Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
racun anjing merah


__ADS_3

Beberapa kultivator muda berlari keluar dari hutan,


"bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?" ucap Wei Jilli, karena ingin menunjukkan kemampuan nya hingga mengejar serigala bertanduk hingga jauh ke dalam hutan.


"aku sangat mencintai Puteri Ming Mei, tapi melihat pembunuh-pembunuh itu tubuhku hanya berpikir untuk berlari menyelamatkan diri, meninggalkan puteri di hutan," sesal Wei Jilli, dan ingin masuk ke hutan lagi namun di hentikan oleh teman-temannya.


"kakak Wei kita akan mencari bantuan di Desa" ucap teman Wei Jilli,


"dan mencari puteri siang hari, ucap teman nya lain mencari pembenar akan tindakan pengecut nya.


.....


"tolong pinjamkan pedang mu itu" ucap Puteri Ming Mei.


Xiao Zhou menjadi bingung dan melihat banyak pedang di tanah walaupun gelap di dalam hutan, seorang kultivator seperti Puteri Ming Mei bisa melihat dengan baik dalam gelap.


"aku tidak akan memakai pedang dari binatang seperti mereka" ucap Puteri Ming Mei yang mengerti kebingungan Xiao Zhou.


wanita itu berusaha berdiri dan mendekat ke arah Xiao Zhou sambil kembali menengadahkan telapak tangan nya keatas seperti seorang yang meminta sesuatu.


Xiao Zhou hanya menggelengkan kepala dan menyerahkan gagang pedang yang juga panjang itu ke tangan Puteri Ming Mei.


sriiikkkk...


suara gagang pedang yang berpindah kini ke tangan Puteri Ming Mei.


"pedang ini sangat indah, sekaligus mengerikan," ucap Puteri Ming Mei, menatap lekat-lekat pedan kematian milik Xiao Zhou,


Wanita itu mendekat ke arah pembunuh yang pingsan itu, orang itu mulai sadar dan berlutut, dari semua rongga di kepala nya mengeluarkan darah akibat pukulan Xiao Zhou.


Puteri Ming Mei mengayunkan pedang panjang itu dengan anggun, seperti memotong tahu, kepala orang itu sudah terpisah.


Puteri Ming Mei menatap ke arah Xiao Zhou,


mereka berdua berbincang sebentar dan.


"Kenapa wanita selalu merepotkan hah?" guman Xiao Zhou yang kini sudah menggendong Puteri Ming Mei di punggung nya, kedua paha halus dan putih milik Puteri Ming Mei mengapit pinggang Xiao Zhou, karena pakaian nya terpotong dalam pertarungan tadi.


wajah nya masih terlihat lelah, dan terpukul karena hampir dinodai oleh pembunuh bayaran itu.


"kenapa kau tidak menanyai pembunuh itu tadi?" tanya Xiao Zhou.


"aku tidak akan bicara pada binatang aku lebih suka membunuh nya," jawab Puteri Ming Mei, merebahkan kepalanya di bahu Xiao Zhou.


Puteri Ming Mei memfokuskan semua inderanya ke pemuda yang menggendong nya itu.


"suara ini, harum tubuh nya, perawakan tubuh serta tinggi badan nya sama persis, dengan orang yang sangat dirindukan nya, kau Xiao Zhou, benar kau adalah dia," batin Puteri Ming Mei dengan senyum di bibir nya dan menenggelamkan kepala nya ke punggung Xiao Zhou dengan manja.


"kalau boleh tau berapa usai mu" tanya Puteri Ming Mei.


"30 tahun, ehemmm.." ucap xiao zhou berbohong, dan mencoba membuat suaranya sedikit berat.


"kau pembohong yang buruk Xiao Zhou,"batin Puteri Ming Mei.

__ADS_1


"apa aku boleh melihat wajah mu aku ingin memberikan hadiah padamu kau tahu kan aku seorang Puteri Kaisar," ucap Puteri Ming Mei.


"apa kau sudah menikah? tanya puteri Ming Mei lagi.


"kenapa kau sangat cerewet Puteri?" ucap Xiao Zhou bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan wanita yang di gendong itu.


sreertttt...


tiba-tiba saja Puteri Ming Mei merobek pakaian xiao Zhou di daerah punggung nya.


"wanita gila apa yang kau lakukan," teriak Xiao Zhou.


"Maafkan aku aku tidak sengaja," ucap puteri ming mei yang merobek pakaian Xiao Zhou.


"kenapa kau merobek pakaian ku hah?" tanya Xiao Zhou geram.


"aku sangat kesal mengingat wajah pria yang memeluk tubuh ku tadi," ucap Puteri Ming Mei mencari alasan puteri Ming Mei ingin melihat punggung dan merasakan langsung kulit Xiao Zhou.


"hemmmm" hanya itu kata yang keluar dari bibir Puteri Ming Mei.


Puteri Ming Mei menempelkan wajah nya ke kulit punggung Xiao Zhou yang tidak di lapisi pakaian, pipi nya bergesekan dengan kulit punggung Xiao Zhou,


"ini begitu halus dan lembut kulit, dan juga mengeluarkan harum yang memabukan wanita," batin Puteri Ming Mei.


dan tanpa sadar wanita itu tertidur pulas di punggung Xiao Zhou, terdengar suara nafas nya yang teratur, Xiao Zhou membiarkan saja wanita itu terlelap, dan sedikit merasa kasihan atas apa yang menimpa nya barusan.


tidak beberapa lama mereka sudah di depan Desa Bambu Hijau.


"aku akan menurunkan mu di sini," ucap Xiao Zhou, membangunkan Puteri Ming Mei dari tidurnya.


Puteri Ming Mei kesal karena terbangun dari tidurnya, dan masih ingin berlama-lama dengan pemuda itu harus sudah berakhir.


"terima kasih tuan kau sudah menyelamatkan nyawaku," guman Puteri Ming Mei menatap tajam mata indah Xiao Zhou, sambil memeluk pemuda itu, Puteri Ming Mei sangat mengenal mata Xiao Zhou.


"aku sudah mengambil keputusan sekarang, aku akan membayar hutang ku padamu, karena kau sudah menyelamatkan kehormatan ku Xiao Zhou" batin Puteri Ming Mei.


"seperti nya kau membutuhkan ini, aku tidak ingin tubuh mu dilihat orang lain," ucap Xiao Zhou sambil mengeluarkan pakaian wanita dari cincin penyimpanan nya, pakaian yang di beli oleh Yumiko untuk Liu Fenghua.


bukkk...


satu pukulan bersarang di perut Xiao Zhou.


"ukkhhhh... kenapa kau memukuli ku?" tanya Xiao Zhou


"dan kenapa kau tidak memberikan ku pakaian ini tadi?" Puteri Ming Mei balik bertanya.


Xiao Zhou hanya terdiam, tidak ada protes dari pemuda itu lagi dan hanya melebarkan mata nya.


"Aku rasa itu bayaran yang setimpal," ucap Puteri Ming Mei dan tersenyum mendengar ucapan Xiao Zhou, yang tidak ingin tubuh nya dilihat orang lain.


Puteri Ming Mei bejalan ke arah gerbang desa dengan pakaian pemberian Xiao Zhou,


beberapa orang yang dari tadi berkumpul di tempat itu langsung berhamburan membantu Puteri yang kesulitan berjalan, karena bengkak pada kakinya.

__ADS_1


pagi itu para kultivator muda mulai membicarakan tentang serangan dari pembunuh itu, dua orang diutus untuk ke kota terdekat mencari perlindungan untuk Puteri Ming Mei.


Xiao Zhou sendiri sedang sibuk dengan tungku nya, menyiapkan pil untuk semua warga yang terkena racun, dan seperti dugaan Xiao Zhou siang itu warga yang terkena racun mulai menggila dan menyerang secara siapa saja yang mencoba mendekat, membuat para alchemis bingung.


"seperti yang ku katakan mereka tidak terkena racun serigala bertanduk" ucap Xiao Zhou yang tiduran di bangku sambil memejamkan mata nya.


"kau bocah siapa namamu, jelaskan tentang laporan mu kemarin, ucap tetua bidang alchemis itu.


"gejala mereka yang terkena racun sangat mirip dengan terkena racun serigala bertanduk, beda nya dari bibir mereka akan mengeluarkan liur dan kulit mereka melepuh kemerahan dan sangat gatal, membuat mereka menggila seperti sekarang ini," ucapan nya terhenti, Xiao Zhou mulai bangkit dari tidurnya dan menatap tetua itu.


"mereka terkena racun anjing merah, sangat jarang anjing merah menyerang manusia karena tingkat kemampuan mereka rendah," ucap xiao zhou panjang lebar yang sesekali menguap karena bosan.


"dan ini pil untuk mereka aku tadi membuat nya," ucap xiao zhou lagi.


para alchemis senior, dan tetua alchemis itu pun hampir menjatuhkan rahang mereka karena bibir menganga mereka begitu lebar, mereka begitu kaget akan penjelasan Xiao Zhou dan juga karena xiao zhou berhasil membuat pil penawar yang sangat jarang ada, karena kasus seperti ini sangat langka,


****


beberapa hari setelah itu misi mereka berhasil penyakit warga sudah sembuh dan warga sangat berterima kasih pada para alchemis dan kultivator yang sudah membatu penduduk Desa Bambu Hijau.


.....


Xiao Zhou mendapat poin penuh, dan naik menjadi alchemis menengah tingkat 1 karena sudah bisa membuat pil tingkat menengah dengan kualitas kemurnian di atas 70 persen.


.....


sore itu Xiao Zhou berjalan-jalan di bawah hutan bambu yang sangat indah,


"tunggu bocah" seorang berteriak ke arah Xiao Zhou.


Xiao Zhou yang mengetahui pemilik suara itu adalah Puteri Ming Mei.


"aku dengar kau naik ke alchemis menengah" tanya puteri Ming Mei berbasa basi.


Xiao Zhou hanya menganggukan kepala sambil tersenyum.


"apa kau senang adik kecil?" tanya puteri lagi.


"iya aku sangat senang, setelah mendapat gelar alchemis menengah aku akan meninggalkan ibukota dan kembali ke danau tempat kediaman ku, dan hidup menjadi seorang alchemis," ucap Xiao Zhou polos.


"cita-cita mu sangat sederhana, tapi kau sepertinya begitu menikmati hidup mu?" ucap Puteri Xiao Zhou


"begitulah hidup ku puteri aku tidak terlalu berambisi, aku hanya ingin menghabiskan hidup dengan orang-orang yang ku sayangi," ucap Xiao Zhou tulus.


tiba-tiba mata xiao zhou berubah sedikit tegang, melihat perubahan mata Xiao Zhou, puteri Ming Mei mulai melihat sekitar.


"ada.." belum selesai puteri Ming Mei bicara, tangan Xiao Zhou sudah menutup bibir wanita itu dan menarik pinggang nya ke arah semak bambu.


"tunggu sebentar" bisik Xiao Zhou.


beberapa orang berkuda melewati jalan di bawah hutan bambu dan melewati tempat persembunyian mereka berdua.


Mata puteri melebar menatap mata Xiao Zhou karena badan mereka menempel dan wajah mereka begitu dekat.

__ADS_1


"apa yang kau lakukan bocah bodoh?" bisik Puteri Ming Mei pelan dengan wajah yang merona.


__ADS_2