya sambil merapikan pakaian nya.
"ayah... ada apa?" tanya Dewi Xhin Ye sedikit tegang karena ini detik-detik dirinya akan di lamar oleh kekasih nya Wang Riu.
beberapa prajurit pengawal pribadi dari Kaisar Langit masuk dengan wajah begitu tegang, mereka semua berdiri begitu rapi membuat sebuah jalan menuju ruang makan itu, dan seorang wanita dengan pakaian perak keemasan melangkah dengan wajah tegak.
wanita yang tidak begitu tua itu tampak sedikit gemuk, namun wajah nya begitu berwibawa dengan warna putih di beberapa bagian rambut yang tergelung rapi di bawah mahkota nya yang mewah.
pria sepuh itu berlutut saat wanita itu masuk di ruangan itu, dan di ikuti oleh semua orang di ruangan itu.
"ibu suri.... kenapa ada harus repot-repot datang ke tempat ku, anda bisa memanggil hampa ke kediaman anda kapan pun anda inginkan," ucap pria sepuh itu, suaranya terdengar tegas, seperti sudah biasa berhadapan dengan orang-orang penting.
"haha... berdirilah penasehat Xhin, dan kalian semua duduklah kembali, dan jika kalian tidak keberatan aku ingin bergabung di meja ini," ucap ibu Suri.
"itu tidak mungkin Yang Mulia ibu Suri, kami tidak pantas satu meja dengan anda," ucap istri penasehat itu.
"hahaha.... sudahlah ini berlebihan, aku tidak akan berbasa-basi lagi, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga," ucap ibu Suri, matanya menatap semua orang yang mulai berdiri itu begitu terkejut dengan bibir terbuka, mendengar ucapan ibu Suri.
"duduk lah," ucap ibu Suri dan mengambil sebuah tempat di meja makan bundar itu, dan semua orang mengikuti nya.
"penasehat Xhin Quan lai, aku datang untuk melamar Puteri mu Dewi Xhin Ye untuk mendampingi putera ku Kaisar Langit, aku mendengar dia begitu cerdas, dan rumor tentang kecantikan nya yang tiada banding, aku sudah membuktikan nya hari ini, Puteri mu memang benar-benar cantik," ucap ibu Suri membuat semua orang di tempat itu terdiam.
semua saling menatap, hanya Dewi Xhin Ye masih membeku dengan air mata keluar di sudut mata indahnya.
"apa aku membawa berita duka?" ucap ibu Suri.
"Dewi Xhin Ye kau menangis? apa kau tidak menyukai Yang Mulia Kaisar?" ucap ibu Suri lagi.
"dia menangis karena begitu bahagia Yang Mulia," ucap Dewa Wang Riu, yang mengerti kesulitan seluruh anggota keluarga Dewi Xhin Ye.
__ADS_1
"benarkah?" ucap ibu Suri lagi menatap wajah Dewi Xhin Ye.
"aahh... itu benar Yang Mulia ibu Suri, tentu saja itu benar," ucap penasehat Xhin, yang juga merupakan ayah dari Dewi Xhin Ye, wajah nya terlihat begitu datar.
****
di hutan bambu masa sekarang.
mata Dewa Li Fei Yu menyipit, keningnya berkerut dan wajah nya terlihat begitu pucat,
"ini tidak mungkin," ucap Dewa itu.
setiap orang di hutan itu menatap sesosok pria yang setengah berlutut tanpa pakaian atas, bertumpu pada pedang semesta yang tertancap di tanah, tubuh putih bersih nya kini diselimuti uap hitam, tidak terkecuali dua wanita yang keluar dari kereta kuda mereka saat segel pelindung nya hancur dan mendengar suara ledakan dahsyat tidak jauh dari kereta yang mereka tempati.
pria dengan mata tertutupi rambut depan nya itu melangkah pelan, sambil menyeret pedang beruap biru itu, dari sudut bibir tampak darah merembes.
"kenapa kau melakukan ini padaku?" ucap Xiao Zhou, tanpa menatap wanita yang melayang di sekeliling nya.
"hahaha.... aku hanya menidurkan bagian terkuat dari tubuh itu," ucap seorang wanita yang duduk di atas seekor merak dengan wajah tertutup cadar, namun suaranya menggema di seluruh tempat, tampak sedikit noda darah di cadar wanita itu
merak itu melayang di sekitar pemuda dengan sebuah huruf emas muncul tepat di dada nya setelah terkena sentilan dari wanita itu,
"apa yang akan kau lakukan padaku dengan luka separah itu?" tanya Xiao Zhou.
"aku menggunakan semua kemampuan yang kumiliki untuk melakukan hal tadi, meski lukaku begitu parah, namun semua ini akan terbayar dengan harga yang sesuai," ucap wanita yang kini berambut seleher dan begitu lurus.
"usaha mu akan sia-sia, kau tidak akan mendapatkan apa-apa, kau tentunya tahu jika kau tidak bisa menidurkan nya lama," ucap Xiao Zhou.
"hahaha.... kau kehilangan kecerdasan mu saat ini, menjadikan mu iblis bodoh selama sepuluh ribu tahun, dan kau harus menyalin kitab sungai sastra untuk kesadaran mu, dan dalam waktu itu kau akan melihat apa yang bisa aku lakukan, aku akan menyelesaikan yang seharusnya, hahaha...." ucap wanita itu dan burung merak itupun menjauh dan lenyap.
__ADS_1