
beberapa hari setelah malam indah Jung Min Ha.
Yun Li Wei sedang mengunjungi Jung Min Ha di kediaman kepala desa, terlihat Jung Min Ha sangat berbeda hari itu, wajah nya tampak berkali-kali lipat lebih cerah dari sebelumnya.
keduanya terlihat duduk menikmati teh hijau dan saling berbincang dengan penuh canda, di sebuah gazebo di pinggiran sebuah kolam yang di penuhi bunga teratai, beberapa tanaman hias, dan sebuah jembatan kecil melengkung ke atas pada bagian tengah, di atas kolam itu membuat suasana terlihat begitu asri.
"aku senang kau sering mengunjungi ku adik," ucap Jung Min Ha.
"belakangan ini perasaan ku sering tidak enak, aku sedikit mengkhawatirkan mu kakak Min Ha, tapi sekarang tidak lagi," ucap Yun Li Wei menatap wajah berseri-seri kakak nya.
ilustrasi Jung Min Ha
"apa yang terjadi kakak Min Ha? kau terlihat sangat segar," ucap Yun Li Wei lagi.
"apa Dewa muda itu penyebab nya? seperti nya kak Min Ha sudah menyerah kan hati nya saat ini," batin Yun Li Wei.
"hemm... tidak ada, belakang ini aku hanya beristirahat dengan cukup," ucap Jung Min Ha, sambil tersenyum malu.
"kakak Min Ha, kau seperti gadis muda yang sedang jatuh cinta, itu sangat bagus kakak, aku juga pernah merasakan hal indah itu," mata menerawang mengingat kejadian di dalam peti pusaka bersama Xiao Zhou.
"itu adalah hari terindah dalam hidupku, hihihi," guman Yun Li Wei pelan sambil tersenyum sendiri, dan wajah nya memerah.
"adik... wajah mu memerah? kau tidak sedang memikirkan hal yang seperti itu bukan?" ucap Jung Min Ha sambil menatap Yun Li Wei seperti sedang menggoda adik nya.
"hahaha.... kakak Min Ha, itu sedikit memalukan, lupakan saja, hahaha. hemm... seperti nya kekasih mu sudah datang," ucap Yun Li Wei senyum tiba-tiba menghilang, yang melihat Dewa Song Feng, begitu juga wajah Jung Min Ha yang menjadi kaku.
Dewa Song Feng masuk melalui gerbang taman berbentuk lingkaran tanpa pintu menuju tempat kedua wanita cantik itu.
"adik Jung aku ingin bicara," ucap Dewa Song sambil menatap ke arah Yun Li Wei berharap Yun Li Wei meninggalkan mereka.
"katakan saja Dewa Song," ucap Jung Min Ha dingin.
"apa ini? hihi... apa kalian sedang bertengkar? kalian menggelikan, baiklah aku akan pergi, kakak Min Ha besok aku akan berkunjung lagi," ucap Yun Li Wei yang terlihat kaku di hadapan kedua kekasih itu, dan pergi sambil memberi hormat kepada Dewa Song Feng.
"katakan apa yang ingin kau bicarakan," ucap Jung Min Ha, setelah Yun Li Wei menghilang.
Dewa Song mengangguk dan duduk di hadapan Jung Min Ha.
"seperti nya pusaka itu tidak berguna," batin Dewa Song Feng, menatap warna merah di jantung Jung Min Ha semakin pudar.
__ADS_1
"malam itu apa yang kau lakukan di tempat latihan adik ipar mu, seperti kau menghabiskan malam di tempat itu," ucap Dewa Song
"aku membawa makanan untuk adik ipar, dan malam itu hujan begitu deras, udara terasa begitu dingin, dan aku hanya menunggu hujan reda," ucap Jung Min Ha berbohong, bagaimana pun juga Dewa Song saat ini masih kekasih nya.
"hahaha... apa kau pikir aku bocah sepuluh tahun yang bisa kau bohongi seperti itu hah?" ucap Dewa Song Feng dengan nada bicara sedikit lantang.
mata Jung Min Ha melebar,
"katakan apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan Dewa Song, apa kau ingin bertanya apa aku tidur dengan adik ipar ku? apa itu maksud pertanyaan mu? apa aku terlihat wanita seperti itu?" ucap Jung Min Ha seperti menantang.
wajah Dewa Song Feng sedikit terkejut dengan perubahan wajah Jung Min Ha seperti menantang nya.
"sial... ini tidak baik, Jung Min Ha sudah terdesak, bisa saja mengakui atau berpura-pura sudah tidur dengan pemuda itu, dan setelah itu kami akan berpisah, dan aku tidak akan mendapatkan apa-apa, wanita ini sudah berani sedikit menentang ku, aku harus lebih bersabar." batin Dewa Song Feng, dan menarik nafas nya dalam-dalam.
"maafkan aku adik Jung aku hanya terlalu mencintai mu dan aku begitu cemburu tadi, baiklah... aku tahu, sebelum kita menjadi kekasih, kau sudah menyukai adik ipar mu itu," ucap Dewa Song Feng, dengan nada sedikit merendah.
"kau benar, aku pernah menyukai nya, apa itu menjadi masalah untuk mu, Dewa Song?" tanya Jung Min Ha yang masih kesal.
"itu sudah berlalu adik Jung, aku tidak mempermasalahkan nya, aku juga mendengar kisah cinta mu itu tidak berjalan lancar, sebaiknya kau melepaskan nya, adik Jung.
Hubungan yang di paksakan seperti itu menurut mu akan bertahan beberapa lama? dan akan banyak orang yang tersakiti." ucap Dewa Song Feng, mulai meracuni pikiran Jung Min Ha.
Dewa Song Feng tersenyum menatap wajah Jung Min Ha,
"bagus, seperti kau mulai termakan ucapan ku," batin Dewa Song Feng, dan menggenggam tangan Jung Min Ha.
"baiklah adik Jung, aku akan naik ke langit, aku akan bicara kepada ayah ku, aku ingin hubungan kita semakin serius, pikirkan apa yang aku ucapkan tadi tentang adik ipar mu yang yang tidak setia, dan memiliki banyak istri itu," ucap Dewa Song Feng dan pergi sambil tersenyum licik.
Jung Min Ha hanya diam menatap kepergian Dewa Song Feng, perasaan nya sudah mulai tidak menentu, memikirkan ucapan Dewa Song Feng.
"aku sudah terlalu lelah melawan semua ini, aku adalah kakak ipar nya dan sudah memiliki kekasih, tetapi kami sudah melewati batasan kami malam itu, walaupun itu pertama dan terakhir kami melakukan nya, aku tidak menyesal aku begitu bahagia, kini biarkan semua mengalir mengikuti arus." guman Jung Min Ha.
****
di istana langit.
Dewa Perang berlutut di aula agung istana Langit.
"Yang Mulia... pasukan cadangan kita sudah menghilang," ucap dewa Perang dengan wajah begitu gugup.
wajah Kaisar Langit memerah, giginya menggeretak,
__ADS_1
"Perang ini tidak bisa di hindari," batin Kaisar Langit.
"Dewa Perang buatlah dengan formasi bertahan, dan persiagakan pasukan tempur, karena perang akan bisa terjadi kapan saja, dan kita akan selalu siap, dan aku akan menempati posisi panglima perang yang kosong saat ini," ucap kaisar langit.
"hamba akan laksanakan," ucap Dewa Perang.
Dewa Pengetahuan melangkah beberapa langkah, dan membungkuk memberi hormat.
"Yang Mulia... tolong di pikirkan lagi, keselamatan nyawa Yang Mulia adalah bersifat mutlak, jadi anda harus tetap ada di istana ini," ucap Dewa Pengetahuan.
"teman ku Dewa Pengetahuan, tenanglah... kita sudah lama bersama, dan jika perang besar itu benar-benar datang, kita akan menghadapi nya bersama," ucap Kaisar Langit, sambil mengelus jenggotnya.
"Yang Mulia.... perang kali ini sangat berbeda dan berbahaya, Yang Mulia, kita harus menyiapkan strategi yang lebih matang," ucap bibir Dewa Pengetahuan, suara serak nya seperti tertahan karena sedih tidak dapat menyelamatkan majikan nya.
" kau benar Dewa Pengetahuan, setelah ini kita akan adakan pertemuan dengan para ahli perang kita, dan bagaimana dengan mu Dewa Lou yi?" tanya Kaisar Langit.
Dewa Lou yi melangkah ke depan tubuh nya sedikit gemuk, sedikit gemetaran.
"segel pelindung ku tidak akan mampu menahan setengah dari pasukan Langit Yang Mulia, tapi kami sudah semua sudah menyetujui menggunakan segel sembilan istana beku, sebagai pilihan terakhir," ucap Dewa Lou yi
"segel sembilan istana beku?" tanya Kaisar Langit, seperti tidak terlalu mengerti masalah segel.
"iya Yang Mulia, saat detik terakhir, delapan dewa penjaga akan mengorbankan jiwa mereka dan membekukan sembilan istana di tiga alam.
tiga istana di alam bawa, lima istana di alam tengah, dan satu istana di alam Langit, dan istana itu adalah istana anda Yang Mulia," ucap Dewa Lou yi.
"istana Langit, dan delapan lainnya akan membeku, dan tidak akan bisa di ganggu sampai keseimbangan alam kembali terjaga, ini untuk menghindari kepunahan." ucap Dewa Lou yi.
"oohhh... seperti itu rupanya, baiklah... cobalah cari jalan lain lagi," ucap Kaisar Langit menatap Dewa Pengetahuan, yang sudah mengetahui jika ide ini berasal dari Dewa Pengetahuan.
hilang nya pasukan cadangan istana Langit dan gugur nya dua pilar langit, membuat kegelisahan para Dewa, beberapa dari mereka mulai menyeberang kearah lawan, mencoba mencari keselamatan hidup mereka, dan yang pertama membelot adalah lima Dewa pemburu, yang sudah berganti dengan Dewa-dewa yang baru.
****
di bawah puing-puing reruntuhan perpustakaan Dewa suci Qing Tao.
"hemmm.... aku sudah berhasil menyerap hawa semesta, tubuh ku terasa begitu kuat, sebentar lagi bayangan ku akan tumbuh lagi, dewa laut kita akan berjumpa dan aku yakin itu adalah perjumpaan kita yang terakhir, hahaha." ucap sang pembunuh dewa.
terlihat mayat beberapa dewa sudah tergeletak di lantai ruangan itu dengan kondisi mengenaskan, dan bayangan mayat mereka mulai terserap ke tubuh sang pembunuh dewa.
Yun Fengyin dan beberapa dewa yang bersumpah setia menatap ngeri ke arah wajah sang pembunuh dewa,
__ADS_1