
pria itu dengan cepat menghidupkan lentera di sebelah nya, membuat ruangan itu lebih terang lagi.
"tuan Kim?" ucap Park Min Ji seperti tidak percaya jika pria itu sedang berada di ruang tidur nya.
"iya nyonya, aku Kim bong Goo," ucap pria itu tenang.
"cepat keluar dari ruangan ku," teriak Park Min Ji dengan sorot tajam nya.
"tidak perlu berteriak nyonya, saat ini kekasih mu masih berada di kota binjong untuk urusan keberangkatan kalian ke puncak gunung hunzu," ucap Kim bong Goo.
"hentikan basa-basi mu, apa keperluan mu mengendap-endap di ruangan ku?" ucap Park Min Ji.
Kim bong Goo hanya mengangguk,
"kau seharusnya senang aku sembunyi seperti ini, aku hanya sedikit penasaran mendengar perbincangan kalian berdua, apa yang telah terjadi kemarin malam? kejadian terkutuk apa? sehingga kau begitu khawatir jika kekasih mu itu mengetahui nya," ucap Kim bong Goo.
"apa?" hanya itu yang keluar dari bibir Park Min Ji.
"nyonya sudah mendengar dengan jelas ucapan ku, kalian berdua sedang merahasiakan sesuatu malam itu," ucap Kim bong Goo.
nyonya sudah mendengar dengan jelas ucapan ku, kalian berdua sedang merahasiakan sesuatu malam itu," ucap Kim bong Goo.
Park Min Ji begitu kesal dan meremas jubah nya,
"bagaimana dia bisa mendengar pembicaraan ku, apa dia mengikuti aku? sebenarnya orang ini sejak awal mengincar ku," batin Park Min Ji.
"baik... apa yang kau inginkan?" tanya Park Min Ji
__ADS_1
"tidak banyak nyonya," ucap Kim bong Goo dan mendekati wanita berkulit halus itu.
Park Min Ji memejamkan mata dan terlihat sedikit tenang.
"hemmm... seperti nya pria ini menginginkan uang, aku sedikit lega," batin Park Min Ji.
"baiklah.... aku akan memberikan mu lebih dari cukup, sekarang pergilah dan jangan pernah aku sampai melihat mu lagi," ucap Park Min Ji dan mengeluarkan sekantung koin emas dari cincin nya dan melempar ke wajah Kim bong Goo.
pria itu dengan sigap menangkap kantung itu sebelum mengenai wajah nya, dan meletakkan nya di atas meja.
"haha... anda salah paham nyonya, aku pernah mendengar jika wanita bertubuh giok seperti mu begitu dingin, bahkan cenderung tidak menyukai hubungan suami-istri, tetapi tubuh giok mu juga memiliki keistimewaan, aku juga pernah mendengar jika bagian kewanitaan seorang wanita bertubuh giok itu begitu berbeda, saat mereka terangsang milik nya akan mengeluarkan zat yang membuat gatal dan nikmat bersamaan, dan milik mereka mampu menggaruk hingga tidak satu laki-laki pun dapat melupakan sensasi nya, dan juga bentuk serta ukuran nya akan kembali seperti sedia kala meski setelah melahirkan, dan aku ingin merasakan nya walaupun hanya sekali saja sudah cukup bagiku," ucap Kim bong Goo dan mulai mengelus punggung Park Min Ji dari luar jubah nya.
"tolong hentikan kata-kata menjijikkan mu itu, ingat aku adalah kekasih dari teman mu," ucap Park Min Ji berusaha tenang, dan memejamkan matanya dalam-dalam.
"hahaha.... aku tidak menyangka akan secepat ini bisa menikmati mu nyonya, bahkan aku sudah seumur hidup menantikan kesempatan ini, berbicara tentang teman, pangeran ke empat sudah biasa melakukan ini kepada teman-teman nya, dan aku rasa ini adalah karma untuk nya," ucap Kim bong Goo, dan dengan mudah menarik jubah di belakang tengkuk wanita itu.
"tidak.... kau tidak akan pernah mendapatkan ku, aku tidak akan sudi, tidak pernah!!!" ucap Park Min Ji mulai sedikit mundur saat Kim bong Goo semakin mendekati nya, mata nya menatap marah ke arah pemuda itu.
"nyonya hanya sekali saja, kau tidak akan begitu rugi, dan setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi, tenang lah rahasia mu akan aman selama nya, kau bisa tenang menikah dengan pangeran, dan juga pelayan itu akan selamat dari pedang kekasih mu itu, tapi setelah kau merasakan milik ku, dan kemampuan ku di atas ranjang, mungkin kau akan tergila-gila pada ku, dan berpikir puluhan kali untuk menikah dengan kekasih mu itu," ucap Kim bong Goo.
"Zhou'er?" bibir Park Min Ji sedikit bergetar mengucapkan nama itu.
"pelayan itu akan terbunuh dengan cepat, jika pangeran mengetahui kegilaan kami, semua salahku, aku tidak bisa mengorbankan pelayan polos itu," batin Park Min Ji
"apa yang harus aku lakukan?" batin wanita itu lagi.
Kim bong Goo semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh Park Min Ji, dan kini wanita dengan mata lebar dan indah itu hanya diam saat Kim bong Goo menyentuh dagunya.
__ADS_1
"haha... kau cukup pintar juga nyonya," ucap Kim bong Goo dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Park Min Ji.
wanita itu membuang jauh wajah agar tidak di cium oleh Kim bong Goo.
"hahaha... semakin melawan kau akan semakin tersiksa nyonya, sebaiknya kau nikmati saja," ucap Kim bong Goo, dan mendorong tubuh Park Min Ji hingga menempel di meja yang ada di ruangan nya.
Kim bong Goo mengangkat sedikit tubuh Park Min Ji dan sedikit mendudukkan nya di meja itu, Tangan pria itu mulai meraba paha Park Min Ji dari luar gaun nya, dan bergerak semakin ke atas.
Park Min Ji memejamkan matanya, wajahnya bergetar karena begitu marah, namun tidak ada yang bisa di lakukan nya.
"aku sangat menyukai kulit halus mu ini, dan melihat reaksi mu ini, kita berdua bisa menebak akhir dari pembicaraan kita, nyonya tenang saja aku akan membuat nyonya terangsang, dan aku juga memiliki benda yang mampu menggaruk rasa gatal di milik mu, hingga kita berdua tidak bisa melupakan malam ini," bisik Kim bong Goo.
tangan Kim bong Goo mulai menelusuri paha dalam Park Min Ji, dan bibir tebal nya kini menciumi leher kurus Park Min Ji.
"hahaha... aku pria yang sangat beruntung," ucap Kim bong Goo
****
di istana milik Adipati Zhou semua terlihat begitu tegang, pria berwajah menyerupai kera itu bangkit dari tempat tidur nya, dengan jubah tidur nya yang panjang nya yang acak-acakan dan terseret di lantai kayu nya.
rambut nya yang sudah memutih belum sempat ditata, dengan wajah sedikit tertunduk, berteriak kencang membuat para pelayan menutup telinga nya, pria itu begitu marah mendengar laporan para jendral nya tentang kematian ular sumsum kesayangan nya.
Adipati Zhou mendekati salah satu Jendral nya dengan tangan kanan nya memegang pedang yang memiliki bilah kecil dan tipis dengan panjang yang lebih dari satu setengah meter.
Adipati Zhou Yun menatap nya begitu tajam jendral nya itu,
"bunuh semua nya... bunuh tanpa ada rasa belas kasihan untuk mereka," ucap Adipati Zhou pelan, menekankan setiap kata demi kata, bahkan beberapa tetes liur nya menyembur di wajah jendral nya karena begitu marah.
__ADS_1