
Ratu Xhin Ye, tersenyum hambar menutupi ketakutan di wajah nya.
"apa? haha... kami tidak benar-benar meni.... aahhh maksud ku kami baru saja menikah, dan belum berpikir untuk memiliki keturunan." ucap Ratu Xhin Ye gugup yang hampir keceplosan mengatakan jika mereka tidak benar-benar menikah.
"ini tidak mungkin, aku tidak akan melakukan nya," guman Ratu Xhin Ye pelan, tapi semua pejabat mendengar nya.
wajah sang pengganti membeku, mendengar ucapan pejabat perbintangan, darah seperti mendidih,
"kalian sudah mendengar itu pejabat perbintangan, penguasa baru saja kembali setelah sekian lama terkurung di gerbang pulau tingkat ke tiga, sebaiknya kau tidak membebani pikiran penguasa dengan hal-hal konyol seperti itu," ucap sang pengganti, terlihat pipi bawah nya bergerak, menandakan gigi nya sedang bergeretak.
"sang pengganti.... apa maksud mu? apa kau baru saja mengatakan bahwa melanjutkan keturunan penguasa adalah hal konyol? kau adalah pejabat tertinggi, tentu sangat tahu arti sebuah keturunan bagi seorang penguasa," ucap pejabat perbintangan membuat wajah sang pengganti sedikit merunduk dan terdiam karena tersadar ucapan nya sudah berlebihan.
"penguasa.... mohon di pertimbangkan, bintang besar Bing Ju, hanya muncul setiap 887 ribu tahun sekali, dan bintang besar itu muncul tepat setelah anda memiliki suami, hamba rasa ini bukan kebetulan semata penguasa," ucap pejabat perbintangan itu lagi.
"mohon di pertimbangkan penguasa," ucap seluruh pejabat itu.
Ratu Xhin Ye, memutar otak nya, dan sebuah ide muncul begitu saja.
"cukup!!!! tenang lah, kalian semua dengarkan aku!" ucap Ratu Xhin Ye yang suara nya seperti normal lagi.
"ehemmm.... aku tidak begitu mengerti bintang besar itu? baiklah... kalian semua lakukan apa yang terbaik menurut kalian," ucap Ratu Xhin Ye, seperti tidak perduli.
"terimakasih kasih.... penguasa," ucap para pejabat itu serentak, membuat tubuh sang pengganti begitu lemas.
"lakukan saja apa yang kalian mau, tapi sebelum acara itu, pemuda itu sudah pergi jauh dari pulau ini, aku harus mengeluarkan nya dari pulau ini secepatnya" batin Ratu Xhin Ye.
****
Ratu Xhin Ye termenung di ruang baca nya,
"cih... penyambung keturunan? apa kalian semua sudah gila? aku bahkan tidak memiliki suami, maksud ku benar-benar suami," guman Ratu Xhin Ye jari-jari nya masih saja mengelus kening kirinya.
__ADS_1
wajah wanita itu tiba-tiba terlihat murung, menatap kosong ke arah kitab-kitab di ruang baca nya.
"aku hanya melakukan ritual itu beberapa kali dengan mendiang suamiku dulu, aku selalu ketakutan saat melakukan itu, itu sangat menyakitkan dan perih, dan setelah itu aku selalu berusaha menolak jika suami menginginkan nya." batin Ratu Xhin Ye, terlihat kening nya berkerut
"aku sedikit tenang karena Yang Mulia Kaisar, begitu sibuk dengan urusan langit, dan tidak ada waktu untuk melakukan itu, tapi di sisi lain aku sangat sedih karena kami tidak sempat memiliki keturunan, aku sangat tidak beruntung, kenapa kau begitu egois meninggalkan aku Yang Mulia," guman Ratu Xhin Ye lagi, dan menarik nafas nya dalam-dalam.
"aku harus mengatasi masalah ini secepat nya sebelum menjadi besar," batin Ratu Xhin Ye,
langit mulai gelap Ratu Xhin Ye melangkah ke arah halaman belakang, dan menatap ke arah Xiao Zhou yang sedang berlatih.
Xiao Zhou menghentikan latihannya, dan mendekati Ratu Xhin Ye.
"duduk lah, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Ratu Xhin Ye, mereka duduk di sebuah bangku.
"aku tidak bisa membiarkan mu lebih lama lagi tinggal di pulau ini, sebelum semuanya tidak terkendali," ucap Ratu Xhin Ye, yang mengetahui jika malam ritual sekitar lima belas hari lagi.
"aku mengerti nyonya Xhin, baiklah aku akan menyalin kitab paman Xiang Sun, besok sore aku akan pergi dari pulau anda, terimakasih atas semua kebaikan mu, mungkin aku tidak bisa berpamitan besok, jadi aku berpamitan sekarang saja, aku mohon diri nyonya," ucap Xiao Zhou sambil berdiri dan membungkuk.
"tunggu!!!! a-ku tidak menyuruh pergi besok, kau masih bisa disini sampai sampai sepuluh hari lagi, dan kau bisa pergi setelah itu, dan juga sebaiknya menghindar jika sang pengganti sedang mengunjungi ku." ucap Ratu Xhin Ye, sedikit gugup.
"kalian pasti ingin bermesraan bukan?" batin Xiao Zhou, sambil sedikit tersenyum.
"baiklah.... aku akan secepatnya menyelesaikan latihan ku," ucap Xiao Zhou dan meninggalkan Ratu Xhin Ye yang duduk kepergian nya.
"kenapa bocah itu tersenyum?" batin Ratu Xhin Ye menyipitkan matanya, dan melipat kedua tangannya di bawah gunung itu.
***
Setelah pengumuman suami penguasa dari klan penyihir
kini klan penyihir sedikit memiliki wibawa di mata penduduk pulau, terutama dari suku Fiji, yang tugas nya hampir mirip dengan suku bul-bul, hanya saja suku Fiji tidak menjadi pejabat, tugas mereka memenuhi segala kebutuhan dari penduduk pulau itu, perawakan mereka lebih ramping, dan kemampuan di setiap lini hampir sama dengan suku bul-bul.
__ADS_1
suku Fiji begitu menghormati pejabat di istana, dan semakin tinggi kedudukannya salah satu anggota klan, maka pelayan mereka akan berbeda dari klan lain, dan setelah muncul nya Xiao Zhou sebagai suami penguasa, klan penyihir mendapat pelayanan lebih baik dari klan petarung, meskipun klan petarung memiliki seorang sang pengganti.
Xiao Zhou mulai bekerja menjadi pejabat menengah di istana itu, dirinya menempati ruangan yang tidak terlalu besar, dan berada di ujung komplek tempat bekerja nya para pejabat di istana itu, dan cukup jauh dari istana utama, hanya pejabat tinggi yang boleh masuk ke istana utama.
sang pengganti pun semakin sering datang mengunjungi Ratu Xhin Ye, keduanya biasa nya berbincang masalah pekerjaan di aula keluarga.
******
sore itu Xiao Zhou meninggalkan tempat bekerja nya, terlihat di ruang pertemuan komplek pejabat, sang pengganti sedang memimpin pertemuan, terlihat pejabat-pejabat wanita begitu antusias menatap wajah tampan sang pengganti.
Xiao Zhou sedikit mempercepat langkahnya dan akan memasuki istana utama, tapi seorang wanita cantik sudah menunggu nya di depan gerbang menuju istana utama. Xiao Zhou hanya mengangguk dan melewati wanita itu.
"tunggu tuan Yu jin, kakek ku ingin mengundang anda ke tempat nya, aku harap anda berkenan datang," ucap wanita cantik itu yang tidak lain adalah Huan Zhi.
.
Xiao Zhou hanya menghentikan langkahnya, dan sedikit mengerutkan keningnya.
"aku sangat ingin nona Huan, tapi penguasa melarang ku untuk keluar istana," ucap Xiao Zhou.
"kakek ku bilang kau akan menjawab seperti itu, jadi hari ini aku akan menemui penguasa dan meminta izin dari nya," ucap Huan Zhi tenang.
"orang tua itu penuh perhitungan rupanya, baiklah jika seperti itu, ikut dengan ku bertemu penguasa," ucap Xiao Zhou dan melangkah mendahului Huan Zhi.
"tunggu!!! kau meninggalkanku," ucap Huan Zhi berlari kecil mengejar Xiao Zhou, dan memegang lengan jubah Xiao Zhou.
"kau masih memanggil istrimu dengan sebutan penguasa? tanya Huan Zhi
Xiao Zhou hanya mengangguk, dan mereka berbincang terlihat senyum Huan Zhi selalu mengembang di bibirnya sedikit tebal nya.
Ratu Xhin Ye menatap kedua orang itu saling berbincang dengan tawa di kedua orang itu, dari balkon kamar nya.
__ADS_1
"cih.... bocah itu sangat senang menggoda gadis-gadis muda," guman Ratu Xhin Ye terlihat kesal tanpa disadari nya.