Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch. 67


__ADS_3

Ratu Xhin Ye melayang dari balkon istana nya dan mendarat di gerbang istana, dan melangkah begitu cepat ke arah gerbang pulau, jemari panjang wanita itu memberi isyarat agar para prajurit yang berlari mengejar nya berhenti mengikuti nya.


di gerbang pulau Wang Riu tidak dapat melangkah lebih masuk karena sebuah gagang pedang sedang menahan dadanya.


"langkahi mayat ku terlebih dahulu," ucap Li Fei Yu yang terlihat begitu membenci pemuda itu.


"percayalah... aku sebenarnya begitu ingin, kau dan kakak ipar mu itu harus membayar dengan harga yang pantas atas kematian bawahan ku," ucap Wang Riu begitu pelan.


"tidak akan ada yang saling membunuh di sini, terlebih jika aku yang masih berkuasa di pulau ini," terdengar suara Ratu Xhin Ye dari belakang membuat prajurit penjaga membungkuk dan memberi jalan, sedangkan Dewa Fei Yu hanya sedikit menyingkir.


"kakak... kau tidak tahu apa yang di lakukan pria ini di hutan bambu itu," ucap Fei Yu yang masih menatap mata Dewa Wang Riu tanpa berkedip.


"aku tahu apa yang terjadi di tempat itu, semua adalah salah paham, yang menyebabkan kakak ipar mu terluka bukan mereka, katakan adik Fei apa aku salah?" ucap Ratu Xhin Ye, menatap tajam ke arah Li Fei Yu.


Dewa sipit itu tersenyum sinis,


"tentu kakak.... tentu saja, bajingan kecil seperti mereka tidak akan mampu menyentuh sehelai rambut dari kakak ipar," ucap Li Fei Yu dan meninggalkan tempat itu.


Ratu Xhin Ye terlihat kesal akan ucapan Li Fei Yu,


"kakak Wang... maafkan ucapan adikku itu, prajurit antar kan tuan ini ke rumah tamu kehormatan di istana," ucap Ratu Xhin Ye.


Wang Riu masih membeku menatap kecantikan dari Ratu Xhin Ye yang semakin menakjubkan seiring usia nya yang dewasa.


"ehemmm.... tidak apa Yi'er, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan," ucap Wang Riu dan seorang prajurit gerbang pulau mengantar Wang Riu masuk ke komplek istana.


seseorang dari jauh menatap kejadian itu, pria dengan seluruh rambut di Gelung di atas kepala itu dengan tenang melangkah melewati beberapa pelancong yang menikmati keindahan pemandangan di bawah, jika di lihat dari pulau keseimbangan.


****


malam itu di rumah peristirahatan Ratu Xhin Ye, wanita itu sedang duduk di lantai kayu sambil menikmati teh panas nya.

__ADS_1


malam itu Ratu Xhin Ye mengenakan gaun dalam dengan motif bunga Krisan berwarna merah muda, dipadu jubah putih renda dengan motif huruf berwarna emas.


wanita itu terlihat begitu anggun dengan kedua kakinya di tekuk kesamping, meski pakaian nya tertutup, namun wanita itu terlihat semakin menggairahkan.


"katakan kenapa kau melakukan semua ini, apa salah ku?" ucap Ratu Xhin Ye dengan bibir bergetar.


"maafkan aku, hanya itu jalan satu-satunya menghindari pertumpahan darah saat itu," ucap Wang Riu yang sudah duduk di taman tidak jauh dari ruangan yang menyatu dengan taman di belakang nya.


"aku benci setiap kata yang kau ucapkan itu, maaf? hanya itu? kata-kata itu membuat ku mual, apa hanya itu yang terpikirkan oleh seorang panglima terkuat di jaman kita?" ucap Ratu Xhin Ye air matanya mulai mengalir.


Wang Riu mendekati ruangan itu dan naik ke lantai kayu tidak jauh dari Ratu Xhin Ye menangis, dan ingin memeluk wanita yang begitu di rindukan nya itu.


"ibu... apa ibu menangis lagi?" terdengar seorang anak kecil masuk keruangan itu.


mata Ratu Xhin Ye melebar dan dengan cepat membuka matanya, dan memberi isyarat kepada Wang Riu agar tidak jadi mendekati nya, dan diam di tempat yang lebih gelap di ruangan itu.


anak kecil itu berlari mendekati ibunya, dan wanita cantik itu memeluk pria kecil itu dan menciumi wajah lucu bocah itu.


"putera ku... ibu tidak sakit, maafkan ibu sayang, malam ini tidur lah di ruangan mu, apa kau berani?" ucap Ratu Xhin Ye begitu lembut.


"aku sudah besar ibu, tentu saja aku berani," ucap anak kecil itu memeluk ibunya lagi, Ratu Xhin Ye menatap wajah putera nya,


"maafkan ibu..." guman nya pelan.


"pelayan.... antar putera ku tidur, jaga malam ini agar tidak kembali ke ruangan ku," teriak Ratu Xhin Ye.


para pelayan datang dan menggendong anak kecil itu dan membawanya keluar dari rumah peristirahatan Ratu Xhin Ye.


Wang Riu duduk tidak jauh dari Ratu Xhin Ye,


"Yi'er... semua sudah terjadi, kita tidak mampu mengubah yang sudah berlalu, sekarang kita perbaiki segala nya, berikan aku kesempatan dan kau akan melihat seluruh kebahagiaan akan ku berikan padamu," ucap Wang Riu.

__ADS_1


Ratu Xhin Ye memejamkan matanya dalam-dalam,


"ini sudah begitu terlambat, kali ini aku sudah bersuami, kesempatan apalagi?" ucap Ratu Xhin Ye.


"Yi'er... aku mengerti kebingungan mu, tapi aku akan bicara dengan suami secara baik-baik, meski aku dengar suami begitu kuat dan aku pernah melihat kemampuan nya, tapi dengan cermin langit aku yakin tidak akan ada masalah, kau tenang saja aku tidak akan membunuh nya, aku hanya ingin dia melepaskan mu, itu saja," ucap Wang Riu, yang kini sudah di dekat wanita yang sudah bersuami itu.


Wang Riu memegang jemari panjang Ratu Xhin Ye, namun terdengar sedikit kegaduhan di luar ruangan nya, membuat Ratu Xhin Ye menghempaskan tangan Wang Riu.


"Yang Mulia... maafkan aku tapi tuan kecil sedikit terluka saat terjatuh dari atas ranjang," ucap pelayan dari luar ruangan itu.


Ratu Xhin Ye meletakkan telunjuk nya di depan bibir sambil menatap ke arah Wang Riu, dan merapikan pakaiannya dan dengan cepat keluar dari ruangan itu.


"hahaha.... kau hampir saja mendapat daging impian mu adik Wang," terdengar suara dari sebuah taman tempat dirinya berdiri di awal.


"kakak Yuan? pantas aku tidak mampu merasakan kehadiran mu, katakan kau tidak sedang memata-matai ku bukan?" ucap Wang Riu melangkah menuju taman tempat pria dengan seluruh rambut di Gelung ke atas.


jendral Yuan Zhou hanya mengangguk, dan memutar ranting kecil di udara, dan ranting pohon itu terus berputar.


"hahaha... aku memiliki urusan yang lebih penting daripada merayu istri orang," ucap jendral Yuan Zhou.


dan sebuah pedang sudah berada di leher jendral Yuan Zhou.


"kakak Yuan.... aku tahu kita tidak pernah akur, tapi sekali lagi kau menghinaku, maka aku akan melupakan persaudaraan kita dan kau akan berakhir menyedihkan," ucap Wang Riu pelan.


jendral Yuan tersenyum tipis matanya masih menatap ranting yang berputar di udara.


"hehe.... tenanglah, aku disini untuk membantu mu, akan ada sedikit keributan di tempat ini, kau berpura-pura tidak tahu, dan tugas mu menyiapkan ranjang untuk menenangkan ibu dari bocah itu, aku dengar saat wanita rapuh adalah saat terbaik untuk meluluhkan nya, besok pagi kau tinggalkan pulau ini, kembalilah saat matahari terbenam," ucap jendral Yuan Zhou dan sudah berubah menjadi uap hitam.


Dewa Wang Riu mengerutkan keningnya mencerna kata-kata dari jendral Yuan Zhou.


****

__ADS_1


__ADS_2