Reinkarnasi Dewa Kematian

Reinkarnasi Dewa Kematian
ch.46


__ADS_3

mata Park Min Ji melebar tidak menyangka akan di gendong di punggung Xiao Zhou, dan perlahan tangan kiri nya, yang awalnya hanya di lengan Xiao Zhou kini sudah bergelut di leher Xiao Zhou dan kepalanya menempel di punggung Xiao Zhou begitu menikmati aroma dari tubuh Xiao Zhou.


keduanya masuk ke rumah mereka, dan Xiao Zhou menurunkan Park Min Ji yang hanya terdiam, pikiran nya begitu kacau, wajahnya hanya menunduk,


Xiao Zhou menyentuh pipi Park Min Ji dengan lembut, dan seperti terkejut wanita itu mengangkat wajahnya, matanya menatap mata Xiao Zhou.


"apa ini? dia menyentuh wajah ku?batin Park Min Ji bola matanya bergerak ke arah jemari Xiao Zhou di pipinya.


"apa dia memiliki perasaan yang sama dengan ku? aahh... dadaku terasa begitu sesak, apa yang akan terjadi?" batin Park Min Ji yang tangan nya juga ikut gemetar.


wanita itu hanya diam, jemari nya menyentuh jemari Xiao Zhou yang menyentuh pipinya, dan memejamkan matanya,


"nyonya wajah anda penuh noda arang," ucap Xiao Zhou membuat mata Park Min Ji seketika membuka matanya lebar-lebar, wajah nya memerah karena begitu malu.


"kau? berani menyentuh wajah seorang bangsawan?" ucap Park Min Ji marah.


"bukkkk....." sebuah pukulan di perut Xiao Zhou membuat pemuda itu sedikit membungkuk menahan sakit, dan Park Min Ji melompat ke punggung Xiao Zhou sambil menjambak rambut pemuda itu.


"berani sekali kau," teriak Park Min Ji


Xiao Zhou berputar-putar dengan Park Min Ji di atas punggung nya sambil menarik-narik rambut nya.


"nyonya hentikan," teriak Xiao Zhou namun wanita itu begitu malu hingga tidak mempedulikan ucapan Xiao Zhou.


dan keduanya terdiam saat mendengar ringkihan serta dengusan kuda di halaman depan rumah mereka.


"turunkan aku," bisik Park Min Ji dan Xiao Zhou semakin merendahkan tubuhnya.


Park Min Ji sedikit berlari dan mengintip dari sela-sela jendela, dan wajah nya terlihat begitu tegang saat menatap ke arah luar, tampak beberapa pengawal berkuda dan dua kereta kuda mewah yang begitu dikenalinya.


"pangeran ke empat," batin Park Min Ji


Park Min Ji mengambil payung dan mendekati Xiao Zhou, air mata nya tampak terjatuh begitu saja tanpa dapat di tahan nya lagi.

__ADS_1


"nyonya ada apa?" ucap Xiao Zhou dan berusaha menengok ke arah jendela namun Park Min Ji menahan nya dan menarik lengan pemuda itu serta memeluk nya begitu erat.


"Zhou'er... kenapa harus seperti ini? semua nya sudah berakhir, a-ku akan pergi," ucap Park Min Ji dengan suara bergetar.


"terimakasih atas semua yang sudah kau berikan padaku, kau sudah memberikan begitu banyak padaku, hari-hari ku sangat penuh saat di tempat ini," ucap Park Min Ji.


"duggg.... duugggg.... " suara gedoran pintu depan mereka, membuat wajah Park Min Ji semakin memucat


Park Min Ji melepaskan pelukannya dan kedua nya saling menatap begitu dalam,


"saat ini keselamatan mu yang terpenting, cepatlah pergi lewat pintu belakang, dan hidup lah dengan bebas, jangan menjadi pelayan lagi, apalagi jika majikan mu seorang wanita, aku tidak akan suka," ucap Park Min Ji dan menyerahkan payung kepada Xiao Zhou.


Xiao Zhou hanya mengangguk dan tersenyum tipis menatap ke arah Park Min Ji,


"nyonya juga jaga diri anda baik-baik, mulai sekarang aku tidak berhutang apa-apa lagi," ucap Xiao Zhou dan merapikan jubah miliknya yang masih di kenakan oleh Park Min Ji, dan berbalik menuju pintu belakang.


tangan Park Min Ji bergetar hebat dada nya terasa begitu sakit dan seperti tidak mampu menahan beban di dada nya berlari ke arah Xiao Zhou.


"tunggu...." ucap Park Min Ji.


"duugggg.... duugggg.... duugggg," terdengar suara pintu di gedor dari luar.


"haahhhh... pergilah, dan jika bertemu lagi dengan ku berpura-puralah tidak mengenal ku," ucap Park Min Ji.


"baik nyonya," ucap Xiao Zhou dan keluar dari rumah itu melalui pintu belakang.


air mata Park Min Ji keluar dengan deras nya, dan tidak mempedulikan gedoran pintu depan nya,


"ini begitu menyakitkan, saat dia pergi aku merasa begitu hampa," guman Park Min Ji, memejamkan matanya dalam-dalam dan menghapus air mata.


pangeran ke empat dan Kim bong Goo begitu senang saat Park Min Ji membuka pintu dan kedua pria itu begitu banyak bicara, namun Park Min Ji seperti seorang yang tuli dan tidak mendengar ucapan kedua pria itu, yang terpikir saat ini adalah Xiao Zhou dan menatap ke arah meja makan milik pemuda itu.


"aaahhh.... aku belum memberikan nya makan, tapi sudah menyuruh nya pergi," batin Park Min Ji dan air mata nya kembali keluar.

__ADS_1


"aahhh... Ji'a kau ternyata bisa memasak juga," ucap pangeran ke empat, Park Min Ji hanya tersenyum saja mendengar ucapan kekasih nya itu.


Kim bong Goo tampak begitu antusias dan duduk di meja makan itu dan bersiap untuk mencicipi makanan itu.


"tunggu....!!!" teriak Park Min Ji dan berlari ke meja makan itu,


"kau jangan coba-coba menyentuh makanan ini," teriak Park Min Ji begitu marah membuat pangeran ke empat dan Kim bong Goo begitu terkejut.


"Ji'a... ada apa?" tanya Pangeran ke empat, mendekati Park Min Ji.


"aahhh... maafkan aku pangeran dan tuan Kim, tapi makanan itu sudah basi," ucap Park Min Ji dan dengan cepat mengambil beberapa mangkuk dan membawa nya ke arah dapur.


"prannkkkkk...."


Park Min Ji menaruh dengan sembarang mangkuk-mangkuk tembaga yang masih berisi makanan yang sama sekali belum tersentuh itu, kedua tangan nya bertumpu pada meja di depannya yang penuh tumpukan mangkuk yang sudah berantakan.


"ini pertama kalinya aku memasak, aku memasak dengan sepenuh hatiku, dan masakan ini hanya untuk dia, hanya dia yang boleh merasakan ketulusan hatiku, tidak ada orang lain lagi," batin Park Min Ji menengadah wajah nya agar air mata nya berhenti keluar,


"kenapa air mata ini susah sekali di hentikan," guman Park Min Ji


dan tiba-tiba seorang pria tampan sudah memeluk nya dari belakang.


"Ji'a... ada apa? kau menangis? ucap pangeran ke empat.


Park Min Ji mengangguk, dan mengusap air matanya,


"aku hanya merasa begitu kesulitan saat di rumah ini, sebaiknya kita cepat meninggalkan rumah ini," ucap Park Min Ji dan tidak beberapa lama mereka sudah berada di dalam kereta kuda, melewati desa yang terlihat lengang hanya beberapa prajurit yang tampak begitu tegang, wanita bertubuh indah itu menatap pemandangan dari jendela kereta yang sengaja di buka oleh nya.


dari jendela kereta kuda itu, tampak seorang remaja melangkah begitu tenang dengan berpayung merah milik nya, sesekali Park Min Ji menatap ke arah pangeran ke empat dan saat pangeran tidak memperhatikan nya, dengan cepat Park Min Ji kembali mencari keberadaan pria berpayung merah milik nya itu.


"itu dia... apa dia lapar? wajah nya selalu membuat ku rindu, tapi saat ini dia terlihat begitu tenang, dia bahkan tidak terlihat kecewa sama sekali berpisah dengan ku, aaahhh.... seperti nya aku menyukai pria salah, dia tidak menyukai ku," batin Park Min Ji sambil menggigit bibir bawahnya meredam perasaan kecewanya.


"sudahlah Park Min Ji.... hadapi semua dengan dewasa, tidak selamanya kau mendapatkan apa yang kau inginkan," batin Park Min Ji lagi menguatkan dirinya, dan kedua insan itupun berpisah.

__ADS_1


****


__ADS_2