
di menara bidang farmasi kekaisaran Ming.
malam itu Xiao Zhou sedang bermain kecapi di temani oleh guci kesayangan nya, dan seorang wanita cantik mendatangi nya.
"apa ini? aku tidak menyangka kau juga pandai bermain musik" ucap wanita cantik itu dan duduk di hadapan nya.
permainan kecapi Xiao Zhou terhenti, mata nya melebar, tidak percaya dengan apa yang di lihat nya.
"kepala pelayan? maksud ku siapa kau?" tanya Xiao Zhou, yang menatap ke mata wanita itu.
"kalian pergilah, dan jangan ada yang mendekati ruangan ini sebelum aku panggil" ucap wanita cantik itu.
"baik Yang Mulia" ucap para dayang istana itu, dan meninggalkan mereka berdua.
"apakah aku boleh?" tanya wanita itu dan menyodorkan sebuah cawan.
Xiao Zhou menuangkan isi guci nya, mata nya tidak pernah lepas dari wajah wanita yang sering dia lihat sebelumnya.
"kau sudah menipu ku, kau Ibu Suri yang sebenarnya" ucap Xiao Zhou.
"hemmm.... kau pernah berkata, apa yang terlihat sering kali bukan kebenaran, aku sama sekali tidak bermaksud menipu mu" ucap kepala pelayan itu, yang kini sudah berpakaian kebesaran nya, dan meneguk isi cawan nya.
"setelah aku terkena racun mematikan itu, aku mulai menyuruh orang lain, untuk menggantikan posisiku, aku tidak ingin posisi anakku akan terguncang karena kematian ku, tapi Dewa berkehendak lain kau menyelamatkan nyawa ku, dan sudah saatnya aku kembali ke tempat ku lagi" ucap Ibu Suri.
Xiao Zhou mengembuskan nafas panjang nya.
"seperti itu rupanya, baiklah Yang Mulia ada yang ingin kau sampaikan saat ini padaku?" tanya Xiao Zhou.
"setelah aku sembuh, kau tidak pernah mengunjungi ku, aku sangat merindukan mu," batin Ibu Suri, dan menggelengkan kepalanya.
"kemarin pangeran Jing Hao datang, iya begitu marah karena aku ingin mengangkat selir yang baru, tapi tidak melarang ku melakukan nya, dan juga yang lebih aneh dia ingin aku harus mengundang Puteri Ming Mei untuk datang saat pengangkatan selir itu" ucap Ibu Suri.
Xiao Zhou menuangkan kembali isi guci nya,
"ini sudah seperti rencana kita, jadi tidak ada masalah, Yang Mulia seharusnya bisa tenang" ucap Xiao Zhou.
Ibu Suri mengangguk, dan memainkan jari-jari indah nya.
"aku sudah bicarakan ini dengan orang-orang kepercayaan ku, tapi hatiku tidak pernah tenang, hanya kau yang bisa menenangkan ku saat ini" ucap Ibu Suri, wajah nya menunduk karena begitu malu.
Xiao Zhou hanya mengangguk, dan tersenyum tipis.
"tapi masih ada sesuatu yang mengganjal pikiran ku saat ini, kau tahu Yang Mulia Kaisar anakku adalah orang yang telah meracuni ayah nya sendiri, dan aku tidak pernah membayangkan anakku sendiri membunuh suami ku" ucap Ibu Suri, air matanya menetes tanpa dirinya sadari.
"kenapa kau menceritakan ini padaku, apa kau tidak takut jika aku bicara dan cerita ini bisa menghancurkan masa depan mu dan anakmu," ucap Xiao Zhou tenang.
__ADS_1
"hahaha.... jika saja aku tidak pernah bertemu dengan mu, mungkin aku tidak akan pernah membicarakan ini pada siapapun, tapi setelah apa yang pernah kita lewati bersama, aku sudah tidak memikirkan itu lagi, bagiku tahta Kaisar, dan posisi ku saat ini tidak lebih dari ilusi, karena semua itu tidak pernah memberikan setetes kebahagiaan dalam diriku." ucap Ibu Suri.
Xiao Zhou berdiri dan menatap ke arah luar menara itu, dan masuk ke dalam kamar nya yang ada di sebelah ruang bermain kecapi nya, di ikuti oleh Ibu Suri di belakang nya.
"jika kau berpikir seperti itu, maka lepaskanlah" ucap Xiao Zhou.
"lepaskan? apa maksud mu?" tanya Ibu Suri.
"lepaskan semua sampah di tubuh mu ini" ucap Xiao Zhou dan dengan sekali lambaian tangan perhiasan, dan pakaian kebesaran Ibu Suri itu sudah terlepas dari rambut dan tubuh Ibu Suri, membuat rambut panjang dan halus itu terurai, dan tubuh Ibu Suri hanya terbalut pakaian putih tipis.
ilustrasi Ibu Suri.
"ini sudah malam, tidur lah di sini" ucap Xiao Zhou dan naik ke ranjang nya.
"aku mengerti darah muda mu itu, tapi aku bukan wanita seperti ini, dan aku adalah Ibu Suri kekaisaran ini" ucap Ibu Suri dengan wajah menunduk, dan memakai jubah nya meninggalkan Xiao Zhou seorang diri di ranjang nya.
Ibu Suri melangkah dengan tangan gemetar, pikiran nya begitu kacau, dan hanya mematung di depan para dayang nya.
"kalian semua kembali lah ke kediaman ku, sebentar lagi aku akan pulang di antar oleh orang kepercayaan ku" ucap Ibu Suri, para dayang dan pengawal itu segera meninggalkan bangunan itu
setelah beberapa saat Ibu Suri sudah kembali ke kamar Xiao Zhou dan mengunci pintu kamar itu.
"jangan berpikir aku ini wanita murahan, aku hanya terlalu lelah untuk kembali ke kediaman ku" ucap Ibu Suri tanpa berani menatap mata Xiao Zhou.
keduanya berpelukan dalam satu selimut hangat.
"hemmm... dada bocah ini begitu nyaman, dan sangat harum, apa dia akan melakukan itu padaku?" batin Ibu Suri, dan hanya beberapa saat sudah terlelap dalam tidur nya.
pagi itu Ibu Suri sudah menyiapkan sarapan dan minuman di atas meja di kamar Xiao Zhou, wajah nya terlihat begitu bahagia.
"kau sudah bangun?" tanya Ibu Suri saat melihat Xiao Zhou sudah duduk di ruang makan itu.
Xiao Zhou hanya mengangguk, dan mulai meminum teh yang sudah di siapkan.
"apa kau memasak sendiri?" tanya Xiao Zhou
Ibu Suri hanya mengangguk, sambil tersenyum, dan mereka makan dengan sangat menikmati.
****
beberapa hari kemudian,
Ibu Suri terlihat begitu tergesa-gesa melangkahkan kakinya menuju menara tempat Xiao Zhou tinggal, wajah nya terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
"Zhou'er, aku datang membawa berita bahagia, apa kau tahu wanita pilihan ku akhirnya hamil, jadi apa yang di ucapkan bajingan itu adalah kebohongan, Yang Mulia tidaklah mandul," ucap Ibu Suri, sambil memeluk tubuh Xiao Zhou.
Xiao Zhou hanya tersenyum tipis, Ibu Suri melepaskan pelukannya dan menatap Xiao Zhou.
"apakah ada yang salah? kau terlihat tidak begitu senang?" tanya ibu Suri sambil mengerutkan keningnya.
"tidak ada yang salah, sebentar lagi pengangkatan selir baru, bacalah ini, dan berikan surat itu kepada Yang Mulia Kaisar" ucap Xiao Zhou dan menyerahkan selembar kertas.
tangan Ibu Suri bergetar, dan air matanya mengalir, kakinya tidak dapat menahan berat tubuh nya dan terjatuh, tapi Xiao Zhou dengan cepat menahan tubuh Ibu Suri dan mendudukkan nya di sebuah bangku panjang.
setelah beberapa saat, Ibu Suri tampak mulai tenang, dan menatap Xiao Zhou dalam-dalam.
"katakan siapa kau sebenarnya? cepat katakan!!!" ucap Ibu Suri dengan derai air mata.
"aku Xiao Zhou, menantu mendiang Kaisar kekaisaran ini" ucap Xiao Zhou
"tidakkk... katakan jika itu tidak benar, aku tidak mungkin mencintai menantu ku, walaupun aku dan Puteri Ming Mei tidak dekat," ucap Ibu Suri.
"maafkan aku..." ucapan Xiao Zhou terpotong oleh teriakan Ibu Suri.
"cukup... saat ini aku tidak ingin mendengar sepatah kata pun dari mu, dan jangan pernah muncul di hadapan ku lagi" ucap Ibu Suri dan pergi dari ruangan Xiao Zhou.
***
hari itu Puteri Ming Mei datang ke istana dan pangeran Jing Hao selalu menempel nya, dan mulai menarik perhatian wanita cantik itu.
keduanya terlihat begitu akrab, senyum selalu mengembang di wajah Puteri Ming Mei.
"Puteri kenapa kau jarang datang ke istana ini lagi?" tanya pengerjaan Jing Hao
"baiklah aku akan berterus terang, aku sangat membenci Kaisar yang sekarang, aku begitu muak dengan teman mu itu, kau boleh mengadukan aku pada nya" ucap Puteri Ming Mei kesal.
"haha... kau terlihat seperti gadis kecil, tapi aku tidak akan mengadukan mu pada Yang Mulia Kaisar, bagaimana jika aku yang menjadi Kaisar apa kau senang?" tanya pangeran Jing Hao, yang mengikuti tingkah kekanakan Puteri Ming Mei.
"apa kau sudah gila pangeran, kau bisa kehilangan kepala mu dengan ucapan seperti itu, tapi.... aku akan memilih mu untuk menjadi Kaisar, seperti nya kau lebih cocok" ucap Puteri Ming Mei.
"hemmm.... ini lebih mudah dari yang aku bayangkan" batin pangeran Jing Hao
"Puteri, nanti malam akan ada pesta di istana aku membawakan mu pakaian terbaik di kekaisaran ini, aku akan merasa terhormat jika Puteri memakai nya, mau kah kau menemaniku nanti malam?" ucap pangeran Jing Hao, yang mengetahui jika Puteri Ming Mei suka membeli pakaian indah.
Puteri Ming Mei membuka bungkusan dan melihat pakaian itu,
"ini sangat indah, tentu saja aku akan memakai nya, terimakasih pangeran Jing Hao, suami ku tidak pernah memperhatikan ku seperti mu" ucap Puteri Ming Mei.
"Puteri, selama kau di sini aku akan mengganti kan posisi suami mu, dan akan selalu memperhatikan mu, apa kau senang?" ucap pangeran Jing Hao
__ADS_1
Puteri Ming Mei hanya mengangguk, dan memperlihatkan pakaian baru nya itu.
"hemmm.... sebentar lagi kau akan takluk sepenuhnya padaku Puteri, saat kau merasakan keperkasaan ku, kau bahkan akan lupa dengan nama suami mu itu" batin pangeran Jing Hao yang begitu takjub dengan kecantikan Puteri Ming Mei.