
"salam kakak ipar," ucap Tang Bao dan seorang wanita cantik juga memberi hormat di samping Tang Bao yang tidak lain adalah Song Lung Yi
"salam kakak ipar, maafkan aku yang pernah bicara tidak sopan waktu itu," ucap Song Lung Yi.
Xiao Zhou hanya mengangguk,
"kau memanggilku kakak ipar?" tanya Xiao Zhou mengerutkan keningnya menatap Song Lung Yi, dan menatap ke arah Tang Bao seperti butuh penjelasan.
"maafkan aku kakak ipar, kami sudah menikah beberapa hari lalu, nanti kami akan meminta restu dari mu dan juga kakakku secara resmi," ucap Tang Bao
"uhukkkk....," Xiao Zhou terbatuk,
"kakak mu pasti akan membunuh ku, dan kau bocah kecil kau akan menanggung kemarahan kakak mu," ucap Xiao Zhou, sambil menunjuk wajah Tang Bao.
"untungnya aku bukan bocah kecil nya lagi, tapi kau kakak ipar, kau akan selalu menjadi bocah kecil dari kakak ku, ohhh iya ... saat kembali ke pulau keseimbangan, sebelum kakakku membunuh mu sampaikan salam ku untuk nya, itupun jika kakak ipar sempat bicara," ucap Tang Bao sambil tersenyum.
"dan kakak ipar bisakah kau menemuiku di kuil tua di ujung desa ini besok, kami sedang sedikit kesulitan saat ini," ucap Tang Bao lagi.
Xiao Zhou hanya mengangguk setuju,
__ADS_1
"tentu saja adik ipar," ucap Xiao Zhou dan Tang Bao serta Song Lung Yi memberi hormat dan keduanya meninggalkan Xiao Zhou seorang diri.
"seperti nya aku akan dalam masalah," guman Xiao Zhou dan terlihat Park Min Ji sudah selesai dan membawa beberapa barang keluar dari toko itu.
"suami sebaiknya kita pulang," ucap Park Min Ji membuat Xiao Zhou menatap ke arah Tang Bao berharap pemuda itu sudah jauh, dan tidak mendengar ucapan Park Min Ji.
Park Min Ji dan Xiao Zhou melangkah meninggalkan toko itu dan seorang pelayan wanita mengejar Park Min Ji.
"nyonya Xiao.... anda melupakan pisau cukur anda," ucap pelayan wanita itu dan wajah nya sedikit memerah saat menatap Xiao Zhou.
mata Park Min Ji melebar dengan wajah tidak kalah memerah, sesekali matanya menatap ke arah Xiao Zhou.
"tapi nyonya Xiao... ini barang yang pertama anda tanyakan, dan nyonya sudah membayar nya," ucap pelayan itu
Park Min Ji menyambar pisau cukur itu melangkah tanpa menatap ke arah Xiao Zhou.
keduanya membisu sampai de depan rumah sederhana mereka, Xiao Zhou berbalik menatap desa yang tampak di bawah mereka karena rumah sederhana itu terdapat di lereng yang lebih tinggi dari desa itu, di ikuti oleh Park Min Ji yang juga menatap keindahan desa dengan ribuan penerangan.
"aku tidak menyangka jika desa itu terlihat indah dari rumah kita," ucap Park Min Ji dan sedikit menempel ke tubuh Xiao Zhou, dan tangan mereka sedikit bersentuhan, membuat dada Park Min Ji bergetar kencang.
__ADS_1
"kau benar," ucap Xiao Zhou.
Park Min Ji sesaat menatap jemari panjang Xiao Zhou, dan perlahan menempelkan Tangan nya di jemari Xiao Zhou dan mengaitkan jemari kurus nya di jemari Xiao Zhou, namun matanya menatap ke arah desa.
"aahh... apa yang kulakukan? aku sudah tidak tahan, aku benar-benar ingin menyentuh nya," batin Park Min Ji dan perasaan nya begitu bahagia saat Xiao Zhou juga meremas jemari nya, meski tidak ada kata cinta dari bibir keduanya.
"untuk pertama kalinya aku ingin hidup lebih lama lagi," batin Park Min Ji dadanya semakin berdebar membuat nafas nya sedikit tersengal.
"suami apa kau menyukai rumah kita? ini terasa begitu nyaman," suara Park Min Ji sedikit bergetar, yang kini membalikkan tubuhnya dan menatap rumah sederhana mereka, sambil terus meremas jemari panjang Xiao Zhou seperti tidak ingin jemari itu terpisah.
Xiao Zhou mengangguk lagi, dan Park Min Ji tersenyum begitu indah dengan bibir basah nya, matanya menatap mata Xiao Zhou dan mulai lebih mendekatkan tubuhnya ke arah tubuh Xiao Zhou, namun sudut mata Xiao Zhou mengarah ke tempat lain,
"ada apa?" tanya Park Min Ji yang mengetahui jika Xiao Zhou tidak menatap nya lagi.
"nyonya masuklah lebih dulu, aku akan mengambil kayu bakar yang aku lupakan kemarin di dekat sini," ucap Xiao Zhou
"baiklah... jangan lama, aku juga ingin mencuci wajah ku dulu," ucap Park Min Ji yang sudah begitu gugup, dan perlahan melepaskan jemari nya serta masuk ke dalam rumah.
Xiao Zhou melangkah sedikit menjauh dari rumah nya, dan pedang kematian yang biasa berada di salah satu sudut dalam rumah sederhana itu kini sudah berada di tangan kiri Xiao Zhou.
__ADS_1