
"apa kau merasa sudah cukup lemas?" tanya Pangeran ke empat,
"aahhhss... sudah hentikan pangeran aku takut kita akan terlena dan melakukan itu," guman Jang Song Yi pelan, mulai melupakan sekitar
Pangeran ke empat mengelus pinggang dan meremas gundukan dari Jang Song Yi, gesekan mereka semakin kencang.
"bagaimana sekarang apa kau sudah lemas?" tanya Pangeran ke empat.
kepala nya menggeleng,
"sebaiknya kita tidak melakukan ini," ucap Jang Song Yi, namun kedua tangan nya sedikit mendorong tubuh nya kebelakang agar lebih terasa, bahkan bisa dikatakan mereka sudah melakukan itu hanya di lapisi kain tipis dan lentur serta kini sudah begitu basah oleh cairan Jang Song Yi
Semakin lama gerakan nya semakin cepat, unjung benda itu sudah tertelan, meski masih dilapisi pakaian tipis wanita berwajah keibuan itu, matanya terlihat begitu sayu dan sesekali menggigit bibir bawahnya menahan kenikmatan nya, tangan kanan nya menarik bokong Pangeran ke empat agar lebih menekankan ke depan.
"aaahhh.... aahh... ini nikmat, mungkin aku sudah lemas, bisa kita mulai latihan yang sesungguhnya? aku sudah tidak tahan," ucap Jang Song Yi suaranya bergetar keringat mulai mengucur di keningnya, nafas nya sudah memburu
"paman bagaimana gerakan selanjutnya?" tanya putera Jang Song Yi sambil menatap kearah kedua orang yang terlihat begitu kenikmatan.
Mata Jang Song Yi terbuka, namun gerakan nya masih berlanjut,
"putera ku lakukan gerakan sambil menghadap ke arah depan jangan menatap ibu sebelum ibu perintahkan," ucap Jang Song Yi yang sudah menggila dilanda kenikmatan.
"Pangeran cepat lah lakukan latihan nya, aku sudah tidak tahan," ucap Jang Song Yi nafasnya terdengar lebih berat dan tersengal, dan terlihat tidak puas dengan ujung benda itu saja, wanita itu menginginkan sesuatu yang bisa menghilangkan kegatalan nya segera.
Pangeran ke empat hanya tersenyum, dan merobek kain tipis dan basah itu, dan mulai menempelkan nya.
Mata Jang Song Yi mulai terpejam kembali, dan terdiam saat merasakan kulit mereka kini bersentuhan langsung, dan perlahan mulai tertelan.
Wajah wanita beranak satu itu sedikit mendongak, saat merasakan nya dengan pelan.
"uuuuhhhhh.... Pangeran, Pedang mu ini nikmat," guman Jang Song Yi dengan suara bergetar.
"kau benar-benar nakal nyonya, bahkan kau melakukan ini di depan putera kalian," ucap Pangeran ke empat.
"diamlah... kau jangan bicara seperti itu," ucap Jang Song Yi seperti berada dalam dilema, tetapi kenikmatan yang dirasakan sudah membuat nya menggila dan semakin kencang mendorong tubuh nya kebelakang dengan ritme yang mulai tidak beraturan.
"nyonya katakan apa ini lebih dari suami mu," tanya pangeran ke empat
"ukuran nya sama," ucap Jang Song Yi yang sudah tidak mempedulikan pertanyaan pria itu, dirinya hanya ingin mengejar kenikmatan nya.
"aahhh... nyonya kau begitu sempit aku akan keluar," ucap Pangeran ke empat.
"tunggu aku Pangeran, aku juga sudah mulai terasa," ucap Jang Song Yi, sambil menggeleng takut akan selesai sebelum mendapatkan kenikmatan nya.
dan beberapa detik Pangeran ke empat sudah bergerak tubuh nya menghentak kencang beberapa kali, tubuh yang berkejut-kejut.
__ADS_1
Mata Jang Song Yi terpejam tampak kekecewaan di raut wajahnya, bulir keringat masih mengucur, dan masih mencoba mengerakkan tubuhnya berusaha mengejar puncak dan perlahan gerakan nya sedikit melambat, karena merasa benda di belakang nya sudah lemas.
"aahhh... padahal sedikit lagi, harus aku juga mendapatkan kenikmatan, bagaimana dia bisa memiliki istri 10 jika memuaskan satu wanita saja tidak mampu," batin Jang Song Yi, diam untuk beberapa saat,
"hemmm... aku harus membersihkan diri dulu," ucap wanita itu dengan wajah kesal, dan melangkah meninggalkan Pangeran ke empat yang terlentang di lantai dengan nafas masih tidak beraturan.
"Melihat kemampuan mu ini, jangan harap aku mau melakukan nya lagi," batin Jang Song Yi begitu uring-uringan.
****
Saat ini di pulau tingkat ke tiga,
seorang remaja tersenyum tipis menatap sebuah pedang panjang dan beruap kebiruan, dengan lambang Yin Yang di di pangkal bilah nya,
ilustrasi Pedang semesta
"tidak Pedang Semesta, tidak..." ucap Xiao Zhou.
"kau sudah dengar bukan pemuda ini sudah menjadi biksu seluruh alam saat ini," ucap suara di udara.
Xiao Zhou masih tersenyum dengan tenang,
'tidak Pedang Semesta, kita tidak akan pergi kemana-mana tanpa kemampuan ku yang dahulu, dan juga tidak dengan pakaian seperti ini," ucap Xiao Zhou, dan berdiri dari duduknya, dan mencabut pedang Semesta mengalir sedikit energi qi nya, uap kebiruan dari pedang itu semakin keluar dan bersinar begitu terang, tidak ada perubahan pada tubuh Xiao Zhou lagi.
"tuanku.... kau sudah melebihi kekuatan ku, tapi bagaimana ini bisa terjadi? di satu sisi anda begitu buas dan disisi lain anda begitu lembut," ucap pedang semesta.
"pedang semesta dalam sedetik aku bisa menjadi iblis yang haus darah, dan dalam sedetik berikut nya aku bisa menjadi Dewa Suci penuh dengan kebijaksanaan, tapi aku tidak bisa meninggalkan tubuh abadi ku, aku akan tetap menjadi manusia berusia 17 tahun depan segala tingkah naif dan bodoh nya," guman Xiao Zhou.
"anak muda apa yang terjadi padamu, kau sudah mempelajari kitab itu, harus kau sudah tidak memikirkan tentang urusan dunia ini lagi," ucap suara itu.
"tenanglah... kau adalah kekuatan ku, dan aku yang mengendalikan kekuatan, bukan kekuatan yang mengendalikan ku, dan kitab lelucon mu itu telah mengajari ku dengan baik, aku mengerti apa yang kau maksud itu, jadi beristirahatlah," ucap Xiao Zhou, dan mata biru Xiao Zhou bersinar.
"hahaha... kau adalah pemilik hawa semesta aku hampir melupakan nya, dan kau adalah keseimbangan alam itu sendiri, kau adalah baik dan buruk itu, Yin dan Yang, aahhh... aku tidak pernah memikirkan ini sebelum nya, ini jauh lebih baik, aku lega jatuh ke orang yang tepat," ucap suara itu dan tidak terdengar suara itu lagi..
Xiao Zhou memejamkan matanya, dan perlahan semua barang-barang nya yang terjatuh di hutan bambu melayang dan masuk ke tubuh Xiao Zhou, semua kemampuan nya sudah kembali, dan sekarang matanya menatap kitab pedang bulan nya,
"hanya seorang wanita yang mampu menguasai tehnik ini, karena struktur tulang dan jenis tulang yang lebih kecil dan ringan," guman Xiao Zhou.
"cih... aku tidak percaya ini? baiklah akan aku coba," ucap Xiao Zhou dengan seringai iblis nya, dan meneguk guci cantik nya lagi.
"tuanku bukan saat nya belajar sekarang," ucap Pedang Semesta.
"dengarkan aku pedang semesta, saat ini aku sudah tidak bisa menjadi orang yang terlambat, tapi sebelum itu bisakah kau memotong rambut ku, rambut ini membuat ku terlihat aneh," ucap Xiao Zhou, mengikuti keinginan sifat anak muda nya, dan hanya beberapa saat rambut nya sudah terpotong seperti biasa.
__ADS_1
Xiao Zhou mulai melompat beberapa kali di udara, dan mengerakkan tubuh nya begitu lincah dan dan berputar seperti menari, dan terakhir sudah duduk bersila sambil melayang.
"semua ini tidak masuk akal, apa yang terjadi? hanya dalam sekejap tuanku mampu menguasai kitab Pedang bulan, dan juga selamat tuan anda sudah menguasai jurus nyanyian pedang kematian dengan sempurna, ini adalah tehnik tertinggi dalam berpedang, pedang tanpa tuan," ucap pedang semesta.
"nanti aku akan jelaskan tentang semua nya Pedang semesta, semuanya... apa yang terjadi saat aku menelan benda itu," guman Xiao Zhou pelan.
"dan kau bisa melihat kekuatan ku yang sebenarnya saat kita bertarung menghadapi orang itu," ucap Xiao Zhou.
Xiao Zhou mengeluarkan pakaian nya dari cincin penyimpanan hanya pakaian resmi saat dirinya menjadi pendamping Ratu Xhin Ye saja yang tersisa.
"hemm... pakaian ini begitu mencolok, tapi pakaian ini begitu lentur, dan nyaman meski terlihat kaku di beberapa bagian" ucap Xiao Zhou wajah nya terlihat kembali acuh.
Xiao Zhou kembali memakai pakaian hitam dengan kerah menutupi sebagian leher, dan banyak lipatan jubah bawah nya yang panjang, dengan motif segitiga keemasan di ujung bawah setiap lipatan nya, dan kini seorang remaja tampan itu berdiri di bibir puncak gunung di pulau tingkat ke tiga, matanya terpejam dengan rambut dan pakaian nya seperti di dalam air melambai-lambai.
"sudah saatnya untuk bertemu si pengacau," ucap Xiao Zhou dan menghempaskan tangan nya.
Pulau tingkat ke tiga bergetar, rantai-rantai besar itu mulai ikut bergetar, dan mulai retak dan hancur, dan labirin kesengsaraan tiga alam menghilang,
***
di pulau keseimbangan.
Sore itu Pangeran ke empat akhirnya berhasil membujuk putera Zhang Rui untuk menonton festival menyambut musim gugur di kota Huangdong.
Zhang Rui tahu betul siapa yang mempengaruhi putera nya sehingga begitu memaksa dirinya untuk menemani mereka.
"ibu aku ingin menonton bersama ibu," ucap putera Zhang Rui
"anakku... dengarkan ibumu ini, jika kau ingin menonton pergilah dengan paman Yang Tian," ucap Zhang Rui, dengan wajah marah.
"ibu... aku ingin bersenang-senang hanya dengan mu," ucap putera Zhang Rui dan mulai duduk menangis.
Zhang Rui menghela nafasnya, dan memejamkan matanya dalam-dalam, mendekati putera nya yang terisak, dan mengelus kepalanya.
"baiklah... kali ini ibu akan mengabulkan permintaan mu, hanya kali ini," ucap Zhang Rui dan putera nya terlihat begitu senang dan memeluk ibunya.
"aku akan membalas perbuatan yang kau lakukan pada putera ku," batin Zhang Rui
***
Terlihat mereka bertiga begitu senang menonton tari-tarian di sebuah panggung, mereka bertiga seperti sebuah keluarga yang bahagia, duduk di barisan paling belakang yang tempat nya cukup tinggi dari penonton di depan nya.
Sore itu Kaisar Zhang Rui mengenakan gaun hitam dengan motif bunga tulip besar, dengan potongan panjang semata kaki pada bagian belakang, dan semakin kedepan semakin pendek, sehingga lutut nya yang bersih terlihat, dan bahkan saat berjalan paha bagian tengah nya yang putih dan di hiasi sedikit bulu halus akan terlihat.
Gaun itu begitu lembut dan lentur, bahkan pada bagian bokong nya tercetak jelas garis segitiga pakaian dalam wanita itu, dan pada bagian atas nya, dengan kerah tinggi menutup sedikit leher samping nya, dan terbuka pada bagian depannya, memperlihatkan kulit gunung yang bersih dan menggoda setiap laki-laki.
__ADS_1
Mata Pangeran ke empat selalu menatap ke arah paha Zhang Rui setiap wanita itu merubah posisi duduknya, pemuda itu begitu menikmati pemandangan celah di sempit itu, bahkan kadang paha luar nya juga terlihat sebelum Zhang Rui mampu merapikan pakaian nya lagi.